Kritisisme dalam Film Spongebob Squarepants - Analisa - www.indonesiana.id
x

SpongeBob Squarepant. nyt.com

Ranang Aji SP

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 9 Juli 2020 08:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Kritisisme dalam Film Spongebob Squarepants

    Dibaca : 798 kali

    Hampir setiap orang, baik anak-anak atau dewasa, saya yakin, menyukai serial animasi Spongebob Squarepants. Film yang dihuni tokoh-tokoh lucu nan menggemaskan. Stephen Hillenburg (1961-2018) mengkreasinya di tahun 1999 di rumah produksi Nickelodeon dan merilis Spongebob Squarepants Movie pertama di tahun 2004. Film itu menghasilkan sekitar 140 juta dolar Amerika dan memiliki subtitle lebih dari 60 bahasa seluruh dunia. Film ini pun telah memenangkan Emmy Awards di AS serta Annie Awards, dan ASACP Awards di Inggris.

    Hingga meninggalnya di tahun 2018 serial Spongebob Squarepants setidaknya sudah tayang sebanyak lebih dari 250 episode. Stephen Hillenburg adalah seorang sarjana kelautan lulusan Humboldt State University pada tahun 1984. Meskipun kemudian ia memilih berkarir sebagai penulis animasi di tahun 1987. Baru kemudian mendapatkan gelar Master of Fine di Institut Seni California di tahun 1992.

    Film serial Spongebob Squarepants menggambarkan sebuah kota bawah laut bernama Bikini Bottom. Semua karakternya adalah hewan laut kecuali Sandy Cheeks si tupai. Bikini Bottom memiliki tokoh utama, baik sebagai protogonis maupun antagonis, yaitu Spongebob Squarepants, si gabus kuning, Patrick Star, si bintang, Squidward Tentacles, si gurita, Eungene H Krabs si kepiting dan Sheldon J. Plankton si copepoda planktonik hijau. Selain itu ada Garry, siput peliharaan Sponge Bob dan Sandy Cheecks, tupai tamu dari Texas.

    Serial ini mengkisahkan peristiwa dan hubungan antarpersonal di antara para tokoh di sepanjang espisodenya. Dalam film ini kita mendapati kisah-kisah yang berangkat dari sindiran atas realitas kehidupan modern saat ini. Masyarakat yang senantiasa hidup dan terlibas dalam keremehan aksi sosial dan budaya pop.

    Kita juga menyaksikan idealisme yang senantiasa menjadi minoritas dan sinis seperti halnya karakter Squipward. Namun, hampir seluruh kisah-kisahnya mampu memberikan hiburan bagi siapa pun yang menonton. Ia juga memberikan rangsangan imajinasi yang tak terbatas bagi kita, juga menularkan nilai-nilai moral lain yang bisa diambil, seperti sebuah persahabatan, loyalitas dan akhirnya membuat bahagia bagi semua orang.

    Selain itu, serial Spongebob adalah sebuah film satire yang menyindir realitas sosial yang dikuasai hasrat kaum kapitalisme dan akibatnya terhadap lingkungan kebudayaannya. Dalam seluruh kisahnya, film ini nyaris menampilkan atau menggambarkan bagaimana rakus dan egoisnya seorang kapitalis karena hasratnya terhadap penguasaan uang. Tuan Krabs adalah karakter yang demikian. Pemilik restoran cepat saji Krusty Krab ini dipenuhi hasrat menguasai seluruh uang yang ada di dunia.

    Hasratnya ini menggerakkannya untuk mengeksploitasi dua karyawannya, SpongeBob dan Squidward serta siapa saja. Ia menghalalkan apa pun demi mendapatkan sekeping uang sen. Bahkan dalam epsiode “Born Again Krabs," ia tega menjual jiwa SpongeBob kepada hantu Flying Dutchman hanya untuk 62 sen. Meskipun SpongeBob sendiri rela menyelamatkannya dari kejaran Flying Duchman.

    Dalam episode Grandpappy the Pirate, kita ketahui bahwa Tuan Krabs berasal dari keluarga perompak yang menurunkan darah penjarah sejak nenek moyangnya. Di akhir kisah episode itu, misalnya, kakeknya, Redbeard, seorang perompak, urung marah atas kebohongan Tuan Krabs, meskipun cucunya itu terbukti melanggar kode etik seorang perompak, yaitu dilarang berbohong di antara perompak.

    Kakek Redbeard, justru memujinya ketika akhirnya tahu bahwa Tuan Krabs adalah seorang pengusaha restoran cepat saji yang memberikan harga gila-gilaan untuk sepotong burgernya (Krabby Patty). Katanya, “Baiklah, Krabs, kau tak usah menangis. Kau tak perlu jadi perompak karena kau sudah jadi perampok dengan harga-harga yang menggelikan itu.” Dan kita ingat bagaimana kode moral Tuan Krabs yang paling populer. ‘Biarkan uang berjalan sendiri. Uang selalu benar.”

    Demi uang, Tuan Krabs bahkan tidak perlu menghormati siapa pun. Ia bahkan juga tega melecehkan anak-anak. Dalam beberapa episode kita bisa menyaksikkan bagaimana anak-anak dijadikan alat untuk kepentingannya. Seperti episode Krabby Land, di mana ia membuat taman bermain anak-anak tanpa perlu memikirkan bagaimana keselamatan mereka. Semua bahan yang dipergunakan sangat sembarangan dan membahayakan keselamatan anak-anak. Tuan Krabs tidak peduli itu. Semua karena uang, uang dan uang. Bahkan anaknya sendiri, Pearl, menjadi korbannya.

    Film Spongebob Squaretans ini tidak bakal ramai, jika tidak ada karakter bodoh, polos dan tulus seperti Spongebob dan Patrick. Di mana kita sulit membedakan sifat antara terlalu baik dan bodoh. SpongeBob dan Patrick bertetangga dengan Squipward, tokoh yang sinis, terasing di dunia yang dipenuhi budaya pop dan semua keremehan hidup. Dan Squipward membenci sepenuh hati SpongeBob serta Patrick. Meskipun SpongeBob dan Patrick selalu menganggapnya kawan baik.

    Hidup di lingkungan yang seperti itu membuat selera seni Squidward yang tinggi senantiasa menjadi patah arang dan menjadi tak berarti sama sekali ketika berhadapan dengan budaya pop, asal-asalan seperti disimbolkan SpongeBob dan Patrick. Dalam banyak kompetsi bakat seni, misalnya, Squipward yang merasa lebih berbakat dan berkelas selalu kalah dalam kompetisi oleh Spongebob, bahkan oleh Patrick yang lebih bodoh sekalipun. Kenyataan ini membuatnya semakin terasing dan putus asa. Ditambah eksploitasi yang ia rasakan dari Tuan Krabs.

    Fim Spongebob Squaretants seperti halnya film animasi Simson, pada level tertentu bukanlah film sederhana seperti halnya Upin Ipin. Film ini mungkin memberikan rangsangan yang imajinatif bagi siapa saja, anak-anak dan dewasa. Pada tingkat itu ia memberikan kebahagian ringan. Tetapi SpongeBob adalah karya semacam sastra yang penuh taburan metafora, simbol-simbol, mitos-mitos moden dan humor dalam kemasan satire.

    Maka, ketika menonton Spongebob Squaretants, sesungguhnya kita tengah melihat persoalan kita di dalam dunia modern ini. Dalam karya sastra, Spongebob Squarepants bisa jadi sebanding dengan karya-karya komedi satire, semisal Prajurit Schweik karya Jaroslav Hasek Mungkin demikian.[]


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.