Stigma terhadap Tenaga Kesehatan Juga Menular Seperti Covid-19 - Analisa - www.indonesiana.id
x

Stigma terhadap tenaga kesehatan terjadi di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Barat.

Pencerah Nusantara

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Agustus 2020

Selasa, 11 Agustus 2020 07:48 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Stigma terhadap Tenaga Kesehatan Juga Menular Seperti Covid-19

    Stigma terhadap tenaga kesehatan kerap dialami oleh Tim Pencerah Nusantara COVID-19 wilayah penempatan Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara

    Dibaca : 1.268 kali

    Penjemputan ibu hamil terkonfirmasi positif COVID-19 di salah satu kelurahan di Kecamatan Tanjung Priok (24/07). Sumber Gambar: Dok. Pencerah Nusantara COVID-19

     

    Bagi seorang tenaga kesehatan (nakes) stigma memiliki kadar tular yang sama dengan Covid-19 itu sendiri. Terutama di Tanjung Priok, Jakarta Utara, daerah tempat kami, Tim Pencerah Nusantara Covid-19 bertugas, stigma itu tetap saja menghampiri. Suguhan pertama yang masyarakat berikan adalah penolakan di awal kedatangan. Kami ditolak  tinggal di wilayah kos karena kami bertugas di Puskesmas. Pengalaman itu bukan yang pertama dan dari sana kami bisa menyimpulkan semua orang yang dicurigai punya ‘hubungan’ dengan Covid-19 akan dijauhi, dikucilkan, dan dianggap berbahaya.

    Kecamatan yang berisikan kurang lebih 400 ribu penduduk ini merupakan kawasan kupat kumis, yakni kumuh, padat, kumuh, miskin. Menurut data laporan Puskesmas dari layanan Ketuk Pintu Layani dengan Hati Tahun 2019, mayoritas penduduknya hanya lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan status pendidikan yang hanya tamat SMA dan didukung dengan kawasan kumuh, stigma kerap hinggap dari satu mulut ke mulut yang lain.

    Pengalaman nyata yang terjadi adalah salah satu keluarga di salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Tanjung Priok meninggal dicurigai karena Covid-19. Ketika pasien jatuh tergeletak, tidak ada yang berani mengangkat karena takut terinfeksi, padahal jalur masuk Covid-19 melalui mata, hidung dan mulut. Ketika pertolongan tidak kunjung datang, pasien meninggal dan sesaat setelah itu hasil lab pasien juga keluar.

    Pasien menderita Diabetes Melitus Tipe 1, Diabetes Melitus yang didapatkan dari gen. Hasil lab yang jelas-jelas menyatakan bahwa pasien meninggal karena penyakit Diabetes Melitus Tipe 1 inipun tidak bisa menghapus stigma tentang Covid-19. Belum usai kesedihan karena ditinggal salah satu sanak saudara, pagi-pagi keluarga pasien diusir oleh warga karena takut menularkan Covid -19.

    Bukan hanya itu, dua minggu yang lalu Puskesmas menemukan ibu hamil beranak satu yang kelaparan karena tidak makan selama empat hari. Setelah ditelusuri ternyata ibu tersebut terkonfirmasi positif Covid -19. Petugas Ppuskesmas menemukan ibu tersebut dalam keadaan lemas dan pucat pasi dan tinggal di tempat yang tidak layak beralaskan tanah. Yang jadi pertanyaan adalah, di mana rasa kemanusiaan itu? Apakah ia hilang ditelan stigma?

    Orang-orang yang menjadi keluarga pasien ataupun pasien baik yang dicurigai Covid-19 ataupun sudah benar-benar dinyatakan positif Covid-19 berdasarkan hasil lab dianggap malapetaka bagi warga.  Itu seperti menyimpan bom dalam sekam ketika warga masih dikelilingi pasien yang dicurigai ataupun dikonfirmasi Covid-19. Padahal, ada cara lain untuk mengatasi rasa cemas, yaitu membantu para pasien untuk sembuh lebih cepat dengan diberi dukungan moral baik untuk pasien yang akan diisolasi mandiri di rumah maupun pasien yang dirujuk ke Wisma Atlet.  

    Stigma Pedagang

    Beberapa kios yang tutup di Kelurahan Sungai Bambu karena karena pedagang menghindari tes swab massal di pasar (21/07). Sumber gambar: Dok. Pencerah Nusantara COVID-19

     

    Stigma pun masuk ke dalam percakapan para pedagang. Ini terjadi ketika petugas Puskesmas sedang gencar-gencarnya melakukan active case finding untuk menemukan kasus baru. Ketika berhasil menemukan kasus baru diharapkan Puskesmas bisa menekan Case Fatality Rate yang merupakan persentase hasil bagi dari jumlah kematian dibagi jumlah kasus yang ada. Active case finding dimulai dengan pemeriksaan tes rapid dan swab massal. Ketika menginjak pemeriksaan massal yang ketujuh, para pedagang menutup kios dan memprovokasi teman-temannya untuk tidak mengikuti pemeriksaan massal. Stigma menyebar begitu cepat, menghambat segala upaya untuk menuntaskan virus ini. 

    Satu pasar ditargetkan mencapai 200 orang pedagang untuk diperiksa. Namun, di salah satu pasar di Kelurahan Papanggo, jumlah pedagangnya tidak lebih dari 40 orang. Beberapa pedagang yang tidak tertular stigma ini menjadi harapan bagi tenaga kesehatan. Harapan-harapan inilah yang diharapkan bisa menjadi penerang bagi teman-teman yang terjangkit stigma. Salah satu pedagang dengan berani datang ke posko pemeriksaan dan berkata bahwa lebih baik memeriksa sedini mungkin agar dengan cepat terbebas dari virus ini. 

    Pemberantasan stigma harus menjadi tanggung jawab semua pihak, bukan hanya para tenaga kesehatan. Stigma ini harus sesegera mungkin dienyahkan. Bisa kita ambil contoh kampung percontohan di Tasik yang menyambut warganya dengan hangat saat selesai isolasi. Pembenaran mindset bisa dimulai dari sana, yakni dengan menyadari bahwa penyakit Covid-19 bisa disembuhkan dan bukan aib, apalagi bom waktu.

    Penjelasan detail terkait jalur masuk Covid-19 juga bisa terus digaungkan kepada warga. Penjelasan dan pengertian ini bisa diselipkan lewat omongan sore hari ketika ibu-ibu sedang kumpul untuk bergosip atau sekadar bermain dengan anaknya. Ganti pesan negatif dengan pesan positif. Tunjukkan bahwa pihak Puskesmas akan menjadi kawan ketika seseorang harus diisolasi, sebarkan berita baik, jauhkan berita hoaks dan negatif.

     

    Tentang Pencerah Nusantara COVID-19

    Pencerah Nusantara adalah inovasi untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan sejahtera. Dilaksanakan semenjak 2012 Pencerah Nusantara merupakan gerakan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) yang terdiri dari tim pemuda multi-profesi dan ditempatkan di puskesmas masalah kesehatan di suatu daerah dengan masalah kesehatan selama satu tahun untuk bekerja sama lintas sektor dengan berbagai pemangku kepentingan.

    Pencerah Nusantara Covid-19 hadir untuk membantu puskesmas di wilayah Jakarta dan Bandung menguatkan puskesmas menghadapi pandemi COVID-19 selama periode 6 bulan masa penempatan. Model Pencerah Nusantara menekankan pada peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi, monitoring dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Pada tahun 2015 Pencerah Nusantara meraih Silver Award Global Open Government Award 2015 sebagai inovasi yang sukses memperbaiki akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Sementara sejak tahun 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai Nusantara Sehat.

     

    Penulis

    Anditha Nur Nina (Ahli Kesehatan Masyarakat)

    Pencerah Nusantara COVID-19 Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.