Childfree, Mereka yang Memilih Tak Ada Tangis dan Tawa Anak dalam Pernikahan - Urban - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Pasangan Bertengkar. Afif Kusuma dari Pixabay

Alin FM

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2020

4 hari lalu

  • Urban
  • Topik Utama
  • Childfree, Mereka yang Memilih Tak Ada Tangis dan Tawa Anak dalam Pernikahan

    Gagasan childfree ini mengemuka di kalangan milenial. Gagasan yang menginginkan pernikahan tanpa adanya anak. Menyicipi indahnya cinta dalam mahligai pernikahan tanpa kehadiran tangis dan tawa seorang anak. Memilih bebas dari anak dan lebih memilih menyantuni banyak anak terlantar di luar sana. Para menganut ekstrim childfree malah melihat sosok anak hanya seonggok daging berjalan yang harus diurus dengan segala kerepotannya.

    Dibaca : 289 kali

    Istilah childfree bukan kali ini saja meruyak. Di barat pemahaman tentang childfree sudah lama dipraktikan. Ini adalah paham bagi pasangan menikah namun keduanya enggan mempunyai anak.  Mereka ingin bebas dari anak dalam kehidupan rumah tangga. Mereka yakin bisa meraih kebahagiaan dari sumber yang lain.

    Mereka berdalih tidak siap untuk mempunyai anak baik secara lahir maupun batin. Mereka tak ingin menanggung kerepotan mengurus anak dan ketakutan terhambatnya karir. Jadi perhitungan untung rugi mempunyai anak dan sudah banyaknya populasi manusia menjadi latar belakang sikap para penganut childfree. Alasan yang paling ekstrim adalah khawatir anaknya jadi santapan para penyuka sesama jenis. Waduh!

    Gagasan childfree ini mengemuka di kalangan milenial. Gagasan yang menginginkan pernikahan tanpa adanya anak. Menyicipi indahnya cinta dalam mahligai pernikahan tanpa kehadiran tangis dan tawa seorang anak. Memilih bebas dari anak dan lebih memilih menyantuni banyak anak terlantar di luar sana.

    Para menganut ekstrim childfree malah melihat sosok anak hanya seonggok daging berjalan yang harus diurus dengan segala kerepotannya. Repot dengan tangis anak dan merasa bising dengan tawa anak. Tidak melihat bahwa anak adalah sosok yang menyenangkan bahkan membahagiakan.

    Memilih gaya hidup bebas tanpa anak demi bisa menikmati dunia sebanyak mungkin tanpa harus ada aktivitas mengurus anak. Pun jika ada kepedulian dengan anak lebih memilih hanya menyantuni anak telantar dari segi materi tanpa perlu memberikan perhatian sepenuh hati. Inilah buah peradaban kapitalisme liberal yang sedang berlangsung.

    Bayangkan jika banyak yang menganut pemahaman ini, justru mengancam kelangsungan generasi selanjutnya. Bayangkan fertilitas sebuah bangsa terganggu. Pasti di masa mendatang, populasi manusia akan mengalami penurunan bahkan zero fertilisasi.

    Gagasan childfree sejatinya adalah karena belum pahamnya para generasi milenial tentang hakikat pernikahan. Bahwasanya menikah adalah ingin menyalurkan naluri melestarikan keturunan dengan cara yang halal. Memberikan cinta terhadap pasangan dan tercipta kelangsungan hidup manusia. Pernikahan adalah memfasilitasi lahirnya anak manusia melalui jalan yang beradab. Sang Pencipta, Allah SWT menciptakan reproduksi manusia sekaligus memberikan naluri melestarikan keturunan (gharizah nawu). Sehingga secara alamiah, pasangan yang sudah menikah pastinya ingin memilki anak.

    Pernikahan dalam Islam adalah ibadah. Selain itu untuk menyempurnakan separuh agama dan menjalankan Sunnah Rasulullah Saw. Dalam Islam salah satu tujuan pernikahan adalah melanjutkan keturunan. Allah SWT berfirman dalam surat An Nahl Ayat 72

    Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?

    Selain itu, Allah SWT berfirman dalam surat Al Fathir ayat 11:

    Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasang-pasangan (laki-laki dan perempuan). Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.

    Maka kita tahu kenapa kita diberikan organ reproduksi oleh Sang pencipta, Allah SWT. Organ reproduksi berfungsi penting untuk melestarikan jenis manusia. Organ reproduksi pria untuk memproduksi sperma untuk membuahi sel telur. Sehingga fungsi utamanya adalah untuk proses pembuahan demi mencapai kehamilan. Organ reproduksi perempuan untuk mengandung selama 9 bulan dan melahirkan dan menyusui keturunan. Kelak kehadiran keturunan kelak akan menjadi khalifah dan memakmurkan bumi ini dengan ketaatannya kepada Allah SWT.

    Dalam QS Al Baqarah ayat 30, Allah SWT juga berfirman:

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang Khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah : 30)

    Inilah, pertanyaan terpenting dalam kehidupan manusia, kenapa Allah menciptakan manusia? apa tujuan dari eksistensi/wujud manusia di muka bumi ini? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan pertama dalam masalah aqidah, yang fungsi jawabannya untuk menentukan tujuan dari eksistensi dan tugas manusia di bumi ini.

    Seakan dikatakan kepada manusia, “Manusia adalah Khalifah yang bertanggung jawab untuk memakmurkan bumi, memperbaikinya, dan memanfaatkan seluruh alam semesta untuk memaksimalkan tujuan penciptaan manusia yaitu beribadah kepada Allah SWT."

    Jadi bagi seorang muslim yang tujuan hidupnya menginginkan ridha Allah namun memilih untuk childfree, sesungguhnya ia telah bertentangan dengan tujuan pernikahannya dan dirasuki pemahaman barat yang merusak. Karena sejatinya menikah bukan sekadar ingin hidup bersama dengan pasangan namun ada nilai-nilai lain yang diperjuangkan. Salah satunya adalah melanjutkan keturunan dalam bingkai ketakwaan.

    Dengan menikah kelak akan hadir sosok anak yang akan membahagiakan dunia akhirat. Tangis dan tawa anak hanya bisa dirasakan oleh pasangan yang diberikan keturunan. Tangis bahagia dan tawa akan bersemai dalam mahligai pernikahan. Sehingga maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.