Pandai Bersyukur, Pandai Berterima Kasih, maka Pandai Membalas Budi - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Pandai Bersyukur

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

4 hari lalu

  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Pandai Bersyukur, Pandai Berterima Kasih, maka Pandai Membalas Budi

    Pandai bersyukur, mengingat segala kebaikan, berterima kasih atas kesempatan, prioritas, dan fasilitas yang pernah didapat, lalu berpikir berbuat yang berguna dan bermanfaat, itu lebih dari sekadar tindakan balas budi. (Supartono JW.08062021)

    Dibaca : 158 kali

    Pandai bersyukur, mengingat segala kebaikan, berterima kasih atas kesempatan, prioritas, dan fasilitas yang pernah didapat, lalu berpikir berbuat yang berguna dan bermanfaat, itu lebih dari sekadar tindakan balas budi. (Supartono JW.08062021)

    Orang-orang yang sejak dilahirkan telah berbakat menjadi orang yang pandai bersyukur dan pandai berterima kasih kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, akan terus terjaga kepandaian bersyukur dan berterima kasihnya, bila apa yang ada di dalam jiwanya terus terjaga, tertempa, terasah, terdidik, hingga berkembang secara simultan, serentak. 

    Orang Iseaki, pengertian

    Apa yang ada di dalam jiwanya itu adalah kondisi intelegensinya, sosialnya, emosionalnya, analisisnya, kreatif-imajinatifnya (daya inovasi), dan imannya (Iseaki).

    Seimbang dan berkembangnya Iseaki seseorang yang bergerak serentak, maka menggaransi di dalam diri seseorang akan terus tertanam dan tersemai karakter luhur budi. Sehingga, orang-orang yang beruntung ini akan terus mampu menjaga dan mengontrol sikap sosialnya, sikap emosionalnya, kemampuan analisisnya, jiwa kreatif-imajinatif-inovatifnya, karena berpondasi kecerdasan intelegensi yang ditopang keimanan yang kokoh.

    Bila saya analogikan dengan nilai rapor, maka orang-orang tersebut memiliki nilai
    Intelegensi= 80-100
    Sosial=80-100
    Analisis=80-100
    Kreatif-Imajinatif-Inovatif=80-100
    Iman=90-100

    Karenanya, golongan orang-orang tersebut akan nyata dalam perilaku sopan-santunnya, etikanya, empati dan simpatinya, tahu dirinya, mengukur dirinya, rasa pedulinya, berbesar hatinya, serta kerendahan hatinya. 

    Tak ada perilaku yang ditumpangi skenario dan penyutradaraan untuk hidup dalam drama dan sandiwara. Hidup berpura-pura dan penuh kepalsuan. Karena kecerdasan otaknya serta kokohnya iman di dalam dirinya, terus mampu menjaga kecerdasan emosinya. Mampu menganilisis benar dan salah, baik dan buruk, mampu mengawal sikap sosialnya, bahkan terus berkembang sikap kreatif-imajinatif-inovatifnya, sampai tak menyisakan ruang di dalam jiwanya untuk hal-hal negatif, buruk, dan kesalahan.

    Sebab itu, orang-orang yang demikian, di dalam dirinya akan terus tertanam dengan subur jiwa pandai bersyukur dan berterima kasih. 

    Tak akan ada orang lain yang sampai mengungkit soal balas budi, karena dalam setiap detik, orang-orang yang pandai bersyukur dan berterima kasih itu, dengan sendirinya akan terus PENGERTIAN, tahu diri, dengan terus membalas budi kepada orang-orang yang telah membantunya, menolongnya, dan lain sebagainya, dengan sikapnya, bukan dengan harta bendanya. 

    Mustahil mengantar dirinya menjadi manusia licik, yang di setiap langkah hidupnya hanya dipenuhi pikirin jahat, penuh intrik-taktik, kebohongan, alasan dan alasan, hanya untuk kepentingan dirinya.

    Banyak yang menggunakan kecerdasan intelegensi dan analisisnya, demi membodohi dan memperdaya orang lain. Tapi tak sedikit, yang hanya mementingkan diri sendiri, tak tahu diri, tak empati, tak simpati, tak peduli, tak besar hati dan tak-tak lainnya, karena memang dasarnya Iseakinya di bawah rata-rata atau tak berkembang secara simultan.

    Contoh praktik Iseaki

    Menyoal orang yang memiliki Iseaki dengan nilai rapor di atas rata-rata, sudah saya ungkap bahwa cara membalas budi mereka kepada orang lain yang telah menolong, membantu, dan sebagainya, langsung ditunjukkan dengan sikap pandai bersyukur dan pandai berterima kasih, dalam bentuk perbuatan yang langsung dirasakan oleh orang yang telah membantu dan menolongnya, karena tertanam jiwa pengertian.

    Namun, orang-orang yang tak Iseaki, meski sudah ditolong, dibantu, dikasih kesempatan, dikasih prioritas, dikasih fasilitas, tetap saja  tak tahu diri, tak mengukur diri, tak ada rasa malu, berbuat tak simpatik, tetap tinggi hati, dan tak pandai bersyukur, pun tak tahu caranya berterima kasih.

    Malah, sikap tak pandai bersyukur dan tak tahu berterima kasihnya justru dibumbui oleh sikap.yang seolah ingin berterima kasih, tetapi dilakukan dengan cara yang tidak etis dan di waktu dan tempat yang tidak tepat pula, karena di dalam jiwanya memang tidak ikhlas. Sekadae untuk pansos dan lain sebagainya.

    Bagaimana dengan orang-orang yang tak Iseaki lainnya? Coba kita analisis kasus balas budi di pemerintahan kita yang bagi-bagi kursi jabatan gratis untuk para relawan yang telah mendukung Presiden? Ternyata, balas budi yang dianggap tak etis, tak tepat tempat dan waktunya, nampaknya hanya demi kepentingan-kepentingan dan politis. 

    Haruskah rakyat meneladani sikap pemerintahan sekarang, yang melancarkan serangkaian tindakan balas budi kepada para pendukung dan relawan  dengan bagi-bagi kursi jabatan serta gaji dari uang rakyat?

    Mengapa mereka juga tidak balas budi juga kepada rakyat yang justru menyumbang suara demi mereka terpilih duduk di singgasana kepemimpinan? Mana yang lebih pantas dikasih balas budi? Si relawan atau rakyat? 

    Dalam kasus balas budi di pemerintahan, sebab yang menentukan mereka yang kini sedang diberikan kepercayaan menguasa, maka rakyat pun tak dapat berbuat apa-apa, meski kursi mereka dibeli dan dibayar lunas oleh suara rakyat atau mungkin hasil dari perjanjian dan kontrak dengan yang telah memberikan modal?

    Jangan jadi parasit

    Dari kisah balas budi itu, bila sejak awal tujuannya bukan untuk amanah kepada rakyat, tapi demi kepentingan kelompok mereka sendiri, apakah tindakan bagi-bagi kursi jabatan gratis itu masih bisa  tergolong sikap balas budi yang benar?

    Bila para pemimpin kita, terus saja mempertontonkan sikap dan perbuatan sesuka hati mereka, demi kentingan mereka, bukan untuk rakyat, maka jangan salahkan rakyat yang akhirnya meneladani karakter buruk model balas budi yang timbulkan polemik.

    Jangan salahkan rakyat yang pada akhirnya meneladani dan mewarisi sikap tak pandai bersyukur dan berterima kasih, karena para pemimpin di negeri ini, juga dipertanyakan tingkat dan rapor Iseakinya.

    Atas kondisi ini, sebagai bagian dari rakyat di negeri ini, di saat para pemimpin negeri tak memberikan contoh karakter berbudi luhur, pandai bersyukur dan pandai berterima kasih hingga pengertian membalas budi dengan cara dan perbuatan yang benar. 

    Maka, mari terus kita pompa dan tularkan sikap pandai bersyukur dan pandai berterima kasih, pandai membalas budi kepada diri kita, keluarga kita, orang-orang terdekat kita, lingkungan terdekat kita.

    Terus asah secara simultan Iseaki dalam diri kita. Dan jauhkan diri kita dari golongan orang-orang yang tak pandai berterima kasih, tak pandai bersyukur, tak tahu balas budi, tak tahu diri, apalagi berperilaku licik.

    Jangan pula jadi parasit, seperti organisme yang hidup pada atau di dalam makhluk hidup lain dengan sskadar menyerap nutrisi, tanpa memberi bantuan atau manfaat.

    Jadi, balas budi dari orang yang pandai bersyukur dan berterima kasih itu, minimal membantu dan bermanfaat bagi orang yang telah menolong dan membantunya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.