The Swordless Samurai - Belajar Kepemimpinan dari Seorang Tokoh - Urban - www.indonesiana.id
x

cover buku The Swordless Samurai

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 18 Mei 2021 07:18 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • The Swordless Samurai - Belajar Kepemimpinan dari Seorang Tokoh

    Hideyoshi Toyotomi adalah seorang tokoh besar Bangsa Jepang. Dalam buku ini ia ditulis sebagai teladan kepemimpinan.

    Dibaca : 862 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: The Swordless Samurai

    Judul Asli: Toyotomi Hideyoshi no Keiei Juku

    Penulis: Kitami Masao

    Penterjemah: Mardohar S.

    Tahun Terbit: 2009

    Penerbit: RedLine Publishing                                                                                

    Tebal: xvii + 262

    ISBN: 978-979-19337-0-4

    Buku karya Kitami Masao ini sungguh sangat menarik. Ia mengemas pengalaman hidup seorang tokoh supaya pembacanya bisa belajar tentang kepemimpinan. Kitami Masao tidak saja menggambarkan siapa Hideyoshi Toyotomi, tetapi juga menggambarkan dengan sangat jelas konteks jaman dimana ia hidup. Konteks jaman dan alur sejarah digunakan untuk mempertajam aspek-aspek yang membuat Hideyoshi menjadi orang yang berhasil.

    Bagi para pembaca yang mendapat amanah sebagai seorang pemimpin, buku ini akan memperkaya cara anda untuk memimpin sehingga sukses. Banyak teladan dan tips-tips spesial yang diberikan oleh Masao dalam buku ini. Kitami Masao menyajikan tahap demi tahap kehidupan Hideyoshi demi memunculkan kualitas kepemimpinannya untuk kita teladani.

    Untunglah saya membaca buku ini setelah selesai membaca buku “Taiko” karya Eiji Yoshikawa. Dengan demikian saya sudah mendapatkan gambaran detail tentang kehidupan Hideyoshi “Taiko” Toyotomi. Buku “Taiko” yang tebal itu memberikan paparan yang lebih detail tentang Jepang Abad 16, termasuk sepak terjang Nobunaga, Ieyasu dan Hideyoshi – tiga tokoh yang berperan besar menjadikan Jepang menjadi satu kesatuan setelah tercerai-berai akibat peperangan antar tuan tanah yang brutal.

    Hideyoshi adalah anak petani miskin. Ia bertubuh kecil dan jelek. Pendidikannya hanya semenjana. Namun ia adalah seorang yang belajar dari sifat-sifat manusia sehingga ia berhasil menjadi seorang pemimpin. Masao menjuluki Hideyoshi sebagai Samurai Tanpa Pedang. Julukan ini memang tepat. Sebab untuk berhasil sampai pada jabatan Taiko – wakil Kaisar, Hideyoshi tidak menggunakan pedang atau pun kemampuan militernya. Ia menggunakan akalnya dalam mempengaruhi manusia-manusia yang menjadi bawahannya dan menjadi musuhnya. Eiji Yoshikawa menyebutkan bahwa Hideyoshi bisa membuat bawahan yang tidak setia menjadi setia; membuat lawan menjadi kawan.

    Hideyoshi mengawali karirnya sebagai pembawa sandal Nobunaga dari klan Oda. Kesungguhannya dalam menjalankan tugas sederhana ini menarik perhatian Nobunaga sehingga ia terus dipromosikan. Hideyoshi adalah satu-satunya jenderal di bawah Nobunaga yang tidak mempunyai kecakapan perang. Namun akalnya membuat ia menjadi jenderal yang paling berhasil dalam menaklukkan musuh-musuh klan Oda.

    Karir Hideyoshi mencapai puncaknya saat Nobunaga terbunuh. Anak-anak Nobunaga bertikai memperebutkan posisi sebagai orang pertama di klan Nobunaga. Padahal anak-anak Nobunaga tersebut tidak ada yang mempunyai kualitas kepemimpinan seperti ayahnya. Sialnya para anak Nobunaga ini mendapat dukungan dari para jenderal yang ingin mendompleng kesuksesan jagoannya. Hideyoshi dengan kecerdikannya mendukung anak Nobunaga yang masih kecil.

    Setelah menjadi orang pertama di klan Oda, Hideyoshi mulai menaklukkan para tuan tanah lainnya, termasuk Ieyasu yang kemudian didudukkannya sebagai Tokugawa, menaklukkan Kyushu, Kanto dan melakukan invasi ke Korea.

    Beberapa kualitas kepemimpinan Hideyoshi yang diungkap dalam buku ini adalah: kemampuannya untuk terus mensyukuri dan merayakan apa yang telah diraihnya. Ia senantiasa merayakan keberhasilan teamnya. Sekecil apapun keberhasilan tersebut. Sebab menyukuri keberhasilan akan menimbulkan semangat. Menyukuri keberhasilan, meski yang remeh, membuat kita mampu mengerjakan dengan sungguh-sungguh pekerjaan yang dipercayakan kepada kita.

    Hal kedua yang ditunjukkan dalam buku ini adalah tentang pemimpin yang harus harus bekerja lebih keras dari anak buahnya. Yang dimaksud dengan bekerja lebih keras adalah selain ikut bekerja, pemimpin harus memikirkan cara-cara baru supaya apa yang dilakukan lebih efisien dan lebih cepat. Masao memberikan beberapa contoh bagaimana Hideyoshi berhasil membenahi sistem sehingga sistem bisa bergerak lebih murah dan lebih mudah. Kasus pembenahan sistem penyediaan kayu bakar, sistem penyediaan beras dan pembangunan benteng adalah beberapa contoh yang dipakai oleh Masao untuk menunjukkan bagaimana Hideyoshi adalah pemimpin yang bekerja lebih keras dari anak buahnya.

    Pemimpin harus bertindak berani di saat kritis. Ia harus mengambil kepemimpinan saat situasi tidak menguntungkan. Banyak orang yang mau menjadi pemimpin saat situasi baik-baik saja. Namun pemimpin yang sesungguhnya muncul dari keberanian mengambil tindakan di saat kritis. Hideyoshi mengambil tugas untuk menyelesaikan pembangunan Benteng Sunomata, saat jenderal yang lain merasa tidak sanggup melakukannya. Hideyoshi juga mengambil tugas menjadi jenderal yang memimpin pasukan belakang yang bertugas untuk menahan selama mungkin pasukan musuh saat pasukan Nobunaga kembali ke Tokyo.

    Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu memotivasi anak buahnya; membuat anak buahnya menjadi loyalis. Dalam beberapa kasus Hideyoshi berhasil membuat bawahannya menjadi loyalis. Perubahan sikap anak buah ini bukan karena iming-iming harta atau bonus, tetapi karena kepercayaan bahwa Hideyoshi adalah pemimpin yang bertanggungjawab.

    Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu membuat koalisi dan bukan hanya menang dalam perang satu-satu. Seperti telah disinggung di atas, Hideyoshi adalah seorang yang berhasil membuat musuh menjadi sekutu. Ia tidak serta merta menggunakan pedang dan perang dalam proses penaklukan. Ia menggunakan diplomasi sehingga para lawan akhirnya menjadi kawan, seperti yang dilakukannya kepada klan Chokosabe. Klan Chokosabe akhirnya menjadi koalisi Hideyoshi dalam menyatukan Jepang.

    Menurut saya keberhasilan utama dari Hideyoshi adalah karena ia mampu membuat tatanan baru. Proyek demiliterisasi masyarakat petani dan membangun tentara profesional telah mengubah Jepang dari suasana perang terus-menerus antarklan menjadi Jepang yang bersatu untuk membangun negeri. Proyek demiliterisasi tersebut telah melumpuhkan kemampuan para tuan tanah untuk memobilisasi rakyatnya menyerang tuan tanah yang lain. Di sisi lain, para petani bisa berkonsentrasi untuk menanam bahan pangan demi kemakmuran rakyat. Proyek pembentukan tentara profesional membuat kepemimpinan genara menjadi kuat. Sebab hanya negara yang memiliki tentara untuk mempertahankan diri. Dengan penjagaan tentara yang kuat, Pemerintah bisa memikirkan kesejahteraan rakyatnya tanpa harus direcoki oleh pemberontakan.

    Buku kepemimpinan yang berdasarkan kepada kehidupan seorang tokoh pahlawan adalah bagus untuk membangun karakter bangsa. Pahlawan kembali hidup sebagai tokoh teladan. Sayang sekali pendidikan sejarah di Indonesia lebih mengutamakan mengajarkan teori tentang sejarah daripada maknanya. Pelajaran sejarah kita seakan-akan ingin menjadikan semua siswa menjadi seorang ahli sejarah yang peduli kepada tahun-tahun, detail peristiwa dan bukti-bukti sejarah daripada teladan yang bisa didapat dari sang tokoh atau sebuah peristiwa.

    Ah…seandainya ada buku kepemimpinan seperti ini dengan tokoh pahlawan dari Indonesia. 592



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.