Suka-duka Sopir Ambulans yang Tiap Hari Mengantar Pasien Covid-19 - Analisa - www.indonesiana.id
x

Sopir ambulans merupakan pekerjaan yang juga penting dalam menghadapi pandemi Covid-19

Pencerah Nusantara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Agustus 2020

Selasa, 13 Oktober 2020 21:46 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Suka-duka Sopir Ambulans yang Tiap Hari Mengantar Pasien Covid-19

    “Kita banyak ngobrol sama pasien di dalam ambulans, mbak” tutur Pak Syarif, sopir ambulans yang bertugas di UPT Puskesmas Garuda, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Petugas Ambulans berperan sangat penting pada masa pandemi Covid-19. Mereka bertugas menjemput pasien ke rumah singgah, mengantar pasien yang sudah sembuh, hingga ikut terlibat melaksanakan tes massal di lapangan. Namun, bagaimana cerita mereka dalam menjalani profesi tersebut di tengah pandemi?

    Dibaca : 557 kali

    Sopir ambulans bertugas sama pentingnya dengan tenaga kesehatan lainnya lantaran mereka juga bertemu pasien Covid-19 hampir setiap hari. (Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara)

    “Kita banyak ngobrol sama pasien di dalam ambulans, mbak,” tutur Pak Syarif, sopir ambulans yang bertugas di UPT Puskesmas Garuda, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Petugas Ambulans berperan sangat penting pada masa pandemi Covid-19. Mereka bertugas menjemput pasien ke rumah singgah, mengantar pasien yang sudah sembuh, hingga ikut terlibat melaksanakan tes massal di lapangan.

    Pak Syarif menceritakan banyak kisah pilu kepada Tim Pencerah Nusantara Covid-19 (PN Covid-19) sewaktu kami berkunjung ke UPT Puskesmas Garuda. Salah satu yang paling ia ingat ialah kasus yang menimpa seorang ibu dan anaknya yang berumur sembilan tahun. Ia bercerita sang ibu mendapatkan hasil reaktif rapid test dan harus dibawa ke Dinas Kesehatan Kota Bandung untuk melaksanakan swab test. Lantaran sang ibu tinggal dengan sang anak, keduanya harus dijemput Tim Medis Puskesmas Garuda.

    Walaupun tim media belum datang, di lokasi penjemputan warga setempat sudah banyak menunggu. Dari sana terlihat stigma telah merebak di tengah-tengah warga. Menurut cerita Pak Syarief, sang ibu dan anak telah mengalami stigma semenjak keluarnya hasil rapid test. Warga mengucilkan mereka hingga mereka merasa malu dianggap terinfeksi Covid-19.

    Ibu dan anak itu kemudian diwajibkan melaksanakan isolasi mandiri. “Pas hasil swab (test) keluar ternyata dua-duanya (ibu dan anak) positif. Akhirnya saya jemput lagi mereka buat dirujuk ke rumah singgah,” jelas Pak Syarif kembali. Untuk menghindari stigma, Pak Syarief dan rekan-rekan puskesmas membuat strategi penjemputan.

    Puskesmas berinisiatif menjemput pasien positif pada pagi buta sebelum matahari terbit. Tim medis juga bersiap pada waktu tersebut. Dalam perjalanan ke rumah singgah Pak Syarif dan tim medis lain terus menerus memberi motivasi dan dukungan pada pasien. “Saya sama dokter itu ngasih dukungan sama pasien itu biar tidak down. Kita bercanda-canda saja biar ibu dan anaknya juga terhibur.” Pak Syarif yakin terinfeksi Covid-19 bukan satu-satunya penyebab pasien mengalami stres, stigma dari warga juga merupakan hal yang memberatkan mereka.

    Tidak Tenang

    Selama bertahun-tahun menjadi sopir ambulans, baru kali ini Pak Syarief merasa tidak tenang menjalankan tugasnya. “Sejak pandemi ini saya takut membawa virus ke rumah dan menyebarkannya ke anak dan istri saya,” tuturnya kembali. Karena itu, demi menjaga diri, keluarga, dan teman-teman di puskesmas, Pak Syarif harus selalu menaati protokol kesehatan. Ia selalu mencuci bagian dalam ambulans dan mengganti plastik pelapis sehabis mengantarkan seorang pasien positif.

    “Seselesai mengantar dan menjemput pasien, saya masih harus membersihkan ambulans, mengganti plastik, mendisinfeksi, dan segera mandi di Puskesmas.” Ketaatan terhadap protokol kesehatan ini selalu dipegang teguh oleh seluruh tim medis di Puskesmas Garuda untuk menjamin rasa aman pada saat bekerja. “Saya bersyukur pimpinan di sini ketat banget soal protokol kesehatan, buktinya di (Puskesmas) Garuda belum ada nakes positif Covid-19,” kata dia. 

    Sosok Pak Syarif dan sopir ambulans lainnya harus diakui memegang peranan penting pada masa pandemi. Sesungguhnya, Pak Syarif bukan hanya mampu mengantarkan pasien positif Covid-19 menuju puskesmas atau rumah singgah, tetapi juga mampu memberikan motivasi dan candaan yang membuat perjalanan setiap pasien positif menjadi lebih tenteram serta jauh dari rasa takut, walau mungkin stigma telah menghinggapi mereka sebelumnya. 

     

    Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

    Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan sejahtera. Dilaksanakan semenjak 2012 Pencerah Nusantara merupakan gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi dan ditempatkan di puskesmas masalah kesehatan di suatu daerah dengan masalah kesehatan selama satu tahun untuk bekerja sama lintas sektor dengan berbagai pemangku kepentingan. Pencerah Nusantara COVID-19 hadir untuk membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan pada peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, monitoring dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Pada tahun 2015 Pencerah Nusantara meraih Silver Award Global Open Government Award 2015 sebagai inovasi yang sukses memperbaiki akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Sementara sejak tahun 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.

     

    Penulis

    Anita Siti Fatonah (Sarjana Kesehatan Masyarakat)

    Pencerah Nusantara Kecamatan Andir, Kota Bandung



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.