Bertani Tanpa Sawah dan Cangkul - Analisa - www.indonesiana.id
x

Adiani Viviana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 5 Juni 2020 17:05 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bertani Tanpa Sawah dan Cangkul

    Dibaca : 369 kali

     

    Kecintaannya pada tanaman cukup dalam. Saya rasa kegemarannya bercocok tanam bukan sekadar hobi. Satu tahun terakhir ini, ia mengkampanyekan lingkungan hidup yang hijau dan sehat dengan menumbuhkan budaya bercocok tanam dan mencintai tanaman. Sasarannya komunitas orang muda dan perempuan (Ibu-ibu). Ia memilih metode sistem bertani tanpa sawah dan cangkul.

    Dunia pertanian, juga bukan hal baru baginya. Di masa lalu, ia juga pernah bertani jamur. Ia pernah belajar tentang pertanian, meski tidak secara khusus. Pada 1993, ia terpilih untuk pergi ke Jepang. Mewakili Indonesia mengikuti program pertukaran pemuda, kerjasama pemerintah Indonesia-Jepang. Pengalaman selama di Jepang telah membekas dalam benaknya. Pola pikir orang-orang Jepang telah menginspirasinya: suka bekerja, gemar belajar, senang berinovasi dan melakukan hal baru.

    Bertani tanpa sawah dan cangkul merupakan hal baru yang baginya menarik untuk dipelajari dan praktekan. Sistem itu disebut sistem tanam hidroponik, suatu metode menanam dengan media air. Meski tanah pertanian Indonesia relatif luas, namun sistem hidroponik nyatanya jadi salah satu pilihan favorit masyarakat kita dalam bercocok tanam belakangan ini. Tidak hanya di Pulau Jawa, bahkan hingga Papua, pulau dengan tanah-hutan membentang luas, hidroponik sedang  digandrungi oleh beberapa kelompok masyarakat di sana.

    Narasumber saya ini bilang, karena hidroponik tidak butuh sawah dan cangkul. Tidak perlu memiliki lahan luas kita dapat bertani.

    "Jadi, cukup manfaatkan pekarangan rumah, teras, atau atap rumah dengan model tertentu bahkan. Dengan peralatan sederhana benda-benda bekas rumah tangga," katanya.

    Menurutnya, hidroponik dapat dilakukan oleh siapa saja. Semua orang dapat bertani tanpa harus memiliki lahan luas. Sistem ini juga cocok ditekuni oleh kaum muda milenial, yang menghendaki hidup simpel. Dan kelompok Ibu Rumah Tangga dengan kesibukan tinggi. Sebab, hidroponik dapat dilakukan di rumah, alias tidak perlu pergi ke sawah meminggul cangkul, tidak butuh biaya besar, dapat menghadirkan keindahan lingkungan rumah, menjadi sumber pangan pola makan sehat, dan menghadirkan udara bersih.

    "Ya, karena tanaman hidroponik ini bebas bahan kimia. Karena ditanam di rumah, juga jadi minim terkena debu. Beberapa pondok pesantren di sini yang pernah workshop dengan saya sudah mempraktekannya," tutur dia.

    "Jika ditekuni secara masif, tentu juga memiliki nilai ekonomi, bisa menghasilkan pundi-pundi," kata dia.

    Saya teringat kata-kata Bapak saya (almarhum) bahwa katanya, menanam itu sama saja dengan berbuat kebaikan. Bisa kapan saja, dan di mana saja, oleh siapa saja. Yang merasakan manfaat juga siapa saja, semua orang. Ia mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang menanam di tempat musuh, dan menanam di saat berperang.

    Indonesia yang negara agraris, lahan pertanian dan hutannya mulai terkikis. Beralih fungsi jadi lahan bisnis, dikuasai oleh kelompok dan pihak tertentu. Petani jadi budak di tanahnya sendiri. Situasi itu pula yang masih terus melanda masyarakat adat di Papua misalnya, dan wilayah-wilayah lain. Barangkali kehadiran sistem bertani tanpa sawah dan cangkul, memang dapat jadi pilihan solutif jangka pendek maupun panjang. Bertani dengan hidroponik, dimungkinkan dapat jadi alternatif upaya ketahanan pangan dan ekonomi bagi masyarakat skala kecil maupun besar dalam menghadapi masa-masa sulit seperti sekarang ini akibat dampak buruk pandemi virus covid-19.

    Ia yang sangat peduli pada penanggulangan virus Covid-19 di wilayahnya itu, telah menanam aneka sayuran. Cesim, bayam, sledri, bawang merah, cabai rawit dan kangkung menghijaukan halaman rumahnya kira-kira seluas 4 x 3 meter itu. Semua ditanam dengan metode hidroponik. Bercocok tanam baginya mampu menghadirkan ide dan membuang kepenatan. Ia sepikiran dengan saya bahwa tanaman adalah makhluk hidup yang dapat diajak bicara.

    "Betul, mereka kasih respon kita kalau kita ajak bicara. Hanya, kitanya  mungkin yang kurang mampu memahami dan menangkapnya," kata dia. 

    Pada Rabu, 3 Juni 2020 saya berkesempatan belajar langsung bertani hidroponik padanya. Peserta sembilan orang saja. Kaum muda dan ibu-ibu. Tentu ini sesuai dengan protokol kesehatan di masa pandemi covid-19, bahwa tidak boleh berkerumun lebih dari 10 orang. Workshop bertempat di kampung halamannya, Desa Kalijaran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Sebuah daerah berhawa dingin yang dipayungi gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa, Gunung Slamet. Pada siang itu, ia berbagi bagaimana bertanam kangkung hidroponik. Ia melakukan pendampingan sendiri. Tidak banyak peralatan yang dibutuhkan, yaitu pot tanpa lubang ukuran sedang atau benda bekas seperti kaleng roti bekas, wadah bekas cat, kemudian kita juga butuh cething/ semacam pot dengan lubang kecil-kecil pada tiap sisi, tisu makan, ember berisi air, gayung, dua buah botol, sendok atau batang pohon. Bahan yang perlu disediakan hanya dua, biji kangkung dan nutrisi sayuran.

    Proses penyemaian bibit sangat sederhana dan cepat. Pertama-tama siapkan pot tanpa lubang. Isi pot-pot itu dengan air, mendekati penuh. Kemudian letakkan cething di atas pot berisi air, hingga cething itu bersentuhan dengan air. Ketiga, letakkan selembar tisu makan di atasnya, hingga seluruh permukaannya basah. Lalu, sebar biji kangkung di atas tisu yang sudah basah tadi, secara merata. Letakkan di tempat beratap, agar tidak terhempas hujan atau angin. Tunggu sekitar tiga hari, bibit kangkung itu berkecambah. Dalam tiga hari itu, kita dapat sambil siapkan cairan nutrisi. Ada dua jenis nutrisi, larutkan di botol yang berbeda. Aduk-aduk. Setelah biji tunas atau di hari keempat kita dapat masukkan nutrisi ke dalam pot yang berisi air, aduk hingga merata. Tunggu hingga 26 hari, kangkung siap dipanen dengan menggunting batangnya. Kemudian batang itu akan tumbuh lagi, begitu hingga empat kali panen kangkung.

    Konon, dulu orang tuanya yang pegawai negeri dan pernah jadi Anggota DPRD itu juga lama bertani kangkung di lahannya yang luas di tepi sungai. Kangkung-kangkung itu dijual ke pasar untuk melengkapi pemenuhan biaya hidup.

    Pengalaman hidup, barangkali kadang bagaikan biji-biji tanaman hidroponik. Bila digali, ditumbuhkan dan dirawat, akan bertumbuh, hadirkan pengalaman baru lagi yang lebih besar dan memberi manfaat. Ia yang hobi bertanam dan bersepeda serta punya bakat fotografi itu percaya, menekuni cocok tanam hidroponik dapat jadi teman baik di masa depan. Memberi asupan sehat, oksigen bersih, dan nilai ekonomi serta sosial.

    Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini ia punya harapan pada masyarakat Indonesia, khususnya  di Bumi Perwira Purbalingga agar masyarakat gemar menanam. Mulai bertanam di sekeliling rumah sendiri. Pada generasi muda ia juga berharap agar mereka punya kemauan untuk terjun ke dunia pertanian. Melalui dunia pertanian, mereka dapat jadi motor penggerak dan agen perubahan lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan di muka bumi ini.

    Ia, H In'am Birohmatillah, laki-laki kelahiran 7 September 1970, Anggota Komisi II (Bidang Ekonomi) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Purbalingga, Jawa Tengah telah lama memulainya, menjadi bagian agen perubahan lingkungan hidup yang baik. In'am mencintai tanaman dan  mengkampanyekan gerakan menanam. Menanam untuk perubahan. Dan tentang jangan menyerah dalam belajar hal baru dan bekerja, iapun telah buktikan. Bahkan sejak muda: tuntutlah ilmu walau sampai Negeri Sakura.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.





    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 94 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.