Di Era Pandemi Covid-19, Haruskah Umat Muslim Shalat di Masjid, atau Bersabar ? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi virus corona

muhammad yusuf

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 April 2020

Kamis, 4 Juni 2020 09:16 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Di Era Pandemi Covid-19, Haruskah Umat Muslim Shalat di Masjid, atau Bersabar ?

    Dibaca : 282 kali

    Banyak dari kaum muslimin di tanah air, yang salah dalam menyikapi keadaan saat wabah Covid-19 sudah menyebar di tengah masyarakat kita, salah satunya adalah ungkapan seperti:

    "Mall Dibuka, Bandara Dibuka, Pasar-Pasar Dan Jalan-Jalan Ramai, Kalo Begitu Masjid Harus Kita Ramaikan Lagi?!"

    Berikut kami rangkum tanggapan dari Ustâdz DR. Sufyan Baswedan, Lc. MA. :

    Kita tidak ke masjid bukan sekedar menaati himbauan pemerintah. Akan tetapi karena mengamalkan kaidah-kaidah syariat yang dijelaskan oleh para ulama tentang wajibnya menghindarkan kemudharatan atas diri sendiri maupun orang lain.

    Fakta Penularan Covid 19

    Sebagaimana diketahui bahwa penularan COVID-19 banyak terjadi melalui acara kumpul-kumpul yang disertai kontak fisik, baik di mall, pasar, sekolah, bandara, terminal, stasiun, tempat ibadah, dll. INI ADALAH FAKTA !!!

    Sekitar 80% dari penderita COVID-19 adalah orang tanpa gejala (OTG), dan inilah bahaya sesungguhnya. INI JUGA FAKTA !!!

    Mungkin anda merasa sehat, teman-teman anda juga merasa sehat, namun boleh jadi sebenarnya anda adalah OTG dan setiap saat dapat menularkannya kepada orang lain, tanpa anda sadari. Ini namanya menimpakan mudharat kepada orang lain, dan ini haram hukumnya bila disengaja.

    Atau anda mengira bahwa teman-teman anda sehat semua tapi sebetulnya di antara mereka ada yang OTG, lalu anda berinteraksi dengan mereka tanpa mengindahkan protokol kesehatan seperti nekat tidak pakai masker, berjabat tangan, menyentuh mulut, hidung dan mata, jarang cuci tangan, dan semisalnya. Akhirnya anda tertular. Ini namanya menimpakan mudharat kepada diri sendiri, ini pun haram bila disengaja.

    Kemudharatan semakin besar seiring dengan banyaknya OTG yang bebas berkeliaran dan berinteraksi, sedangkan mereka tidak pernah sadar bahwa diri mereka adalah OTG.

    Parahnya lagi, mereka juga tidak mau ikuti himbauan para ulama dan umara (pemerintah)’ agar stay at home dan tidak keluar rumah kecuali dalam kondisi yang mendesak dan dengan menerapkan protokol pencegahan Covid-19.

    Biasanya, orang-orang seperti inilah yang akhirnya nekat ke mall, pasar, berjamaah di masjid, dll. dengan alasan bahwa dirinya sehat.

    Sudahkah Test PCR dan Test Swab?

    Padahal untuk memastikan hal tersebut caranya cuma dengan swab test atau PCR, yang secara teknis tidak dapat dilakukan kecuali terhadap ODP atau PDP. Alias orang-orang yang menunjukkan gejala COVID-19.

    Artinya, untuk memastikan anda sehat, anda harus ditest SWAP/PCR. Tanpa itu, maka tidak bisa dipastikan.

    Setiap ODP maupun PDP wajib diisolasi hingga 14 hari, sambil dipantau kondisinya. Sedangkan OTG ini (yang jumlahnya 80%, alias 4x lipat dari penderita COVID-19 yang menampakkan gejala). Tentunya lebih berbahaya, dan mereka pun harus diisolasi juga.

    Namun karena merasa sehat, maka tidak ada yang dapat menyadarkannya kecuali ketaqwaan kepada Allah dan rasa takut akan besarnya dosa bila menularkan penyakit ke orang lain.

    Cara Mengendalikan Covid 19 Yang Efektif

    Singkatnya: cara terbaik ialah dengan menganggap diri sendiri sebagai OTG, agar selalu disiplin dan berusaha untuk tidak keluar rumah semaksimal mungkin supaya tidak menularkan ke orang lain.

    Kita harus menjaga agar penularan semakin menurun agar RS tetap dapat menampung pasien. Insya Allah masjid-masjid, sekolah, dan sarana publik lainnya akan segera dapat difungsikan bila kita disiplin menganggap diri kita masing-masing sebagai OTG.

    Insya Allah pahala shalat berjamaah, shalat jumat, dan ibadah lain yang biasa kita lakukan sebelum pandemi ini, tetap tercatat dalam lembaran amal shaleh kita.

    Mereka yang membuka kembali mall-mall, bandara, dll termasuk meramaikan masjid akan dimintai pertanggung-jawaban di sisi Allah atas setiap penambahan kasus/korban baru akibat kebijakan tersebut.

    Adapun masyarakat yang latah dalam mengikuti pernyataan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tersebut, hanya akan gigit jari manakala mereka jadi korban.

    Percayakan Kepada Ahlinya

    Serahkan segala sesuatu kepada ahlinya. Menyerahkan suatu urusan kepada yang bukan ahlinya adalah pertanda akan datangnya kehancuran, kata Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

    Yang paling paham tentang kondisi kesehatan dan penularan Covid-19 bukanlah ustadz, bukan kyai, bukan tokoh masyarakat. Yang paling paham adalah tenaga medis (dokter & perawat), pakar epidemiologi, virologi, dan semisalnya. Sehingga himbauan merekalah yang harus kita dengar, karena mereka lah yang berjibaku di garda terdepan dalam menghadapi pandemi ini. Hargailah pengorbanan mereka dengan stay at home sebisa mungkin.

    Dibukanya mall, bandara, dan tempat lainnya, tidak boleh dijadikan dalil untuk kembali meramaikan masjid-masjid. Karena itu adalah kebijakan yang keliru, yang dibuat oleh orang-orang yang tidak paham masalah dan tidak bertanggung jawab. Sejak kapan perbuatan keliru dijadikan dalil dalam Islam?

    Biarlah mereka yang membuka mall dan bandara menanggung semua dosa akibat kebijakan tersebut, dan antum sebagai DKM mesjid, imam, dan jama’ah jangan ikut-ikutan memperluas penularan wabah ini. Karena mereka gak akan mau menanggung dosa anda, sebagaimana anda juga gak akan mau memikul dosa mereka

    ( ولا تزر وازرة وزر أخرى ) Lihat: QS. 6: 164, QS. 17: 15, QS. 35: 18 dan QS. 39: 7.

    Kurangi Beban Paramedis

    Percayalah, kalau sampai mereka yang ke masjid tertular atau menularkan Covid-19, maka seluruh DKM dan jamaah tidak akan ada yang bersedia merawatnya hingga sembuh. Betul, bukan?

    Lantas siapa yang harus merawatnya? Lagi-lagi para dokter dan perawat yang kena getahnya. Atau jika RS penuh dan ahli medis sudah kwalahan, maka dia tidak bisa dirawat. Kalau dia sampai wafat karena tidak mendapat perawatan, maka mereka (yang ngotot membuka mesjid kembali tadi) tidak akan pernah mau disalahkan. Ini namanya tidak bertanggung jawab, alias lempar batu sembunyi tangan. Manusia mungkin tidak tahu siapa sutradara dan para pemainnya, tapi Allah tahu persis dan mencatat itu semua.

    Keuntungan Mengikuti Arahan Pemerintah

    Jadi, keputusannya di tangan kita semua. Kita disiplin dengan PSBB, atau kita langgar PSBB. Bagi yang disiplin insya Allah mendapatkan hal-hal berikut:

    1. Pahala taat kepada aturan syariat dan himbauan ulama.
    2. Tetap dapat pahala meramaikan masjid walau ibadah di rumah.
    3. Dapat pahala sedekah tanpa keluar uang. Karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda tentang bentuk-bentuk sedekah dan yang paling sederhana ialah: تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النّاسِ فإنَّها صَدَقَةٌ مِنْكَ على نَفْسِكَ. Artinya: “Kau hindarkan orang lain dari kejahatan dirimu, itu adalah sedekahmu terhadap dirimu”. (Muttafaq 'alaih).
    4. Insya Allah dapat pahala mati syahid terkena tha'un walaupun tetap hidup. Asalkan dia rela stay at home.
    5. Dapat pahala ta'awun alal birri wat taqwa, karena pandemi ini tidak bisa ditanggulangi sepihak.
    6. Dapat pahala ikut menyingkirkan bencana dan musibah berat dari sesama muslim (para dokter dan perawat muslim) yang sangat kelelahan dan berkorban habis-habisan dalam pandemi ini.

    Ingatlah bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

    مَن نَفَّسَ عن مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِن كُرَبِ الدُّنْيا، نَفَّسَ اللَّهُ عنْه كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ.

    “Siapa yang meringankan salah satu musibah berat seorang muslim di dunia, maka Allah akan meringankan salah satu musibah berat yang dihadapinya pada hari kiamat”. (HR. Muslim)

    Kerugian Jika Tidak Mengikuti Pemerintah

    Adapun yang tidak disiplin PSBB, maka ia akan kehilangan semua keutamaan dan pahala tersebut. Bahkan boleh jadi dosanya bertambah. Yaitu dosa maksiat kepada aturan syariat, maksiat kepada ulama dan ulil amri, menyusahkan orang lain, memperlambat terbukanya kembali masjid-masjid, dan bahkan dosa menyebabkan hilangnya nyawa orang lain secara tidak langsung.
    Allahu a'lam.

    Jadi, pilihannya di tangan kita semua.

    Bersabar Lebih Baik Untuk Kita

    Sabar saat covid 19

    Maksud dari saudara-saudara kita yang ingin segera membuka masjid dan melaksanakan sholat berjamaah adalah timbul dari kerinduan akan kebersamaan antar jamaah, tapi harus di ingat, dalam syariat islam semua permasalahan sudah ada panduannya.

    Sabar dalam syariat islam bukan hanya saat menerima ujian saja, tapi sabar dalam hal melakukan ketaatan, dan sabar untuk tidak berbuat maksiat. banyak sekali hadist tentang sabar yang menerangkan tentang ini.

    Tatkala pandemi atau wabah yang sedang terjadi di tanah air kita ini, maka pilihan terbaik adalah dengan bersabar mengikuti arahan pemerintah untuk tidak melaksanakan sholat berjamaah di masjid, dan ini adalah bentuk ujian kesabaran yang sepertinya tidak bisa kita terima.

    Kenapa?, karena kita di perintahkan oleh pemerintah untuk meninggalkan ibadah yang sangat besar pahalannya, padahal tidak demikian.

    Sudah di jelaskan di atas oleh Ustadz DR. Sufyan Baswedan, Lc. MA, bahwa pahala sholat berjamaah akan tetap kita dapatkan jika sebelumnya kita memang ahli masjid.

    Jadi tidak ada jalan lain, selain menerima musibah ini dengan lapang dada dan bersabar untuk mengikuti arahan dari ulil amri, dalan hal ini adalah pemerintah, karena merekalah yang mengerti dan paham tentang permasalahan ini.

    Ingatlah hadist tentang sabar di bawah ini, dan renungi maknanya, agar kita bisa bersabar tatkala semua hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan.

    Hadist Tentang Sabar Menghadapi Cobaan

    Hadist ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, yang berbunyi:

    إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

    Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian, dan bahwa Allah, apabila menyayangi atau mencintai suatu kaum, maka Allah akan mengujinya, dan bagi siapa saja ridha, maka baginya keridhaan dari Allah, dan barangsiapa yang membencinya, maka baginya kebenciaan dari Allah Swt.” [HR. tirmidzi : 2397 dan Ibnu Majah: 4031]

    Hadist Ancaman Bagi Orang Yang Tidak Sabar

    Hadis ini riwayat imam At-Thabarani dari sahabat Abu Hindi Ad-Dari Radhiallu Anhu,

    قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِيْ فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ.

    Artinya: Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, “Siapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku dan tidak sabar atas ujian-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.” [HR. At-Thabarani]

    Demikian, semoga kita bisa menerima musibah ini semua dan bersabar menghadapainya.

    Baarakallaahu fiikum


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Napitupulu Na07

    1 hari lalu

    Keadilan Agraria dan Peningkatan Produksi Pangan Melalui Konsesi Lahan Pertanian Luasan 10 –80 ha, kepada Badan Usaha Perorangan.

    Dibaca : 87 kali

    Salah satu dari 9 masalah fundamental multi dimensi bangsa Indonesia adalah “masih rendah, terbatas dan timpang pembangunan dan kesejahteraan baik antar lapisan / strata masyarakat maupun antar daerah dan pulau”. Perwujudan sila ke 5 dari Pancasila yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” masih jauh dari harapan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, bertajuk ‘Apa kabar Reforma Perhutanan Sosial’ Selasa 3/4/2018, Dalam paparan berjudul ‘Evolusi Kawasan Hutan, Tora dan Perhutanan Sosial, mengungkapkan: Ketimpangan pemberian lahan dan akses dari sektor kehutanan ini terdata sampai tahun 2017. Perbandingan ketimpangannya? Luas lahan di Indonesia yang yang sudah keluar ijin pengelolaanya adalah 42.253234 ha dari total 125.922.474 KH Indonesia. Dari 42.253.234 ha lahan yang diberikan ke swasta-masyarakat-kepentingan umum, 95,76 %-nya dilelola oleh swasta luas totalnya 40.463.103 ha. Perkembangan Luas Areal Kelapa Sawit, dari data peta RePPProT, pada tahun 1990 luasnya 7.662.100 ha, dari data baru tahun 2015 menjadi 11.260.277 ha, berarti kenaikan rata-rata 142.000 ha/tahun. Tahun 2016 menurun sedikit menjadi 11.201.465 ha. Tahun 2017 terhadap angka 2016 meningkat drastis 25 % lebih, menjadi sebesar 14.048.722 ha. Tahun 2018 naik menjadi 14.327.093 ha, Tahun 2019 naik menjadi 14.677.560 ha. Areal usaha perkebunan kelapa sawit tersebut didominasi oleh hanya puluhan pengusaha besar swasta. Ke depan apa yang bisa dilakukan? untuk mengurangi ketimpangan penguasaan / hak kelola Pengusaha Besar Swasta (PBS) atas tanah kawasan hutan (40.463.103 ha) dan Perkebunan kelapa sawit (14.677.560 ha), totalnya 55.140.663 ha setara 29,5 % luas daratan Idonesia 187.000.000 ha. Penulis menyarankan Solusi pengurangan ketimpangan secara bertahap, namun sekaligus bisa menangani permasalahan besar lain yaitu kemandirian pangan Indonesia yang sangat lemah / rapuh karena terkendala terbatasnya ketersediaan lahan garapan. Pada kesempatan ini diusulkan untuk Ekstensifikasi Pertanian pangan dengan membuka daerah irigasi (DI) Baru dengan Pola Pertanian Pangan UKM. Strateginya membangun Lima Pilar Pertanian Beririgasi Modern di luar P. Jawa meliputi: P1: Penyediaan air irigasi; P2: Pembangunan infrastruktur irigasi baru; P3: Pencetakan sawah baru petakan besar yang sesuai mekanisasi pertanian untuk para UKM dengan konsesi lahan 30-80 ha; P4: Mempersiapkan sistem pengelolaan irigasi; P5: Membangun sistem konsesi UKM pertanian mekanisasi padi komersial terpadu, mulai tanam, panen, sampai siap dipasarkan. Untuk keadilan agraria dan sekaligus penyediaan lahan garapan daerah irigasi baru, juga untuk lahan peternakan dan perikanan terlihat 2 kemungkinan yakni: (i) Mengatur pemberian puluhan ribu konsesi lahan luasan kecil 10 ha untuk peternakan, perikanan, hortikultur (mix farming), serta luas 30 - 80 ha untuk irigasi baru. Sebagai tahap pertama memanfaatkan cadangan areal untuk Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 4,1 juta ha, diberikan konsesi 30 tahun kepada badan usaha perorangan; dan (ii) Mengubah konsesi sawit lama yang habis masa konsesinya menjadi konsesi 30 tahun UKM sawah beririgasi 30 ha - 80 ha.