x

Guru memberikan pelajaran kepada sejumlah siswa di kelas 4 yang kekurangan bangku dan meja di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tegal 04, Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin 29 Juli 2019. Kekurangan meja dan bangku di SDN 04 Tegal sudah terjadi hampir dua tahun terakhir sehingga membuat murid belajar di lantai, dan pihak sekolah sudah mengusulkan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor namun belum ada realisasinya. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Iklan

Luthfi Ersa Fadillah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 25 November 2020 12:34 WIB

Hari Guru Nasional, Guru Sebagai Significant Others

Banyak yang mengartikan secara sempit bahwa guru dalam lingkungan sekolah adalah ruang kompetisi dan obsesi dalam bidang akademis. Sekedar bagaimana cara menjadikan murid mendapat nilai setinggi-tingginya agar bisa masuk ke jenjang perguruan tinggi. Tidak aneh apabila upaya-upaya untuk mengembangkan keilmuan menjadi cukup sulit dilakukan. Padahal sebetulnya guru dapat berperan menjadi significant others bagi para murid-muridnya ketika mereka beranjak dewasa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Generasi milenial seringkali suka melontarkan pertanyaan terbuka kepada publik di sosial media mereka, ”Masa terindah sekolah kalian kapan?”. Ada yang mengatakan waktu SD, SMP, atau SMA. Pun secara umum, pertanyaan tersebut bisa ditanyakan lintas generasi. Dan bila kita menilik ulang berapapun usia kita saat ini, siapapun kita saat ini, selama kita pernah mengenyam pendidikan di sekolah maka tentunya akan ada banyak aktor sosial pendidikan yang berpengaruh dalam pembentukan diri kita, salah satunya adalah guru.

Tapi pertanyaannya, benarkah guru dapat berkontribusi dalam pembentukan diri kita tanpa harus melibatkan rasa sentimentil dan moril?

Seorang sosiolog yang juga merupakan psikolog sosial bernama George Herbert Mead pernah mengutarakan sebuah konsep yakni significant others. Secara sederhana bahwa significant others adalah aktor yang berada di luar diri manusia yang memiliki pengaruh dalam pembentukan diri kita sebagai bagian dari masyarakat. Mereka bisa jadi orang tua, kerabat, sahabat, kekasih, dan tentu saja guru.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Sebelum kita membahas lebih lanjut bagaimana prosesnya, ada baiknya kita tilik sebentar bagaimana status guru diposisikan selama ini.

Dualisme Status

Di Indonesia, setidaknya masyarakat dan negara mengkonstruksikan peran guru dalam dualisme status sosial yang berbeda. Pertama, dan yang paling sering kita dengar adalah sebagai pendidik. Kedua, sebagai aparat fungsional dari negara.

Pertama sebagai pendidik. Pemaknaan atas kata pendidik ini sendiri tidak serta mengartikan guru sebagai seorang tenaga pengajar melainkan lebih menekankan pada aspek simbolisnya sebagai seorang “pahlawan tanpa tanda jasa” atau sebagai “pelita kehidupan”. Barulah setelah itu, pemaknaan teknisnya sebagai aktor yang mengajarkan ilmu pengetahuan.

Selain itu, negara masih melihat guru sebagai tenaga bantu profesional di bidang pendidikan selain dosen dan fasilitator. Guru tetaplah sebuah profesi yang terikat pada asesmen dan evaluasi kinerja yang dipantau oleh pemerintah pusat karena berkaitan dengan standar kualitas jaminan mutu pendidikan nasional dan urusan kesejahteraan.

Dualisme status sosial memang benar adanya dan tak ada yang keliru tentang itu namun konstruksi wacana di atas masih memposisikan guru sebagai objek. Sedangkan, untuk melihat secara lebih mendalam bagaimana peran guru menjadi significant others bagi para muridnya, guru semestinya dilihat sebagai subjek pendidikan.

Guru sebagai subjek

Banyak yang mengartikan secara sempit bahwa guru dalam lingkungan sekolah adalah ruang kompetisi dan obsesi dalam bidang akademis. Sekedar bagaimana cara menjadikan murid mendapat nilai setinggi-tingginya agar bisa masuk ke jenjang perguruan tinggi. Tidak aneh apabila upaya-upaya untuk mengembangkan keilmuan menjadi cukup sulit dilakukan. Padahal sebetulnya tujuan pendidikan tak didesain seambisius itu.

Bila menggunakan perspektif Mead, tentunya sekolah adalah ruang sosialisasi diri dan guru adalah subjek aktif yang terlibat untuk mempersiapkan proses sosialisasi tersebut. Singkat kata, proses pembelajaran secara sosiologis didesain untuk mempersiapkan murid agar nantinya dapat berkontribusi di masyarakat.

Oleh karena itu, penggunaan kata “mendidik” menjadi tepat karena memang adalah tugas guru untuk memperkenalkan kepada murid tak hanya sebatas pengetahuan sebagai sains tetapi juga pengetahuan tentang nilai dan norma di masyarakat. Setiap guru berpotensi untuk melakukan hal ini.

Lebih tepat lagi, dalam perspektif pedagogi kritis, baik guru dan murid bisa bersama-sama saling terlibat aktif untuk merefleksikan dunia. Jadi, bukan hanya murid saja yang belajar namun juga gurunya pun belajar.

Significant others

Pertanyaanya sekarang, bagaimana guru bisa menjadi significant others bagi muridnya?

Ada banyak ragamnya. Anda tahu kuncinya? Pengalaman murid. Ya, significant others tercermin dari hasil pengalaman sosial murid di sekolah.

Bila saat ini anda adalah murid dan membaca tulisan ini ataupun saat ini pembaca mengingat kembali masa lalu waktu masih menjadi murid, ingatkah kita waktu sekolah bertemu dengan banyak ragam guru? Baik cara mengajarnya, karakter personalnya, kemampuan intelektualnya. Ah, saya yakin anda pasti pernah setidaknya memiliki pengalaman baik tentang hal ini.

Ada murid yang terkesima dengan cara mengajar sang guru yang misalnya katakanlah tidak menggunakan gadget namun dapat membuka wawasan bahwa anak perempuan harus berdaya. Berapa banyak anak-anak perempuan di Indonesia yang akhirnya bersemangat melanjutkan kuliah karena gurunya menyadarkan kata siapa anak perempuan tidak bisa sama hebat dan pintarnya dari laki-laki? Bahkan, sudah sejak jauh hari, Kartini melakukan hal tersebut.

Ada juga murid yang belajar arti kedisiplinan atau kejujuran karena gurunya melakukan itu setiap hari dan sang murid memperhatikannya sehingga ketika ia bekerja atau bahkan ketika sudah berkeluarga ia menerapkan prinsip keteladanan tersebut.

Banyak murid melanjutkan pendidikan tinggi dengan masuk jurusan ilmu murni karena ia tergugah dengan kompetensi intelektual gurunya di sekolah. Tak lupa,  berapa banyak guru yang saat ini menjadi guru karena terinspirasi dari guru favoritnya sewaktu sekolah? Saya salah satunya.

Ya, saya adalah seorang guru sosiologi dan saya tidak pernah memikirkan apakah saya bisa menjadi significant others bagi murid saya. Satu-satunya hal yang perlu saya pikirkan adalah terus berproses dan belajar untuk mendidik sebaik-baiknya bagi murid-murid saya.

Oleh karenanya, penulis ingin menekankan bahwa significant others bukanlah suatu konsep untuk menjadikan guru menjadi significant others sebagai suatu kesengajaan dan hal yang dibuat-buat melainkan subjek pendidikan hasil dari refleksi pengalaman sosial murid ketika belajar di sekolah.

Selamat Hari Guru Nasional bagi Bapak dan Ibu Guru di Indonesia. Teruslah menginspirasi!

Ikuti tulisan menarik Luthfi Ersa Fadillah lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler