Bukan Hanya Learning Lost, Peserta Didik Kita juga Sudah Terjangkit Penyakit Plonga-Plongo dan Kedunguan! - Analisa - www.indonesiana.id
x

Nadiem

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 6 Juni 2021 08:59 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Bukan Hanya Learning Lost, Peserta Didik Kita juga Sudah Terjangkit Penyakit Plonga-Plongo dan Kedunguan!

    Mas Nadiem, sungguh rumit belukar pendidikan di negeri ini. Sebelum pandemi sudah bermasalah di berbagai lini, hasilnya output peserta didik gagal dan terus terpuruk. Selama pandemi, lebih parah lagi! Bukan hanya learning lost, ya? Tapi penyakit plango-plongo dan kedunguan sudah mendekati, menjamah, dan merasuk pada anak-anak usia dini dan muda, peserta didik di Indonesia. Benang kusut ini,  mau mana dulu yang diurai, coba?

    Dibaca : 247 kali

    Pandemi Covid-19 sangat berpengaruh pada dunia pendidikan di seluruh negara belahan mana pun di dunia ini. Tetapi, khususnya bagi Indonesia, tanpa hadir pandemi corona saja, pendidikan terus terpuruk.

    Bahkan bila Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, sekarang kawatir terjadi learning lost pada peserta didik di Indonesia, saya malah bilang, sejatinya peserta didik di Indonesia sudah learning lost dari puluhan tahun sebelumnya.

    Terlebih bila ukurannya sesuai fakta dan data yang diukur oleh PISA. Siswa Indonesia terus terpuruk pada bidang membaca (literasi), matematika, dan sains. Ditambah hadirnya corona, maka bila Nadiem kawatir, jadi lucu. Sebab, faktanya siswa Indonesia sudah learning lost, sebelum Nadiem menjabat jadi menteri.

    Kondisinya lebih buruk


    Di tengah pandemi corona, saya sendiri, hingga kini masih terus melakukan kegiatan pendidikan dan pelatihan khususnya via kegiatan olah raga tatap muka dengan protokol Covid-19 ketat pada peserta didik usia dini dan muda (8-17 tahun) di tengah masyarakat secara aktif.

    Dalam setiap berhadapan dengan mereka, ternyata cukup susah mendeskripsikan kondisi intelektual, sosial, emosional, analisis, kreatif-imajinatif-inovatif (Iseaki) anak-anak, yang terdiri dari berbagai sekolah formal (SD, SMP, dan SMA). Memperhatikan anak-anak seusianya di lingkungan umum pun, kondisi Iseakinya, setali tiga uang, tak berbeda jauh.

    Salah satu gambaran yang saya rasakan adalah tidak berbeda dengan apa yang dilakukan oleh para penggiat media sosial (medsos), yang menayangkan video viral, mewancarai  anak-anak sekolah atau pun orang dewasa. Saat diberikan pertanyaan, terlihat bingung dalam memberikan jawaban, malah cenderung ngawur dan asal-asalan. Padahal pertanyaannya kategori sangat mudah dan pertanyaan umum.

    Bila Nadiem kawatir terjadi learning lost, kondisi itu malah sudah lost. Kasihan anak-anak kita, jadi terlihat plonga-plongo dalam arti sebenarnya. Bukan plonga-plongo seperti makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang artinya cuma sekadar mulut ternganga, tercengang. Masa, KBBI begitu?

    Anak-anak tidak sekadar mulut menganga dan tercengang. Tetapi, memang nampak tak tahu apa-apa. Tak ada bekas dan sisa-sisa asupan pendidikan, bekal ilmu pengetahuan baik di sekolah maupun di rumah. Benar-benar plonga-plongo dalam arti yang benar. Ini sangat signifikan dengan nilai dari PISA yang sangat lemah dalam hal membaca/literasi, matematika, dan sains.

    Jujur, para pemimpin bangsa ini seharusnya berhenti sibuk memikirkan dirinya sendiri, keluarga, kolega, kelompok, partai, dan kepentingannya. Lihat anak-anak generasi penerus bangsa Indonesia, di tengah pandemi corona, di tengah pembelajaran jarak jauh (PJJ), intensitas plango-plongonya semakin bertambah, sebab bangsa ini juga terus bermasalah pada ujung tombak pendidikan kita, yaitu para guru yang semakin nampak tak kompeten dan tak profesional, sebab dalam Uji Kompetensi Guru (UKG) saja terus gagal.

    Anak-anak semakin terbudaya abai membaca. Tak terbiasa mengasah otaknya untuk sekedar berpendapat apalagi analisis (matematis), pun semakin tertinggal zaman karena tak pernah menyelami sains.

    Sekolah juga tak mampu bekerjasama dengan orang tua saat pembelajaran PJJ, sehingga para orang tua pun bingung harus bersikap dan bertindak seperti apa kepada anaknya di rumah, karena terlalu banyak sekolah yang tak dapat berkolaborasi dengan para orang tua saat proses PJJ.

    Setiap kali bertemu anak-anak, saya semakin ngeri, karena bertambah hari, bukan hanya masalah learning lost dan plonga-plongo yang terjadi pada anak-anak kita, meski dalam setiap detiknya mereka tak lepas dari gawai, namun hanya memanfaatkan gawai pada hal yang tak menambah daya perkembangan Iseaki mereka.

    Setiap kali saya menugasi mereka, saat tatap muka, tak pernah saya tak kecewa. Sebab, apa yang saya tanyakan hampir tak pernah dapat mereka jawab. Padahal, materi dan bahan pertanyaan sudah dikirim di setiap gawai mereka. Sampai saya bilang, maaf kira-kira bolehkah saya bedah kepala kalian, lalu di dalam kepala isinya ada apa? Kalian ini sekolah di mana sih? Di rumah orang tua kalian bagaimana? Saya sangat-sangat sedih!

    Di sisi lain, fenomena ini ternyata seragam terjadi di negeri ini. Semakin ke sini malah semakin ngeri, sebab hal yang kini semakin nampak gejalanya adalah dari plango-plongo itu, akan ada serangan yang lebih dahsyat. Anak-anak generasi usia dini dan usia muda kita akan semakin tumpul otaknya, tidak cerdas, bebal, dan tambah bodoh.

    Mirisnya lagi, ternyata bila ada orang yang tumpul otaknya, tidak cerdas, bebal, dan tambah bodoh, itu sama dengan istilah kata sesuai KBBI, yaitu dungu.

    Guru, orang tua, ujung tombak!

    Bagaimana ini? Anak-anak kita semakin banyak plonga-plongo dan sangat rentan diserang penyakit dungu? Apa hal ini yang memang diharapkan oleh para pihak yang berkepentingan di Indonesia? Sengaja membikin rakyat tetap plonga-plongo dan dungu dan terus melekat dalam diri mereka kebodohan dan kebebalan?

    Itulah fakta menganga yang kini ada di depan mata kita yang terjadi pada peserta didik usia dini dan muda dari sebelum pandemi dan semakin bertambah parah saat pandemi hadir.

    Bila, Nadiem kini mendorong pemerintah daerah agar segera membuka pembelajaran tatap muka di sekolah, tentu ada benarnya.

    Selama PJJ, mungkin bisa diteliti atau.disurvei, ada berapa persen seluruh sekolah di Indonesia yang melakukan proses KBM hingga kenaikan kelas/kelulusan peserta didik, sekadar formalitas. Karena melihat bukti di lapangan, terlalu banyak peserta didik yang nampak plonga-plongo dan sangat ngeri terdampak kedunguan berkesinambungan.

    Nadiem pun juga jangan sekadar mendorong sekolah untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Tetapi Nadiem juga wajib benar-benar meminta garansi kepada stakeholder terkait, tentang kompetensi dan profesionalisme para guru. Percuma, pembelajaran tatap muka dilakukan, bila ujung tombak pendidikan, yaitu para guru masih terus bermasalah dalam hal kompetensi dan profesionalismenya sebagai guru.

    Sebab, masih banyak guru yang berjuang untuk terus mengembangkan diri agar sesuai standar kompetensi dan profesionalismenya demi peserta didik, tetapi juga tidak sedikit, guru-guru yang masih seenaknya sendiri. Sudah UKG tak lulus, tetap tak kreatif-imajinatif-inovatif, gaji pun tak tetap tak pernah dipotong.

    Malah banyak yang tetap bangga dengan peserta didiknya yang tetap berhasil menembus masuk sekolah pilihannya atau universitas idamannya, meski para peserta didik itu berhasil karena bimbingan belajar (bimbel).

    Satu hal yang juga pernah saya tahu persis, ada pengawas sekolah yang menegur kepala sekolah, karena memberikan nilai kinerja guru-guru apa adanya. Lho, ini sekolah saja, pusat pendidikan, kok ada mafianya?

    Jadi, Mas Nadiem, sungguh rumit belukar pendidikan di negeri ini. Sebelum pandemi sudah bermasalah di berbagai lini, hasilnya output peserta didik gagal dan terus terpuruk.

    Selama pandemi, lebih parah lagi! Bukan hanya learning lost, ya? Tapi penyakit plango-plongo dan kedunguan sudah mendekati, menjamah, dan merasuk pada anak-anak usia dini dan muda, peserta didik di Indonesia. Benang kusut ini,  mau mana dulu yang diurai, coba?

    Wahai para orang tua, tentu banyak yang tetap dan terus awas pada pendidikan anak-anaknya di rumah dan pendidikan dari sekolah. Tapi bagaimana orang tua yang masih tak awas dan tak peduli hingga anak-anaknya teridentifikasi terjangkit penyakit plango-plongo dan kian dekat dengan wabah kedunguan?




    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.