x

Ilustrasi Debat. Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 9 Agustus 2021 17:23 WIB

Gelinya Menonton Politisi Berdebat Soal Warna Cat Pesawat

Debat mengenai warna cat pesawat kepresidenan terkesan dibebani oleh sensitivitas politik. Padahal, warna itu diberikan Penciptanya untuk dinikmati semua manusia secara bebas dan gratis. Mennggelikan, para politisi malah mengklaim warna tertentu sebagai miliknya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Spektrum warna itu begitu lebar, sangat lebar malah. Boleh dibilang, spektrum warnanya tidak terhingga. Contohnya warna cahaya, bila bergeser sedikit panjang gelombangnya, berubah pula warnanya—walaupun perbedaan itu tidak selalu dapat tertangkap mata; manusia juga tak punya nama untuk semua warna itu. Beragam warna muncul pada foto, lukisan, pada cat akrilik dan cat air, daun-daun, bunga-bunga, bahkan dengan beragam komposisi warna. Manusia sulit memberi nama pada setiap warna hasil pergeseran komposisinya. 

Lagu Pelangi gubahan AT Mahmud berusaha menggambarkan keindahan fenomena alam walaupun hanya menyebutkan beberapa warna saja. Namun manusia juga suka berlagak, merasa paling berhak, dan kemudian gemar membuat klaim-klaim atas warna. Manusia membuat klaim psikologis bahwa hitam itu warna untuk menandakan duka, putih itu menggambarkan kesucian, ungu itu sedang patah hati, dan seterusnya. Sejak lama manusia membangun asosiasi antara warna dengan persepsi dan suasana psikologis dirinya. Warna-warna pada lukisan pun kemudian dianggap mewakili suasana hati pelukisnya, dan para kritikus rupa memberi tafsir atas warna-warna di kanvas itu.

Orang bisnis juga begitu. Untuk membangun citra perusahaan, mereka membuat logo dengan bentuk dan warna tertentu. Mereka pilih warna tertentu lalu memberi makna pada warna-warna itu, umpamanya pertumbuhan perusahaan, keterbukaan, semangat belajar, pokoknya yang positif dan hebat-hebat. Jadilah apa yang disebut corporate color. Ternyata corporate color ini pun bisa berubah karena semangat perusahaan disebut-sebut berubah, meskipun sebenarnya keinginan jajaran direksilah yang berubah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Lalu orang politik tidak mau ketinggalan. Mereka memilih warna tertentu untuk logo partai, bendera partai, hingga seragam anggota partai. Bendera partai dengan warna tertentu dianggap mewakili identitas partai. Seperti halnya corporate color, warna bendera dan logo partai juga diberi pengertian filosofis tertentu. Jadilah political party color. Bahkan kantor sekretariat partai pun dicat sesuai warna partai, tidak mau pakai warna lain sebab warna lain dipakai oleh partai politik lain.

Kerepotan muncul ketika warga masyarakat yang memakai warna tertentu dianggap punya asosiasi dengan partai tertentu atau memihak partai tertentu. Kalau warung kita dicat kuning, lantas ada yang berkomentar warungmu disponsori Golkar ya? Kalau sekolah kita dicat hijau, ada yang bilang sekolah kita punya PKB ya. Jadilah warna diklaim punya asosiasi politik dengan kelompok masing-masing. Ini kan namanya memerangkap hak warga atas kekayaan akan keanekaragaman warna. Ini namanya membelenggu kebebasan warga untuk memakai warna apapun tanpa diasosiasikan dengan aspirasi politik.

Contoh lainnya tatkala musim pembentukan kabinet pemerintahan tiba. Orang-orang yang dipanggil ke Istana Presiden akan datang dengan mengenakan kemeja putih, karena diwajibkan begitu. Repotnya kemudian, kalau kita memakai kemeja putih, lantas dibilang orang lain wah ngikuti Jokowi atau pendukung Jokowi. Ladalah! Berpuluh tahun sebelum Jokowi mengenakan kemeja putih, orang sudah terbiasa memakai kemerja putih tanpa beban politik apapun.

Warna itu milik semua manusia, tidak bisa diklaim atau dikotak-kotakkan berdasarkan kecenderungan politik. Jadi sumpek! Masak kalau kita suka memakai mobil merah lantas dibilang simpatisan PDI-P, kalau sarung kita warnanya hijau lalu dibilang pendukung PPP, kalau rumah kita dicat biru disebut-sebut simpatisan Demokrat. Repot jadinya, dan menggelikan.

Itulah yang terjadi ketika sebagian politisi berdebat ihwal pergantian warna cat pesawat kepresidenan. Ketika sebagian warga masyarakat mengritik soal biaya pengecatan ulang yang mestinya lebih bagus dipakai untuk membantu rakyat, ada politisi yang mempermasalahkan soal pilihan warna. Ada yang bilang warnanya sebaiknya tetap biru demi menjaga keamanan di angkasa, tapi partai tertentu bilang bahwa merah dan putih itu menggambarkan warna Indonesia.

Terjadilah perdebatan yang diwarnai oleh sensitivitas politis, karena cat biru sebelumnya diasosiasikan dengan Demokrat—walaupun political party color Demokrat berbeda dengan warna cat pesawat, sedangkan cat merah yang baru diasosiasikan dengan PDI-P. Politisi yang satu merasa ada upaya menghapus sejarah, sedangkan politisi yang satu lagi mengatakan itu warnanya kan merah putih [walaupun mungkin dalam hati mengakui advantage bahwa merah itu asosiatif dengan partainya]. Karena itulah, yang getol berdebat mengenai warna cat pesawat itu beberapa politisi dari kedua partai itu saja.

Terus terang saja, serba aneh ya para politisi kita ini, bisa-bisanya mengklaim warna yang dianugerahkan secara bebas dan terbuka oleh Tuhan untuk dinikmati semua manusia tanpa sekat-sekat politik, kok sekarang jadi diasosiasikan dengan partai politik masing-masing. Biarkan rakyat memakai warna apa saja untuk kebutuhan apa saja tanpa beban politik. >>

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu