Kisah Budaya (7) Kembali ke Panggung Utama - Travel - www.indonesiana.id
x

Supartono JW

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 23 Juli 2020 19:49 WIB
  • Travel
  • Berita Utama
  • Kisah Budaya (7) Kembali ke Panggung Utama

    Dibaca : 631 kali

    Agenda festival di hari keempat, 19 Juli 2011 seluruh tim kembali pentas di panggung utama, yang akan dimulai sejak pukul 16.00 waktu setempat hingga malam hari. Dalam agenda tersebut, setiap negara juga diberikan kesempatan tampil dengan  satu nomor tarian musik-tari. Sebab, setiap negara menyiapkan rata-rata lima jenis tari dan musik, maka pada malam nanti, kami semua akan kembali menonton pertunjukkan tari dan musik yang belum pernah kami tonton secara langsung.

    Khusus di panggung utama, maka semua  pertunjukkan dalam bentuk tim atau grup. Melihat antusias masyarakat Veliko dan para turis yang hadir saat menyaksikan parade keliling kota dan pembukaan acara di panggung utama, membuat setiap individu dari tim misi budaya terlecut semangatnya untuk dapat menampilkan pertunjukkan yang terbaik. Oleh karenannya, setiap ada waktu luang, setiap tim juga menyempatkan diri untuk kembali melakukan pemanasan dan berlatih di lingkungan halaman hotel.

    Karenanya, setelah tiga hari tim Indonesia tampil di acara festival, maka di hari keempat, yang pergelarannya akan dimulai selepas Ashar untuk waktu Indonesia, atau sore hari waktu Veliko, maka waktu yang luang yang ada sebelum menuju panggung utama, dimanfaatkan untuk tim berlatih.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Ternyata, setelah sarapan pagi, seluruh tim misi budaya dari semua negara pun melakukan pemanasan dan latihan. Ada yang memilih tempat latihan di selasar hotel, halaman hotel, tempat parkir, dll. Sementara tim Indonesia karena nanti malam akan menampilkan  TARI  RAPA’I GELENG (Nanggroe Aceh Darussalam), maka tim Indonesia berlatih di lorong hotel, sesuai bentuk tari yang akan dibawakan, serta butuh konsentrasi penuh untuk membawakan tarian ini.

    Sumber: Supartono JW

    Tari yang mengekspresikan dinamisasi masyarakat yang ditampilkan dalam syair (lagu-lagu), kostum dan gerak tari Meuseukat. Fungsi dari tarian ini adalah syiar agama, menanamkan nilai moral kepada masyarakat, dan juga menjelaskan tentang bagaimana hidup dalam masyarakat sosial.

    Rapai geleng pertama kali dikembangkan pada tahun 1965 di Pesisir Pantai Selatan. Saat itu Tarian Rapai Geleng di bawakan pada saat mengisi kekosongan waktu santri yang jenuh usai belajar. Tarian ini dijadikan sarana dakwah karena dapat membuat daya tarik penonton yang sangat banyak. Jenis tarian ini dimaksudkan untuk laki-laki. Biasanya yang memainkan tarian ini ada 12 orang laki-laki yang sudah terlatih. Syair yang dibawakan adalah sosialisasi kepada masyarakat tentang bagaimana hidup bermasyarakat, beragama dan solidaritas yang dijunjung tinggi. Namun, dalam perkembangannya, kini tarian ini justru banyak dimainkan oleh perempuan.

    Latihan pun sudah seperti gladi bersih di panggung, meski harus didetil satu-satu. Latihan musiknya dulu, lalu baru latihan gerak tarinya, dan baru setelah itu digabung. Dengan penh semangat dan motivasi, latihan pun disudahi menjelang makan siang. Setelah makan siang, masih ada waktu sekitar 1-2 jam untuk menyiapkan diri menuju panggung utama.

    Pada akhirnya, waktu pementasan di panggung utama hari keempat pun tiba. Suluruh tim berbondong menuju taman, dan rata-rata sudah mengenakan kostum tari dan musik masing-masing dari hotel, sehingga saat semua tim misi budaya dari berbagai negara berjalan beriringan menuju taman, rangkaiannya menjadi seperti parade kostum lagi.

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sumber: Supartono JW

    Sesampai di lokasi, setiap tim kembali menuju ke tenda-tenda yang telah disiapkan dan sudah tertera nama-nama negaranya. Sebab, Indonesia bukan tampil diurutan pertama, maka kami semua menjadi penikmat dari suguhan tari dan musik dari mancanegara terlebih dahulu. Dan, saat giliran Indonesia tampil, maka pertunjukkan tari Rapai Geleng pun menghipnotis semua penonton. Saya sendiri, ikut terlibat dalam tarian ini, dengan membawakan lagu pembuka tari, sehingga saya tak sempat mengambil dokumentasi dengan ponsel saya saat Rapai Gelang tampil.

    Ringkas cerita, tari Rapei Geleng menjadi pertunjukkan yang spektakuler di malam itu, dan menjadikan penonton sangat terhibur dan takjub. Terbayar sudah, perjuangan anak-anak Indonesia dalam persiapan tari ini yang memang tidak mudah untuk dilakukan bila tidak terjadi kerjasama tim.

    Sumber: Supartono JW

    Malam itu, rasanya semua lelah terbayar. Usai pagelaran pentas malam keempat, semua tim pun sudah kembali ke hotel, beristirahat dan menyiapkan lanjutan festival hari kelima.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Supartono JW

    Senin, 27 Juli 2020 18:56 WIB

    Kisah Perjalanan (4) 27 Juli, Sehari di La Vallee dan Disneyland-Paris

    Dibaca : 530 kali

    Hari ini, Rabu, 27 Juli 2011 setelah sarapan pagi, sesuai agenda kami akan bertandang ke La Valee Outlet Shooping Village dan lanjut ke Paris-Disneyland. Sebenarnya, masih ingin badan ini rebahan di kamar hotel, namun apa boleh buat, saya harus mengikuti agenda perjalanan wisata yang memang sudah sangat tertata. Jadi, tidak boleh ada waktu yang meleset dari jadwal yang telah ditentukan. Kemarin, setengah hari ada di Brussel-Belgia, dan setengah harinya lagi berada di bus baik dari Amsterdam menuju Brussel, maupun Brussel menuju Paris, memang tidak begitu banyak menguras tenaga, karena semua perjalanan di tempuh pada siang hari. Nyamannya bus yang membawa kami dan pemandangan indah antara Brussel-Paris, menjadikan kami tak merasakan bahwa kami harus menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam 40 menit. Bahkan, saat bus harus rehat di rest area pun, kami sebenarnya ingin bus tak perlu berhenti, karena semangatnya kami. Malah saat bus masuk ke Paris, kami pun tak menyadari bahwa kini kami sudah ada di negera Prancis. Bila di sebelumnya kami sudah bercengkerama di Istanbul-Turki selama sehari. Lalu, di Sofia, Veliko Tarnovo, dan Razgrad-Bulgaria selama delapan hari. Berikutnya, singgah di Koln, Duseldorf-Jerman sekitar tiga jam, dan di Volendam, Amsterdam-Belanda selama dua malam satu hari. Kemudian, di Brussel-Belgia setengah hari, maka di Paris-Prancis ini, kami menginap selama empat malam dan bercengkerama selama tiga hari penuh.