Para Pencari Utang - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Perundingan

Saufi Ginting

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 19 April 2021 06:17 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Para Pencari Utang


    Dibaca : 545 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     
    Utang itu sungguh membuat sendi-sendi kehidupan terasa ngilu. Emosi yang meningkat adalah salah satu cara mengeluarkan ngilu yang tak terperi itu. Utang itu sungguh menyakitkan. Tetapi tetap saja ada cara untuk terus membuat manusia hidup dalam kerumunan utang. Ada yang memang sengaja memberikan utang untuk manusia lainnya dengan cara memberikan uangnya, hartanya, baik dengan jaminan atau tanpa jaminan dengan niat akan mendapatkan keuntungan besar, dari nominal yang diutangkan.
     
    Ada pula instansi yang melakukan sama seperti orang tadi, seperti pihak bank atau instansi-instansi ‘pengutangan’ yang telah tersebar hampir di pelosok negeri. Ada juga yang memang berniat memberikan bantuan terhadap teman. Terakhir ini memang benar-benar teman sepanjang jalan. MasyaAllah.
     
    Di sisi pengutang, ada saja cara untuk menemukan siapa yang dapat memberikan utangan. Mulai dari teman, saudara, tetangga, bahkan orang yang tak dikenal sekalipun seperti pemberi utang, tuan tanah, atau tuan takur, atau melalui instansi seperti bank dan lainnya.
    Aneka macam kebutuhan dalam kehidupan dunia terus menjadi cara-cara untuk dapat berutang. Utang ini bisa terjadi dari anak kecil, remaja, orang dewasa yang masih jomblo, orang dewasa yang sudah berkeluarga, bahkan orang-orang yang sudah tak memiliki istri atau tak memiliki suami.
     
    Mungkin saja kebiasaan kita dalam berutang sudah terjadi sejak kita masih kecil. Dalam bermain dengan teman, kita terbiasa berutang. Coba ingat-ingat, misalnya kalah dalam bermain guli, maka karena mental kita tak tahan untuk ikut bermain, akhirnya memutuskan berutang dengan teman yang memiliki banyak guli. Ah, cuma guli kok, besok bisa kuganti, atau aku bisa minta sama ayah atau mamak untuk menggantikannya.
     
    Ada orang tua yang mendukung kegiatan si anak berutang dengan segera melunasinya. Ada pula orang tua yang langsung marah bila mendapat kabar bahwa si anak telah berutang guli. Tapi tetap saja si anak akan terus berutang ketika ia bermain-permainan lainnya saat ia kalah. Karena tergiur untuk terus bermain.
     
    Lainnya, anak-anak remaja, jenis utang sudah semakin meningkat dibandingkan dengan anak-anak tadi. Remaja rela berutang misalnya dalam hal membeli kosmetik, baju yang cantik, atau untuk menambah kekurangan membeli gadget/gawai. Para jomblo lainnya berutang karena tak ada lagi beban dalam hidupnya, maka lebih baik berutang, sebab dia lebih senang memikirkan utangnya dari pada memikirkan calon istrinya.
     
    Para orang tua mencari utangan demi kebutuhan hidup keluarganya selama di dunia. Mulai dari makan, sekolah, hingga alat-alat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan pendidikan, seperti kendaraan baik dari yang kecil berupa sepeda, sepeda motor, hingga mobil. Dengan alasan demi kenyamanan, maka utang akan ditumpuk, demi anak, demi istri, demi-kian. Ada pula pengusaha yang berutang demi pengembangan usahanya.
     
    Utang ini bagaikan virus, ia dengan ganas menjadi sebab pengutang bisa menjadi bahagia, tetapi dalam beberapa waktu kemudian menderita. Menderita stroke ringan, berat, menderita sakit kepala yang berlebihan, menderita saban hari. Hingga mati meninggalkan utang. Bersebab utang yang telah melilit tubuh.
     
    Gaya Pelunasan Utang
     
    Rusuhnya pengutang ini ketika waktunya untuk membayar utang, segala cara pun dilancarkan, sebab uang yang digunakan sebagai alat pembayaran utang yang sah, tak ada divkantong atau di tabungan.
     
    Ciri pertama dalam melunaskan utang yang sudah jatuh tempo pembayarannya, adalah dengan menambah utang lain. Meminjam lagi dari teman, saudara, tetangga, handai taulan untuk menutupi utang yang telah ada sebelumnya. Memberikan janji berikutnya kapan untuk dikembalikan. Tipe seperti ini tak akan pernah jujur pada pemberi utang lain bahwa ia sebenarnya mau membayar utang dengan menambah utang.
     
    Menjual peralatan yang ada di dalam rumah, adalah ciri kedua dalam usaha membayar utang, ini sulit-sulit mudah. Sebab belum tentu orang tertarik membelinya. Itu sulitnya. Mudahnya, orang akan tertarik membeli barang itu sebab harga yang ditawarkan jauh sangat murah dibandingkan harga pasar untuk barang sejenis yang sudah seken. Itulah resiko utang, barang-barang di rumah dijual dengan murah karena terdesak.
     
    Ciri ketiga, tak hanya isi dalam rumah yang dijual untuk menyelesaikan utang, rumahnya pun bisa menjadi hal penting berikutnya untuk melunasi utang selanjutnya.
     
    Tetapi semua itu tergantung si pengutang, bila utang yang telah diterimanya dapat dilunasi, baiknya jangan menambah beban utang lagi. Sebab biarlah hidup sederhana tanpa utang, daripada hidup bermewah-mewah ria tapi saban hari penuh dengan tekanan wajib membayar utang. Tak ada waktu untuk jalan-jalan dengan tenang. Tak ada waktu untuk menikmati indahnya duduk bersama dalam suasana kekeluargaan. Sebab waktu-waktu yang digunakan adalah untuk bekerja siang malam membayar utang, tapi tak juga dapat diselesaikan.
     
    Bila telah memulai utang, maka akan dengan tenang untuk mencari utang-utang berikutnya. Tak akan malu lagi untuk mencarinya, apalagi bila sudah tertekan.
     
    Tapi apa pun itu, hidup dengan utang ini sesungguhnya benar-benar sangat tidak nyaman. Saban hari terus menjadi beban pikiran, untuk selanjutnya menjadi beban kantong, menjadi beban kehidupan. Semua menjadi beban. Peras keringat, banting tulang, pulang hanya untuk bayar utang.
     
    Kehidupan dunia pun telah mempermudah untuk berutang, dari sepeda motor hingga rumah, dari sebuah guli hingga sebatang rokok, dari sekilo beras hingga sekilo daging. Semuanya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup di dunia.
     
    Ada uang lebih, lupa untuk bersedekah, berinfak. Sebab beralasan, utang saja masih menumpuk, manalah mungkin bersedekah, berinfak. Itulah kehidupan dunia. Para pencari utang bertebaran, mulai dari benar-benar membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hingga orang-orang yang benar-benar memberikan utangan juga untuk kebutuhan hidupnya, sebab memang kerjaannya memberikan orang lain utangan.
     
    Hiduplah mulia, tanpa utang, meskipun hidup penuh kesederhanaan. Aku berkata demikian, sebab hidupku penuh dengan utang.
     
    Utang janji, utang uang, utang-utang yang tak pantas dicakapkan. Duuuh.
    Mudah-mudahan di bulan penuh berkah ini, segala utang kita dalam hidup ini terlunaskan. Agar tak menjadi beban di lain kehidupan.
     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.