Cerpen | Penebuk - Analisa - www.indonesiana.id
x

Rusmin Sopian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 11 Januari 2021 06:21 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Cerpen | Penebuk

    Cerpen yang berkisah tentang penebuk, yang lazim dikategorikan sebagai pemenggal kepala anak kecil untuk dijadikan tumbal. Padahal Penebuk itu tak ada sama sekali, cuma isu yang digaungkan orang jahat untuk melakukan aksi jahatnya biar masyarakat tak keluar rumah pada waktu malam hari.

    Dibaca : 331 kali

    Cerpen : Penebuk
     
    Setidaknya dalam sembilan malam ini, suasana di Desa Lilot amat kontradiksi dengan suasana kehidupan yang sebenarnya,  yang selma bertahun-tahun dilakoni para warganya dalam berkehidupan dan bersosialisasi sebagai warga bangsa. Semangat gotong royong adalah simbol hidup di desa yang terletak dekat Pantai ini. Keakraban antar warga menjadi ciri khas desa ini. Tapi kini semua yang menjadi simbol dan ciri khas desa ini seolah lenyap bersama angin laut. 
     
    Kini usai sholat Isya, para warga lebih senang berada dalam rumahnya masing-masing. Tak ada lagi suasana malam yang sarat dengan kelakar dan kumpul-kumpul di depan rumah warga menyongsong rasa kantuk. Tak ada lagi bunyi koor tawa dan derai bahagia yang biasanya selalu menjadi simbol keakraban para warga pada malam hari. Tak ada lagi saling berkunjung usai Sholat Isya. Simbol keakraban yang menjadi roh kehidupan di Desa Lilot itu kini sirna. Diterjang angin isu yang menggema dalam nurani warga tanpa ampun dan tak bisa tertahankan oleh warga Desa. 
     
    Kini Semua warga asyik masyuk dengan aksinya masing-masing di rumah mareka. Desa Lilot sepi dan hening hingga suara adzan Subuh berkumandang. Kalaupun ada suara yang terdengar, itu adalah suara knalpot-knalpot konvoi mobil yang datang pada tengah malam menuju lokasi pantai di Desa mareka.
     
    Isu penebuk (Pemenggal kepala anak kecil yang biasa digunakan untuk tumbal )  yang beredar hingga menembus jantung para warga telah membuat para warga hidup dalam tingkat kewaspaaan yang tinggi dalam melindungi keluarganya. Perlindungan yang diberikan warga terhadap sekitarnya mengalah kepedulian dari para pemimpin yang telah mareka pilih untuk melindungi darah dan tumpah darah bangsa.Tak heran usai dari aktivitas disiang hari, para warga Desa Lilot selalu ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan anak istri dan keluarga mareka. Kalau dulu mareka berani melaut hingga bermalam-malam meninggalkan keluarga, kini mareka baru berani mencari nafkah saat matahari telah terbangun dari mimpi panjangnya yang selalu ingin menerangi penghuni bumi dari kegelapan. 
     
    Sembilan hari berada di desa kelahirannya, membuat Rian amat tidak bahagia dengan suasana yang terjadi. Kepulangannya ke Desa Lilot tempatnya dilahirkan dan dibesarkan selain ingin melihat orang tuanya, juga ingin dimanfaatkan Rian untuk mengenang masa-masa lalunya yang indah di Desa ini, utamanya pada saat malam tiba. Selain bisa menikmati indahnya rembulan, suasana keakraban antar warga usai Isya selalu membuatnya rindu pada desa kelahirannya. Namun impian itu kini sirna. Isu penebuk telah membuat warga sibuk mengamankan diri dan keluarga masing-masing. 
     
    Siang itu, Rian mendatangi warung kopi milik Pak Aceng yang terletak di ujung Desa. Para warga yang biasanya ramai  memadati warkop tersohor di Desa itu, siang itu pengunjungnya terbatas hanya pada bebebrapa orang saja. Warkop ini biasanya menjadi tempat para warga berkumpul dan saling bercengkrama sesama warga. Kadang kala jadi tempat mencari dan mendapatkan informasi tentang berbagai hal yang menjadi trending topik di masyarakat.
     
    Kehadiran Rian di Warkop mang Aceng disambut dengan wajah sumringah oleh mang Aceng dan beberapa warga yang sedang asyik menyeruput dan menikmati kopi terbaik karya istri Mang Aceng. Maklum sudah hampir 9 tahun Rian tak pernah pulang ke Desa usai menamatkan pendidikan di Kota.
    "Silahkan masuk, wahai orang kota. Apa kabar," sambut mang Aceng sambil tertawa renyah dan menyalami tangan Rian.
    "Mang Aceng bisa aja. Saya ini masih orang udik. Orang kampung ini. Orang Desa ini, Mang. Kebetulan saja kini saya berkarya di Kota. Habisnya di Desa ini tak ada yang mau menerima saya bekerja," jawab Rian dengn canda. Dan tawa pun menggelegar dari para warga yang hadir di Warkop. Mentari bercahaya dengan terangnya. Seterang jiwa-jiwa warga yang sedang berkumpul di warkop Mang Aceng.
    "Sebagai warga kampung kami bangga dengan Nak Rian yang bisa bekerja dan mengabdi di Kota. Membawa nama baik Desa ini. Dan ini bisa jadi katalisator bagi anak-anak Kampung untuk bersekolah tinggi," sahut Mang Dio yang diamini para warga yang hadir.
    "Kok jarang ngumpul depan rumah lagi, Mang? Tanya Rian. Semua terdiam. Membisu. Tak ada satu kata pun yang meluncur dari mulut para warga. Seakan terkunci rapat-rapat. Sinar mentari tiba-tiba menjelma menjadi mendung. Awan dilangit terlihat amat gelap. 
     
    ********** 
    Usai Sholat Isya berjamaah di masjid, Rian melangkahkan kakinya menuju rumah Pak Kades. Jarak rumah pimpinan tertinggi Desa dengan masjid hanya sekitar belasan rumah rumah. Dan tanpa tersadari, kaki Rian pun telah terhenti di halaman rumah Pak Kades yang masih tetap tak berubah. Masih rumah yang dulu walaupun Pak Kades telah dua kali menjabat sebagai kepala Desa. Tak ada yang berubah, bisik Rian dalam hati.
     
    Kehadiran Rian disambut dengan hangat oleh Pak Kades dan istrinya. Kehadiran Rian di rumah pimpinan tertinggi Desa seakan menjadi tempat untuk saling berbagi. Ini terlihat dari wajah sumringah Pak Kades dan istri saat menyambut Rian. Seakan-akan ada beban yang hilang dari pundaknya saat bertemu Rian. 
     
    "Kita memang harus menyelidiki isu ini, Pak Kades. Tak bisa kita biarkan warga hidup dalam isu yang tak jelas asal usulnya. Dizaman yang sudah moderen dan serba digital ini, mana mungkin ada penebuk. Tak kan mungkin orang membuat bangunan dan jembatan menggunakan tumbal kepala anak kecil. Tak mungkin. Tak masuk akal sehat kita sebagai manusia," jelas Rian sambil menikmati kopi yang dihidangkan istri Pak Kades.
     
    "Itulah nak Rian. Saya sebagai pimpinan Desa telah beberpa kali menyampaikan kepada warga agar tak percaya pada isu ini. Tapi mareka masih belum percaya 100 persen. Isu ini telah membuat warga panik dan pencarian mareka pun berkurang yang tentunya amat merugikan keluarga mareka," jawab Pak Kades.
     
    Lantas kenapa kini para warga jarang melaut malam hari Pak Kades." tanya Rian. Pak Kades hanya terdiam membisu. Tak ada satu narasi pun keluar dari mulut pimpinan Desa Lilot ini. Rian teringat dengan cerita Ibunya saat dirinya masih kecil soal legenda Penebuk ini. Penebuk adalah narasi yang dinarasikan para orang tua kepada anaknya ketika anaknya berkeliaran saat siang hari dan menjelang magrib. Penebuk adalah narasi tentang orang yang memenaggal kepala anak kecil untuk dijadikan tumbal pembangunan jembatan. Sebagai anak kecil Rian saat itu langsung bergidik dan memeluk Ibunya. Namun ketika isu Penebuk dilontarkan Ibunya, diluar rumah banyak orang-orang dewasa yang bernarasi tentang penyelundupan. 
     
    *********** 
    Jam telah menunjukan pukul 01.00 dinihari. Bersama Pak kades dan Hansip serta dibantu beberapa pemuda Desa, Rian pun berangkat menuju pantai. Lewat jalan tikus yang hanya diketahui para warga Desa, mareka pun tiba di pantai. 
     
    Keindahan pantai saat malam sungguh mempesona. Dan ini yang amat dirindui Rian kalau pulang desa. Hanya dalam hitungan menit, konvoi mobil yang selama ini selalu menghiasi malam-malam di Desa Lilot pun tiba. Di laut, tampak sebuah kapal ukuran besar merapat. Dan dalam hitungan menit muatan-muatan dalam mobil truk pun mulai dipindahkan menuju kapal. 
     
    Dan sebelum proses pemuatan selesai, tiba-tiba puluhan aparat langsung menyergap mareka. Dan hitungan menit semuanya tak berkutik. Truk-truk bermuatan tadi pun langsung menuju arah Kota Kecamatan dengan dikawal aparat keamanan berseragam menuju kantor polisi. Sementara beberapa aparat  tampak mengamankan kapal yang masih bersandar di dermaga kayu Desa.
     
    ******************
    Paginya kegemparan melanda Desa Lilot. Kehebohan melanda desa terpencil ini. Desa ini tiba-tiba ramai dengan kunjungan para petinggi aparat keamanan. Para wartawan dan juru kamera pun turut meramaikan desa yang tak pernah tersentuh pembangunan ini, Para warga kini mulai tahu dan paham mengapa isu penebuk ini selalu digemakan. Mereka baru mengerti. 
     
    Dan yang amat membahagiakan warga penangkapan para penjahat yang merugikan negara ini ternyata upaya dari putra desa mareka yang ternyata seorang aparat keamanan berpangkat  tinggi yang kini bertugas di Kota.
     
    "Saya atas nama warga, sungguh bangga Nak Rian. Ternyata kecintaan Nak Rian terhadap Desa tak luntur oleh pangkat dan tempat tinggal. Setidaknya kejadian semalam telah mengabarkan kepada kami semua warga Desa untuk tidak percaya dengan isu-isu yang tak jelas asal muasalnya. Dan kami bangga kepadamu, Nak. Teramat bangga," kata Pak Kades sambil memeluk Rian.
     
    Matahari mulai siap berkemas diri dari bumi yang terasa gersang. Rembulan pun menyambutnya dengan riang. Malam pun tiba. Rumah warga pun telah terang kembali. Terang kembali hadir di rumah-rumah warga. Bercahayakan kebahagiaan. Gelak tawa dan canda mulai menghiasi malam Desa Lilot. Para warga mulai bercengkrama. Dan Rian pun larut dalam keakraban itu. Keakraban yang selama ini menjadi simbol warga Desa Lilot. Dan itu yang selalu dirindui Rian saat pulang ke Desanya. Kerinduan seorang anak Desa.
     
    Toboali, sabtu sore 9 Januari 2021



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.