Bertani Tanpa Sawah dan Cangkul

Jumat, 5 Juni 2020 17:05 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Orang-orang muda hendaknya memulai terjun dan menekuni dunia pertanian. Melalui dunia pertanian, mereka dapat ambil peran jadi motor penggerak agen perubahan lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan di bumi Indonesia. Bertani dengan sistem hidroponik, dapat jadi salah satu alternatif pilihan yang pas bagi kaum muda milenial. Terlebih dalam situasi sulit dan perekonomian mulai terpuruk seperti saat ini sebagai dampak buruk pandemi virus covid-19 yang melanda dunia.

 

Kecintaannya pada tanaman cukup dalam. Saya rasa kegemarannya bercocok tanam bukan sekadar hobi. Satu tahun terakhir ini, ia mengkampanyekan lingkungan hidup yang hijau dan sehat dengan menumbuhkan budaya bercocok tanam dan mencintai tanaman. Sasarannya komunitas orang muda dan perempuan (Ibu-ibu). Ia memilih metode sistem bertani tanpa sawah dan cangkul.

Dunia pertanian, juga bukan hal baru baginya. Di masa lalu, ia juga pernah bertani jamur. Ia pernah belajar tentang pertanian, meski tidak secara khusus. Pada 1993, ia terpilih untuk pergi ke Jepang. Mewakili Indonesia mengikuti program pertukaran pemuda, kerjasama pemerintah Indonesia-Jepang. Pengalaman selama di Jepang telah membekas dalam benaknya. Pola pikir orang-orang Jepang telah menginspirasinya: suka bekerja, gemar belajar, senang berinovasi dan melakukan hal baru.

Bertani tanpa sawah dan cangkul merupakan hal baru yang baginya menarik untuk dipelajari dan praktekan. Sistem itu disebut sistem tanam hidroponik, suatu metode menanam dengan media air. Meski tanah pertanian Indonesia relatif luas, namun sistem hidroponik nyatanya jadi salah satu pilihan favorit masyarakat kita dalam bercocok tanam belakangan ini. Tidak hanya di Pulau Jawa, bahkan hingga Papua, pulau dengan tanah-hutan membentang luas, hidroponik sedang  digandrungi oleh beberapa kelompok masyarakat di sana.

Narasumber saya ini bilang, karena hidroponik tidak butuh sawah dan cangkul. Tidak perlu memiliki lahan luas kita dapat bertani.

"Jadi, cukup manfaatkan pekarangan rumah, teras, atau atap rumah dengan model tertentu bahkan. Dengan peralatan sederhana benda-benda bekas rumah tangga," katanya.

Menurutnya, hidroponik dapat dilakukan oleh siapa saja. Semua orang dapat bertani tanpa harus memiliki lahan luas. Sistem ini juga cocok ditekuni oleh kaum muda milenial, yang menghendaki hidup simpel. Dan kelompok Ibu Rumah Tangga dengan kesibukan tinggi. Sebab, hidroponik dapat dilakukan di rumah, alias tidak perlu pergi ke sawah meminggul cangkul, tidak butuh biaya besar, dapat menghadirkan keindahan lingkungan rumah, menjadi sumber pangan pola makan sehat, dan menghadirkan udara bersih.

"Ya, karena tanaman hidroponik ini bebas bahan kimia. Karena ditanam di rumah, juga jadi minim terkena debu. Beberapa pondok pesantren di sini yang pernah workshop dengan saya sudah mempraktekannya," tutur dia.

"Jika ditekuni secara masif, tentu juga memiliki nilai ekonomi, bisa menghasilkan pundi-pundi," kata dia.

Saya teringat kata-kata Bapak saya (almarhum) bahwa katanya, menanam itu sama saja dengan berbuat kebaikan. Bisa kapan saja, dan di mana saja, oleh siapa saja. Yang merasakan manfaat juga siapa saja, semua orang. Ia mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang menanam di tempat musuh, dan menanam di saat berperang.

Indonesia yang negara agraris, lahan pertanian dan hutannya mulai terkikis. Beralih fungsi jadi lahan bisnis, dikuasai oleh kelompok dan pihak tertentu. Petani jadi budak di tanahnya sendiri. Situasi itu pula yang masih terus melanda masyarakat adat di Papua misalnya, dan wilayah-wilayah lain. Barangkali kehadiran sistem bertani tanpa sawah dan cangkul, memang dapat jadi pilihan solutif jangka pendek maupun panjang. Bertani dengan hidroponik, dimungkinkan dapat jadi alternatif upaya ketahanan pangan dan ekonomi bagi masyarakat skala kecil maupun besar dalam menghadapi masa-masa sulit seperti sekarang ini akibat dampak buruk pandemi virus covid-19.

Ia yang sangat peduli pada penanggulangan virus Covid-19 di wilayahnya itu, telah menanam aneka sayuran. Cesim, bayam, sledri, bawang merah, cabai rawit dan kangkung menghijaukan halaman rumahnya kira-kira seluas 4 x 3 meter itu. Semua ditanam dengan metode hidroponik. Bercocok tanam baginya mampu menghadirkan ide dan membuang kepenatan. Ia sepikiran dengan saya bahwa tanaman adalah makhluk hidup yang dapat diajak bicara.

"Betul, mereka kasih respon kita kalau kita ajak bicara. Hanya, kitanya  mungkin yang kurang mampu memahami dan menangkapnya," kata dia. 

Pada Rabu, 3 Juni 2020 saya berkesempatan belajar langsung bertani hidroponik padanya. Peserta sembilan orang saja. Kaum muda dan ibu-ibu. Tentu ini sesuai dengan protokol kesehatan di masa pandemi covid-19, bahwa tidak boleh berkerumun lebih dari 10 orang. Workshop bertempat di kampung halamannya, Desa Kalijaran, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Sebuah daerah berhawa dingin yang dipayungi gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa, Gunung Slamet. Pada siang itu, ia berbagi bagaimana bertanam kangkung hidroponik. Ia melakukan pendampingan sendiri. Tidak banyak peralatan yang dibutuhkan, yaitu pot tanpa lubang ukuran sedang atau benda bekas seperti kaleng roti bekas, wadah bekas cat, kemudian kita juga butuh cething/ semacam pot dengan lubang kecil-kecil pada tiap sisi, tisu makan, ember berisi air, gayung, dua buah botol, sendok atau batang pohon. Bahan yang perlu disediakan hanya dua, biji kangkung dan nutrisi sayuran.

Proses penyemaian bibit sangat sederhana dan cepat. Pertama-tama siapkan pot tanpa lubang. Isi pot-pot itu dengan air, mendekati penuh. Kemudian letakkan cething di atas pot berisi air, hingga cething itu bersentuhan dengan air. Ketiga, letakkan selembar tisu makan di atasnya, hingga seluruh permukaannya basah. Lalu, sebar biji kangkung di atas tisu yang sudah basah tadi, secara merata. Letakkan di tempat beratap, agar tidak terhempas hujan atau angin. Tunggu sekitar tiga hari, bibit kangkung itu berkecambah. Dalam tiga hari itu, kita dapat sambil siapkan cairan nutrisi. Ada dua jenis nutrisi, larutkan di botol yang berbeda. Aduk-aduk. Setelah biji tunas atau di hari keempat kita dapat masukkan nutrisi ke dalam pot yang berisi air, aduk hingga merata. Tunggu hingga 26 hari, kangkung siap dipanen dengan menggunting batangnya. Kemudian batang itu akan tumbuh lagi, begitu hingga empat kali panen kangkung.

Konon, dulu orang tuanya yang pegawai negeri dan pernah jadi Anggota DPRD itu juga lama bertani kangkung di lahannya yang luas di tepi sungai. Kangkung-kangkung itu dijual ke pasar untuk melengkapi pemenuhan biaya hidup.

Pengalaman hidup, barangkali kadang bagaikan biji-biji tanaman hidroponik. Bila digali, ditumbuhkan dan dirawat, akan bertumbuh, hadirkan pengalaman baru lagi yang lebih besar dan memberi manfaat. Ia yang hobi bertanam dan bersepeda serta punya bakat fotografi itu percaya, menekuni cocok tanam hidroponik dapat jadi teman baik di masa depan. Memberi asupan sehat, oksigen bersih, dan nilai ekonomi serta sosial.

Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini ia punya harapan pada masyarakat Indonesia, khususnya  di Bumi Perwira Purbalingga agar masyarakat gemar menanam. Mulai bertanam di sekeliling rumah sendiri. Pada generasi muda ia juga berharap agar mereka punya kemauan untuk terjun ke dunia pertanian. Melalui dunia pertanian, mereka dapat jadi motor penggerak dan agen perubahan lingkungan hidup yang sehat dan berkelanjutan di muka bumi ini.

Ia, H In'am Birohmatillah, laki-laki kelahiran 7 September 1970, Anggota Komisi II (Bidang Ekonomi) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Purbalingga, Jawa Tengah telah lama memulainya, menjadi bagian agen perubahan lingkungan hidup yang baik. In'am mencintai tanaman dan  mengkampanyekan gerakan menanam. Menanam untuk perubahan. Dan tentang jangan menyerah dalam belajar hal baru dan bekerja, iapun telah buktikan. Bahkan sejak muda: tuntutlah ilmu walau sampai Negeri Sakura.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Adiani Viviana

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Perempuan yang di Dalam Kepalanya Ada Sepatu

Rabu, 11 Oktober 2023 15:56 WIB
img-content

Bertani Tanpa Sawah dan Cangkul

Jumat, 5 Juni 2020 17:05 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler