Beragam Tantangan Tim Pencerah Nusantara di Wilayah Penempatan, Ini Kisah Mereka

Kamis, 1 Juli 2021 06:49 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tim Pencerah Nusantara (PN) sudah bertugas di berbagai wilayah penempatan. Tugas yang mereka hadapi tentu saja berat dan mampu membebani mental dan fisik tim di lapangan. Kisah-kisah yang mereka alami terbilang unik, namun kadang bisa juga membuat hati terenyuh. Lantas, tantangan apa saja yang mereka alami di wilayah penempatan? Berikut kisahnya.

Tim Pencerah Nusantara kerap hadapi tantangan di wilayah penempatan, meski tidak banyak yang mengetahuinya. (Sumber gambar: CISDI)

Tim Pencerah Nusantara (PN) sudah bertugas di berbagai wilayah penempatan. Tugas yang mereka hadapi tentu saja berat dan mampu membebani mental dan fisik tim di lapangan. Kisah-kisah yang mereka alami terbilang unik, namun kadang bisa juga membuat hati terenyuh. Lantas, tantangan apa saja yang mereka alami di wilayah penempatan? Berikut kisahnya.

Tantangan Geografis Poto Tano

Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, memiliki kondisi geografis yang khas. Dari sesi penelusuran awal Tim Pencerah Nusantara V (PN V) pada awal 2018 lalu, diketahui diare, ISPA, TBC, dan berdarah menjadi penyakit yang kerap dialami penduduk di wilayah sekitar pesisir pantai ini.

Penduduk setempat menganggap kondisi geografis yang dipenuhi lagun (kolam-kolam genangan air laut) akan terus menjadi sumber masalah kesehatan sehingga enggan melakukan perubahan perilaku sehat. Lantas, Tim PN menghubungi kepala desa dan merencanakan program intervensi berbentuk gerakan masyarakat bernama Gerakan Desa Cinta Lingkungan (Gede Cilik).

Kegiatan ini bertujuan, memperbaiki pola (1) buang air besar di jamban yang sehat, (2) buang sampah pada tempatnya, (3) pungut sampah, (4) kerja bakti rutin, (5) pengelolaan sampah rumah tangga, (6) pengelolaan air minum, dan (7) pemberantasan sarang nyamuk. Dengan semangat memperbaiki lingkungan dan pola hidup, ada harapan masyarakat setempat terbebas dari penyakit berbasis lingkungan.

Kerentanan Anak Mamuju Utara

Kabupaten Mamuju Utara, yang kini berubah nama menjadi Kabupaten Pasangkayu, memiliki beberapa permasalahan terkait hak anak, seperti dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi, pencatatan nama resmi, hingga pemenuhan akses pendidikan pada 2018 lalu.

Tim PN V bersama Puskesmas Randomayang lantas mengadakan program Mother Support Group atau kelas ibu batita sebagai wadah edukasi ibu terkait isu pemenuhan gizi anak. Persoalan nama resmi juga kerap menjadi masalah lain. Beberapa anak di wilayah tersebut tidak memiliki nama resmi lantaran sulit mengajukan akses ke kantor desa ketika itu.

Ada satu orang anak yang diberi nama ‘Aldino Panglima ‘oleh Tim PN V. Aldino merupakan salah satu contoh anak yang sehat dan lahir di fasilitas layanan kesehatan. Ia juga lahir dari ibu yang rutin memeriksakan kehamilan di puskesmas. Proses ini memudahkan sang ibu mengajukan akte kelahiran ke kantor desa.

Tim juga mengadakan program Rumah Baca di Desa Wulai dengan mengikutsertakan 60 anak tingkat SD hingga lulus SMA. Tujuannya, agar anak-anak mampu melatih keterampilan literasi, sekaligus menumbuhkan niat belajar mandiri. Berkat intervensi Tim PN V, kini persoalan-persoalan hak anak di wilayah penempatan perlahan-lahan mulai menghilang.

Penyalahgunaan Narkotika di Muara Enim

Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan, pada 2017 lalu menghadapi masalah penyalahgunaan narkoba yang rumit. Berdasarkan laporan BNN ketika itu, proyeksi penyalahgunaan narkoba di Muara Enim pada 2017 mencapai 7.990 jiwa atau 1,7% dari penduduk usia produktif.

Untuk menghadapi persoalan itu, Tim PN menginisiasi gerakan Sriwijaya Muda di SMAN 1 Sungai Rotan Kabupaten Muara Enim pada 2016 lalu. Sriwijaya Muda menjadi wadah pengembangan diri pemuda setempat serta memfasilitasi diskusi dan edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan NAPZA.

Melalui Sriwijaya Muda, anak-anak dibekali keterampilan mengembangkan diri melalui pelatihan public speaking, pelatihan keterampilan penggunaan alat-alat multimedia, hingga keterampilan berorganisasi. Windri dan Kiki, dua orang pemuda yang aktif terlibat dalam Sriwijaya Muda ketika itu mengakui program ini memfasilitasi banyak pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan NAPZA.

Sebelum bergabung dengan Sriwijaya Muda, mereka hanya mengetahui NAPZA berbahaya, namun tidak dengan cara menghindari peredarannya. Melalui Sriwijaya Muda Windri dan Kiki kini bahkan bisa mengedukasi rekan sebaya maupun masyarakat sekitar tentang bahaya NAPZA.

Tantangan yang dihadapi Tim Pencerah Nusantara di lapangan tentu sangat banyak. Namun, beberapa persoalan di atas menjadi gambaran umum tentang hal apa saja yang kerap mereka temui di lapangan. Persoalan yang mereka alami tidak hanya terjadi dalam ranah lingkungan sosial, namun juga dipengaruhi faktor geografis, budaya, hingga hukum yang unik dan khas di wilayah penempatan masing-masing.

 

Tentang Pencerah Nusantara

Pencerah Nusantara adalah inovasi mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan untuk mewujudkan Indonesia sehat dan sejahtera yang telah dilaksanakan sejak 2012. Pencerah Nusantara menekankan penguatan pelayanan kesehatan primer (puskesmas) oleh tim pemuda multi-profesi. Model Pencerah Nusantara menekankan peran anak muda dalam sebuah tim dengan beragam profesi kesehatan, pemantauan dan evaluasi, inovasi, dan kolaborasi multi-sektor. Sejak 2015 model intervensi puskesmas berbasis Tim Pencerah Nusantara diadopsi Kementerian Kesehatan sebagai program serupa bernama Nusantara Sehat.

 

Penulis

 

Amru Sebayang

 

Bagikan Artikel Ini

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua