Cerpen | Stigma - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Air Terjun di Malang. Foto oleh Iqbal Nuril Anwar dari Pixabay.com

Harits

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 September 2020

Senin, 28 September 2020 07:45 WIB

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Cerpen | Stigma

    Cerita pendek berdasarkan kisah nyata.

    Dibaca : 1.390 kali

    Malam itu aku berjalan bersama Dinda menyusuri Jalan Jakarta, menuju IKIP Negeri Malang. Mendekati pertigaan Jalan Semarang, Dinda berbisik sangat dekat di telingaku. Sekilas aku terpejam menikmati wangi parfum gardenia bercampur aroma keringat alaminya. Jantungku berdetak cepat, aliran darahku terasa hangat.

    “Mas Jon.”
    “Ya?”
    “Aku mau nikah”
    “Apa???”

    Aku kaget bukan kepalang. Baru tiga bulan kami berpacaran, kenapa tiba-tiba ingin menikah? Pikiranku semakin liar mengembara. KKN, skripsi, organisasi, pekerjaan, masa depan. Menikah? Iya, terlintas dalam angan, tapi saat ini belum tepat waktunya.

    “Dik, kenapa ingin menikah sekarang?”
    “Maaf Mas.”
    “Kenapa minta maaf?”
    “Aku... Aku... Aku...”

    “Dik, tenang dulu. Maksudmu apa?”
    “Maaf Mas, orang tuaku...”
    “Orang tuamu kenapa?”

    Suaranya terhenti, seperti tercekat di tenggorokan. Air matanya deras menetes, menggenangi kedua pipinya yang putih mulus. Bibirnya mengatup rapat, bergetar menahan isakan tangis. Kulihat kedua tangannya membentuk tanda silang menutupi dadanya, seakan menahan guncangan emosi yang tiada henti. Perasaanku campur aduk, antara simpati dan resah menunggu jawaban. Akupun berusaha menghiburnya, berkata lirih sedikit merayu, “Oh Dinda, dalam kondisi menangispun, kau tetap saja terlihat mempesona.”

    Ajaib! Tangisnya pelan-pelan mereda. Pipinya tampak merona. Bibirnya tersenyum tipis. Oh, sungguh lesung pipit yang manis. Matanya yang basah berpendar cerah memandangku. Jemarinya dengan cepat menyentuh lenganku. Mencubit dengan gemas.

    “Aduh, aduh. Kok dicubit sih!”
    “Habis Mas sih, nggak pernah bisa serius.”
    “Tapi kamu senang kan dibilang cantik?”
    “Tidak!”
    “Tidak salah kan? Tuh lihat pipinya merona lagi.”
    “Ah, Mas ini...”

    Tangannya gemas mencubit pangkal lenganku. Akupun mengaduh dan meniup bekas cubitan yang memerah itu. Sakit tapi senang melihat dia kembali ceria. Dalam hati aku bersorak bangga dengan kemenangan rayuan sesaat itu. Sejenak terbayang wajah dosen pembimbing skripsi di pikiranku. Luar biasa! Wajah Pak Professor yang biasanya dingin bak karang es Antartika itu, seperti tersenyum ramah didepanku. Dengan gaya kebapakan, beliau menepuk-nepuk pundakku seraya berkata, “Pinter tenan kowe Le! Lek masalah ngrayu pancen jagoan kowe. Pinter nggedabrus![1] Menyalahgunakan bakat dan kemampuan bahasamu!'

    Sayang kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa meter melewati Jalan Ambarawa, langkah kami terhenti. Wajah kekasihku tiba-tiba tegang, seketika pucat pasi. Akupun juga terdiam, laksana terhipnotis. Kepala Medusa seakan tiba-tiba terpampang di depanku. Matanya melotot, ular-ular kecil di kepalanya mendesis penuh amarah!

    Di kejauhan tampak tiga orang berdiri di depan tempat kos Dinda. Dari jauh aku bisa menduga, dua ibu yang berpelukan di dekat mobil Kijang merah tua itu pasti ibu kos dan ibu Dinda. Bapak tua berpenampilan perlente yang memandangku dengan tajam itu pasti bapak Dinda. Seorang bapak yang tidak pernah melihat wajahku ketika berbicara. Seorang bapak yang selalu sigap menarik tangannya ketika aku mencoba bersalaman dengannya.

    Di saat aku masih mematung dan berpacu dengan degupan jantungku, terdengar suara lantang membahana, “Kalian berdua cepat kesini! Cepat!”

    Tak ayal aku dan Dinda bergegas mempercepat langkah. Setengah berlari. Selangkah mendekati bapak Dinda, aku bersiap mengangsurkan tangan untuk bersalaman. Tampaknya beliau sudah membaca bahasa tubuhku dan dengan cepat bergeser ke samping, merangkul pundak Dinda. Kulihat Dinda menunduk, mencium tangan bapak dan ibunya. Ketiganya beriringan memasuki ruang tamu. Aku masih berada di teras rumah, berdiri tegak dengan tangan kanan setengah terangkat. Bersalaman dengan udara hampa.

    Melihat aku kehilangan muka, Ibu kos mendekatiku dan berkata, “Sabar ya Mas. Ayo ikut masuk. Ayo.”
    “Terima kasih, Bu.”

    Memasuki ruang tamu, aku berdiri di antara sepasang kursi dan sofa coklat muda bertatahkan ukiran Jepara. Ukiran khas dengan hiasan kupu-kupu dan bunga aneka warna. Di pojok sebelah kanan tampak lemari hias antik yang berisi lampu-lampu kristal dan beragam souvenir manca negara. Aku juga melihat jam dinding kuno dengan bandul besarnya yang keemasan, jarumnya bergerak pelan menuju angka sembilan. Tidak terlalu malam untuk memulangkan anak gadis yang sedang menikmati masa pacaran.

    Kulihat Dinda duduk bersama ibunya di ruang keluarga. Di ruang tamu, bapak Dinda memandangku penuh selidik, mulai dari sisiran rambut sampai ujung sandalku. Tentu saja aku tambah salah tingkah, tapi percayalah Bro, aku tidak takut sedikitpun. Minderpun tidak, walau aku tahu baju dan celanaku pasti tampak lusuh. Celana jeans yang sudah tiga hari tidak kucuci. Hem biru muda yang lama tidak aku setrika.

    “Duduk!”
    “Ya Pak. Terima kasih.”

    Aku duduk dan menunduk. Sedikit berdebar membayangkan apa yang akan terjadi. Setelah beberapa saat, aku memberanikan diri memandang bapak Dinda. Pandangan sopan, sedikit berharap belas kasihan. Tapi apa hendak dikata? Orang tua itu masih menatapku dengan garang, laksana musang mengincar ayam di ujung malam.

    “Hei Mas! Masak kamu tidak ngerti-ngerti juga! Sudah berkali-kali aku katakan aku tidak setuju kau berhubungan dengan anakku!”
    “Maaf Pak, kami...”
    “Kami apa? Saling mencintai? Lagu lama itu Mas!”
    “Maksud saya...”
    “Sudah! Kamu diam saja! Apa kamu kira saya tidak tahu siapa kamu sebenarnya?”
    “Maksud Bapak?” 
    “Dengar ya. Saya sudah datang ke kampungmu. Jalan Samaan Gang 2 itu kan? Masuk gang sempit memanjang itu toh?
    “Iya Pak”
    “Saya sudah lihat rumahmu. Saya sudah bertemu dengan orang-orang di situ, bahkan saya kenal dengan beberapa tetanggamu. Tetanggamu sudah cerita semua.”

    “Maaf Pak, sebentar...”

    Pria tua itu tak memperdulikan ucapanku dan terus berkata dengan nada penuh kebencian.

    “Kau anaknya Susastro kan? Bapakmu tersangkut partai terlarang! Keluargamu tidak bersih lingkungan! Aku bahkan tahu kau jualan koran dan majalah mulai SD sampai SMA. Di perempatan Jalan Kaliurang itu toh? Hmmm, sampai kapanpun keluargamu tidak akan pernah bisa bersanding dengan keluargaku.”

    Percayalah Bro, walau wajahku terlihat sangar, tapi aku bukan tipe orang yang mudah marah dengan orang lain. Aku tidak asing dengan suara-suara miring seperti itu, tapi mendengar bapak Dinda mulai menyinggung keluarga dan masa laluku, aku mulai kewalahan meredam emosi. Aliran darah di dadaku mulai terasa panas. Kedua tanganku menggenggam erat, sekuat tenaga menahan amarah.

    Bak permainan catur di babak pertengahan, aku sudah mengorbankan segalanya. Pion-pion kesabaranku hampir habis. Kuda dan banteng emosiku sudah termakan permainan lawan. Aku hanya bisa mengandalkan argumentasi perdana menteri untuk membalik keadaan.

    “Maaf Pak. Ijinkan saya bicara sebentar saja.”
    “Baik, silahkan.”
    “Apa yang Bapak katakan tentang bapak saya dan masa lalu saya ada benarnya. Bapak saya memang dicap pengikut partai terlarang, tetapi beliau tidak sepenuhnya terlibat. Bapak saya dulu hanya petani biasa. Beliau tidak mengerti apa-apa. Buta aksara. Kesalahan bapak saya cuma satu. Beliau akrab dengan orang-orang yang memperjuangkan hak-haknya sebagai petani. Orang-orang yang ternyata aktifis partai kiri. Mereka akhrnya ditahan tanpa peradilan dan terpaksa menyebut nama Bapak saya untuk meringankan hukuman dan siksaan.”

    “Ah, itu kan alasanmu saja. Kenyataannya keluargamu tetap terasingkan. Di pojok KTP-mu masih tertulis ET, Eks Tapol! Kau tidak bisa kerja apa-apa kecuali jualan koran dan majalah.”

    Aku tidak patah arang dengan sanggahan pedas itu dan tetap mantap bersuara.

    “Saya memang belum ada apa-apanya sekarang. Saya masih berjuang memperbaiki keadaan. Saya bersunguh-sungguh kuliah sambil bekerja. Dulu mungkin saya berjualan koran di perempatan jalan, tapi sekarang pekerjaan saya lebih baik Pak.”

    Belum selesai aku bicara, bapak calon mertua impianku itu menukas dengan tegas.

    “Guru les privat Bahasa Inggris kan? Penerjemah musiman itu toh?”
    “Minimal itu peningkatan Pak. Saya yakin beberapa tahun ke depan peruntungan usaha kursusan dan penerjemahan saya akan membaik. Berilah saya kesempatan untuk membuktikan. Insya Allah, saya mampu membahagiakan putri Bapak.”

    “Sudah! Cukup! Percuma bicara! Silahkan kamu pergi dari rumah ini!

    Pria tua itu mengusirku dengan suara keras. Matanya garang menatapku. Tangannya dikibaskan ke atas dan jari telunjuknya sedikit bergetar mengarah ke pintu. Akupun beranjak dari kursi sambil melirik Dinda dan ibunya, berharap keajaiban. Dinda masih menangis dan ibunya hanya memandangku tanpa bisa berbuat apa-apa.

    Aku tak punya pilihan selain melangkah keluar dari rumah kos yang megah itu. Walaupun kalah, aku paksakan diri berjalan dengan gagah. Hatiku hancur luluh. Mataku mati-matian menahan air mata yang akan jatuh. Pikiranku berkecamuk membayangkan masa lalu keluargaku. Terngiang stigma pedih yang diucapkan bapak Dinda, “Tersangkut partai terlarang! Tidak bersih lingkungan!”

    Aku berjalan terus tanpa menoleh ke belakang, melangkah cepat menuju gerbang kampus IKIP Negeri Malang. Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik dan tak berapa lama semakin deras. Aku terus melangkah tanpa memperdulikan baju dan celanaku yang mulai basah. Terus berjalan, setengah berlari. Tujuanku cuma satu, Lapangan Pantai! Lapangan dimana aku akan berteriak sekuat tenaga, memprotes takdir Sang Maha Kuasa!

    ***

    Tak terasa dua puluh tahun berlalu. Semua melaju, berubah melawan waktu. Nyaris sudah aku petik semua buah jerih payah di masa muda. Mulai makan pangsit mie di pinggir kali sampai menikmati spaghetti di daerah Little Italy. Beberapa kota terkenal mulai dari kota pendidikan ternama sampai pusat mode dunia juga sudah aku kunjungi.

    Seiring dengan keberhasilanku itulah, sekarang muncul lagi bidadari-bidadari yang dulu menguasai hati itu. Wajah dan penampilan mereka tetap mengagumkan, sungguh melenakan pikiran! Tentu saja mereka masih kugandrungi, walau aku sadar mereka sulit kumiliki. Beberapa sudah terlihat bahagia dengan pasangan dan putra-putrinya. Sebagian yang lain masih berjuang sepenuh hati mencari belahan hati, entahlah bisa jadi berburu cinta pertama atau kedua atau bahkan yang kelima! Ah, wanita cantik tak ubahnya kumbang jantan, cenderung mudah hinggap di mana saja.

    Pagi itu Paris sedang mbediding[2], aplikasi berita dan cuaca di telepon cerdasku menunjukkan angka 9’ C. Kau ingin tahu seberapa dinginnya? Cobalah masukkan kedua tanganmu di dalam lemari es, diamkan selama 1 menit saja, dan nikmati sensasi dinginnya. Sedingin itulah awal musim dingin di Paris.

    Aku sedang bercengkrama dengan sahabat lama di sebuah café bernuansa Mediterania di sebelah barat Menara Eiffel. Pertemuan yang telah lama kami rencanakan dan baru terwujud setelah aku berhasil mendapatkan beasiswa perjalanan di sebuah konferensi internasional di pinggiran Kota Paris. Sujono, sahabatku yang dulu paling tampan di bangku kuliah, sekarang sudah berubah. Wajahnya masih rupawan, tapi rambut depannya menipis dan mulai memutih. Perawakannya tinggi besar, mirip petinju kelas berat yang kelebihan berat badan.

    “Terus bagaimana kelanjutan kisah nyata itu?”

    “Tidak ada sambungannya. Tamat.”

    “Lho kok tamat Jon?”

    “Ya sabarlah Bro, kapan-kapan aku lanjutkan.”

    “Terus nasib mantan pacarmu itu bagaimana? Akhirnya menikah dengan siapa?”

    Sujono tidak menjawab, seketika terdiam. Wajahnya tertunduk seakan menatap lekat dua cangkir kopi Cappuccino dan dua piring roti Croissant yang terhidang di atas meja. Aku sudah akrab dengan ekspresi wajah sahabatku itu dan tak berani bertanya lebih jauh. Pikiranku melayang di masa lalu. Rasanya baru kemarin, aku melihat dia menangis dan berteriak-teriak lantang di tengah derasnya hujan di Lapangan Pantai. Aku dan beberapa teman yang sedang latihan drama waktu itu langsung mendekat dan berusaha keras menenangkannya. 

    Sujono tidak pernah bercerita mengapa dia histeris malam itu. Sujonopun tidak pernah berterus terang bahwa dia adalah anak eks tahanan politik, sampai akhirnya takdir mempertemukan kami setelah dua puluh tahun terpisah. Aku melihatnya berkembang dari penerjemah amatiran sampai akhirnya ndilalah kersaning Gusti Allah[3], berhasil menjadi penerjemah profesional di kantor pusat UNESCO di Paris.

    Aku melamun, mencoba menebak akhir kisah melodramatis itu. Sujono masih termenung di tengah keramaian pengunjung kafe yang mulai berdatangan untuk makan siang. Perlahan dia mengangkat kedua tangannya. Di antara suara alunan musik klasik dan semilir angin di musim dingin, aku mendengar Sujono takzim berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosa kedua orang tuaku. Maafkanlah hamba-Mu yang lemah dan kurang pandai bersyukur ini. Kuatkanlah imanku. Senangkanlah hatiku untuk menerima takdir-Mu. Aamiin.”'

     

    Paris, Awal Musim Dingin Pra-Pandemi Corona

    @haritsmasduqi

     

    [1] Pintar sekali kau! Kalau masalah merayu, kamu memang jagoan. Pintar omong kosong! (Terjemahan dari Bahasa Jawa) 

    [2] Suhu yang sangat dingin (Terjemahan dari Bahasa Jawa).

    [3] Ucapan takjub terhadap kehendak Tuhan (Terjemahan dari Bahasa Jawa).



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.