Menjadi Gaya Hidup Sehat, Corona Kalah oleh Pesepeda - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

bersepeda

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 15 Juni 2020 06:19 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Menjadi Gaya Hidup Sehat, Corona Kalah oleh Pesepeda

    Dibaca : 581 kali

    Virus corona, dengan sendirinya akan kalah oleh gaya hidup sehat oleh para pesepeda. Kini, demi meenjaga imunitas tubuh dan kesehatan, masyarakat menggeruduk sepeda menjadi alat transportasi sekalus alat menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Maka, dengan sendirinya, virus coroan akan kalah oleh pesepeda yang sehat.

    Khususnya di Indonesia, sebab pandemi corona, kini bersepeda menjadi pilihan masyarakat terutama dalam rangka menjaga kondisi tubuh. Namun, bagi sebagian masyarakat, sebelum wabah corona datang, bersepeda juga sudah menjadi gaya hidup. Meski, banyak pula masyarakat yang akhirnya memilih bersepeda demi menjaga kesehatan, sehingga tidak harus pilih-pilih dan gengsi dengan jenis dan harga sepeda. Terpenting sehat dan nyaman digowes, nyaman untuk kantong, dan tidak harus kebanyakan “gaya”.

    Selain itu, bersepeda juga jangan karena mau ikut-ikutan tren dan gengsi. Akan tetapi, jika didasari pada kebutuhan dan pertimbangan isi dompet, sebab yang terpenting manfaat dan sensasinya, bukan harganya.

    Sejarah Sepeda

    Bila Anda kini sudah memilih ikut aktif bersepeda, terlepas karena kebutuhan untuk menjaga kesehatan di tengah wabah corona, apa lagi yang tujuannya sekadar untuk gaya-gayaan, jangan bilang Anda sudah menjadi pesepeda, bila tak memahami Sejarah dan Hari Sepeda.

    Dari berbagai literasi dan informasi, sepeda pertama ditemukan oleh Baron Karl Drais von Sauerbronn atau lebih sering dikenal Karl Drais, yang lahir pada tanggal 29 April 1785 di Karlsruhe, Jerman. Karl berprofesi sebagai kepala pengawas hutan. Untuk menunjang tugasnya sebagai kepala pengawas hutan, ia membutuhkan alat transportasi dengan mobilitas tinggi. Atas dasar kebutuhan tersebut, Karl Drais kemudian berinovasi menciptakan sebuah alat transportasi untuk menunjang pekerjaannya. Dan, akhirnya ia berhasil menciptakan sebuah terobosan yang sangat penting bagi teknologi sepeda modern yang kita jumpai sekarang. Bentuk awal sepeda yang diciptakan pada masa itu adalah sepeda beroda tiga tanpa pedal.

    Saya kutip dari informasitips.com, Karls Drais melakukan perjalanan pertamanya pada 12 Juni 1817, dari Mannheim ke Schwetzinger Relaishaus. Perjalanan keduanya dari Gernsbach ke Baden juga dilakukan pada tahun yang sama. Dengan kendaraannya itu, Karl Drais dilaporkan mampu melaju lebih cepat. Perjalanan perdana dengan sepeda buatannya ini telah diliput dan dimuat di koran lokal Jerman pada tahun 1817. Karl Drais sendiri memberi nama sepeda ciptaannya ini dengan Draisienne. Atas ide dan kreativitasnya, Karls Drais dianugerahi gelar duke pada tanggal 12 Januari 1818. Selain itu, Grand Duke Karl Drais juga ditunjuk sebagai profesor mekanika. Gelar ini merupakan gelar kehormatan yang tidak ada kaitannya dengan universitas ataupun lembaga lain. Saat pensiun dari layanan sipil, Karl Drais tetap menerima gaji sebagai bentuk imbalan jasanya sebagai penemu sepeda.

    Sementara masyarakat Indonesia, mulai mengenal sepeda di masa kolonial Belanda. Sebab, orang Belanda membawa sepeda buatan Eropa sebagai alat transportasi di masa pendudukan mereka di Indonesia. Dulu, rakyat jelata tidak dapat menikmati alat transportasi tersebut, karena merupakan alat transportasi mewah. Hanya para penguasa dan bangsawan yang dapat menikmati sepeda. Kini, di masa pandemi corona, meski dalam kondisi ekonomi terpuruk, masyarakat ‘biasa’ Indonesia bahkan banyak yang berseliweran di jalan, telah menggowes sepeda bermerek dengan harga yang sepadan dengan harga sepeda motor dan mobil.

    Sebagai jejak sejarah, dilansir dari bernas.id, sepeda-sepeda yang sudah masuk kategori kuno seperti sepeda buatan Inggris antara lain Humber Cross (1901), Raleigh (1939), Phillips (1956), Hercules (1922). Sedangkan sepeda buatan Belanda ialah Batavus (1920), Gazelle (1925), Valuas (1940), Master (1950), dll. Lalu, sepeda kuno buatan Belanda (Dutch Bike) sering pula dijuluki sebagai sepeda onthel atau sepeda unta. Sepeda Belanda inilah yang kini masih banyak menjadi barang koleksi oleh masyarakat Indonesia. Bahkan kini pada abad ke-21, masih terdapat koleksi sepeda buatan awal abad ke-20 seperti merek Veeno yang dicari oleh pecinta sepeda.

    Masyarakat Indonesia di zamannya, juga cukup familiar dengan sepeda jengki. Istilah “jengki” berasal dari kata “yankee”. Sebutan ini diperuntukan orang Amerika. Istilah ini muncul ketika orang Amerika pada tahun 1960-an dapat menginvasi Indocina. Pada waktu itu, orang Amerika beserta produk-produknya membawakan ciri fisik, perilaku, pemikiran, dan tampilan baru kepada orang Asia.

    Saat Indonesia dipimpin oleh Presiden Soekarno, beliau sempat melarang masuknya segala produk sepeda buatan Barat. Akibatnya, sepeda buatan Belanda dan Eropa Barat sempat tidak lagi dapat masuk ke Indonesia sehingga pasar sepeda diramaikan sepeda buatan Tiongkok dengan bentuk dan proporsi baru seperti merek Butterfly dan Phoenix.

    Sepeda buatan China jauh lebih ringan dan ukurannya lebih kecil, sehingga lebih mudah dikendarai oleh orang Indonesia. Sepeda keluaran baru itu sering pula disebut orang dengan nama sepeda jengki pula. Oleh karena itu, sepeda jengki menjadi istilah populer, seperti juga  sepeda kumbang. Sebelum Perang Dunia II, masyarakat Indonesia juga telah mengenal sepeda balap, seperti Mansonia, Triumph, dan Hima.

    Ringkas kisah, sepeda kemudian menjadi akrab bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, balap sepeda di Indonesia, awalnya diselenggarakan di Semarang dan didirikan velodrome oleh arsitek Ooiman serta Van Leeuwen. Namun, kegiatan ini terhenti pada masa penjajahan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, sepeda kembali marak. Pada Pekan Olahraga Nasional ke-2 tahun 1951, balap sepeda telah menjadi cabang olahraga resmi yang diperlombakan. Beberapa daerah pun membentuk perkumpulan balap sepeda, dan akhirnya berdirilah Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) pada tanggal 20 Mei 1956 di Semarang.

    Kemudian, pada masa 1980-an, sepeda semakin populer di Indonesia dan didominasi oleh sepeda modern seperti sepeda gunung (mountain bike), sepeda perkotaan (commuting bike), sepeda anak, dan  juga belakangan terdapat sepeda lipat (folding bike).

    Kini, di zaman Generasi Z, sudah lewat  masa milenial, sepeda gununglah yang paling diminati di Indonesia. Sepeda ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1977 oleh Joe Breeze, Gary Fisher,  dan timnya, banyak digemari oleh masyarakat perkotaan di Indonesia.

    Hari Sepeda Sedunia (HSS)

    Bila Anda sudah menjadi pesepeda, juga wajib memahami, bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 3 Juni sebagai Hari  Sepeda Sedunia (HSS) atau World Bicycle Day (WBD) pada 2018. Penetapan ini dilakukan dalam Majelis Umum PBB yang ke-72 di New York, Amerika Serikat.

    Tujuan HSS ditetapkan, adalah  untuk menggaungkan gaya hidup sehat. Sebab, sepeda telah digunakan lebih dari dua abad, yaitu sebagai transportasi yang sederhana, terjangkau, bersih, sehat, dan ramah lingkungan. Karenanya, PBB menyerukan kepada setiap negara untuk meningkatkan sarana bersepeda agar meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik banyak orang. Beberapa alasan yang membuat bersepeda merupakan gaya hidup sehat di antaranya,

    bersepeda dapat mengurangi risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, stroke, kanker tertentu, diabetes. Bersepeda juga mengurangi risiko kematian, dapat mengontrol berat badan dan mencegah obesitas. Selain itu, bersepeda juga meningkatkan kekuatan, keseimbangan, dan koordinasi tulang karena dapat mencegah faktur dan tekanan pada otot.

    Selain itu, bersepeda membuat seseorang dapat lebih dekat dengan alam. Orang yang mengendarai sepeda dapat sekaligus menikmati keindahan alam sekitar lebih dekat. Keindahan alam membuat seseorang memiliki kesehatan fisik dan mental yang lebih baik. Malah berdasarkan keterangan pers yang diterima CNNIndonesia.com dari Agoda, bersepeda disebut memberikan pengalaman unik dalam berkendara dan mengunjungi suatu tempat. Pengalaman yang unik ini dapat memberikan kesenangan dan baik untuk kesehatan mental. 

    Tren dan gaya hidup

    Karena manfaafnya, bersepeda sebelum corona dan kini di saat pandemi corona terus menjadi tren di kalangan masyarakat. Dalam Hari Bebas Kendaraan atau Car Free Day (CFD) yang jatuh setiap akhir pekan di setiap kota dan kabupaten, dimanfaatkan banyak pesepeda maupun komunitas sepeda untuk berkumpul menyalurkan hobi mereka atau sebagai ajang silaturahim.

    Beberapa kota besar di Indonesia pun, kini sudah membuat jalur khusus sepeda. Jadi pesepeda tidak akan terganggu lagi oleh pengendara motor dan mobil. Terlebih kini di saat pandemi corona, meski masih ada daerah yang menerapkan PSBB dan baru mulai masa transisi menuju  normal baru, sudah banyak pesepeda baik perorangan maupun komunitas yang gowes dan nggenjot sepeda sesuai dengan keinginannya, tidak di jalan raya khusus jalur sepeda, seperti tempat yang jauh dari keramaian dengan waktu yang dapat disesuaikan sendiri.

    Dalam kondisi pandemi corona, kini bersepeda malah sudah menular dan menjadi virus di masyarakat. Dan, ini jangan-jangan lebih membahayakan dari virus corona. Apa pasalnya? Bersepeda kini malah ada yang dijadikan gaya-gayaan, bukan sekadar gaya hidup. Karena bagi masyarakat yang punya kocek dan mampu, harga sepeda yang mereka miliki pun sudah sama dengan harga motor atau mobil.

    Sebetulnya ini jadi ironi, sebab, di tengah kondisi masyarakat Indonesia terpuruk, kini setiap hari di berbagai daerah dan jalan raya berseliweran pesepeda yang menggunakan sepeda bermerek dan berharga mahal.

    Untuk itu, bagi masyarakat umum, yang ingin menjadi pesepeda demi menjaga kesehatan dan sebagai alat transportasi murah, tidak usah terbawa gengsi. Bersepedalah dengan sepeda yang standar, yang harganya terjangkau. Terpenting fungsinya sama, untuk kesehatan dan alat transportasi. Jangan dijadikan gaya hidup mewah. Banyak pula komunitas sepeda yang kini menjunjung tinggi produk sepeda lokal dengan harga terjangkau.

    Semisal para pesepeda juga harus memahami bahwa ada jenis-jenis sepeda yang sudah beredar di pasar Indonesia, dan bersahabat dengan kocek masyarakat. Apalagi bila sebagai pesepeda pemula, hanya niat untuk gowes sekadarnya atau bolak balik kantor, tak harus memilih sepeda mahal dan baru.

    Namun, bila tidak begitu peduli sepeda bekas atau baru, pesepeda pemula dapat membeli sepeda seken yang spesifikasinya lebih oke, namun harganya sama dengan yang baru. Yang pasti sangat disarankan adalah membeli sepeda dengan merek yang sudah terbukti kualitasnya, seperti merek lokal, di antaranya: Polygon, Wimcycle, dan United Bike. Brand-brand ini sudah dikenal apik para penggemar gowes.

    Ayo bersepedalah, jadikan dia virus yang lebih hebat dari virus corona, karena akan menjaga imun tubuh tetap sehat, lingkungan pun bersih. Jangan, jadikan dia gaya-gayaan, cukup menjadi gaya hidup sehat yang tidak memaksakan diri, dan jual gengsi.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: Saufi Ginting

    15 jam lalu

    AYAH

    Dibaca : 56 kali