Abu Nawas, Penyair Ulung Nan Jenaka dari Negeri 1001 Malam

Minggu, 25 April 2021 14:52 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika berbicara tentang syair, tidak lengkap rasanya jika melewatkan kisah tentang salahsatu tokoh yang merupakan penyair masyhur pada masa kejayaan Islam. Ya, siapa lagi jika bukan Abu Nuwas Al-Hasan bin Hini al-Hakami atau lebih akrab dipanggil Abu Nawas yaitu ‘bapak ikal’ lantaran ia memiliki rambut hitam yang panjang dan lebat.

Ketika berbicara tentang syair, tidak lengkap rasanya jika melewatkan kisah tentang salah satu tokoh yang merupakan penyair masyhur pada masa kejayaan Islam. Ya, siapa lagi jika bukan Abu Nuwas Al-Hasan bin Hini al-Hakami atau lebih akrab dipanggil Abu Nawas. Dialah si ‘bapak ikal’ lantaran memiliki rambut hitam yang panjang dan lebat.

Dilansir dari 25 Kisah Pilihan Tokoh Sufi Dunia, Siti Nur Aidah dan Tim Penerbit KBM Indonesia (2020:77-80) Abu Nawas adalah sosok pujangga Arab dan dianggap sebagai salahsatu penyair terbesar sastra Arab Klasik yang sangat terkenal di era Dinasti Bani Abbasiyah. Kepiawaiannya dalam menggubah syair, mampu menyentuh hati banyak orang dengan karyanya yang berisi kritikan atau cerita bijak dengan balutan humor yang khas sehingga membuat karya-karya tersebut mudah diterima oleh masyarakat khalayak.

Hampir setiap orang pasti pernah mendengar nama Abu Nawas. Beberapa diantaranya bisa saja berpikir bahwa ia hanyalah tokoh fiktif dari negeri 1001 malam. Namun, kenyataannya tokoh pada kisah ini memang pernah hidup di bumi.

Keterangan lain menjelaskan bahwa Abu Nawas tidak hanya membuat syair bijak yang mudah diterima umat, tidak sedikit pula ia berbicara tentang khamr, sampai-sampai kumpulan syairnya ada yang disebut khamriyyat. Ya memang, sisi lain dari Abu Nawas adalah seorang peminum minuman keras, suka bermain wanita, mendengarkan musik dan berjoget.

Abu Amr Asy-Syaibani berkata, “Seandainya Abu Nawas tidak mengotori syairnya dengan kotoran-kotoran ini, niscaya syairnya akan kami jadikan hujjah dalam buku-buku kami.”

Ada yang menyebutkan bahwa Abu Nawas lahir di Damaskus, adapula yang mengatakan lahir di Bursa ataupun Ahwaz sekitar tahun 747 M hingga 762 M. Ayahnya bernama Hini yang merupakan salahsatu anggota tentara Marwan bin Muhammad (Marwan-I Khalifah terakhir Dinasti Umayyah di Damaskus). Sedangkan ibunya bernama Jelleban atau Golban, beliau seorang penenun asal Persia. Abu Nawas tidak pernah bertemu ayahnya sejak ia lahir hingga tutup usia. Sewaktu kecil, ia dijual oleh ibunya kepada seorang penjaga toko asal Yaman bernama, Sa’ad al-Yashira.

Abu Nawas muda bekerja di toko grosir milik seorang tuan di Basra, Irak. Karena kecerdasan yang dimilikinya, Abu Nawas berhasil menarik perhatian seorang penulis puisi berambut pirang bernama Wālibah ibn al-Ḥubāb yang kemuian tertarik dan memutuskan untuk membebaskan Abu Nawas dari tuannya.

Sejak terbebas dari status budak belian, Al-Hubab mengajarinya teologi dan tata bahasa berikut dengan cara menulis puisi. Hal tersebut yang membuat Abu Nawas tertarik pada dunia sastra dan mendorongnya untuk terus menimba ilmu, salahsatunya kepada sorang penyair Arab bernama Khalaf al-Ahmar di Kufah.

Selanjutnya, Abu Nawas hijrah ke Baghdad yang saat itu sedang ada dalam masa kepemimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Melalui perantara musikus istana Ishaq al-Wawsuli, karya-karya Abu Nawas sampai ke telinga Khalifah Harun Ar-Rasyid yang kemudian mengangkat ia menjadi penyair istana (sya’irul bilad). Lebih tepatnya Abu Nuwas menjabat sebagai pendekar para penyair yang tugasnya menggubah puisi-puisi pujian untuk Khalifah.

Keahliannya bermain kata dengan selera humor yang tinggi membuatnya menjadi seorang legenda. Namanya juga tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski sering begajulan, ia adalah pribadi yang jujur hingga sering kali disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan islam. Pada satu kesempata, Abu Nawas membacakan puisi untuk Khalifah Bani Mudhar dan ternyata isi puisi yang dibawakannya membuat khalifah tersinggung hingga marah besar. Hal tersebut membuat Abu Nawas harus berakhir masuk penjara.

Sejak masuk penjara, syair-syair Abu Nawas berubah menjadi religius. Keangkuhan yang khas dan aroma kendi tuaknya meluntur, menjadi salahsatu bukti kepasrahannya terhadap kekuasaan Allah. Puisinya yang berisi tentang pertobatan bisa dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa keagamaannya yang kental.

Sajak-sajaknya dapat ditafsirkan sebagai jalan panjang menuju Sang Kholiq. Syair serta puisi yang dibuatnya menggambarkan perjalanan spiritual mencari hakikat Allah. Kehidupan rohaniahnya terbilang berliku dan mengharukan.

Setelah 'menemukan' Allah, inspirasi puisinya bukan lagi khamr, tetapi nilai-nilai ilahiyah. Pada akhir hayatnya, ia menjalani hidup zuhud. Seperti tahun kelahirannya yang tak jelas, tahun kematiannya pun terjadi antara 806 M hingga 814 M. Ia dimakamkan di Syunizi, jantung Kota Baghdad. Abu Nawas adalah salah seorang sastrawan Arab terbesar yang Namanya masih terus dikenang hingga kini oleh umat di dunia utamanya umat Islam.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Laila Kholilah

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua