Mengapa Sebagian Warga Tidak Mengikuti Anjuran Pemerintah? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Anjuran pemerintah menggunakan masker

muhammad yusuf

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 April 2020

Senin, 27 Juli 2020 06:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mengapa Sebagian Warga Tidak Mengikuti Anjuran Pemerintah?

    Dibaca : 237 kali

    Percakapan antar warga +62 di warung kopi tentang covid 19 atas sikap pemerintah.

    Parto: Din, tau enggak sih, kalau kita tuh sudah dibodohi sama pemerintah untuk menitup masjid, dan melarang kita untuk sholat berjamaah?

    Udin: Ya tidak begitu juga sih Din, kita kan diwajibkan untuk mengikuti arahan dari ulil amri, dan ulil amri kita adalah pemerintah. Dan pemerintah itukan mengeluarkan kebijakan bukan berdasarkan perasaan dan lainnya, tapi berdasarkan pakar ahli kesehatan, yang kita tidak bisa menjangkau ilmu mereka. Kitakan hanya disuruh untuk taat kepada Ulil Amri.

    Parto: Gimana taat, lah orang pemerintah menyuruh meninggalkan sholat berjamaah kok, itukan kemungkaran kenapa harus taat juga, harusnya kita melawan Din (dengan nada meninggi)

    Udin: Oiya, pemerintah juga kan ada menteri agama, lalu ada MUI dan pemerintah mengambil keputusan berdasarkan masukan dari para ulama yang ada di MUI juga, bukan sekonyong-konyong pak Jokowi memberikan perintah nutup masjid.

    Terus, lu pikir para ulama itu mau menyesatkan kita, mereka tau ilmunya to, namanya kaidah ushul, jadi memilih mana mudhorat dan mana manfaat, dalam agama meinggalkan mudhorot lebih di utamakan daripada mengambil manfaat.

    Seperti sekarang ini, saat wabah kita di anjurkan untuk menjauh dan tidak mendekati wabah, lalu untuk virus ini, apa lu tau kalau gua terjangkit corona atau tidak? Kan ga tau to? Makanya kita dianjurkan untuk jaga jarak  dan tidak berkumpul di masjid untuk sholat berjamaah, biar kita ga ketularan satu sama lain.

    Parto: Ah, elu mah kebanyakan teori, pokoknya gua mau tetap sholat di masjid, urusan gua kena corona, itu urusan gua sendiri.

    Udin: Lah gimana lu ngomong begitu, bukan elu aja yang repot kalau kena corona, tenaga medis noh yang repot, dan capek mereka ngurusin corona, tugas kita untuk ga menambah beban mereka To, kan itu termasuk sedekah dalam islam, yaitu tidak menyusahkan orang lain.

    Parto: Terserah elu, gua tetap sholat di masjid.

    Udin: Terdiam sambil geleng-geleng kepala.

    Percakapan diatas hanyalah fiksi belaka, tapi itu juga merupakan kenyataan yang ada di masyarakat kita, terkait sholat di masjid atau bersabar dengan sholat di rumah bersama keluarga.

    Lalu sekarang yang terbaru tentang penggunaan masker dan social distancing, sama kasusnya seperti himbauan pemerintah terkait sholat berjamaah, ada dua kubu yang pro dan kontra.

    Dua kubu ini saling mengklaim dan mengeluarkan pendapatnya masing masing terkait pilihannya tersebut, lalu bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim yang tepat dan bisa di pertanggung jawabkan, mari kita kupas.

    Tugas Muslim Adalah Bersabar

    Dalam keadaan apapun seorang muslim hendaknya bersabar, baik itu terjadi bencana, melakukan ketaatan dan bersabar untuk tidak melakukan kemaksiatan, nah salah satu bentuk sabar dalam ketaatan adalah menaati Ulil Amri, atau pemimpin, dan pemimpin kita adalah pemerintah yang mana presiden adalah pemimpin tertingginya.

    Jikalau tidak ada sebab apapun pemerintah melarang kita untuk sholat di masjid maka berhak kita lawan dan kita perjuangkan, untuk tetap sholat di masjid, tapi kalau ada hal yang mendasar yang bisa membahayakan kita seperti halnya virus corona ini maka menaati pemerintah adalah suatu tidndakan yang tepat.

    Dan pahami juga bahwa pelarangan ini hanya sementara sampai kondisi kembali normal, jadi bukan pelarangan tanpa dasar, dan sikap muslim yang terbaik adalah bersabar dan ikuti anjuran pemerintah.

    Kita Tidak Tahu Siapa Saja yang Terpapar Corona

    Gunakan Masker Untuk Mencegah Corona

    Sifat virus corona ini menurut para pakar kesehatan begitu mudah untuk menyebar atau menular, dan kita tidak tahu siapa saja yang sudah terpapar korona, karena untuk mengetahui kita terpapar korona adalah dengan melakukan tes PCR atau SWAB dan tes ini hanya di lakukan untuk ODP atau PDP saja.

    Dalam istilah medis ada yang namanya OTG atau orang tanpa gejala, inilah yang di takutkan karena bisa menyebarkan virus tanpa kita sadari.

    Virus corona ini belum ada vaksinnya, dan kekhawatiran yang paling besar adalah apabila dalam satu waktu terjadi banyak kasus orang terpapar corona, sehingga akan membuat paramedis dan juga rumah sakit tidak sanggup menampung semua pasien.

    Jadi ini juga alasan yang tepat untuk seorang muslim agar tetap dirumah dan mengikuti anjuran pemerintah, karena kita tidak tahu siapa saja yang terpapar virus corona.

    Kematiankan Sudah Ditakdirkan?

    Tapi terkadang ada juga yang beralasan, kematian kan sudah takdir, kalau kita di takdirkan mati karena corona, ya itu memang sudah harus begitu adanya, jadi ngapain takut, tetaplah menjalankan perintahnya dengan sholat berjamaah di masjid.

    Kita katakan benar, kematian merupakan takdir yang harus kita imani, dan banyak hadits tentang kematian yang menerangkan masalah maut ini, tapi tidak dengan cara seperti itu juga memahaminya.

    Kalau misalkan kita sakit, apakah kita akan berdiam diri saja, dengan alasan biarlah sakit ini nanti juga sembuh sendiri, kalaupun kita mati itu sudah ketetapan Allah.

    Tentu tidak seperti itu, yang harus kita lakukan adalah berdoa minta kesembuhan lalu berusaha untuk mengobati penyakit yang kita derita tersebut. Kalau misalkan dalam proses ikhtiar tersebut kita meninggal, maka itu baru namanya takdir.

    Jadi tidak tepat jika cueknya kita terhadap wabah corona ini di kaitkan dengan takdir kematian, sekali lagi kita ingatkan bahwa kita di wajibkan mengikuti peraturan yang di buat oleh Ulil Amri untuk kemaslahatan kita bersama.

    Kalau berbicara takdir, semua ini memang sudah Allah takdirkan, Adanya wabah corona, adanya pembangkangan sebagian orang terhadap anjuran pemerintah dan termasuk anda membaca artikel ini, itu semua adalah takdir.

    Permasalahannya adalah, apakah kita mau memilih takdir yang baik atau takdir yang buruk, semua itu merupakan sikap kita terhadap keadaan yang terjadi di sekitar kita.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.