x

Air Terjun di Malang. Foto oleh Iqbal Nuril Anwar dari Pixabay.com

Iklan

Berry LV

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 7 Juli 2020

Sabtu, 5 September 2020 12:45 WIB

Milenial dan Potensi Gigantis Pariwisata Indonesia

Pemerintah harus mulai serius mempersiapkan SDM industri pariwisata melalui pendidikan vokasi, khususnya terkait studi pengelolaan konvensi dan acara mengingat potensi pariwisata sektor khusus seperti sport tourism, music tourism belum tergarap optimal. Padahal, sangat mungkin menjadi magnet pariwisata mancanegara dan lokal karena di minati generasi milenial. Apalagi, bonus demografi Indonesia mencapai 100 juta jiwa dan dunia mencapai 2,43 miliar! Hal tersebut atraktif pendorong signifikan penerimaan devisa negara triliunan rupiah.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebelum wabah pandemi menjadi momok menakutkan bagi dunia internasional, industri pariwisata di Indonesia sangat bergairah dan mampu menjadi primadona penerimaan devisa negara. Dan, mungkin kitapun masih ingat, begitu seringnya presiden mempromosikan 10 destinasi prioritas.

Destinasi yang menjadi prioritas itu adalah Danau Toba di Sumatera Utara, Pantai Tanjung Lesung di Banten, Pantai Tanjung Kelayang di kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Seribu DKI Jakarta, Candi Borobudur di Jawa Tengah, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Pulau Morotai di Maluku Utara, dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Pada akhir Juli 2019, Presiden Republik Indonesia, menyempatkan diri mengunjungi Sumatera Utara pada kawasan pariwisata kaldera terbesar dunia Danau Toba yang juga di kenal sebagai negeri Sisingamangaraja. Dan memang, Danau Toba merupakan salah satu cetak biru ambisius pemerintah mendesain 10 Bali Baru di pulau Sumatera. Infrastruktur jalan tol dan bandara pendukung akses cepat menuju destinasi juga terlihat telah banyak progres dan beberapa rampung diwujudkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Hal tersebut menggambarkan langkah serius pemerintah dalam mendukung dan membangun branding industri pariwisata Nusantara. Dan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ketika masih di nakhodai Arif Yahya, Indonesia juga pernah meraih penghargaan bergengsi se-Asia Pasifik sebagai The Best Ministry of Tourism ( 20 September 2018 ).

Tentu saja pencapaian gemilang dan menggembirakan tersebut patut di apresiasi, di tengah stagnannya pertumbuhan ekonomi. Terlebih penghargaan prestesius di bidang pariwisata, baru pertama kali di raih. Pengakuan dunia internasional tersebut membuktikan, realitasnya jika industri pariwisata terkelola dan di pasarkan dengan strategi jitu ternyata mampu menyokong laju perekonomian bangsa.

Kita berharap prestasi tersebut semakin menciptakan kepercayaan diri bagi Indonesia, untuk lebih mampu melejit maju menyaingi industri pariwisata negara-negara di Asia—yang memang tidak dapat kita pungkiri, Nusantara masih kalah dalam jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ( wisman ).

Bercermin dari total kunjungan wisman tahun 2017, Indonesia masih kalah jauh dari negara tetangga seperti Malaysia sekitar 25 juta dan Thailand 30 juta jiwa. Bangsa kita baru mencapai 14 juta jiwa. Tahun berikutnya, jumlah kunjungan memang meningkat sebesar 15,81 juta jiwa. Namun, masih belum mampu mengimbangi jumlah kunjungan dari ke-2 negara tetangga. Padahal, seharusnya ratusan ribu pulau, ribuan budaya dan seni , bangsa kita lebih luas dan beragam dalam memancing pelancong wisman untuk berlibur.


Untuk itu perlu sinkronisasi antara industri pariwisata dan ekonomi kreatif harus bersinergi dengan mulus agar tidak bergerak sendiri-sendiri. Mengapa? Keterkaitan ekonomi kreatif dari 16 subsektor khususnya seperti sektor kreatif desain komunikasi visual, aplikasi dan fotografi perlu edukasi intensif di tengah masyarakat khususnya bagi kaum muda. Ke3 sektor ini sangat identik dengan kaum muda dan sangat terkait dengan pariwisata. Di mana kita tahu karya foto indah dapat menjadi pemicu bagi wisatawan untuk berkunjung bahkan di jadikan koleksi. Tentu saja hal tersebut memiliki daya jual.

Selain itu juga, sangat banyak pelancong ingin di abadikan liburannya melalui fotografi atau ataupun melakukan editan agar lebih menarik secara visual. Hasilnya akan menjadi branding gratis, karena tidak jarang juga memajangnya di laman ataupun blog pribadi. Skill tersebut kebanyakan memang merupakan jenis keahlian yang lebih banyak di miliki talenta muda. Belum lagi peluang penjualan daring yang kini tengah menjadi pilihan dalam membeli produk dan jasa sehingga jika di kaitkan dengan sektor ekonomi kreatif lain seperti kriya & busana, akan lebih efisien dalam mempromosikan dan memasarkannya.


Menarik wisatawan dengan tema khusus

Kita juga tahu, dalam industri pariwisata pendorong terbentuknya ekosistem penunjang kehadiran wisman dan wisnus yaitu terkait MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Perkembangan MICE di Indonesia juga belum tergarap dengan efektif. Padahal, jika ini di kelola dengan lebih gesit lagi, juga akan memberikan multiplier effect bagi lapangan pekerjaan dan industri terkait. Sebut saja hotel, UMKM, transportasi, Event organizer, biro perjalanan wisata dan lain sebagainya.

Dalam strategi untuk pendongkrak penarik wisatawan, perlu juga di kembangkan tema wisata khusus. Misal, sport tourism dan music tourism. Peminat wisata musik ternyata sangat berkembang di Eropa. Sebut saja salah satunya di negara Inggris, festival musik berhasil mendatangkan sekitar 9,5 juta pengunjung! Hebatnya lagi, menghasilkan perputaran uang sekitar Rp 37 triliun!

Di Indonesia memang sudah menggeliat beberapa festival musik, seperti Java Jazz yang banyak diminati. Bahkan, beberapa festival musik juga pernah di adakan di pusat destinasi wisata, seperti di Kidul, Ijen dan Prambanan. Begitu pula wisata olah raga, juga termasuk magnet wisata yang di gemari masyarakat. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa wisata olah raga terpaut dengan lomba berkelas internasional seperti Tour de Singkarak, Mentawai Surfing, Sail Sabang, dan lain-lain.

Beberapa pilihan event tema khusus tersebut sangat di gandrungi generasi milenial dan potensinya masih sangat “seksi” untuk di garap. Apalagi, struktur bonus demografi usia produktif muda dengan usia 15 sampai 34 tahun di Indonesia tengah membludak yang mencapai 100 juta jiwa. Potensi gigantis bagi yang serius menggarap sektor wisata dan sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu juru kunci utama agar kesempatan tersebut optimal di mamfaatkan.


Peluang program studi khusus memamfaatkan momentum industri wisata

Peranan pendukung pendidikan dalam mencetak SDM unggul dalam menangkap peluang besar industri pariwisata di harapkan mampu menjawab tantangan tersebut di masa depan pasca Covid-19. Memang, saat ini sudah ada Program studi (Prodi) vokasi yang berfokus pada pengelolaan konvensi dan acara, namun terlihat belum familiar oleh lulusan sekolah menengah. Padahal, peluang Prodi tersebut sangat menarik dan memiliki cakupan luas dalam dunia kerja karena di masa depan, sektor pariwisata akan menyokong dan tulang punggung bangsa kita bahkan negara-negara dunia.

Diperkirakan, akan ada sekitar 2,43 miliar jiwa generasi milenial ( Bloomberg). Proyeksi tersebut semakin terbentang bagi negara kita dan di perkuat pula dengan pertumbuhan pesat middle class berpendapatan sekitar USD 3000- USD 4000 hingga akan mencapai 130 juta jiwa pada tahun 2030 dari total pendudukan yang di perkirakan sekitar 300 juta jiwa.

Riset Middle Class Institute (2015) menunjukkan potensi tersebut dengan paparan data bahwa middle class sebesar 58 persen sangat gandrung mengeluarkan uangnya untuk berwisata khususnya terkait keindahan alam, gunung dan pantai. Menariknya, pilihan wisata tersebut hampir merata di seluruh Nusantara dan dampaknya akan meningkatkan produktivitas ekonomi hingga ke akar rumput.

Hanya saja peluang raksasa tersebut dari tren pertumbuhan ekonomi akibat dampak industri pariwisata dan pendapatan perkapita kelas menengah yang bertumbuh, meninggalkan pekerjaan rumah yang menantang khususnya bagi policy maker agar kebijakan pendukung segera terealisasi oleh pemerintah sehingga lebih kompetitif menatap persaingan yang kian ketat khususnya membangun ekosistemnya seperti infrastruktur jalan, bandara dan konektivitas internet. Karena, bukan tidak mungkin, bangsa kita hanya sekedar menjadi pasar bagi bangsa asing jika tidak memiliki kualitas SDM mumpuni dalam pengelolaannya.

Daya dukung digitalisasi dalam mendorong melesatnya industri pariwisata menjadi catatan penting karena Indonesia masih tertinggal cukup jauh. Itu terlihat pada indeks daya saing digital Indonesia berada pada urutan ke-62 yang di riset oleh The IMD World Digital Competitivenes Rangking tahun 2018. Masih tertinggal dari negara seperti Malaysia (27), Thailand (39 ) bahkan Filipina (56). Wajar saja, Indonesia masih kalah jauh dalam persaingan mendatangkan wisman. Namun, berkaca dari skor indeks pariwisata Indonesia yang tiap tahun semakin membaik, bolehlah membuat bangsa kita percaya diri untuk bersaing dan harapannya kelak menjadi destinasi prioritas global.

Semoga gambaran ringkas pemetaan potensi industri pariwisata Indonesia di atas, mampu membuka mata kaum muda dan segenap masyarakat agar memamfaatkan momentum gigantis industri pariwisata tersebut sehingga tidak terbuang sia- sia atau malah di monopoli negara luar. Vini,Vidi,Vici. Saya datang, saya melihat, saya telah menaklukkan.

Ikuti tulisan menarik Berry LV lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan