Sang Penjagal (Bagian Satu) - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi pembunuhan. FOX2now.com

Muh Sjaiful

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 Agustus 2021

Rabu, 13 Oktober 2021 13:51 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sang Penjagal (Bagian Satu)

    Tangan biadab sosok bertopeng yang tersaput dinginnya malam lalu menyeret mayat wanita muda itu, setelah memutilasinya lalu dengan sigap memasukkannya ke kantong plastik hitam besar yang cukup untuk memuat potongan raga wanita muda itu. Memang hanya manusia berhati iblislah yang mampu melakukan semua itu.

    Dibaca : 403 kali

    Malam mencekam. Sunyi dan menegangkan. Tak ada suara. Yang terdengar hanyalah angin dingin mendesau-desau, menusuk sum-sum tulang. Rasanya menjalar sampai ke ubun-ubun.

    Di tengah pekatnya kegelapan malam, seorang perempuan muda, berlari terseok-seok dengan baju terkoyak. Wajahnya berlumur darah. Dengan sinar mata yang liar penuh ketakutan, ia sedang menghindari kejaran sesosok bertopeng. Tangan kiri sosok bertopeng tadi mengayun-ayun sangat mengerikan yang mencengkram kuat sebuah kapak merah. Tembok besar berduri, sudah cukup memojokkan hentak langkah perempuan muda itu. Lalu ia berbalik, jerat kematian sudah pasti menghampiri.

    “Mohon jangan bunuh aku...,” mulutnya berteriak histeris. Hanya berjarak beberapa sentimeter saja, wajah di balik topeng menyeringai buas. Dan tiba-tiba, bruuk, kapak merah berhasil meretakkan batok kepala perempuan muda itu. Darah segar muncrat kemana-mana, sebahagian mengenai jubah laki-laki bertopeng. Wanita muda barusan tewas menggenaskan. 

    Tangan biadab sosok bertopeng yang tersaput dinginnya malam lalu menyeret mayat wanita muda itu, setelah memutilasinya lalu dengan sigap memasukkannya ke kantong plastik hitam besar yang cukup untuk memuat potongan raga wanita muda itu. Memang hanya manusia berhati iblislah yang mampu melakukan semua itu.

    “Kriing...” telepon berdering, cukup untuk membangunkan lelap sang komisaris polisi. Tangannya dengan malas menggapai gagang telepon. Jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi. “Halo”, suara komisaris berderak parau. “Lapor komandan,” suara datar dibalik telepon menyahut. “Ada apa Brigadir?” Tanya komisaris kepada seorang brigadir polisi anak buahnya. “Siap, Komandan! Semalam tepat pukul 12, Satuan Unit Resort dan Kriminal telah menemukan mayat seorang wanita muda dalam kantong plastik hitam besar. Tengkorak kepalanya retak”.

    Sang komisaris mengucek-ngucek matanya. Rasa kantuk yang tadinya masih menyergap tiba-tiba hilang seketika tersaput oleh rasa kaget yang menyelinap sampai ke sum-sum. Soalnya, sudah tiga bulan ini, ia dipusingkan oleh serentetan tujuh kasus pembunuhan dengan modus operandi mayat korban dipotong-potong tujuh bagian.

    “Lalu, bagaimana dengan kondisi mayat korban?” Sergah komisaris yang masih diliputi rasa penasaran. “Siap komandan! Mayat korban terpotong tujuh bagian persis tujuh kasus pembunuhan mutilasi yang sudah disidik sebelumnya, kemungkinan besar pembunuhnya orang yang sama, karena hasil pemeriksaan laboratorium forensik semalam,  ditemukan jejak sidik jari pelaku yang sama dengan jejak sidik jari  yang ada pada tujuh mayat korban mutilasi sebelumnya,” jawab sang Brigadir Polisi mencoba meyakinkan komandannya.

    “Baik, sebentar saya akan bertemu dokter Asep di ruang laboratorium forensik untuk meminta penjelasan lebih detail. Lanjutkan penyidikan pada Tempat Kejadian Perkara (TKP) dimana mayat korban ditemukan. Kerahkan semua anggotamu untuk menyisir titik-titik TKP yang mencurigakan. Lakukan dengan cara penyamaran,” perintah Komisaris.

    “Siap komandan! Perintah segera dilaksanakan!” Suara Brigadir berderak di seberang telepon. Berbarengan dengan itu, sang komisaris lalu meletakkan gagang telepon. Benaknya masih diserbu seribu tanda tanya. Zaman sudah semakin edan. Masih saja ada manusia malah lebih buas dari  iblis tega melakukan pembunuhan dengan cara memotong-motong tubuh manusia.
    ***
    Langkah tegap komisaris memasuki ruang kerja laboratorium dokter Asep. Sudut-sudut matanya menyaksikan ruang laboratorium yang cukup besar. Bilik pintu laboratorium terpasang lekat oleh kaca buram, sehingga cukup mengaburkan pandangan mata dari luar yang ingin menyorot isi laboratorium. Pada sudut-sudut atas plafon ruang laboratorium, masing-masing terpasang lampu neon yang tampak masih menyala. Sinarannya saling memantul yang kemudian membias pada sederet gambar tengkorak dan lukisan anatomi tubuh manusia yang terpancang kuat di tembok sisi atas laboratorium.

    “Assalamu alaikum, Tuan Komisaris, anda datang tepat waktu rupanya sesuai janji,” sapa dokter Asep dengan ramah.
    “Waalaikumussalam,” balas komisaris. Seharusnya ia yang memberikan salam duluan kepada dokter Asep. Tetapi galau ketegangan dan seribu misteri yang masih menyelimuti sanubarinya hingga tak cukup mampu buat komisaris untuk menghatur salam lebih dulu.

    Setelah saling berhadap-hadapan, keduanya lalu beringsut menuju meja kerja dokter Asep. Sang dokter lalu memperlihatkan sederet foto yang memperlihatkan bagian-bagian tubuh mayat korban yang terpotong-potong. Sungguh mengerikan!! Pemandangannya cukup membuat sang komisaris sedikit bergidik. Sesekali kata-kata serapah menyembur lirih dari mulut komisaris atas kebiadaban pelaku. “Jenis iblis apakah yang merasuk kepala pelaku? Sangat biadab.”

    “Pelaku pembunuhan sepertinya seorang psikopat, pembunuh berdarah dingin. Seorang psikopat adalah seseorang yang memiliki kondisi kejiwaan yang introvert,” dokter Asep memberikan penjelasan sembari tangannya yang berbungkus sarung karet merapihkan deretan foto mayat korban mutilasi. Bau alkohol obat-obatan dan cairan kimia menyengat sampai sekeliling ruang laboratorium, rasanya menusuk saraf-saraf lobang hidung.

    “Menurut dokter, apa sesungguhnya motif yang menjadi pemicu bagi pelaku psikopat melakukan pembunuhan?” Suara parau meluncur dari kerongkongan komisaris. Tapi matanya masih menatap lekat-lekat foto mayat korban mutilasi.

    Sejurus kemudian, dokter Asep mengambil sampel sidik jari pelaku mutilasi lalu mengamatinya sejenak. Setelah itu, kembali lagi ia menyorongkan kakinya menuju tempat duduk meja kerja yang di atasnya berhamburan kertas-kertas laporan identifikasi mayat korban pembunuhan.  Setelah duduk, sesekali dokter Asep menatap dalam-dalam wajah tirus komisaris. Wajah lonjong dokter Asep menyungging sedikit senyum di sudut bibir. Mata bundar yang di atasnya bertengger alis tebal makin mempertegas gurat ketampanan  dokter ahli forensik itu. Di jidatnya tertoreh titik hitam bekas sujud, sekaligus makin memperkuat aura kesolehan sang dokter.

    “Umumnya seorang psikopat adalah pelaku crime of passion yang dalam melakukan pembunuhan adalah didorong oleh ledakan kemarahan yang lebih keras, ganas, sehingga terdorong untuk  membunuh. Motif pemicunya bermacam-macam, bisa jadi karena dendam atau dihinggap rasa paranoid berlebih-lebihan.”
    “Paranoid atau rasa dendam? Maksudnya?” Dahi komisaris sedikit mengernyit.
    “Seorang psikopat sangat terpicu oleh motif paranoid, yaitu bayangan ketakutan akan kehilangan seseorang yang dicintainya. Motif dendam yakni ledakan kemarahan yang membabi buta karena merasa terhina dan cemburu yang membuatnya seketika bertindak buas dan brutal. Pengidap paranoid biasanya bereaksi secara spontan dan tidak terorganisir. Dan sangat boleh jadi, para korban mutilasi adalah mantan kekasih pelaku pembunuhan.” Dokter Asep kembali memberikan penjelasan. Sedangkan sang komisaris cuma mangut-mangut sembari sesekali mengernyitkan dahi.

    “Baik dokter. Penjelasan anda sudah cukup. Tapi dokter! Apakah itu berarti pelaku pembunuhan berantai yang sekarang sedang dicari pihak kepolisian kota, sedang mengidap penyakit kejiwaan cukup serius, sehingga tidak perlu dipandang sebagai seorang yang melakukan tindakan kriminal?” tanya komisaris yang sedang disergap rasa ingin tahu.

    Dokter Asep lalu menatap pupil mata sang komisaris. Ia balas menjawab, “Dalam literatur psikologi barat, berdasarkan teori Lambroso, maka psikopat dipandang sebagai sesuatu bawaan atau fitrah yang lahir dari diri pelaku.”

    “Teori Lambroso?” Sang komisaris tiba-tiba menyela. Ia sepertinya mengingat-ingat sesuatu. “Oh... ya... saya baru ingat. Itu adalah hasil pemikiran dari salah seorang kriminolog barat. Saya pernah mendapatkannya ketika belajar kriminologi sewaktu kuliah di fakultas hukum.”
    “Malah Lambroso bilang, psikopat adalah bawaan sejak lahir. Seorang pembawa sifat psikopat, menurut Lambroso, bisa dikenali lewat tekstur rahang wajahnya yang cenderung keras dan kaku.” Komisaris lalu menghela napas sejenak. “Tapi bukankah itu sekadar teori, dokter?”

    “Yap...betul Tuan Komisaris. Itu sekedar teori barat. Saya secara akademis sesungguhnya tidak terlalu percaya dengan teori psikologi modern dari barat itu,” ungkap dokter Asep.
    “Saya pribadi sesungguhnya lebih percaya dengan teori psikologi yang diadopsi dari ajaran Islam. Sebagaimana diadopsi dari pendapat Abdurrahman Al Maliki.” Tegas dokter Asep.
    “Siapa itu Abdurrahman Al Maliki dokter?” Tanya komisaris.

    “Beliau adalah salah seorang ulama besar, sekaligus juga seorang kriminolog Islam. Bukunya yang terkenal tentang kriminologi dalam Islam, pernah saya baca. Judulnya Nizhamul Uqubat. Penjelasan beliau tentang kejahatan menurut perspektif Islam sangat rasional.”

    Dokter Asep melanjutkan jawabannya, “Kejahatan sesungguhnya bukanlah sesuatu yang fitri pada diri manusia. Kejahatan atau perbuatan kriminal bukan pula profesi yang diusahakan oleh manusia. Juga bukan merupakan penyakit yang menimpa diri manusia yang sudah menjadi bawaannya. Kejahatan atau tindak kriminal menurut Abdurrahman al Maliki, adalah suatu tindakan yang melanggar peraturan yang mengatur interaksi aktivitas manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, dirinya sendiri, dan dengan manusia yang lain.”

    “Jadi kalau merujuk argumentasi itu. Artinya, kejahatan mutilasi berantai yang sekarang sangat menggegerkan warga kota, pelakunya bukan dianggap sebagai pengidap gangguan jiwa? Mungkin begitu dokter?” timpal komisaris.

    “Betul, Tuan Komisaris. Pelakunya tidak bisa dianggap sebagai pengidap gangguan jiwa. Pelakunya adalah seorang penjahat yang pantas untuk dihukum mati.” Mata dokter Asep masih menatap wajah tirus komisaris yang terpekur menyimak penjelasannya.

    “Baiklah kalau begitu dokter, saya ke kantor dulu. Nanti kalau saya butuh informasi lebih lanjut, saya akan calling dokter lewat handphone.  Saya pamit. Assalamu alaikum”
    “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas dokter Asep.

    BERSAMBUNG BAGIAN DUA



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.








    Oleh: Hendi Kusuma S Soetomo

    Selasa, 19 Oktober 2021 06:46 WIB

    Sendiri Tak Pasti

    Dibaca : 283 kali


    Oleh: Vitto Prasetyo

    Rabu, 13 Oktober 2021 05:49 WIB

    Nukil Perempuan Puisi

    Dibaca : 416 kali

    Puisi / FIKSI


    Oleh: Hendi Kusuma S Soetomo

    Senin, 11 Oktober 2021 10:01 WIB

    Terlambat

    Dibaca : 464 kali