Hardiknas, Catatan Kecil Seorang Guru dari Ruang Kelas di Sekolah

Sabtu, 2 Mei 2020 13:21 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saya guru honorer di sebuah sekolah negeri. Alhamdulillah, gaji saya cukup untuk saat ini. Saya tergolong beruntung bisa bekerja di sekolah negeri yang mampu mengelola keuangan untuk membayar gaji pegawai honorernya dengan cukup baik. Berbicara di hari pendidikan sebetulnya isinya hanya mengarah ke dua fokus: problem & harapan. Kita biasanya menyimak kedua hal tersebut dari kaca mata setingkat Mas Menteri atau para ahli dan jarang dari guru atau bahkan murid. Kali ini, adalah suatu kehormatan bagi saya dapat ikut bersuara sedikit dari hasil pengalaman mengajar di ruang kelas.

Saya guru, guru honorer lebih tepatnya. Eits, tapi tetap saja, guru ya guru kan? Tenang, saya tak sedang berniat membicarakan menyoal gaji guru honorer. Alhamdulillah, gaji saya cukup untuk saat ini meskipun bukan mengajar di sekolah swasta. Saya tergolong beruntung bisa bekerja di sekolah negeri yang mampu mengelola keuangan untuk membayar gaji pegawai honorernya dengan cukup baik.

Nah, berbicara di hari pendidikan sebetulnya isinya hanya akan selalu mengarah ke dua fokus utama saja setiap tahunnya: problem & harapan.

Kita biasanya akan menyimak kedua hal tersebut dari kaca mata setingkat Mas Menteri atau ahli-ahli atau pengamat pendidikan di luar sana. Namun, jarang kita lihat entah itu tulisan atau bincang-bincang edukasi yang melibatkan guru, atau bahkan murid.

Oleh karenanya, kali ini, adalah suatu kehormatan bagi saya yang masih guru honorer ini untuk ikut bersuara sedikit dari hasil pengalaman mengajar di ruang kelas.

Membicarakan problem pendidikan, menurut hemat saya yang terbaik ialah melihatnya dari ruang kelas di sekolah. Mengapa? Karena sesungguhnya ruang kelas adalah ruang titipan.

Titipan dari idealnya sistem pendidikan nasional kita. Titipan dari ide-ide Mas Menteri dan menteri-menteri pendidikan sebelumnya. Titipan dari hasil rapat UU pendidikan oleh pejabat negara. Titipan dari cuap-cuap keinginan komunitas aktivis atau penggerak pendidikan. Titipan tipe ideal dari ahli-ahli teori pendidikan. Dan tentu, titipan asa dari orang tua.

Masalahnya, merealisasikan semua titipan itu hanya satu kata: susah!

Apakah itu adalah keluhan? Bukan. Itu adalah fakta.

Saya akan memulainya dari yang saya hadapi di ruang kelas.

Selanjutnya: Guru dan murid saling berkejaran

<--more-->

Satu hal yang terlintas dari wujud keprihatinan saya selama mengajar adalah beban materi ajar dan belajar. Baik untuk saya pribadi ataupun murid sendiri. Percayalah, saya menaruh prioritas masalah ini nomor satu dari seluruh problem pendidikan yang ada.

Gaji besar untuk guru, status honorer atau PNS, fasilitas selengkap apapun untuk murid tidak akan mengubah fakta bahwa materi ajar-belajar di sekolah terlalu banyak dalam satu mata pelajaran.

Saya ingin memberikan satu contoh kecil saja dari mata pelajaran yang saya ampu, yaitu sosiologi. Semisal dalam satu bab gejala sosial, murid diharuskan mempelajari 4 konsep terpisah yang dalam ilmu sosiologi sendiri tidak pernah disulap menjadi 4 kali pertemuan saja. Lalu, masing-masing konsep tersebut ada konsep-konsep turunan dan juga teori-teori yang mendukung. Sekali lagi, saya tegaskan hanya dalam 1 bab saja.

Dan, itu hanya satu pelajaran. Belum pelajaran lain yang mungkin memiliki jumlah bab yang lebih banyak seperti sejarah, biologi, matematika dan bahasa Indonesia.  Itu berarti ulangan harian akan lebih banyak sesuai jumlah bab. Dan, tentu materi yang wajib dipelajari untuk persiapan ujian kenaikan kelas akan semakin banyak juga bukan?

Saya punya satu pertanyaan, apa masalah yang mengekor dari problem yang saya utarakan di atas selain materi? Ya, jawabannya adalah Guru dan murid saling kejar-kejaran untuk menuntaskan. Yang satu menuntaskan materi, yang satu lagi menuntaskan nilai.

Saya yakin dan seyakin-yakinnya bahwa setiap guru bukan hanya ingin mengejar materi saja. Setiap guru ingin anak didiknya merasa nyaman. Guru sebagai orang tua pengganti di sekolah secara alami juga ingin terkoneksi dengan murid, bukan semata koneksi teknis semata.

Murid, juga saya yakin banyak yang ingin menemukan keminatannya tanpa harus terbebani materi. Dalam artian, mungkin sebetulnya ia juga ingin benar-benar menikmati proses pembelajaran.

Selanjutnya: Berterima kasih pada murid

<--more-->

Hanya dengan satu kondisi bahwa materi terlalu banyak cukup membuat pretensi buruk di benak murid bahwa materi mata pelajaran bukanlah representasi sains melainkan representasi tuntutan teknis semata. Tentunya, hal ini justru akan linier pada beban psikologis pada guru yang mengajarnya.

Saya sedari awal tidak mengatakan bahwa problem ini tidak mungkin diatasi, namun memang susah untuk diatasi dengan secara muluk-muluk.

 

Meski demikian, sebagai guru, saya menolak kalah. Lentera pendidikan tak boleh padam. Asa harus tetap ada di ruang kelas. Harus tetap ditebar dan disirami dengan aktivitas yang paling memungkinkan agar murid dan guru sama2 bisa berkembang.

Di tengah penatnya beban materi, Saya terkadang malah merasa menjadi “guru” yang sebenarnya kala bisa melihat dan membantu murid untuk keluar dari kondisi terburuknya dan lama-lama membaik.

Saya punya pengalaman sederhana tentang hal ini. Pada 2017 lalu saya mendapati ada anak laki-laki yang tulisannya boleh dibilang tulisan yang buat orang awam sering disebut tulisan ceker ayam. Saya bahkan tidak bisa membaca kata per katanya dengan utuh.

Lantas, apa yang saya lakukan adalah hanya menuntunnya secara rutin. “Cobalah tenang dalam menulis. Jangan buru-buru. Lupakan soal jawaban, tuliskan secara perlahan”

Saya ucapkan di setiap ulangan atau tugas di buku tulisnya. Akhirnya, sedikit demi sedikit tulisan murid tersebut meski tak sempurna namun setidaknya hurufnya berbentuk secara jelas. Tak lupa, meski tak selalu namun saya sesekali sering menyisipkan kata-kata “terima kasih telah mengerjakan tugas ini”. Beberapa murid merasa dihargai karena kata terima kasih bukan karena nilai namun karena ia berhasil menyelesaikan tugasnya.

Selain itu, untuk membuat materi seabrek, sayamencoba untuk membuat power point semenarik mungkin, lengkap dengan ragam realitas sosial yang sedang terjadi saat ini. Hal ini bukan hanya akan menarik perhatian murid namun juga cukup strategis dalam memperkenalkan konsep kepada para murid.  

Terakhir, saya punya prinsip ketika memberi tugas. Pertama, saya tidak akan memberi tugas yang saya sendiri tidak mampu membuatnya, terlebih menilainya. Kedua, saya tidak akan memberi tugas yang sama sekali tidak menarik untuk dikoreksi.

Karena saya sepenuhnya sadar...

Guru, betapapun bukan dewa dan murid bukan robot.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Luthfi Ersa Fadillah

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler