Mengapa Harus Pertamina yang Mengelola Aspal Buton? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Rabu, 26 Mei 2021 15:53 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Mengapa Harus Pertamina yang Mengelola Aspal Buton?

    Sejauh ini kebutuhan pembangunan infrastuktur masih dikuasai aspal minyak impor. Sekarang tiba saatnya menekan aspal minyak impor tersebut dengan mengsubstitusinya dengan aspal alam Buton. Minimnya izin usaha pertambangan (IUP) aspal alam Buton yang aktif dikarenakan belum terbukanya pasar di dalam negeri. Dengan kapasitas modal, sumber daya manusia, teknologi, dan akses pasar yang luas, peran Perusahaan BUMN sangat penting untuk pengelolaan aspal alam Buton tersebut.

    Dibaca : 1.512 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aspal Buton pertama kali ditemukan pada tahun 1924. Sampai saat in aspal Buton masih belum juga mampu menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Indonesia sudah 76 tahun merdeka. Dan sudah tujuh kali ganti Presiden. Tetapi mirisnya, sampai saat ini aspal Buton masih saja berupa “wacana” untuk mengsubstitusi aspal minyak impor. Masih belum kelihatan ada hasilnya yang konkret. Dimanakah letak benang merahnya sehingga kita harus menunggu hampir satu abad lamanya untuk harus lebih serius lagi memperhatikan nasib aspal Buton ?

    Mengutip berita di Media detik.com tertanggal 18 Pebruari 2021, dengan judul “Pemerintah Diminta Tunjuk BUMN Kelola Aspal Buton”, disebutkan bahwa dari 42 izin usaha pertambangan (IUP) aspal alam Buton, hanya ada 6 IUP saja yang masih aktif. Pengamat Hukum Sumber Daya dari Universitas Tarumanegara, Ahmad Redi, menyampaikan sejauh ini kebutuhan pembangunan infrastuktur jalan-jalan masih dikuasai oleh aspal minyak impor. Sekarang sudah tiba saatnya untuk menekan aspal minyak impor tersebut dengan mengsubstitusinya dengan aspal alam Buton. Ahmad Redi menilai bahwa minimnya IUP aspal alam Buton yang aktif dikarenakan belum terbukanya pasar aspal Buton di dalam negeri secara luas. Ahmad Redi mengatakan bahwa dengan kapasitas modal, sumber daya manusia, teknologi, dan akses pasar yang luas, peran Perusahaan BUMN sangat penting untuk pengelolaan aspal alam Buton tersebut.

    Pertanyaan yang paling mendasar setelah membaca pemikiran Bapak Ahmad Redi di atas adalah Perusahaan BUMN yang mana, yang paling tepat dan mampu untuk mengelola aspal Buton ? Kelihatannya Bapak Ahmad Redi agak malu-malu dan sungkan untuk menyebutkan dengan tegas apa nama Perusahaan BUMN yang dimaksud. Atau mungkin beliau ingin menunggu adanya opini dari masyarakat luas untuk menyampaikan masukan kepada Pemerintah mengenai siapa Perusahaan BUMN yang paling tepat dan mampu untuk mengelola aspal Buton. Untuk mengusulkan Perusahaan BUMN yang paling tepat dan mampu untuk mengelola aspal Buton, kita harus tahu terlebih dahulu apa saja sumber permasalahan-permasalahan aspal Buton yang sebenarnya. Permasalahan-permasalahan aspal Buton yang sebenarnya sudah dijawab dengan jitu oleh Bapak Ahmad Redi di atas; yaitu masalah kapasitas modal, masalah sumber daya manusia, masalah teknologi, dan masalah akses pasar yang luas.

    Mari kita analisa satu persatu masalah-masalah tersebut :

    1. Masalah Kapasitas Modal

    Aspal Buton pada saat ini masih diproduksi dalam bentuk granular. Produksinya tidak lebih dari 100 ribu ton per tahun. Padahal Indonesia masih mengimpor aspal minyak sebesar 1 juta ton per tahun. Atau senilai US$ 500 juta per tahun. Untuk mengsubstitusi 100% aspal minyak impor ini, aspal Buton harus diproduksi dalam bentuk aspal Buton ekstraksi yang setara dengan aspal minyak impor.

    Untuk memproduksi aspal Buton ekstraksi diperlukan modal investasi yang cukup besar. Para Investor asing pada saat ini masih pikir-pikir, dan belum ada yang tertarik untuk berani masuk ke dalam bisnis aspal Buton ekstraksi, karena masih menunggu kebijakan Pemerintah mengenai iklim investasi di Indonesia. PT Kartika Prima Abadi adalah satu-satunya Perusahaan yang sudah membangun pabrik ekstraksi aspal Buton dengan kapasitas 100 ribu ton per tahun. Diharapkan dalam waktu dekat sudah akan mulai berproduksi.

    Jadi permasalah modal ini adalah yang menjadi faktor utama mengapa bisnis aspal Buton ekstraksi masih belum juga bisa berkembang. Banyak Perusahaan BUMN pada saat ini mengalami kesulitan besar dalam memperoleh dana untuk mengembangkan bisnis utamanya. Dengan demikian Perusahaan BUMN mana yang memiliki cukup banyak dana untuk mampu mengelola dan mengembangkan bisnis aspal Buton ?

    1. Permasalahan Sumber Daya Manusia

    Aspal Buton pada saat ini diproduksi dalam bentuk aspal Buton granular dengan kapasitas tidak lebih dari 100 ribu ton per tahun. Apabila nanti kita ingin beralih dari aspal Buton granular ke aspal Buton ekstraksi, maka akan diperlukan bahan baku batuan aspal Buton dalam jumlah yang sangat besar. Untuk memproduksi 100 ribu ton aspal Buton ekstraksi diperlukan bahan baku batuan aspal Buton sebanyak 500 ribu ton per tahun, degan asumsi kandungan bitumen rata-ratanya adalah 20%. Jadi apabila kita ingin memproduksi 1 juta ton per tahun aspal Buton ekstraksi, maka akan diperlukan bahan baku aspal Buton sebesar 5 juta ton per tahun. Dengan demikian akan diperlukan banyak sekali peralatan berat, alat transportasi, dan tenaga kerja untuk pengadaan bahan baku batuan aspal Buton ini. Disamping itu diperlukan juga para ahli Geologi untuk mengeksplorasi dan mencari cadangan-cadangan deposit aspal Buton yang baru, yang tersebar luas di pulau Buton dan sekitarnya untuk menunjang kesinambungan produksi aspal Buton dalam jangka waktu yang panjang. Untuk mengelola pengadaan bahan baku batuan aspal Buton yang jumlahnya sangat besar ini diperlukan Management yang berskala internasional agar proses penambangannya dapat beroperasi secara efektif, efisien, dan ramah lingkungan.

    Untuk memproduksi aspal Buton ekstraksi perlu dibangun beberapa pabrik ekstraksi aspal Buton dengan kapasitas yang cukup besar. Dengan demikian diperlukan banyak tenaga-tenaga ahli yang mumpuni untuk mengoperasikan dan menjalankan pabrik-pabrik tersebut. Perusahaan BUMN mana yang sudah memiliki pengalaman melaksanakan eksplorasi dan eksploitasi bahan tambang dan sekaligus juga yang mengoperasikan dan menjalankan pabrik ? Ini merupakan kriteria utama dalam menentukan Perusahaan BUMN mana yang paling tepat dan mampu mengelola aspal Buton.

    1. Masalah Teknologi

    Untuk menambang bahan baku batuan aspal Buton dengan asumsi 5 juta ton per tahun, diperlukan banyak sekali peralatan berat dan alat transportasi. Perusahaan harus menggunakan teknologi mutakhir agar proses eksploitasi dan penambangan bahan baku batuan aspal Buton ini dapat terlaksana dengan efektif, efisien, dan ramah lingkungan. Khususnya dalam penggunaan bahan bakar yang hemat energi dan ramah lingkungan.

    Pabrik ekstraksi aspal Buton juga memerlukan teknologi yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan, sehingga akan mendatangkan keuntungan yang cukup besar bagi negara. Harus dipilih teknologi ekstraksi bitumen yang terbaik di dunia dengan biaya produksi yang sangat rendah, yang jauh di bawah harga aspal minyak impor. Dan yang paling penting adalah teknologi ekstraksi yang akan digunakan ini harus ramah lingkungan. Jadi jangan sampai kasus-kasus kerusakan lingkungan akibat penambangan yang tidak terkendali di tempat lain terulang terjadi di Pulau Buton. Kita harus banyak belajar mengenai kerusakan-kerusakan lingkungan akibat kegiatan operasi penambangan dari pengalaman buruk di tempat lain. Penghijauan kembali daerah-daerah pasca penambangan harus menjadi prioritas dan komitmen pertama dan utama Perusahaan sejak mulai dari awal berproduksi. Kepentingan penduduk tempatan dan lingkungan hidupnya harus tetap terjaga dan lestari. Aspal Buton harus sebagai “berkah”, dan bukan menjadi “musibah”.

    1. Masalah Akses Pasar Yang Luas

    Mengapa pada saat ini aspal Buton masih belum juga dapat berkembang untuk mengsubstitusi aspal minyak impor ? Karena aspal Buton belum memiliki akses pasar yang luas. Penggunaan aspal Buton masih terbatas di daerah-daerah tertentu saja. Belum digunakan secara nasional, apalagi untuk diekspor. Apabila nanti aspal Buton sudah diproduksi dalam bentuk aspal Buton ekstraksi, maka aspal Buton ekstraksi akan wajib digunakan untuk pembangunan proyek-proyek infrastuktur jalan-jalan di seluruh Indonesia. Dengan demikian aspal Buton akan lebih dikenal orang, selain kualitasnya yang lebih unggul, harganya pun juga lebih murah, dan mudah diperoleh dari pada aspal minyak impor. Apabila hal ini sudah bisa terlaksana dengan baik, maka kita ucapkan “Selamat Tinggal” kepada aspal minyak impor. Perusahaan BUMN mana yang sudah memiliki akses pasar yang luas, baik di dalam negeri, maupun di luar negeri ? Kalau ada, pasti Perusahaan BUMN inilah yang paling tepat dan mampu mengelola aspal Buton.

    Setelah kita selesai mengkaji masalah-masalah aspal Buton di atas, maka Perusahaan BUMN yang paling tepat dan mampu untuk mengelola aspal Buton adalah Perusahaan BUMN yang mampu menjawab tantangan dari masalah-masalah tersebut dengan baik sekali. Apa nama Perusahaan BUMN tersebut ? Kalau boleh disebutkan, nama Perusahaan BUMN tersebut adalah PT Pertamina (Persero). Semua tantangan dari masalah-masalah aspal Buton mampu ditangani oleh Pertamina dengan baik sekali. Pertamina adalah Perusahaan BUMN berkelas internasional. Kemampuannya di bidang permodalan, sumber daya manusia, teknologi, dan akses pasar yang luas sudah tidak diragukan lagi. Disamping itu Pertamina adalah satu-satunya Perusahaan BUMN di dalam negeri yang selama ini sudah memproduksi aspal minyak. Jadi apabila Pertamina harus mengelola aspal Buton, maka itu bukan merupakan sesuatu hal yang baru. Memang itu sudah sepantasnya dan sudah menjadi kewajibannya. Dan tentu saja ini pun juga sudah sejalan dengan amanah UUD’45 Pasal 33.

    Pertamina mengelola aspal Buton akan memiliki nilai tambah yang sangat luar biasa besarnya bagi bangsa dan negara Indonesia. Karena Pertamina akan memproduksi Aspal Hibrida; yaitu campuran antara aspal Buton ekstraksi dengan Decant Oil dari Pertamina. Decant Oil adalah residu hasil pengilangan minyak. Dengan demikian Aspal Hibrida akan mampu mengsubstitusi 100% aspal minyak impor, bahkan mampu juga untuk diekspor. Mudah-mudahan memproduksi Aspal Hibrida ini bukan masih berupa “wacana”, tetapi sudah merupakan target utama yang konkret dari Pertamina.

    Dan apabila nanti Pertamina sudah mampu mengelola aspal Buton dengan baik sekali, maka tahap berikutnya adalah Pertamina harus mampu “Go International” untuk mengelola tambang-tambang Bitumen dan Oil Sands yang terdapat di seluruh dunia. Masa depan industri perminyakan adalah di bidang Bitumen dan Oil Sands. Apakah Pertamina pada saat ini sudah mampu melihat jauh ke depan mengenai peluang akbar bisnis aspal Buton bagi bangsa dan negara Indonesia ?

    Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.