x

Iklan

Jamaludin Abdul Malik

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 Oktober 2020

Kamis, 28 Januari 2021 17:18 WIB

Visi, Misi dan Karakteristik Pendidikan Islam

Hampir semua lembaga memiliki visi dan misi sebagai pedoman dan arahan pencapain tujuan.Bagaimana dengan visi dan misi Pendidikan islam, seperti apakah karakteristik, visi dan misi pendidikan islam?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan pada ajaran Islam. Karena ajaran Islam berdasarkan al-Qur’an, al-Sunnah, pendapat ulama serta warisan sejarah, maka pendidikan Islampun mendasarkan diri pada al-Qur’an, al-Sunnah, pendapat para ulama serta warisan sejarah tersebut.

Dengan demikian, perbedaan pendidikan Islam dengan pendidikan lainnya, ditentukan oleh adanya dasar ajaran Islam tersebut. Jika pendidikan lainnya didasarkan pada pemikiran rasional yang sekuler dan impristik semata, maka pendidikan Islam selain menggunakan pertimbangan rasional dan data empiris juga berdasarkan pada al-Qur’an, al-Sunnah, pendapat para ulama dan sejarah tersebut.

Dalam perjalanan sejarahnya, sebuah kegiatan pendidikan ditentukan oleh visi, misi, dan sifat yang melatar belakanginya. Dalam berbagai referensi kita masih belum menjumpai rumusan tentang visi dan misi pendidikan Islam tersebut secara eksplisit. Yang ada, pada umumnya adalah rumusan tentang tujuan, kurikulum, metode belajar mengajar, kriteria guru dan berbagai aspek pendidikan lainnya. Rumusan tentang visi, misi dan Karakteristik Mutu Pendidikan Islam sangat perlu di teliti, dibahas dan dipahami oleh Insan Pendidik, karena ia akan menjadi arahan, langkah serta standar di dalam pendidikan Islam.

  1. Visi Pendidikan Islam
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kata visi berasal dari bahasa Inggris, vision yang berarti penglihatan daya lihat, pandangan, impian atau bayangan. Secara sederhana kata visi mengacu kepada sebuah cita-cita, keinginan, angan-angan, khayalan dan impian ideal yang ingin dicapaikan dirumuskan secara sederhana, singkat, padat dan jelas namun mengandung makna yang luas jauh dan penuh makna. Dengan sifatnya yang demikian itu, sebuah visi dapat mengesankan sebuah cita-cita jangka panjang yang mungkin sulit di ukur dalam jangka waktu tertentu.

Visi dapat diartikan dengan pandangan, impian, wawasan, apa saja yang tampak dalam khayal, penglihatan. Pengertian visi menurut Abudi Nata adalah keinginan, cita-cita, atau impian ideal yang ingin diwujudkan atau angan-angan yang ingin dicapai. Jadi visi pendidikan Islam berarti keinginan ideal yang ingin diwujudkan melalui upaya pendidikan Islam. (Saidan, 2011: 44)

Visi pendidikan Islam selaras dengan tujuan kehadiran agama Islam itu sendiri di persada bumi, yaitu membimbing dan menuntun manusia ke jalan kebenaran dan menunjuki mereka untuk tidak tersesat dalam kehidupan. Mewujudkan kehidupan manusia yang selaras dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri, yaitu menjadi hamba Allah yang sebenarnya dan menjadikan seluruh aktivitas kehidupannya sebagai pengabdian kepada-Nya. (Q.S. Ad-zari’at: 56)

Visi pendidikan Islam pada dasarnya berkaitan dengan visi kerasulan para Nabi, mulai dari visi kerasulan Nabi Adam hingga kerasulan Nabi Muhammad SAW, yaitu membangun sebuah kehidupan manusia yang patuh dan tunduk kepada Allah (QS. 7:66, 73:29:16) serta membawa seluruh rahmat bagi seluruh alam (QS. 21:107; 27:77).

Kata patuh dan tunduk kepada Allah sebagai disebutkan di dalam ayat tersebut memiliki arti yang amat luas, yakni melaksanakan segala perintah Allah dalam segala aspek kehidupan: ekonomi, sosial, politik, budaya, Ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya yang didasarkan pada nilai-nilai kepatuhan dan ketundukan kepada Allah, yaitu nilai keimanan, ketakwaan, kejujuran, keadilan, kemanusiaan, kesetaraan, kebersamaan, toleransi, tolong menolong, kerja keras, dan lain sebagainya. Sedangkan kata rahmat dapat berarti kedamaian, kesejahteraan, keharmonisan, kenikmatan, keberuntungan, kasih sayang, kemakmuran, dan lain sebagainya. Pendidikan Islam yang dilaksanakan harus diarahkan untuk mewujudkan sebuah tata kehidupan yang mencerminkan nilai-nilai tersebut.

Berbicara tentang visi pendidikan Islam, berarti membicarakan dasar-dasar pemikiran filosofis tentang tujuan hakiki dari pendidikan Islam itu sendiri. Usaha mewujudkan visi pendidikan Islam berarti berupaya merealisasikan tujuan penciptaan manusia dan kehidupannya di muka bumi.

Agar terwujud visi tersebut tentunya terkait erat dengan landasan hakikat pendidikan Islam itu sendiri, apa, bagaiamana dan untuk apa pendidikan Islam itu, yang dalam kajian filsafat meliputi ontologi, epistomologi dan axiology. Artinya adalah, apa, bagaimana dan untuk apa pendidikan itu bagi kehidupan manusia, baik manusia sebagai subjek atau pelaku pendidikan maupun ia berfungsi sebagai objek atau sasaran pendidikan.

Ketiga landasan pengetahuan tersebut dapat dilacak dalam berbagai ayat al-Qur’an, baik yang sifatnya eksplisit maupun sentuhan ayat-ayat secara implisit. Sebab al-Qur’an pada dasarnya merupakan buku petunjuk dan pegangan, namun diantara isinya mendorong umat Islam supaya banyak berpikir. Sekalipun diakui bahwa, al-Qur’an tidak sampai memasuki kawasan yang bersiafat teknis dan tidak sampai menjangkau zona praktis dari pendidikan.

Kata-kata yang dipakai al-Qur’an menstimulusi umat manusia untuk selalu berpikir menurut Harun Nasution sangat banyak sekali seperti : ulu al-bab, ulul al-‘ilm, ulu al-abshr, ulu al-nuha, dan kata ayat sendiri erat kaitannya dengan perbuatan berpikir yang arti aslinya adalah tanda. Kata-kata tersebut sebenarnya merupakan ayat-ayat tarbawiyah (ayat-ayat pendidikan). Isyarat ayat-ayat tarbawiyah  yang tertera dalam al-Qur’an tersebut sebenarnya telah diaplikasikan secara nyata oleh Rasulullah SAW melalui tindakannya dan amaliahnya selama hayatnya. Islam sebagai agama wahyu yang bersumberkan al-Qur’an yang dibawanya itu mengandung implikasi kependidikan dalam berbagai aspeknya bertujuan untuk menjadi rahmatan li al-‘alamin.

Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa visi utama pendidikan Islam itu adalah untuk mencetak manusia-manusia yang menjadi rahmatan li al-‘alamin, yaitu insan-insan penyebar rahmah dan menerapkan rasa kasih sayang di muka bumi bumi. Keberadaannya dirasakan oleh manusia disekitarnya

2. Misi Pendidikan Islam

Sebagaimana kata visi, kata misi pun berasal dari bahasa Inggris, yaitu mission yang berarti tugas, perutusan, dan misi. Misi lebih lanjut dapat dikatakan sebagai langkah-langkah atau kegiatan-kegiatan yang bersifat strategis dan efektif dalam rangka mencapa visi yang telah ditetapkan.

Sejalan dengan visi pendidikan Islam sebagaimana tersebut di atas, maka misi pendidikan Islam juga erat kaitannya dengan misi ajaran Islam. Berdasarkan petunjuk dan isyarat yang terdapat di dalam al-Qur’an, dijumpai informasi bahwa pendidikan Islam terkait  dengan upaya memperjuangkan, menegakkan, melindungi, mengembangkan, menyantuni dan membimbing tercapainya tujuan kehadiran agama bagi manusia.

Imam al-Syathibi menyebutkan bahwa kehadiran agam Islam adalah untuk melindungi lima hal yang merupakan  hak-hak asasi manusia, yaitu pertama hak untuk hidup (al-nafs/al-hayat), kedua hak beragama (al-din), Hak untuk berfikir (al-aql), keempat hak untuk memperoleh keturunan / pasangan hidup (al-nasl), dan kelima hak untuk memperoleh harta benda (al-mal).

Dari uraian tersebut bahwa misi pendidikan Islam berkaitan dengan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Terkait dengan upaya mengangkat harkat dan martabat manusia.

Pemeliharaan terhadap hak-hak asasi manusia pada intinya diarahkan pada upaya memuliakan harkat dan derajat manusia.

Misi ajaran Islam yang memuliakan manusia yang demikian itu, menjadi misi pendidikan Islam. Terwujudnya manusia yang sehat jasmani, rohani, dan akal pikiran, serta memiliki Ilmu pengetahuan, keterampilan, akhlak yang mulia, keterampilan hidup (lifeskil) yang memungkinkan ia dapat memanfaatkan berbagai peluang yang diberikan oleh Allah termasuk pula mengelola kekayaan alam yang ada di daratan, di lautan, bahkan di ruang angkasa adalah merupakan misi pendidikan Islam.

Keistimewaan manusia yang demikian itu dalam sejarah pernah mengalami kemunduran. Berbagai karunia yang Allah berikan berupa kekuatan jasmani, rohani, akal pikiran, kekayaan alam dan berbagai peluang hidup telah disalah gunakan oleh manusia. Mereka tidak mengikuti petunjuk Tuhan dakm memanfaatkan berbagai karunia tersebut. Yang mereka ikuti adalah dorongan hawa nafsu, syahwat, dorongan materialistic, hedonistic dan bujukan syaitan, sehingga mereka telah membuat berbagai kerusakan dan bencana di muka bumi. Al-Qur’an menyebutkan : “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. al-Rum (30): 41).

  1. Terkait dengan upayamemberdayakan manusia agar ia dapat melaksanakan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka ibadah kepada Allah.
  2. Terkait dengan upaya mengatasi berbagai masalah yang dihadapi umat manusia yaitu masalah akidah, ibadah, syari’ah, ekonomi, politik, sosial, budaya, adat istiadat, hukum, ilmu pengetahuan, pendidikan dan sebagainya.
  3. Terkait dengan menegakkan akhlak yang mulia pada seluruh aspek kehidupan tersebut.

Dengan misi yang demikan itu, maka pendidikan Islam memilih tanggung jawab yang amat berat, besar dan kompleks, karena terkait dengan seluruh aspek kehidupan manusia.

  1. Karakteristik Mutu Pendidikan Islam

Sebelum berbicara jauh mengenai karakteristik pendidikan Islam, ada baiknya kita melihat kembali berbagai pengertian dari karakteristik dan pendidikan Islam. Hal ini penting dilakukan tidak hanya sebagai pembatas masalah namun juga berguna sebagai penyatuan pandangan akan apa yang dibicarakan.

  1. Karakteristik

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2008), karakteristik diartikan sebagai ciri-ciri khusus dari suatu hal. Ciri yang dapat dijadikan pengenal akan suatu identitas. Satu-dua ciri sangat mungkin sama dengan hal lainnya, tapi jika semua ciri dibandingkan maka akan terlihat jelas perbedaannya.

Dengan kata lain karakteristik dapat dijadikan pedoman dalam mengenali (mengidentifikasi) sebuah hal atau fenomena.

  1. Pendidikan dan Pendidikan Islam

Pendidikan didefinisikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (proses, cara, perbuatan mendidik), kamus besar Bahasa Indonesia (2008). Dalam literatur lainnya, disebutkan pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan fundamental, secara intelektual dan emosional, ke arah alam sesama manusia. Dengan berbekal pendidikan, nantinya manusia mampu mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya dalam masyarakat tempat mereka hidup. Sedangkan untuk pendidikan Islam sendiri mempunyai banyak versi pengertian, diantaranya menurut DR. Yusuf Qardhawi dan Prof. DR. Hasan Langgulung.

Menurut DR. Yusuf Qardhawi, pendidikan Islam merupakan pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya. Pendidikan Islam mempersiapkan Manusia untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya, dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya. Selain itu, Prof. DR. Hasan Langgulung merumuskan pendidikan Islam sebagai sebuah proses penyiapan generasi berikutnya untuk mengisi peranan, memindahkan tidak hanya pengetahuan tapi juga nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beribadah di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.

Proses di atas ditekankan sebagai sebuah proses bimbingan subjek didik terhadap objek didik.  Bimbingan yang dilakukan berupa pimpinan, tuntunan, dan usulan terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, keberanian, motivasi, dan lain sebagainya) dan raga dari objek didik dengan menggunakan berbagai media dan materi ke arah terciptanya pribadi islami disertai evaluasi yang sesuai dengan ajaran Islam.

Dari penjabaran definisi pendidikan Islam di atas rasanya dapat kita tarik sebuah kesamaan sudut pandang yang ada. Pendidikan Islam berorientasi kepada pengembangan manusia seutuhnya, baik segi jasmani ataupun rohani. Pendidikan Islam tidak hanya membangun manusia secara satu sisi namun membangun manusia secara seimbang antara ilmu pengetahuan dan ilmu ketuhanan. Menyiapkan manusia menjadi pribadi yang unggul dalam pemikiran ataupun sikap yang menjadikan manusia semakin dekat kepada penciptanya, mengingatkan dirinya bahwa betapa kecilnya manusia di dunia ini.

Mutu pendidikan adalah derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan secara efektif dan efisien untuk melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.(M. Rohman, 2013: 10), maka mutu pendidikan Islam adalah derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan menurut ajaran Islam secara efektif dan efisien. Berkaitan dengan karakteristik mutu pendidikan islam adalah ciri-ciri yang membedakan keunggulan pendidikan islam dibandingkan dengan pendidikan pada umumnya. Berdasarkan pengertian tersebut maka karakteristik dari pendidikan islam menjadi modal bagi keunggulan (mutu) pendididkan islam.

Menurut Hidayat Abdullah (2011) karakteristik pendidikan islam adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan Yang Tinggi (Sakral)

Pendidikan Islam bersumber langsung dari Allah swt. melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan kata lain, pendidikan Islam merupakan sebuah proses mengenal dan pengakuan secara nyata atas Allah swt. Proses pendidikan Islam adalah sebuah proses dimana seorang manusia berhubungan langsung dengan penciptanya. Definisi pendidikan yang diutarakan oleh Prof. DR. Hasan Langgulung semakin menjelaskan bahwa pendidikan Islam sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai kesakralan yang disebabkan hubungan manusia dengan Tuhannya.

  1. Pendidikan Yang Seimbang

Pendidikan Islam tidak hanya mementingkan satu sisi pendidikan saja, tapi juga membangun manusia secara seimbang (utuh), akal dan hatinya, jasmani dan rohaninya. Keseimbangan yang tercipta merupakan keseimbangan hidup dalam menjalankan aktivitas dunia tanpa mengesampingkan aktivitas yang berorientasi akhirat. Begitu juga sebaliknya, seimbang dalam menjalankan aktivitas yang berorientasi akhirat tanpa melupakan aktivitas dunia.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

  1. Pendidikan Yang Realistis

Pendidikan Islam berjalan secara jelas dan nyata terhadap kehidupan dalam masyarakat. Realistis terhadap segala aspek kehidupan, baik yang bersifat sosial ataupun bersifat ilmiah. Dikatakan menurut Omar Muhammad Al-Taumy Al-Syabani, pendidikan Islam bersifat realistis dan jauh dari khayal serta berlebih-lebihan. Praktis dan realistis dengan fitrah manusia, sejalan dengan suasana serta sesuai dengan kesanggupan manusia baik secara individu ataupun masyarakat. Contoh nyata akan ciri realistis ini sudah banyak dijumpai. Anggapan akan ajaran Islam yang tidak dapat diterima dan tidak dapat aplikasikan kembali dipatahkan oleh manusia sendiri. Dijelaskan oleh Rina Novia (2010), bagaimana Rasulullah telah menjadi guru yang sangat hebat dan telah mencetak banyak murid yang hebat pula. Metode-metode yang digunakan Rasulullah pada saat itu nyatanya masih sangat applicable pada zaman sekarang ini, bahkan tidak dapat digantikan. Krisis yang terjadi saat ini pada dunia anak-anak kita telah dapat dijawab oleh Islam jauh sebelumnya.

  1. Pendidikan Yang Komprehensif dan Integral

Komprehensif memeliliki pengertian luas dan lengkap. Sebagai ajaran yang komprehensif, menurut berbagai sumber, Islam memiliki beberapa karakteristik yang dapat dijadikan landasan berpikir dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, Islam merupakan ajaran (pendidikan) yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Islam tidak mengenal sekat geografis yang membatasi manusia selama ini. Jarak dan letak tidak menjadikan Islam sebagai ajaran yang ditujukan hanya untuk sekelompok orang saja, melainkan untuk seluruh umat manusia di segala penjuru dunia. Kedua, Islam sebagai penyempurna agama-agama sebelumnya akan terus berlaku sampai kapanpun. Islam akan terus menjadi pedoman hidup manusia, akan terus berlaku di zaman apapun. Ketiga, Islam sebagai ajaran yang integral, mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam berbicara dari masalah yang paling pribadi hingga kemasyarakatan dan kenegaraan. Masalah sosial, hukum, sains, ekonomi, dari adab melakukan kegiatan sehari-hari hingga kepermasalahan politik nasional dan internasional. Islam berbicara tidak hanya masalah ideologi saja, tetapi juga seluruh segi kehidupan manusia. Ajaran Islam merupakan ajaran yang tidak terputus antara yang satu dengan yang lainnya. Terdapat hubungan yang kuat dan koneksi yang jelas dalam semua ajaran

Islam.

  1. Pendidikan Yang Berkontinuitas

“Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat” (HR. Muslim). Kontinu di sini memiliki arti dilakukan terus-menerus tidak hanya untuk mendapatkan sesuatu yang baru tapi juga mengembangkan dan memanfaatkan apa yang telah diperoleh. Dalam pendidikan Islam, tidak ada kata selesai dalam menuntut ilmu. Sebuah keharusan bagi seorang manusia untuk terus memperdalam ilmunya, tidak hanya melalui bangku pendidikan, justru tantangan itu akan jauh lebih besar ketika seorang manusia tiba di tengah-tengah masyarakat. Tantangan tidak hanya untuk terus mengembangkan keilmuan tetapi juga untuk mendayagunakan bagi kehidupan. Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. Nabi Muhamad pernah bersabda: ”Janganlah ingin seperti orang lain, kecuali seperti dua orang ini. Pertama orang yang diberi Allah kekayaan berlimpah dan ia membelanjakannya secara benar, kedua orang yang diberi Allah al-Hikmah dan ia berprilaku sesuai dengannya dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR Bukhari).

  1. Pendidikan yang Global

Sebagai agama yang universal (rahmatan lil alamin) Islam dapat diterima oleh semua suku, golongan, ras, dan bangsa. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik pendidikan Islam yang lainnya. Dengan karakter pendidikan Islam sebelumnya menjadikan pendidikan Islam sangat mudah diterima oleh semua golongan tidak hanya zaman dahulu, sekarang, ataupun yang akan datang.

  1. Pendidikan Yang Tumbuh dan Berkembang

Ilmu-ilmu pengetahuan yang seluruhnya bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah belum sepenuhnya dapat diungkap oleh manusia, keterbatasan manusia menjadi salah satu penyebabnya. Namun disanalah yang membuat pendidikan Islam akan terus tumbuh dan berkembang. Dengan bersumber Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan terus bermunculan penemuan-penemuan baru, teoriteori baru, sebagai bentuk pendidikan Islam yang tidak pernah berhenti untuk tumbuh dan berkembang.

Keterkaitan antara visi, misi dan karakteristik mutu pendidikan islam bertitik tolak dari nilai-nilai ajaran islam yang dijadikan sebagai cita-cita luhur pendidikan islam (visi) dan diimplemetasikan dalam bentuk langkah-langkah strategis dan efektif (misi) dengan mengacu kepada karakteristik pendidikan islam (standar mutu).

Ikuti tulisan menarik Jamaludin Abdul Malik lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler