Kekasihku Perempuan Tionghoa, Hubungan Cinta yang Sulit - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi Pasangan. Gabriel Ferraz Ferraz dari Pixabay

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 24 September 2021 14:20 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Kekasihku Perempuan Tionghoa, Hubungan Cinta yang Sulit

    Perjodohan perempuan etnis Tionghoa dengan lelaki etnis lain yang beda agama sangat jarang terjadi. Banyak prasangka yang masih menjadi penghalang dalam membangun hubungan seperti ini. Namun Dul Abdul Rahman, dalam novel karyanya ini, menuangkan cerita lain tentang hubungan perjodohan perempuan etnis Tionghoa Katholik dengan lelaki Jawa-Bugis yang beragama Islam. Tidak ada upaya untuk menyamakan perbedaan, tetapi saling memahami dan menerimanya.

    Dibaca : 893 kali

    Kekasihku Perempuan Tionghoa

    Judul: Kekasihku Perempuan Tionghoa

    Penulis: Dul Abdul Rahman

    Tahun Terbit: 2020

    Penerbit: Penerbit Ombak          

    Tebal: iv + 329

    ISBN: 978-602-258-562-6

     

    Tema yang diusung oleh novel ini adalah hubungan cinta yang paling dianggap sangat sulit untuk langgeng. Percintaan antara seorang lelaki pribumi (Jawa/Bugis), guru dan beragama Islam dengan seorang gadis belia beretnis Tionghoa totok, anak orang kaya dan beragama Katholik. Saya terpaksa memakai istilah pribumi, supaya uraian saya menjadi lebih jelas dalam hal ini. Saya tidak bermaksud menggunakan istilah pribumi untuk menunjukkan warga asli Indonesia, seperti yang dipakai di jaman kolonial dan bahkan setelah merdeka. Lokasi yang dipilih untuk menjadi tempat cerita pun adalah sebuah kota yang jarang dipakai untuk membahas kisah cinta silang seperti ini, yaitu Makassar. Selain Jawa dan Medan, Makassar adalah kota yang menyimpan bara sengketa antara etnis Tionghoa dengan non Tionghoa.

    Ketegangan etnis Tionghoa dengan pribumi di Makassar memang ada. Makassar menjadi saksi kerusuhan anti Tionghoa pada tahun 1980 dan 1997. Kerusuhan tahun 1980 dipicu oleh pembunuhan pembantu rumah tangga beretnis Toraja yang dihamili oleh anak majikannya. Sedangkan kerusuhan tahun 1997 diawali oleh terbunuhnya seorang anak perempuan Bugis oleh pemuda etnis Tionghoa. Saat itu ada seorang anak perempuan etnis Bugis yang ditebas parang oleh seorang etnis Tionghoa yang mengalami gangguan jiwa. Kedua peristiwa tersebut memicu kerusuhan rasial di Makassar yang membawa korban nyawa dan harta dari pihak etnis Tionghoa.

    Di kalangan keluarga Tionghoa, pernikahan dengan etnis lain bisa ditolerir jika yang melakukannya adalah lelaki Tionghoa dan mengambil perempuan dari etnis lain. Atau kalau gadis Tionghoa setidaknya dengan lelaki etnis lain yang seagama (biasanya Kristen atau Katholik). Keluarga Tionghoa masih banyak yang keberatan anak gadisnya menikah dengan etnis lain, apalagi yang beragama Islam. Mungkin beberapa Tionghoa muslim hal semacam ini tidak menjadi masalah. Tetapi bagi yang masih memegang agama leluhur atau beragama Kristen/Katholik, biasanya masih sulit untuk menerima pria etnis lain beragama Islam untuk menjadi menantunya. Hal ini tentu tak perlu ditutupi. Banyak prasangka dari kedua belah pihak yang menyebabkan perjodohan jenis ini masih sulit untuk terjadi.

    Seperti apakah kisah dalam novel yang dianggit oleh Dul Abdul Rahman ini? Beginilah ringkasan ceritanya. Radith, seorang guru Bahasa Inggris menjadi guru les Vhinne yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Perjumpaan melalui kegiatan les tersebut menumbuhkan benih-benih cinta di antara Radith dan Vhinne. Radith memakai dua kerusuhan anti Tionghoa yang terjadi di Indonesia sebagai latar belakang cerita. Kerusuhan Makassar Bulan September 1997 dan kerusuhan anti Tionghoa Mei 1998.

    Dul Abdul Rahman menggunakan tokoh Radith dan Vhinnie untuk membangun ceritanya. Radith adalah seorang keturunan Bugis-Jawa beragama Islam dan berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris. Sedangkan Vhinnie adalah siswa SMA berumur 17 tahun, beretnis Tionghoa yang cukup kaya dan beragama Katholik.

    Radith yang awalnya punya prasangkan bahwa orang Tionghoa itu sombong dan tidak menghargai pribumi, dibuat terkejut oleh sambutan keluarga Jimmy – ayah Vhinne. Radith menemukan pengalaman yang sama sekali berbeda. Keluarga Jimmy berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan istri dan anaknya. Keluarga ini menyukai roko-roko unti, makanan khas Makassar (hal. 10). Keluarga Jimmy menyambut Radith dengan sangat ramah. Radith menemukan bahwa keluarga Jimmy adalah keluarga yang pemaaf. Buktinya keluarga Jimmy tidak mendendam terhadap kerusuhan September 1997 yang menimpa etnis Tionghoa di Makssar. Keluarga Jimmy dengan mudah memaafkan para pelaku (hal 101).

    Prasangka Radith terhadap orang Tionghoa semakin hari semakin terkikis setelah berinteraksi dengan keluarga Jimmy. Pandangan Radith terhadap keluarga Tionghoa semakin berubah ketika ternyata orangtua Jimmy nyaman saja meninggalkan Vhinne bersamanya saat les privat Bahasa Inggris berlansung. Radith berpendapat bahwa ternyata orang Tionghoa (dalam hal ini adalah Pak Jimmy dan istrinya) tidak menaruh prasangka buruk kepadanya. Bahkan Pak Jimmy dan Bu Jimmy mengijinkan Radith mengajak Vhinne jalan-jalan dengan naik motor (hal 125). Padahal sebelumnya ia berprasangka bahwa orang Tionghoa tidak percaya bahwa orang pribumi tidak akan berbuat jahat kepada anak gadisnya.

    Penerimaan keluarga Jimmy juga biasa saja saat tahu bahwa Radith dan Vhinne semakin dekat dan bahkan berpacaran. Keluarga Jimmy bahkan tidak keberatan tentang hubungan mereka berdua.

    Dalam novel ini Dul Abdul Rahman membumbui hubungan saling pengertian dan saling menerima perbedaan. Vhinne tidak keberatan menemani Radith beberapa kali bersembahyang di masjid. Radith pun tidak pernah mempermasalahkan agama Vhinne yang Katholik. Berpedaan tidak dipermasalahkan tetapi untuk saling dipahami. Perbedaan tidak dihilangkan sehingga menjadi sama.

    Dul Abdul Rahman menggambarkan keluarga Jimmy adalah keluarga Tionghoa totok. Tetapi menurut saya penggambaran keluarga Jimmy sebagai keluarga Tionghoa totok tidaklah tepat. Sebab, totok biasanya dipakai untuk menggambarkan orang Tionghoa yang baru datang dari Tiongkok (imigran baru) atau keluarganya yang masih memelihara dengan ketat budaya Cina. Sementara keluarga Jimmy sudah berbahasa Indonesia. Mereka pun sudah menjadi warga Katholik. Keluarga totok lebih sulit untuk menyerahkan anak gadisnya menikah dengan etnis diluar Tionghoa. Tepai dalam novel ini saya tidak melihat adanya penolakan sedikitpun dari keluara Vhinne terhadap hubungan Vhinne dengan Radith.

    Pemilihan tokoh Vhinne yang masih berumur 17 tahun adalah menarik. Di satu sisi Dul Abdul Rahman bisa menggunakan tokoh belia ini untuk menunjukkan bahwa keluarga Tionghoa tidak keberatan dengan perkawinan silang. Tidak ada alasan bahwa keputusan untuk perjodohan dilakukan karena si perempuan sudah kelewat umur. Tapi di sisi lain, pemilihan perempuan berumur 17 tahun ini membuat tanda tanya bagi saya. Benarkah perempuan berumur 17 tahun sudah bisa membuat keputusan-keputusan yang begitu berat untuk menentukan perjodohan? Saya merasa tokoh Vhinnie ini terlalu muda untuk membuat sebuah keputusan yang menentukan masa depannya tersebut. Apakah ada orangtua yang begitu saja menerima hubungan serius anak perempuannya yang berumur 17 tahun dengan pemuda yang berbeda etnis dan agama?

    Meski Dul Abdul Rahman sudah begitu kuat membawa pesan toleransi dan upaya untuk saling mengerti, tetapi sepertinya Dul Abdul Rahman ragu untuk menentukan akhir cerita. Dul Abdul Rahman tidak berani melanjutkan hubungan cinta Radith – Vhinnie di Makassar atau Indonesia. Ia memindahkan Radith ke Australia karena menerima beasiswa dan membawa Vhinnie sekeluarga keluar dari Indonesia akibat dari kerusuhan 1998. Radith dan Vhinnie bertemu di Australia untuk melanjutkan hubungan mereka. Apakah Indonesia memang tidak siap dengan perjodohan semacam ini? Apakah Dul Abdul Rahman menganggap bahwa prasangka rasial masih begitu kental di Indonesia? Apakah hubungan saling memahami hanya terjadi secara individu, dan belum terjadi secara sosial?

    Bagaimanapun upaya Dul Abudl Rahman untuk memulai membahas masalah sensitif ini dengan novelnya patut diapresiasi. Suatu hari nanti hubungan perjodohan antaretnik pasti akan menjadi sesuatu yang biasa. 623



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Hendi Kusuma S Soetomo

    Selasa, 19 Oktober 2021 06:46 WIB

    Sendiri Tak Pasti

    Dibaca : 297 kali


    Oleh: Vitto Prasetyo

    Rabu, 13 Oktober 2021 05:49 WIB

    Nukil Perempuan Puisi

    Dibaca : 416 kali

    Puisi / FIKSI


    Oleh: Hendi Kusuma S Soetomo

    Senin, 11 Oktober 2021 10:01 WIB

    Terlambat

    Dibaca : 464 kali