Meraih Berkah Rezeki di Kala Pandemi

Senin, 20 September 2021 16:40 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Seketika hadis ini terbayang dibenakku, ketika menjumpai seorang ibu yang mengantarkan keponakannya masuk pondok tahfizh, tempat dimana aku mengabdi saat ini. Penampilannya sangat memesonaku, memakai pakaian serba hitam plus cadar bandananya, sederhana tapi sangat berkelas. Disaat walisantri lainnya berdandan dan memakai pernak-perniknya, namun beliau dengan anggunnya tampil sebagai role model busana wanita muslimah yang sebenarnya, istiqomah memegang syari’at ditengah zaman yang penuh fitnah.

“Ruh-ruh itu seperti pasukan yang dihimpun dalam kesatuan-kesatuan.

Yang saling mengenal di antara mereka akan mudah saling tertaut.

Yang saling merasa asing di antara mereka akan mudah saling berselisih”

(Hadis Riwayat: Muslim)

 

Imam An-Nawawi -Rahimahullah- dalam syarahnya menuliskan, “Ruh-ruh itu saling mengenal karena suatu perkara yang Allah ciptakan untuknya. Sebab isi dunia ini hanyalah keimanan atau keingkaran; mereka yang taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala akan mudah dipertautkan dengan sesama hamba yang taat, dan dipisahkan dengan yang durhaka”.

Setiap orang akan cinta pada orang yang semisal dengan sifatnya. Kalau generasi millenial sih bilangnya “sefrekuensi”. Ada orang yang baru kenal dan berjumpa beberapa detik yang lalu, tapi mereka seolah-olah pernah bertemu sebelumnya, bahkan seolah sudah berinteraksi sejak lama.

Maka hal ini bukanlah sesuatu yang tidak mungkin adanya, bahkan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah menyampaikan hal ini 14 abad yang lalu, dalam hadisnya yang mulia.

Seketika hadis ini terbayang dibenakku, ketika menjumpai seorang ibu yang mengantarkan keponakannya masuk pondok tahfizh, tempat dimana aku mengabdi saat ini. Penampilannya sangat memesonaku, memakai pakaian serba hitam plus cadar bandananya, sederhana tapi sangat berkelas. Disaat walisantri lainnya berdandan dan memakai pernak-perniknya, namun beliau dengan anggunnya tampil sebagai role model busana wanita muslimah yang sebenarnya, istiqomah memegang syari’at ditengah zaman yang penuh fitnah.

Percakapan diantara kami pun mengalir apa adanya, seolah aku sudah mengenalnya sejak lama. Aku merasa ada yang berbeda pada dirinya, aura yang dipenuhi energi positif muncul dari setiap kata-katanya. Maasya Allah. Pertemuan singkat yang sangat berkesan bagiku.

Melalui status whats appnya kutahu bahwa beliau seorang entrepreneur dan juga mengikuti organisasi sosial. Kebetulan Ustadzah Husnul, dosen mata kuliah kewirausahaan semester ini meminta kami untuk interview seorang dai’yah sekaligus entrepreneur, fikiranku langsung tertuju padanya. Dikarenakan sulitnya perizinan keluar pondok yang tidak memungkinkan untuk bertemu secara langsung, maka berlangsunglah proses interview melalui whats app.

Indah Anisah Baadilla, SE, kupanggil dengan Bu Indah. Beliau merupakan keturunan Arab-Maluku, yang sekarang bertempat tinggal di Pekanbaru. Usianya saat ini memasuki 50 tahun, namun kulihat beliau jauh lebih muda dari usia yang semestinya.

Memiliki lima orang anak yang diamanahlan Allah Subhanahu Wa Ta’aala, mengantarkannya untuk berikhtiar mencari rezeki melalui bisnis jualan baju gamis akhwat, cadar, jubah second asli Arab Saudi, celana anak-anak, dan lainnya, sebagai sampingan dari pekerjaan utama beliau yaitu sebagai IRT dan mengajar tahsin akhwat.

Telah berkecimpung didunia bisnis selama kurang lebih sembilan tahun, dengan omzet berkisar dua sampai tiga juta perbulan. Selama masa pandemi COVID-19, beliau terpaksa beralih dari usaha sebelumnya, yaitu jualan offline di beberapa masjid sunnah di Pekanbaru, kebisnis online

Trik beliau untuk berusaha ditengah pandemi yaitu bekerjasama dengan kawan-kawan yang punya usaha sama untuk dijualkan barangnya secara online. Adapun strategi bertahan di tengah pandemi, berhusnuzhzhon kepada Allah Azza Wajalla, bahwa apa yang menjadi rezeki kita tidak akan tertukar walaupun dagangan sama. Kalimat yang sangat menggetarkan jiwa ketika membacanya.

Ada banyak hikmah yang dapat dipetik dari pengalaman beliau. Pertama, tidak menjadikan gelar sarjana sebagai ajang untuk mencari pekerjaan yang bergengsi, beliau memilih fokus menjadi IRT, dan disela waktunya menyempatkan berbagi ilmu dengan akhwat dalam tahsin Alquran. sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa orang terbaik adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.

Kedua, ikut andil dalam menopang ekonomi keluarga, dengan berwirausaha, tanpa berkecil hati ataupun rendah diri. Selama itu halal dan berkah, apalagi bisnis beliau adalah jualan pakaian syar'i, berjualan sambil berdakwah. Masya Allah

Ketiga, berhusnuzhzhon dan bertawakkal kepada Allah bahwa rezeki sudah ditetapkan masing-masing, tidak akan tertukar atau berkurang walaupun dagangan sama. Manusia hanya diperintahkan untuk berusaha dan sabar dalam menjemputnya, tidak hanya berpangku tangan dan mengatakan, “rezeki kan sudah diatur yang diatas”.

Keempat, membangun relasi yang baik untuk bekerja sama, optimis bertahan ditengah pandemi. Tidak saling menjatuhkan dan menginginkan keburukan atas keberhasihan orang lain. Karena termasuk salah satu ajaran agama Islam yaitu saling tolong menolong kebaikan.

Pada akhirnya bukan banyaknya nominal yang menjadi tujuan akhir seorang muslim dalam mencari rezeki, tapi keberkahan dari yang halal lagi thayyiblah yang akan mendatangkan kenyamanan dan ketentraman sejati dalam menaungi bahtera tak bertepi yang bernama kehidupan dunia yang fana…

 

Ruang Meeting, Ma’had Tahfizh Madania

Riau, 12 September 2021

Bagikan Artikel Ini
img-content
Fitri Annisa Febriana

Amaatullah

0 Pengikut

img-content

Meraih Berkah Rezeki di Kala Pandemi

Senin, 20 September 2021 16:40 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler