Benarkah Kecepatan Jari Masyarakat +62 untuk Like-Share Melebihi Kecepatan Otaknya? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Pusing

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 3 Mei 2021 19:42 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Benarkah Kecepatan Jari Masyarakat +62 untuk Like-Share Melebihi Kecepatan Otaknya?

    Di Hardiknas ke-62, ini keprihatinan siapa? Membaca malas, membaca judul berbagai bacaan (buku, ilmu pengetahuan, sastra, berita, artikel dll) pun sekadar numpang lewat. Apalagi paham isinya. Akibatnya ilmu dalam otak minimalis, tapi menatap layar gadget menjadi budaya yang kuat berjam-jam, lalu sangat cerewet di media sosial hanya untuk hal yang remeh-temeh. Kecepatan jari untuk langsung like dan share bahkan melebihi kecepatan otaknya. (Supartono JW.03052021).

    Dibaca : 241 kali

    Di Hardiknas ke-62, ini keprihatinan siapa? Membaca malas, membaca judul berbagai bacaan (buku, ilmu pengetahuan, sastra, berita, artikel dll) pun sekadar numpang lewat. Apalagi paham isinya. Akibatnya ilmu dalam otak minimalis, tapi menatap layar gadget menjadi budaya yang kuat berjam-jam, lalu sangat cerewet di media sosial hanya untuk hal yang remeh-temeh. Kecepatan jari untuk langsung like dan share bahkan melebihi kecepatan otaknya. (Supartono JW.03052021).

    Tema Hardiknas tak sesuai keadaan

    Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke-62 tahun 2021 sudah diperingati. Sayang, menurut saya, temanya untuk tahun ini tak nyambung dengan kondisi pendidikan Indonesia terkini. Terkesan memaksakan. Alasannya, sudah saya ungkap dalam artikel sebelumnya.

    Dan lucunya, tema itu lalu hanya sekadar diikuti oleh para guru di Indonesia. Menjadi status pribadi di berbagai media sosial, bak kerbau dicucuk hidungnya, menurut saja kehendak orang lain tanpa membantah karena bodoh atau karena tidak berdaya melawan. Atau mungkin tak ada daya berpikir dan daya menganalisis, hingga sikap kreatif-imajinatif, inovatif, dan terutama sikap kritis sama sekali tak muncul.

    Jujur, dalam kondisi pendidikan Indonesia terus terpuruk, tak merata hingga pelosok negeri, di berbagai lini timpang, tiba-tiba tema Hardiknas Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar? Orang bodoh saja berpikir, bila mau melakukan kegiatan serentak, itu harus dilihat keberadaan apa, siapa, mengapa, bagaimana, kapan, dan lain sebagainya. Lihat semua kondisinya? Kok, tiba-tiba serentak? Sudah begitu, yang terpuruk pendidikanya, karena faktanya pembelajaran di Indonesia isinya masih lebih dominan guru mengajar, maka pendidikan gagal, eh ini Merdeka Belajar. 

    Selain itu,  saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanyakan kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim ihwal terobosan yang telah dibuat untuk mendorong dunia pendidikan dalam diskusi bersama Nadiem Makarim yang disiarkan YouTube Kemendikbud RI, Minggu (2/4), ini juga setali tiga uang.

    Presiden bertanya terobosan, tapi tak bertanya bagaimana mengentaskan pendidikan Indonesia yang dianggap gagal dan tertinggal di dunia. Nadiem pun tak menyinggung sama sekali hal itu.

    Penilaian Unesco dan PISA

    Meski Jokowi mengungkapkan bahwa ingin pendidikan untuk semua, Inklusif. Sampai ke pinggiran, sampai ke pelosok desa Tanah Air. Pendidikan yang berkualitas, yang kompetitif. Dua-duanya harus berjalan bersamaan. Tapi dalam diskusi tersebut sama sekali tak terungkap menyoal penilaian pendidikan Indonesia dari Unesco maupun hasil survei Programme for International Student Assesment (PISA).

    Hasil penilaian Unesco dan PISA, adalah pondasi pendidikan untuk Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia bisa maju dan dapat bersaing dengan dunia. Tapi, dalam diskusi malah sama sekali tak terungkap, bagaimana hal ini bisa diatasi oleh Nadiem. 

    UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca!

    Riset berbeda bertajuk World's Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

    Berikutnya, sesuai hasil survei PISA, hasilnya, lagi-lagi menempatkan siswa Indonesia di jajaran nilai terendah terhadap pengukuran membaca, matematika, dan sains. Pada kategori kemampuan membaca, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari bawah (74) dengan skor rata-rata 371. Turun dari peringkat 64 pada tahun 2015.

    Lalu pada kategori matematika, Indonesia berada di peringkat ke-7 dari bawah (73) dengan skor rata-rata 379. Turun dari peringkat 63 pada tahun 2015. Sementara pada kategori kinerja sains, Indonesia berada di peringkat ke-9 dari bawah (71), yaitu dengan rata-rata skor 396. Turun dari peringkat 62 pada tahun 2015.

    Rata-rata skor dunia untuk literasi adalah 487, matematika 489, dan sains 498. Dengan rata-rata tersebut, dibandingkan kemampuan literasi, matematika, dan sains siswa Indonesia, maka siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata dunia. Padahal  Indonesia sudah berpartisipasi dalam penilaian ini selama 18 tahun, sejak tahun 2000. Namun selama itu pula nilai kemampuan siswa tak pernah berada di atas rata-rata.

    Tak Ada Sikap, kalah oleh cerewet

    Seharusnya Nadiem, menyikapi hasil penilaian tersebut, dan membuat gerakan yang dapat menailkan ranking Indonesia. Semua sumber kemajuan, pondasinya dari kemampuan membaca seperti yang diukur Unesco dan kemampuan literasi, matematika, dan sains yang perhatikan PISA, dan itu jelas-jelas untuk ukuran keberhasilan pendidikan tingkat dunia.

    Boleh saja Nadiem membuat terobosan seperti yang selama ini sudah masyarakat Indonesia tahu, belum ada hasilnya karena masih proses, tapi apa dan bagaimana tindakannya dalam menjawab tolok ukur pendidikan dunia sesuai ukuran Unesco dan PISA?

    Sementara, ada fakta bahwa 60 juta penduduk Indonesia memiliki gadget, atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget. Lalu, Lembaga riset digital marketing Emarketer memperkirakan pada 2018 jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia lebih dari 100 juta orang. Indonesia menjadi negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika.

    Tetapi fakta juga menunjukkan minat baca rendah. Padahal sesusi data wearesocial per Januari 2017 mengungkap orang Indonesia bisa menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari. 

    Parahnya, dengan kondisi itu, sudah minat baca rendah, ternyata kecerewetan di media sosial orang Indonesia berada di urutan ke 5 dunia. Jakarta, kota paling cerewet di dunia maya karena sepanjang hari, aktivitas kicauan dari akun Twitter yang berdomisili di ibu kota Indonesia ini paling padat melebihi Tokyo dan New York. Laporan ini berdasarkan hasil riset Semiocast, sebuah lembaga independen di Paris.

    Bagaimana dengan kota lain di Indonesia? Pastinya akan tak jauh berbeda. 

    Ini yang seharusnya menjadi pertanyaan Presiden dan harus disikapi Nadiem untuk mengentaskan Indonesia. Bila Nadiem menguasai dunia digital, ternyata dunia digital malah menjadi loncatan terbesar masyarakat bangsa ini untuk meninggalkan pondasi pendidikan yang jadi ukuran dunia. Jadi musuh yang negatif. Bisa cerewet dan terus menatap layar gadget, tapi kosong.

    Membaca malas, membaca judul berbagai bacaan (buku, ilmu pengetahuan, sastra, berita, artikel dll) saja sekadar numpang lewat. Akibatnya ilmu minimalis, tapi menatap layar gadget menjadi budaya berjam-jam, dan cerewet di media sosial tapi untuk hal yang remeh-temeh.

    Indonesia pun jadi sasaran empuk untuk info provokasi, hoax, dan fitnah. Kecepatan jari untuk langsung like dan share bahkan melebihi kecepatan otaknya. Padahal informasinya belum tentu benar, provokasi dan memecah belah NKRI. 

    Info untuk Presiden dan Nadiem

    Nadiem adalah menteri yang dipilih oleh Presiden karena latar belakangnya dari sudut penguasaan teknologi digital, karenanya, mereka harus tahu selain orang Indonesia ilmunya minimalis, tapi kecepatan jarinya melebihi kecepatan otak saat di depan layar gadget, akibat lainnya adalah sebagai berikut.

    Lewat gadget, yang sudah mengalahkan segalanya bagi masyarakat Indonesia, dan semakin membuat ilmu minimalis berkelanjutan,  informasi yang masyarakat dapatkan juga bukan berasal dari media yang bisa dipercaya, melainkan dari media sosial yang lebih banyak dipenuhi oleh opini, bukan fakta. Bahkan sebaliknya, mereka malah percaya dengan portal-portal fake news (obyek yang direkayasa) dan akun-akun penyebar hoax.

    Menurit Reuters Institute, jurang terbesar saat ini justru soal kepercayaan masyarakat terhadap media fake news versus media yang valid. Dikutip dari Alexa.com beberapa media fake news bahkan bisa mengalahkan media mainstream di tanah air.

    Jadi, Indonesia yang pendidikannya terus tertinggal terutama di ranah membaca, literasi, matematika, sains hingga ilmu dalam otaknya minimalis, yang diukur oleh Unesco dan PISA, justru kini langsung terjerembab di era Post-Truth!

    Indonesia  sudah Post-Truth, tak perlu merdeka belajar!

    Post-Truth didefinisikan sebagai berkaitan dengan atau merujuk kepada keadaan di mana fakta-fakta obyektif kurang berpengaruh dalam pembentukan opini publik dibandingkan emosi dan keyakinan pribadi. Di era Post-Truth, orang tidak lagi mencari kebenaran dan fakta melainkan afirmasi dan konfirmasi dan dukungan atas keyakinan yang dimilikinya.

    Memang kini banyak situs opini yang bias, menyerang, dan tendensius pada satu kelompok, mereka bisa mengambil hati dan perasaan pembaca dengan story-telling yang mereka buat. Kebenaran menjadi tidak penting.

    Karena gagal dalam membaca, litersasi, matematika, dan sains, maka kredibilitas nama medianya apalagi, sudah tidak dilihat oleh masyarakat kita yang hanya jagoan cerewet di medsos. Ketika media mainstream justru berseberangan faktanya dengan media opini tersebut, masyarakat justru malah berbalik menjadi tidak percaya terhadap media-media bernama besar itu. Jadi yang mengganggu bukan hanya media sosial berisi hoax tapi juga media fake news yang menyebarkan opini yang terpolarisasi.

    Mas Nadiem, bagaimana caranya, menyetop dan mengembalikan masyarakat Indonesia sopan dan beretika di medsos, lalu menjadi masyarakat yang hebat dalam membaca, literasi, matematika, dan sains?

    Dunia digital adalah dunia Mas Nadiem, jadi, fakta bahwa masyarakat Indonesia otaknya kalah cepat dengan jariya saat di depan layar gadget, terobosannya akan seperti apa? Agar peringkat membaca di Unesco beranjak dari posisi 2 terbawah dunia, dan di peringkat PISA, minimal masuk papan tengah dunia.

    Ini yang seharusnya dilakukan serentak di Indonesia dengan solusi yang tepat dan benar. Bukan tiba-tiba serentak bergerak wujudkan merdeka belajar.

    Tak usah serentak bergerak wujudkan merdeka belajar, di dunia digital, masyarakat Indonesia malah sudah merdeka ka ka ka, hingga tak ada aturan, tak ada batasan.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.