Kafkaesque dan Pengaruhnya - Urban - www.indonesiana.id
x

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 8 Juli 2020 16:01 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Kafkaesque dan Pengaruhnya

    Franz Kafka menulis novela Metaformosis di tahun 1915 yang fenomenal. Dari karya-karyanya kemudian lahir istilah yang dikenal masyarakat sebagai Kafkaesque.

    Dibaca : 7.107 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Fiksi sastra tidak saja menghasilkan jenis hiburan bagi pembacanya, tetapi juga gagasan kritis terhadap problem eksitensi kemanusiaan. Gagasan yang kemudian menjadi renungan bagi pembacanya. Seperti halnya istilah Oedipus Complex yang digunakan Sigmund Freud dalam psikoanalisis untuk menengarai hubungan inses dan menyukai seseorang yang jauh lebih dewasa, merujuk atas peristiwa ironis dan tragis dalam drama klasik Oedipus Rex karya Sophocles (429 SM). Di mana, Oedipus membunuh ayah dan menikahi ibunya tanpa sadar.

    Masyarakat juga mengenal istilah Orwellian untuk melihat sifat politik yang otoriter dan menghancurkan nilai-nilai demokrasi. Hal ini tercermin dalam frasa Big Brother dan Doublespeak (eufimisme seperti zaman Orba). Istilah ini diambil dari karya Goerge Orwell berjudul 1984 (1948). Dalam novel petualangan Don Quixote, kita juga bisa mengenal istilah Picaresque atau picaro. Yaitu untuk menyebut novel yang bersifat petualangan nakal yang satire, parodik dan episodik. Selain itu kita mendapati istilah Kafkaesque.

    Istiah Kafkaesque muncul setelah Franz Kafka menulis dua karya besarnya berjudul Metamorphosis (1915) dan The Trial (1925). Seperti halnya karya novel sastra, Kafkaesque adalah dasar atau inti dari pandangan kritis Franz Kafka terhadap persoalan kemanusiaan yang dihadapinya. Meskipun lahir sebagai kelas menengah atas, Kafka yang mendapatkan gelar doktor hukum pada usia 23 tahun, merasakan diskriminasi rasial terhadap kaum Yahudi di Praha. Latar belakang ini mempengaruhi pandangan kritisnya melalui karya-karya fiksinya sebagai konteks masalah.

    Kafkaesque dipandang sebagai sifat esensial atau jiwa kritis dalam setiap karya Kafka. Sementara orang menggunakan istilah Kafkaesque untuk menandakan kebuntuan yang dihadapi. Lebih dari itu, Kafkesque bermakna situasi kompleks yang tidak masuk akal (absurd) dan menyeramkan. Namun, makna Kafkaesque tidak sekadar berhenti di sana. Frederick Karl, penulis biografi Franz Kafka, dalam wawancarnya di The New York Times (1991) menjelaskan bahwa Kafkaesque, ringkasnya setelah pengertian di atas adalah menyertakan semacam perjuangan melawan pola kontrol yang menelikung kemanusiaan.

    Kafkaesque adalah semacam kehendak bebas dalam makna menentang determinisme, atau pola-pola yang menekan dan membuatnya kehilangan identitas diri bahkan kemanusiaannya secara utuh. Milan Kundera, misalnya, dalam narasi novelnya The Book Laughting and Forgetting (1978) menerjemahkan Kafkaesque sebagai “perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa”. Kafkaesque merujuk sikap manusia yang berjuang dalam tekanan belenggu kuat dan menekan, meskipun kemudian ia kalah.

    Dalam novela Metamorfosis, kita mendapati Kafkaesque berupa perlawanan Gregor Samsa yang berubah menjadi seekor kecoa raksasa. Situasi di mana, ia mengalami absurditas dan kehilangan jati diri serta terputusnya koneksitas antara tubuh dan nalarnya. Dalam perubahan wujud itu, kognisinya masih berjalan normal. Dalam wujud barunya, ia berusaha tetap menjalankan rutinitas pekerjaan sebagai sales perusahaan. Mengikuti aturan atau pola-pola birokrat yang sudah terbentuk mapan dan determinis. Tetapi wujud barunya tak mampu menjalankan fungsi itu. Ia mengalami kebuntuan dan merasakannya sebagai realitas menyeramkan dan absurd dari kewajaran kemanusiaannya. Hingga akhirnya mati tragis dengan kehilangan simpati, bahkan dari keluarganya sendiri.

    Sementara dalam novelnya The Trial, Joseph K, protogonis novel itu mengalami peristiwa penangkapan atas dirinya tanpa alasan dari otoritas hukum. Sebuah situasi yang sama absurdnya dengan Metamorfosis. Meskipun ia berjuang untuk mendapatkan keadilan, namun semua upayanya kandas oleh birokrasi yang berubah menjadi jaring laba-laba yang menjebaknya pada keputusasaan.

    Seluruh upayanya dipantul-pantulkan dari otoritas ke otoritas dalam sistem birokrasi yang lamban dan memuakkan. Pengadilan hanya serupa tafsir tunggal-kaku menjebak nasib seseorang demi kepentingan tertentu. Secara komedi, keadaan birokrasi itu juga digambarkan sebagai karakter koala yang melayani secara lamban dalam film animasi “Zootopia” (2016). Tindakan lamban birokratis yang menciptakan ketegangan, kecemasan dan akhirya ketidakberdayaan. Birokrasi yang juga sering hadir sebagai lembaga tak masuk akal.

    Kafkaesque juga mempengaruhi atau merasuk ke dalam jiwa fiksi-fiksi dunia setelah Kafka meninggal di tahun 1924. Haruki Murakami, misalnya, menulis Super-Frog Saves Tokyo (2002) menggunakan gagasan dan pola yang sama. Di mana Katagiri, karakter dalam cerita itu bertemu dengan seekor katak raksasa yang bisa berbicara di dalam apartemenya suatu pagi yang membingungkan. Seekor katak yang katanya mampu menyelamatkan kota Tokyo.

    Demikian pula dengan Yu Hua, sastrawan Cina, menulis As The North Wind Howled yang diterbikan oleh The New Yorker (2018) menceritakan seroang pria yang terjebak oleh situasi yang tak masuk akal di pagi hari, di mana ia harus mengikuti seorang pria tak dikenal demi mengikuti ritual kematian seorang pria yang tak ia kenal yang dinyatakan sebagai kawan akrabnya. Ia tak saja harus mengakui hubungan itu, tetapi sekaligus terbebani tanggung jawab sebagai bagian keluarga.

    Dalam novel Albert Camus berjudul The Stranger kita juga melihat gagasan yang sama tentang absurditas –meskipun kita jelas melihat perbedaan konsep. Absurditas dalam novel Camus diakhiri dengan penerimaan atas konsekuensi amoralnya yaitu “ketidakpedulian halus dunia” pada manusia (Camus memolak istilah eksitensialisme dalam novelnya The Stranger). Dalam karyanya yang lain Albert Camus, berjudul La Peste atau “Sampar” (1949), juga mendasarkan novelnya pada kebuntuan manusia menghadapi ancaman kematian melalui wabah pes. Dr Bernard Riuex, narrator dalam novel itu menyimpulkan bahwa perang melawan kematian adalah sia-sia. Meskipun demikian manusia toh harus tetap melawan.

    Di Indonesia, kita juga bisa mendapatkan beberapa karya yang bersifat Kafkaesque. Pada novel Ziarah (1983) karya Iwan Simatupang, misalnya, kita juga mendapatkan tema absurditas. Di mana cinta dan rumitnya birokrasi membuat hidup karakater utama, seorang pelukis menjadi kehilangan kendali moral dan kewajaran. Keadaan di mana nihilisme yang menegasikan kehendak manusia menjadi pandangan moralnya. Cerita dimulai dengan situasi absurd, di mana tokohnya melompat dari gedung bertingkat dan menindih seorang perempuan. Bukannya mati, tetapi mereka justru bersetubuh dan menikah.

    Akhir-akhir ini kita juga sering mendapatkan karya-karya cerpen yang berangkat dari karya Franz Kafka, terutama Metamorfosis. Beberapa cerpen berjudul “Samsara Samsa” ( Koran Tempo, 20 April 2019) karya Kiki Sulistyo dan cerpen berjudul “Gregor Samsa dan Seorang Wanita” ( BasaBasi[dot]co, 6 Maret 2020) karya Wahid Kurniawan mencoba mengeksplorasi secara imajinatif karakter Gregor Samsa. Meskipun dua karya tersebut tidak bisa disebut sebagai Kafkaesque atau bersifat pikiran Kafka, kecuali hanya upaya memodifikasi situasi fiktifnya.

    “Samsara Samsa” mungkin lebih mendekati tema absurditas dalam Kafkaesque dibanding “Gregor Samsa dan Seorang Wanita”. Cerpen Wahid Kurniawan tersebut hanya menggunakan karakter Gregor Samsa sebagai protogonis yang menginginkan cinta seorang wanita sebagai simbol kecenderungan orang membaca sastra apa. Sementara, “Samsara Samsa” tidak saja memiliki tema absurditas, tetapi juga kebuntuan yang tak tertembus seperti halnya Metamorfosis, yaitu jebakan rutinitas yang menekan manusia melalui simbol karkater tambahan ‘teman narator.’

    Demikianlah, Kafkaesque menjadi satu bagian dalam gagasan tentang dunia absurditas yang dicirikan oleh kebuntuan, telikung dan perlawanan tanpa akhir. Gagasan yang mendasarkan diri dari gagasan filolosis eksistensialisme atau nihilisme yang menempatkan manusia pada kehidupan tanpa tujuan dan lemah di hadapan alam. Namun, Kafkaesque juga meramu padangan tentang humanisme yang mencoba menempatkan harkat dan nilai-nilai kemanusiaan. Setidaknya demikian Kafkaesque dan pengaruhnya.[]

     

    Ikuti tulisan menarik Ranang Aji SP lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.


    Oleh: Mulia Zachrie

    Jumat, 13 Januari 2023 21:58 WIB

    Digital Marketing di Era 4.0

    Dibaca : 409 kali