Awalan Mencintai Etnopedagogi melalui Belajar Membatik Ecoprint - Urban - www.indonesiana.id
x

Batik merupakan salah satu budaya yang dimiliki bangsa Indonesia dan menjadi identitas bangsa Indonesia

Fikriesyaf

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Agustus 2020

Sabtu, 5 September 2020 12:54 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Awalan Mencintai Etnopedagogi melalui Belajar Membatik Ecoprint

    Batik merupakan salah satu budaya yang dimiliki bangsa Indonesia dan menjadi identitas bangsa Indonesia

    Dibaca : 519 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Proses pembentukan budaya membutuhkan waktu yang cukup lama. Hasil budaya ini membentuk suatu komponen yang handal, terbukti dan diyakini dapat membawa kesejahteraan lahir dan batin. Dalam komponen tersebut yang disebut dengan jati diri. Kearifan lokal terkandung dalam jati diri yang merupakan produk dari budaya lokal daerah di Indonesia. Budaya merupakan hasil kegiatan penciptaan dari akal budi dalam masyarakat. Batik merupakan salah satu budaya yang dimiliki bangsa Indonesia dan menjadi identitas bangsa Indonesia.

    Derasnya arus modernisasi dari globalisasi saat ini mengakibatkan pudarnya rasa cinta terhadap budaya lokal. Meski generasi Z saat ini cenderung lebih mengenal ke karya karya asing dan gaya hidup yang kebarat-baratan dibandingkan dengan kebudayaan lokal di daerah mereka sendiri, upaya mengenalkan membantik sejak dini sangatlah penting.

    Melengkapi hal tersebut hampir seluruh masyarakat pernah mengenakan batik, terutama pada lingkungan pendidikan. Hal ini inipun tidak menjamin bahwa mereka mengetahui dengan baik seluk beluk tentang batik. Tidak semua sekolah mempunyai guru yang memiliki pemahaman yang cukup tentang batik, apalagi ketrampilan untuk membuatnya.

    Dengan bekal inilah Tim Pengabdi dari Dosen di Program Studi Pendidikan Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan, Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan pendampingan membatik ecoprint bagi para guru di SD Muhammadiyah 9 Dau. Kegiatan yang dikemas secara sistematis ini berjalan lancar. Meksipun dalam masa pandemic tim pengabdi dan guru dari SD Muhammadiyah 9 Dau melakukan kegiatan dengan tetap menjaga protocol kesehatan.

    “Kegiatan ini dirancang melihat budaya lokal yang masih kurang digemari anak anak saat ini. Bekal potensi anak anak sebagai generasi unggul maka etnopedagogy ini perlu dikenalkan melalui membatik,” papar ketua pelaksana yaitu Beti Istanti Suwandayani, M.Pd.

    Kegiatan ini diawali dengan melakukan pemaparan terkait perancangan pelaksanaan pembelajaran daring dan juga teknologi pembelajaran yang dapat digunakan untuk mendukung pembelajaran daring. Tim pengabdi dan peserta juga melakukan sesi tanya jawab terkait bentuk penugasan dalam masa pandemi ini.

    Dalam kaitannya penugasan yang dapat dilakukan oleh peserta didik, produk membatik ecoprint ini dapat digunakan sebagai tugas proyek dalam pembelajaran tematik di sekolah dasar. Melalui membatik ini guru sebagai pendidik professional memiliki kualitas yang memadai untuk menjalankan tugas profesinya.

    Hal ini juga sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa Indonesia. Di samping itu bekal yang diterima guru akan memberikan peserta didik untuk bersainfitik melalui batik ecoprint. Batik ecoprint dapat dikategorikan ke dalam jenis batik yang dibuat dengan cara mereplika tumbuhan ke dalam kain untuk menciptakan warna serta pola motif yang menarik. Bagian tumbuhan yang digunakan untuk mewarnai kain batik inipun sangat beragam bisa berupa dedaunan. 

    Kegiatan ini sangat diapresiasi positif oleh Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 8 Dau. “Saya selaku kepala sekolah sangat senang guru-guru kami berkegiatan positif. Meskipun dalam masa pandemi kami tetap menjaga protocol kesehatan. Materi dalam pelatihan ini pun sangat bagus dan penting untuk dikembangkan,” tutur Kepala Sekolah.

    Hasil dari kegiatan ini adalah setiap peserta mempunyai hasil produk berupa batik ecoprint melalui dedaunan yang ada di sekitar.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.