Tradisi Mbolo Weki - Analisis - www.indonesiana.id
x

foto penulis, buku mbolo dan uang mbolo

Irfansyah Masrin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 Januari 2020

Senin, 17 Agustus 2020 10:05 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Tradisi Mbolo Weki

    Mengupas orientasi Tradisi Mbolo Weki dalam Masyarakat Bima dan Dompu

    Dibaca : 3.380 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Secara bahasa mbolo berasal dari bahasa Mbojo (Bima-Dompu) yang bermakna bundar atau melingkar. Sedangkan kata weki bermakna keluarga/sanak saudara. Jika disederhanakan berarti duduk melingkarnya sebuah keluarga dalam membahas sesuatu (musyawarah mufakat)

    Dalam arti yang luas mbolo weki dimaknai sebagai sebuah musyawarah mufakat di antara keluarga atau sanak saudara dalam merencanakan dan menentukan pernikahan salah satu di antara putra dan putrinya.

    Mbolo weki adalah tradisi turun temurun dari masyarakat Bima dan Dompu yang telah membudaya sejak lama. Selain untuk persiapan pernikahan, mbolo weki juga dilakukan untuk hajatan lain seperti acara doa sebelum berangkat haji, kematian, kelahiran dan sebagainya.

    Namun acara mbolo weki ini lebih sering diadakan untuk persiapan pernikahan. Karena acara pernikahan membutuhkan persiapan yang lebih komplit, membutuhkan waktu yang agak panjang, menguras tenaga dan materi yang lebih banyak, maka hal demikian perlunya kerja sama antara keluarga yang dimusyawarahkan dalam tradisi mbolo weki.

    Sejak ratusan tahun lalu saat masyarakat masih menganut budaya animisme-dinamisme (dibaca) hingga kini budaya mbolo weki tetap bertahan, bahkan makin subur. Karena ada nilai-nilai positif yang terkandung dalam tradisi mbolo weki yang diyakini oleh masyarakat Bima Dompu.

    Tradisi mbolo weki adalah budaya kasama weki (Kebersamaan, solidaritas dan kekeluargaan) yang masih dipegang oleh masyarakat sebagai sebuah nilai yang postif.

    Membantu mempersiapkan acara pernikahan, mulai dari mengumpulkan material bahan seperti kayu bakar dan air, membangun tenda acara, sampai pada mengumpulkan uang seikhlasnya dari masyarakat guna membeli hewan penyembelihan untuk acara pernikahan, bahkan hingga patungan untuk membantu pihak laki-laki membeli mahar dan barang yang akan dibawa saat menikahi si perempuan (Wa'a co'i).

    Budaya kasama weki ini masih tumbuh subur dalam masyarakat Bima Dompu. Salah satu budaya unik yang bahkan mungkin tidak ada pada tradisi dan budaya daerah lain di seluruh Indonesia.

    Namun, apa jadinya jika tradisi mbolo weki yang awalnya di zaman dahulu bertujuan untuk saling membantu dan meringankan beban satu sama lain dengan dasar sukarela dalam sebuah komunitas masyarakat Bima-Dompu. Kini agaknya justru berorientasi menjadi beban yang kian dikeluhkan oleh banyak masyarakat Bima-Dompu.  

    Masyarakat mengeluhkan berbagai masalah perihal mbolo weki ini. mayoritas masyarakat bima dan dompu bekerja sebagai petani, setiap musim panen masyarakat mulai khawatir jika hasil panenya menuai kerugian, karena selain harus memenuhi kebutuhan dan membayar hutang, masyarakat juga harus berpikir menabung untuk acara mbolo weki.

    Setiap musim panas atau selesai panen raya, masyarakat akan dihadapkan pada berbagai acara kemasyarakatan (Rawi Rasa) yang hampir setiap hari pasti ada, termasuk acara mbolo weki untuk persiapan pernikahan dan pasti akan ada pengeluaran berupa uang dan beras sebagai bentuk kontribusi materil dalam acara persiapan pernikahan.

    Menjadi beban moral atau bahkan akan dicitrakan buruk di masyarakat bagi setiap individu yang tidak melibatkan diri dalam berbagai acara kemasyarakatan (rawi rasa), termasuk dalam acara mbolo weki. Karena masih kental akan rasa kasama weki (kebersamaan).

    Namun fakta yang terjadi acara mbolo weki kini tidak menjadi sebuah aktivitas atas dasar sukarela, tapi justru menjadi hutang yang harus dibayarkan dan menjadi keresahan bagi masyarakat jika tidak membayar. Awal perkembangan budaya kasama weki di acara mbolo weki ini hanya sebagai hutang budi, tapi kini orientasinya menjadi hutang materi, hutang uang dan hutang beras.

    Saking telah menjadi hutang, setiap keluarga yang telah berumahtangga wajib memiliki buku catatan khusus untuk mendata nama-nama orang yang telah memberi kontribusi uang atau beras dalam acara hajatan mbolo wekinya beserta nominal uang yang telah diberikan.

    Catatan itu akan disimpan dengan baik, ketika ada acara mbolo weki dari beberapa keluarga dalam komunitas masyarakat, ia hanya akan memberi kontribusi pada keluarga yang telah memberi kontribusi pada acaranya sendiri, beserta nominal uang yang sama seperti yang telah diberikan padanya.

    Keluarga yang melaksanakan acara mbolo weki bukan hanya satu atau dua keluarga saja dalam satu desa, tapi belasan hingga puluhan anggota keluarga, belum termasuk anggota keluarga di desa lain, kecamtan lain atau yang agak jauh lintas kabupaten.

    Kontribusi uang yang diberikan pun berkisar mulai 15 ribu sampai jutaan belum termasuk beras, tergantung seberapa besar uang yang diberikan keluarga berhajat pada beberapa keluarga yang telah lebih dulu melaksanakan hajatan mbolo weki, ada dalam buku catatan mbolo weki.

    Jumlah pengeluaran yang cukup besar bagi masyarakat inilah yang kian dikeluhkan, bahkan ada yang berhutang hanya untuk mbolo weki.  Jika tak memberi kontribusi akan dikesankan tidak baik oleh yang berhajat dan tak akan dibantu jika suatu saat ia memiliki hajatan, yang lebih parah adalah akan ada sanksi sosial berupa penilaian buruk atau bahkan cercaan.

    Ia hanya perlu melihat catatan, jika nama yang berhajat tak ada pada buku catatan, maka menjadi pertimbangan lain baginya untuk memberi kontribusi atau tidak. Tidak jarang di antara masyarakat yang sebelumnya berhubungan baik tapi menjadi tidak bersahabat satu sama lain hanya karena tidak pernah memberi kontribusi dalam mbolo weki atau uang yang diberikan tidak sebesar nominal uang yang telah diberikan oleh keluarga yang mbolo weki sebelumnya.

    Masalah lain yang biasa muncul adalah jumlah anak atau anggota keluarga yang menikah dalam satu keluarga itu juga menentukan seberapa besar kontribusi yang diberikan oleh keluarga lain. Misalnya keluarga si A memiliki anak berjumlah 5 orang dan yang telah menikah 4 orang, sedangkan keluarga si B hanya memiliki anak berjumlah 2 orang.

    Keluarga si B hanya akan memberi uang mbolo weki pada 2 orang anak si A, karena setara dengan jumlah anak dari keluarga B yang akan menikah adalah 2 orang. Akan ada kesan seperti ini “Si A kan banyak anaknya, nanti saya rugi jika saya memberi uang mbolo weki pada semua anak-anaknya sedangkan saya hanya memiliki 2 orang anak”.  Kesannya sudah seperti transaksi jual beli.

    Ada juga beberapa anggota keluarga yang melakukan acara mbolo weki dengan sistem arisan, tapi tidak ada nomor yang dikocok seperti pada arisan biasanya. Beberapa keluarga membuat kelompok arisan mbolo weki yang di dalamnya terdapat beberapa anggota keluarga. Sama seperti mbolo weki pada umumnya, hanya saja dalam arisan mbolo weki ini nominal arisannya bisa di atas 1 juta, 3 juta, 5 juta atau 10 juta ke atas. Biasanya hanya pada orang-orang kaya di masyarakat tertentu.

    Budaya seperti ini tidak semua terjadi di kalangan masyarakat Bima Dompu, tapi sebagian besar faktanya demikian. Awalnya hanya hutang budi, tapi kini menjadi hutang materi. Mulanya hanya saling membantu, tapi sekarang efeknya hingga saling beradu.

    Budaya positif perlu dipertahankan tapi tidak untuk perpecahan, hanya perlu mengikis kesalahpahaman agar tumbuh kesadaran bahwa yang menjadi kekuatan adalah nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Karena materi tidak akan dibawa mati, apalagi sampai dijadikan berhala suci yang dapat mengabulkan semua mimpi. Mpa’a sama.

     

    Salam literasi

    Salam budaya

    Salam kasama weki

     

    Doridungga,  Agustus 2020

     

    Ikuti tulisan menarik Irfansyah Masrin lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.