Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia dan Jenisnya - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sri wulandari

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 Juli 2020

Kamis, 9 Juli 2020 16:38 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia dan Jenisnya

    Dibaca : 317 kali

     
    Seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya pendidikan di Indonesia saat ini mengalami kemajuan yang semakin pesat seiring dengan percepatan teknologi yang ada sekarang, tentunya semua itu tidak akan terjadi tanpa ada sejarah. Sejarah pendidikan Islam di Indonesia tidak mungkin lepas dari fase-fase yang dilalui diantaranya yaitu: Pendidikan Islam di Indonesia pada zaman kerajaan-kerajaan Islam, Pendidikan Islam di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dan Pendidikan Islam di Indonesia pada zaman penjajahan Jepang.

    1). Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia Pada Kerajaan Islam
    Kedatangan umat islam pertama di Indonesia tidak identik dengan berdirinya kerajaan Islam pertama di Indonesia. Orang yang membawa Islam ke Indonesia adalah para pedagang, bukan misi tentara dan bukan pelarian politik. Mereka tidak berambisi mendirikan kerajaan Islam. Para pedagang berdagang sambil menyiarkan agama Islam, materi yang diajarkan berawal dari kalimah Syahadat. Barang siapa yang bersyahadat berarti ia telah masuk Islam. Mereka menyiarkan dengan cara damai, tidak ada paksaan sama sekali.
    A. Zaman Kerajaan Islam Aceh
    Kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah Pasai, berdiri pada abad ke-10 M. dengan rajanya yang pertama Al-Malik Ibrahim bin Mahdum dan yang terakhir bernama Al-Malik Sabar Syah. sistem pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Pasai, sebagai berikut:
    a. Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syariat ialah fiqih mazhab Syafi’i.
    b. Sistem pendidikannya secara informal berupa majelis taklim dan halaqah.
    c. Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama.
    d. Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.

    Kerajaan Islam yang kedua adalah Perlak di Aceh. Rajanya yang ke-6 bernama Sultan Mahdum Alaudin Muhammad Amin, adalah seorang ulama yang mendirikan Perguruan Tinggi Islam. Lembaga tersebut mengajarkan dan membacakan kitab-kitab agama yang berbobot pengetahuan tinggi, seperti kitab Al-Um karangan Imam Syafi’i. Dari Pasai dan Perlak ini, dakwah Islam disebarkan ke negeri Malaka, Sumatera Barat, dan Jawa Timur.

    Kerajaan Aceh Darussalam yang diproklamasikan pada tanggal 12 Zulkaedah 916 H, menyatakan perang terhadap buta huruf dan buta ilmu. Aceh pada saat itu merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan di luar negeri.

    Bidang pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam benar-benar mendapat perhatian. Pada saat itu terdapat lembaga-lembaga Negara yang bertugas dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan, di antaranya:
    1. Balai Seutia Hukama, lembaga ilmu pengetahuan, tempat berkumpulnya para ulama, ahli piker dan cendekiawan untuk membahas dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
    2. Balai Seutia Ulama, jawatan pendidikan yang mengurusi masalah pendidikan.
    3. Balai Jamaah Himpunan Ulama, tempat studi para ualam dan sarjana dalam membahas persoalan-persoalan pendidikan.

    Adapun jenjang pendidikannya adalah sebagai berikut:
    1. Meunasah/Madrasah, berfungsi sebagai sekolah dasar, terdapat di setiap kampung, materi yang diajarkan: menulis dan membaca huruf Arab, ilmu agama, bahasa Jawi/Melayu, akhlak, dan sejarah Islam.
    2. Rangkang, masjid sebagai tempat berbagai aktifitas umat termasuk pendidikan, setingkat dengan Madrasah Tsanawiyah, ada di setiap mukim, materi yang diajarkan: bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung (hisab), akhlak, fiqih, dan lain-lain.
    3. Dayah, setingkat dengan Madrasah Aliyah, ada di setiap daerah Ulebalang dan terkadang berpusat di masjid, materi yang diajarkan: fiqih (hokum Islam), bahasa Arab, tauhid, tasawuf/akhlak, ilmu bumi, sejarah/tata Negara, ilmu pasti, dan faraid.
    4. Dayah Teuku Cik, setingkat dengan perguruan tinggi atau akademi, materinya: fiqih, tafsir, hadits, tauhid, tasawuf, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra Arab, sejarah dan tata Negara, mantiq, ilmu falaq, dan filsafat.
    Melihat lembaga dan jenjang di atas, jelaslah bahwa ilmu pengetahuan dan pendidikan di kerajaan Aceh Darussalam telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.

    B. Zaman Walisongo

    Peranan para Wali (Walisongo) dalam penyebaran agama Islam sudah tidak diragukan lagi, sangat besar sekali. Dengan kerja keras dan ketekunan serat keikhlasan beliau agama Islam mampu merebut hati masyarakat. Beliau menyebarkan Islam di Jawa, dengan berdirinya kerajaan para wali yaitu kerajaan Demak.

    Metode pendidikan yang digunakan oleh para wali kebanyakan menggunakan media pondok pesantren atau padepokan. Beliau-beliau mengajarkan para santri dan masyarakat berbagai ilmu keagamaan. Walisongo adalah orang-orang yang tingkat ketaqwaannya kepada Allah sangat tinggi, pejuang dakwah dengan keahlian yang berbeda. Ada yang ilmu tasawuf, ada seni budaya, juga ada yang bergerak di dalam pemerintahan dan militer secara langsung. Semuanya diabdikan untuk pendidikan dan dakwah Islam.

    C. Zaman Kerajaan Islam di Maluku

    Islam masuk Maluku melalui mubaligh dari Jawa sejak zaman Sunan Giri dan mubaligh dari Malaka. Raja Maluku yang pertama masuk Islam adalah Sultan Ternate, Marhum pada tahun 1465-1486 M., atas pengaruh Maulana Husain, saudagar dari Jawa. Raja Maluku yang terkenal di bidang pendidikan dan dakwah Islam adalah Sultan Zainul Abidin. Metode pendidikannya kurang jelas, yang jelas dakwah Islam di Maluku menghadapi dua tantangan, yaitu datang dari orang-orang yang menganut animisme dan orang Portugis yang mengkristenkan penduduk Maluku.

    D. Zaman Kerajaan Islam di Kalimantan

    Islam mulai mantap setelah berdirinya kerajaan Islam di Bandar Masih di bawah pimpinan Sultan Suriansyah pada tahun 1540 M. Pada tahun 1710, di Kalimantan dia terkenal sebagai pendidik dan mubaligh besar yang pengaruhnya meliputi seluruh Kalimantan (Selatan, Timur dan Barat).
    Sistem pendidikan di Kalimantan berupa pengajian kitab di pesantren, sistemnya sama dengan system pengajian di pondok pesanteran di Jawa, terutama cara-cara menerjemahkannya ke dalam bahasa daerah.

    E. Zaman Kerajaan Islam di Sulawesi

    Seperti halnya poin-poin sebelumnya, system pendidikan di Sulawesi juga pengajian kitab di pondok pesantren. Hal ini tidak lain karena penyebar agama Islam di sana adalah para murid dari ulama-ulama yang sebelumnya juga telah menyebarkan agama Islam melalui pengajian dan pendidikan di pondok pesantren.
    Kerajaan yang mula-mula berdasarkan Islam di Sulawesi adalah kerajaan Kembar Gowa Tallo pada tahun 1605 M. Dalam dua tahun seluruh rakyat telah memeluk Islam. Mubaligh Islam yang berjasa adalah murid Sunan Giri, yaitu Abdul Qadir Khatib Tunggal yang berasal dari Minangkabau.
    2. Sejarah Pendidikan Islam Di IndonesiaPada Zaman Penjajahan Belanda
    Dengan berakhirnya kekuasaan Portugis, maka timbullah kekuasaan baru, yakni kekuasaan Belanda. Orang-orang Belanda yang mula-mula datang ke Indonesia adalah para pedagang yang tergabung dalam “Vereenigde Oest Indische Compagnie” atau disingkat VOC, yang beragama Kristen Protestan. Kebijakan pendidikan VOC adalah melanjutkan kebijakan yang telah dimulai oleh orang-orang Portugis, tetapi terutama berdasarkan agama Kristen Protestan. Untuk keperluan inilah didirikan sekolah-sekolah, terutama daerah-daerah yang telah di-Nasranikan oleh bangsa Portugis dan Spanyol, seperti di Ambon, Ternate, dan lain-lain.

    Dalam abad ke-17 dan 18 pendidikan kejuruan tidak diselenggarakan. Pendidikan kejuruan baru muncul dalam abad ke-19. Pendidikan bagi pribumi yang beragama Islam tidak menjadi sola, karena kelanjutannya sistem-sistem langgar, pesantren dan madrasah berjalan terus. Juga persekolahan/pendidikan bagi pegawai-pegawai VOC dan pribumi beragama/pemeluk agama Kristen telah diatur oleh pemerintahan VOC.
    Kemunduran perusahaan VOC pada akhir abad 18 menyebabkan VOC tidak sanggup dan tidak dapat berfungsi lagi sebagai pengatur pemerintahan dan masyarakat jajahannya sehingga pemerintahan diserahkan kepada pemerintahan Hindia-Belanda.
    a. Pendidikan Islam di Aceh
    Materi pendidikan Islam di Aceh pada masa penjajahan Belanda adalah sebagai berikut:
    • Belajar huruf Hijaiyah (alfabeth Arab).
    • Juz ‘Amma (disebut Al-Qur’an kecil).
    • Mengaji Al-Qur’an (disebut Al-Qur’an besar).
    Setelah materi di atas dilanjutkan dengan kitab-kitab berbahasa Melayu, seperti: Bidayah, Masail Al Muhadi, Fur’ Masail, dan lain-lain. Setelah selesai masa pembacaan kitab-kitab Melayu dilanjutkan mempelajari kitab-kitab berbahasa Arab, seperti: Dammun, Al-‘Awamil, Al Jurumiyah, Tafsir Jalalain.
    Setelah perang Aceh melawan Belanda berakhir, pendidikan Islam di Aceh mulai berkembang, ditandai dengan berdirinya berbagai pondok pesantren. Di pondok pesantren banyak dipelajari kitab-kitab seperti: Fatul Qarib, Fatul Mu’in, dan lainnya. Berikutnya mulai lahir madrasah, salah satunya madrasah Sa’adah Abadiyah di Blang Paseh Sigli yang didirikan pada tahun 1930 oleh Tgk. Daud Berueh.

    Madrasah itu memiliki tujuh kelas dengan lama masa belajar empat tahun. Materi yang diajarkan: bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama serta sedikit Ilmu Bumi Mesir dan Tarikh Islam. Lembaga-lembaga pendidikan seperti pesantren sebagai basis perlawanan penjajahan Belanda.
    b. Pendidikan Islam di Minangkabau
    Pendidikan Islam di Minangkabau mengalami perkembangan yang pesat karena banyaknya buku-buku pelajaran agama Islam yang masuk ke sana. Adapun susunan materi pendidikan Islam di Minangkabau antara lain:
    a. Belajar huruf Hijaiyah seperti halnya di Aceh.
    b. Pengajian kitab yang terbagi atas tiga tingkatan, yaitu:
    – Nahwu, Saraf, dan Fiqih;
    – Tauhid;
    – Tafsir;

    c. Pengajian ilmu Tasawuf, Mantiq, dan Balaghah.
    Sistem pendidikan yang digunakan masih seperti masa-masa awal, yaitu halaqah dan sistem majelis taklim. Di Minangkabau yang menjadi pusat pendidikan awal permulaan Islam adalah Surau. Pada masa penjajahan Belanda mulai dibuat ruang-ruang berbentuk kelas, dinamakan madrasah.

    c. Pendidikan Islam di Jambi
    Pesantren Nurul Iman didirikan pada tahun1914 oleh H. Abdul Samad seorang ulama besar di jambi. Pesantren ini juga berawal dari system halaqah kemudian menggunakan kelas-kelas seperti madrasah modern. Pelajarannya juga begitu, dari sekedar ilmu-ilmu agama kemudian memasukkan ilmu umum yang dibimbing dua guru khusus.
    Pendidikan Islam di Pulau Jawa
    Pendidikan Islam di Jawa Timur
    Pendidikan Islam yang cukup terkenal di Jawa Timur pada masa penjajahan Belanda adalah Tebuireng, yaitu pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada tahun 1904 M. Pada mulanya hanya diajarkan agama dan bahasa Arab, kemudian setelah berdiri madrasah salafiyah memasukkan ilmu-ilmu umum, seperti ilmu bintang, ilmu bumi dan lain-lain.
    Pondok Pesantren Tebuireng terdiri atas empat bagian, yaitu: Madrasah Ibtidaiyah (lamanya 6 tahun), Madrasah Tsanawiyah (3 tahun), Mualimin (5 tahun), Pesantren dengan sistem halaqah.
    Pendidikan Islam di Jawa Timur pada masa penjajahan Belanada tidak terlepas dari pengaruh organisasi Nahdhatul Ulama yang didirikan pada tanggal 16 Rajab 1344 H (3 Januari 1926) di Surabaya.
    Pendidikan Islam di Jawa Tengah
    Lembaga Pendidikan Islam di Jawa Tengah yang paling berpengaruh berpusat di sekitar Kudus. Ratusan pondok pesantren dan madrasah tersebar di seluruh pelosok Kudus, antara lain: Aliyatus-Saniyah Muawanatul Muslimin, Kudsiyah, Tsywiqut Tullab Balai Tengahan School, Mahidud Diniyah Al-Islamiyah Al-Jawiyah, dan lain-lain.
    Pendidikan Islam di Yogyakarta
    Pendidikan Islam di Yogyakarta pada masa penjajahan Belanda banyak didominasi oleh organisasi Muhammadiyah. Diantaranya yang terkenal adalah Kweekschool Muhammadiyah, Mualimat Muhammadiyah, Zuama, Tabligh School, dan H.I.K. Muhammadiyah. Model pendidikannya dengan menggabungkan antara pelajaran umum dengan agama. Selain Muhammadiyah juga ada pondok pesantren Krapyak.
    Pendidikan Islam di Jawa Barat
    Madrasah pertama adalah yang didirikan di Majalengka pada tahun 1917 oleh Perserikatan Umat Islam. Pondok Pesantren yang cukup berpengaruh adalah PP Gunung Puyuh di Sukabumi. Selain itu juga ada pondok pesantren Persatuan Islam (Persis), pondok ini terdiri dari dua bagian, yaitu Pesantren Besar (untuk para santri yang telah cukup umur untuk mendapatkan pendidikan agama) dan Pesantren Kecil (untuk anak-anak kecil yang pelaksanaannya di sore hari).
    Pendidikan Islam di Batavia
    Madrasah tertua di Batavia adalah Jamiat Kheir yang didirikan tahun 1905. Tingkatan sekolahnya antara lain: tingkat Tahdiriyah (1 tahun), tingkat Ibtidaiyah (6 tahun), tingkat Tsanawiyah (3 tahun), Bagi lulusan terbaik Tsanawiyah bisa melanjutkan ke Mesir atau Mekkah. Madrasah lain yang juga punya andil besar bagi pendidikan Islam adalah madrasah Al-Irsyad yang didirikan pada tahun 1913.
    Pendidikan Islam di Sulawesi
    Tidak banyak perbedaan tentang pendidikan Islam di Sulawesi dengan di Jawa dan Sumatera. Hal ini disebabkan karena sumber yang sama, yaitu Mekkah. Kebanyakan madrasah di Sulawesi pada mulanya dipimpin oleh guru-gur agama dari Minangkabau dan Yogyakarta. Madrasah yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan adalah madrasah Amiriyah Islamiyah di Bone. Mata pelajaran yang diberikan di madrasah ini meliputi pelajaran agama dan pelajaran umum.
    Madrasah Amiriyah Islamiyah terdiri atas tiga bagian, yaitu:
    1. Ibtidaiyah, lama belajarnya tiga tahun, diajrakan ilmu agama 50%;
    2. Tsanawiyah, lama belajarnya tiga tahun, diajarkan ilmu agama 60%;
    3. Muallimin, lama belajarnya dua tahun, diajarkan ilmu agama 80%.
    Tokoh yang cukup berpengaruh dalam mengembangkan pendidikan Islam di Sulawesi, antara lainadalah Syekh H. M. As’ad bin H. A. Rasyad Bugis. Madrasah yang didirikannya bernama Wajo Tarbiyah Islamiyah yang dikemudian hari berubah menjadi Madrasah As’adiyah.
    Pendidikan Islam di Kalimantan
    Madrasah yang tertua yang memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah pendidikan Islam di Kalimantan pada masa penjajahan Belanda adalah madrasah Najah Wal Falah di Sei Bakau Besar Mempawah. Didirikan pada tahun 1918 M., setelah itu berdiri madrasah Perguruan Islam Assulthaniyah di Sambas pada tahun 1922 M.
    Di Kalimantan pada masa penjajahan Belanda tidak banyak madrasah dan pesantren yang berdiri, namun andil dan maknanya cukup berarti dalam proses pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam di tanah air Indonesia ini di bagian timur.
    3. Sejarah Pendidikan Islam Di IndonesiaPada Zaman Penjajahan Jepang
    Kejayaan penjajah Belanda lenyap setelah Jepang berada di Indonesia. Mereka bertekuk lutut tanpa syarat kepada Jepang. Tujuan Jepang ke Indonesia adalah menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan mentah dan tenaga manusia yang sangat besar artinya bagi kelangsungan perang Pasifik. Hal ini sesuai dengan cita-cita politik ekspansinya. Jepang menanamkan ideologi baru yang disebut dengan Ideologi Hakko Ichiu atau ideologi bersama di Asia Timur Raya. Meskipun demikian rakyat Indonesia tetap bergelora untuk lepas dari belenggu penjajahan.
    a). Pelatihan guru-guru:
    Dengan melalui sekolah-sekolah diadakanlah pelatihan guru-guru. Mereka dibebani tugas untuk menyebarkan ideologi baru tersebut. Setiap kabupaten diwajibkan mengirimkan wakilnya untuk digembleng selama 3 bulan, jangka waktu yang dirasa cukup menjepangkan para guru.
    b). Perubahan-perubahan penting:
    1. Hapusnya dualisme pangajaran: Berbagai jenis sekolah rendah yang diselenggarakan pada zaman pemerintahan Belanda dihapuskan sama sekali. Sekolah-sekolah desa diganti namanya menjadi Sekolah Pertama.
    2. Bahasa Indonesia dijadikan bahasa resmi dan bahasa pengantar, bahasa Jepang dijadikan mata pelajaran wajib dan adapt kebiasaan Jepang harus ditaati.
    Pada dasarnya kedatangan Jepang di Indonesia tidak ubahnya dengan Belanda. Pendidikan Islam pada zaman penjajahan Jepang mengalami hambatan yang cukup besar. Jepang campur ikut tangan dalam seluruh bidang pendidikan agama.
    Di Minangkabau, penjajahan Jepang lebih ringan dibandingkan dengan Belanda. Pada masa penjajahan Jepang, pendidikan Islam berkembang cukup pesat di Minangkabau, seperti madrasah Awaliyah. Di Kalimantan pada masa penjajahn Jepang didirikan perkumpulan Madrasah-madrasah Islam Amuntasi yang disingkat menjadi IMI.
    Jepang banyak melakukan pendekatan-pendekatan kepada umat Islam, hal ini bertujuan untuk mendapatkan dukungan dalam upaya memenangkan perang Asia Timur Raya yang dipimpin oleh Jepang. Pada waktu Jepang mulai mendapatkan berbagai kekalahan dan tekanan dari pihak sekutu, Jepang mulai memeras kekayaan bumi Indonesia, Jepang banyak menekan bangsa Indonesia sehingga banyak rakyat yang kelaparan. Mendapat tekanan seperti itu, berbagai langkah pemberontakan mulai muncul, seperti PETA (Pembela Tanah Air).
    Banyak para Kyai dan ulama yang ditangkap dan diperintah untuk melakukan kerja paksa atau Romusha. Akibatnya dunia pendidikan Islam di Indonesia menjadi terbengkalai, banyak madrasah-madrasah bubar karena murid-muridnya menghindar dari kekejaman Jepang. Ada sedikit keberuntungan bagi madrasah di dalam lingkungan pondok pesantren karena lepas dari pengawasan Jepang.
    Pertumbuhan dan Perkembangan Madrasah
    Pendidikan pada zaman Jepang disebut Hakko Ichiu, yakni mengajak bangsa Indonesia bekerja sama dalam rangka mencapai kemakmuran bersama Asia Raya. Sekolah-sekolah pada zaman Belanda diganti dengan sistem Jepang, yang semuanya untuk kepentingan perang. Kegiatan-kegiatan sekolah antara lain:
    a. Mengumpulkan batu, pasir untuk kepentingan perang;
    b. Membersihkan bengkel-bengkel, asrama-asrama militer;
    c. Menanam ubi-ubian, sayur-sayuran dipekarangan sekolah untuk persediaan makanan;
    d. Menanam pohon jarak untuk bahan pelumas.
    Pada masa awal-awalnya madrasah dibangun dengan gencar-gencarnya selagi ada angina segar yang diberikan oleh Jepang. Walaupun lebih bersifat politis belaka, kesempatan itu tidak disia-siakan begitu saja oleh umat Islam Indonesia. Hampir seluruh pelosok pedesaan terdapat madrasah Awaliyah yang banyak dikunjungi. Oleh karena itu, meskipun dunia pendidikan terbengkalai, madrasah-madrasah yang berada dalam lingkungan pondok pesantren bebas dari pengawasan langsung pemerintahan Jepang. Pendidikan dalam pondok Pesantren dapat berjalan dengan wajar.
    Sikap Jepang terhadap pendidikan Islam ternyata lebih lunak, sehingga ruang gerak pendidikan Islam lebih bebas dibandingkan dengan zaman pemerintahan colonial Belanda. Masalahnya Jepang tidak begitu menghiraukan kepentingan agama, yang mereka pentingkan adalah memenangkan perang. Bila perlu, mereka memberikan keleluasaan kepada para pemuka agama dalam mengembangkan pendidikannya.
    Jepang memandang agama Islam adalah sarana penting untuk menyeludup kedalam kehidupan masyarakat Indonesia dan untuk meresapkan pengaruh pikiran serta cita-cita mereka pada bagian masyarakat dari yang paling bawah. Untuk memudahkan rencana itu,akhirnya Jepang mendirikan/ membentuk KUA, Masyumi dan Hizbullah.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.