Bencana Banjir itu, Kalah Lho dengan Banjir Demagog dan Provokator di NKRI - Analisa - www.indonesiana.id
x

Banjir masalah

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 2 Maret 2021 15:48 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bencana Banjir itu, Kalah Lho dengan Banjir Demagog dan Provokator di NKRI

    Ayo, siapa yang kini terus menjadi provokator dan demagog di tengah kita? Siapa yang menjadi solutor dan motivator sejati? Sayang, di tengah berbagai keterpurukan bangsa, provokator dan demagog malah bak enceng gondok yang tumbuh tanpa ditanam. Di tengah penggusuran hutan untuk pihak berkepentingan, provokator dan demagog pun bak kelapa sawit yang terus meluas dan melebar bukan milik rakyat.

    Dibaca : 558 kali

    Di tengah pandemi corona dan persoalan bangsa yang semakin terasa tak berbatas tak berujung, hal yang paling bijak bagi setiap individu rakyat Indonesia, minimal seharusnya menjadi solutor (penyelesai masalah) bagi dirinya sendiri. Pun dapat menjadi motivator bagi orang lain. Bukan malah terus ikut terjebak dan andil menjadi provokator apalagi demagog yang membikin jurang perseteruan antar sesama rakyat semakin menganga.Ingat, saat rakyat terus didera penderitaan dan ketidakadilan, pendidikan terus terpuruk. Rakyat semakin tak santun terutama di dunia maya, para elite dan pemimpin bangsa terus asyik dengan diri, keluarga, dan kelompoknya untuk oligarki serta berdinasti politik, para orang kaya dan orang kaya baru terus hedon, para influenser dan buzzer terus tak punya hati, hutang negara terus melangit dan bencana alam silih berganti, corona terus tak terkendali, dan bertumpuk masalah lainnya, seharusnya menjadikan para pemimpin dan rakyat bangsa ini, menjadi mawas diri.

    Provokator, motivator


    Sayang, bukannya masalah-masalah yang bertumpuk dicicil diselesaikan dan dilunasi, ini malah sebaliknya, hal yang seharusnya bukan masalah, malah dibikin jadi masalah. Masalah kecil terus digoreng dan dibumbui hingga menjadi besar. Sementara masalah besar terus tak terkendali hingga bangsa ini terus berada di tepi jurang disintegrasi.

    Ini akibat dari menjamur dan terus berseminya individu menjadi provokator. Individu dan kelompok yang terus berbuat dan membangkitkan kemarahan, menghasut, memancing alias memprovokasi pihak yang berseberangan demi kepentingan dan tujuan masing-masing.

    Negeri ini banyak pula motivator, namun seharusnya setiap individu pun dapat menjadi motivator, tidak harus menjadi motivator berlisensi yang baru beraksi bila ada yang membayar.

    Motivator adalah orang yang memberikan dorongan atau penggerak untuk memotivasi orang lain melakukan sesuatu hal. Ini hampir sama pengertiannya dengan provokator, akan tetapi motivator lebih identik dengan hal yang berbau positif, meski implementasinya kadang tidak seperti teorinya.

    Sejatinya, tidak semua provakator  berhubungan dengan hal yang anarkis, melainkan juga ada yang terkait dengan hal yang bersifat positif. Artinya, ada banyak juga provokator yang menjadi motivator dalam kegiatan/tujuan yang positif, dimana hasil akhirnya yang harus menjadi penilaian. Sebab provokasi yang dikeluarkan oleh provokator hanyalah suatu “pemicu/pemancing” sehingga melahirkan suatu reaksi.

    Namun, perbuatan memicu dan memancing itu malah lekat dengan pekerjaan influenser dan buzzer, yang konotasinya di tengah masyarakat sudah memiliki makna menyempit dan negatif. Dan, ironisnya sampai ada yang dengan sangat percaya diri, tak malu hati dan pikirin, mengaku bangga menjadi buzzer, mendapat bayaran dari uang rakyat, yang rakyat menistanya alias tak rela dan tak ikhlas.

    Mereka juga tak sadar apa yang dilakukannya justru terus menzalimi sesama, menindas, hingga negeri ini kini semakin dekat dengan chaos, kekacauan, mereka bahkan tidak merasa berdosa. Malah sampai ada yang bilang dan meledek yang menentukan surga dan neraka itu siapa? Seperti sudah tahu wujud surga dan neraka saja. Luar biasa individu buzzer semacam ini. Provokator sejati yang sombong dan merasa kuat karena ada di bawah ketiak rezim.

    Wahai para provokator yang kini sangat berani di medos dan menjadi pemicu utama buruknya sopan santun netizen Indonesia, pasti tak pernah membaca kisah Bung Karno yang berpidato di hadapan ribuan orang dengan berapi-api. Beliau memotivasi sambil memprovokasi yang hadir dengan tantangan untuk kebaikan-kebaikan perjuangan dan perubahan.

    Apakah para junjungan para provokator sekarang seperti Bung Karno? Menjadi motivator sekaligus provokator dalam hal perjuangan dan perubahan untuk rakyat, bangsa,.dan negara? Untuk siapa para junjungan provokator ini sekarang berjuang dan bergerak membangun perubahan? Yakinkah untuk dan atas nama rakyat? Bukan karena kontrak dan amanah untuk taipan alias cukong?

    NKRI penuh demagog

    Selain kini Indonesia dipenuhi manusia provokator yang bekerja demi kepentingan, +62 pun penuh dengan demagog.

    Sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna demagog adalah penggerak (pemimpin) rakyat yang pandai menghasut dan membangkitkan semangat rakyat untuk memperoleh kekuasaan.

    Demagog adalah istilah politik yang berasal dari dari bahasa Yunani “demos” yang bermakna rakyat dan “agogos” yang bermakna pimpinan dalam arti negatif. Yaitu pemimpin yang menyesatkan demi kepentingan pribadinya.

    Apakah benar, negeri ini sekarang penuh demagog dari hulu ke hilir? Rakyat seluruh Indonesialah yang bisa menjawab iya atau tidak. Sebab, apa yang kini terus terjadi di Indonesia, rakyatlah yang terus menjadi atas nama dan korban.

    Kehidupan Indonesia di berbagai ruang, kini tak pernah lepas dari kata politik. Dan, ketika bicara politik, maka akan ada demagog di dalamnya. Pasalnya, setiap politikus cenderung demagog dan dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang paling membingungkan dengan menampilkan wajah sebanyak kategori sosial rakyatnya.

    Para politikus demagog ini, dapar bermain peran dengan topeng-topeng beraneka hingga setiap laku langkah dan tindakannya efektif signifikan sesuai dengan kepentingan di dalam situasi yang beragam.

    Sebab, seorang demagog akan mampu memerankan tokoh dan meyakinkan kepada masyarakat bahwa dia pun merasakan apa yang seperti masyarakat rasakan, meski dia sendiri penulis naskah sekaligus sutradara dan aktornya.

    Karenanya, demagog juga disebut agitator-penipu yang seakan-akan memperjuangkan rakyat padahal semua itu dilakukan demi kekuasaan untuk dirinya.

    Mereka terbudaya menipu rakyat dengan janji-janji manis agar dipilih tapi kalau sudah terpilih tak peduli lagi pada rakyat, bahkan dengan kedudukan politiknya sering mengatas namakan rakyat untuk mengeruk keuntungan.

    Atas sepak terjangnya, dan kini sangat terasa di Indonesia, rakyat pun sangat mudah mengenali siapa para demagog itu yang bahkan kini masyarakat pun sudah membaca bahwa mereka nampak mulai bekerja sama lagi dengan Lembaga Survei (LS) dan media massa demi mengopinikan tentang partai dan elite partainya kepada masyarakat demi elektabilitas jelang Pilkada dan Pemilu.

    Cara khas demagog pun terdeteksi dan kini terus digelorakan oleh mereka dengan selalu mencari kambing hitam atas segala masalah, sehingga kebencian terhadap suatu kelompok tertentu ditumbuhkan, dipelihara bahkan diperdahsyat identitasnya.

    Mereka pun terus menebar argumen yang menjadi senjata dalam demagog biasanya ad hominem (menyerang pribadi orang) dan argumen kepemilikan kelas yang penuh kebencian.

    Lebih dari itu, seorang demagog lihai membuat skematisasi dengan menyederhanakan gagasan atau pemikiran agar bisa memiliki efektivitas sosial sehingga menjadi sebuah opini dan keyakinan.

    Luar biasa dan sangat berbahaya, mereka terus memunculkan wacana kebencian terhadap pihak-pihak tertentu tapi mengapa malah terus bebas berkeliaran dan seperti dilindungi?

    Ayo, siapa yang kini terus menjadi provokator dan demagog di tengah kita? Siapa yang menjadi solutor dan motivator sejati?

    Sayang, di tengah berbagai keterpurukan bangsa, provokator dan demagog malah bak enceng gondok yang tumbuh tanpa ditanam. Di tengah penggusuran hutan untuk pihak berkepentingan, provokator dan demagog pun bak kelapa sawit yang terus meluas dan melebar bukan milik rakyat.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.