Bak Singa Gurun Mengaum, Bung Karno Bersuara di Sidang PBB - Analisis - www.indonesiana.id
x

Gadis Desa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Senin, 4 Oktober 2021 05:07 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Bak Singa Gurun Mengaum, Bung Karno Bersuara di Sidang PBB

    Wajar jika saat ini LIPI berencana mengajukan kembali dua pidato Bung Karno ke UNESCO sebagai memory of the world yaitu unity in diversity Asia Africa dan new emerging force. Tentunya  lewat momen ini diharapkan dunia dapat mengenang kembali, melakukan peninjauan kembali serta mampu membuat perkiraan di masa depan. Dan yang pasti, relevansi Pancasila untuk tata dunia baru. 

    Dibaca : 635 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bung Karno adalah sosok penting dalam pembangunan revolusi mental dunia. Perjuangan beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan menjadi suri tauladan bagi bangsa, semangatnya yang berapi-api bak singa gurun yang mengaum. Salah satu sepak terjang Bung Karno yang fenomenal adalah ketika bersuara dalam sidang PBB. 

     

    Dengan lantang, kharismanya terpancar kuat. Presiden pertama Republik Indonesia ini mengutuk kolonialisme dan imperialisme, serta mengkritik keras peran PBB yang lebih condong ke negara barat, mendukung perlucutan senjata akibat ancaman senjata nuklir dalam perang dingin Amerika dan Uni Soviet, serta mengusulkan Pancasila masuk dalam piagam PBB.  

     

    Sosok Bung Karno juga mampu meneladani politik lapangan revolusi tidak berdarah yang dicontohkan Nabi Muhamad SAW, salah satunya lewat Proklamasi. Terbukti, Bapak Proklamator ini mampu menyatukan 54 negara atau kerajaan  menjadi satu atas nama Indonesia. Fenomena ini belum pernah terjadi di belahan dunia manapun. 

     

    Bahkan, Soekarno mampu menerjemahkan piagam Madinah lewat Pancasila. Jasa-jasa beliau, tak terlepas dari perjalanan perjuangan Bangsa Indonesia meraih kemerdekaan, juga teladan bagi perjuangan bangsa lain. 

     

    Sehingga, peringatan 61 tahun Bung Karno berdiri di depan sidang PBB yang digelar 30 September 2021 adalah momentum dan perwujudan semangat pembebasan negara–negara Asia dan Afrika dari neokolonialisme dan imperialisme.

     

    Salah satu prinsip yang menjadi pedomannya yaitu mikul duwur mendem jero adalah semangat positif bung Karno yang diartikan bahwa memendam segala keburukan yang bersifat manusiawi adalah langkah bijak dan seharusnya diterapkan.

     

    Wajar jika saat ini LIPI berencana mengajukan kembali dua pidato Bung Karno ke UNESCO sebagai memory of the world yaitu unity in diversity Asia Africa dan new emerging force.

     

    Tentunya  lewat momen ini diharapkan dunia dapat mengenang kembali, melakukan peninjauan kembali serta mampu membuat perkiraan di masa depan. Dan yang pasti, relevansi Pancasila untuk tata dunia baru. 

    Penulis : Octa D. Sutrisno

    Ikuti tulisan menarik Gadis Desa lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.