Ami, si Ratu Sampah di Sekolah - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Selasa, 12 Oktober 2021 07:34 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Ami, si Ratu Sampah di Sekolah

    Pagi ini terlihat cerah, setelah semalaman hujan mengguyur begitu lebat. Seru deru suara bising kendaraan dengan nyanyian kokok ayam yang tak pernah absen di setiap pagi menjadi ‘nyanyian’ sehari – hari. Amilia Agustin, bergegas mempersiapkan diri untuk beraktivitas.

    Dibaca : 459 kali

    Dukung penulis indonesiana

    Si Ratu Sampah, begitulah julukan gadis yang lahir 24  tahun lalu tersebut. Dara cantik asal Priyangan ini benar-benar mendedikasikan dirinya untuk gerakan peduli lingkungan. Kini dirinya masih memiliki cita-cita mulia, iya, dia ingin membangun sekolah di daerah pedalaman yang masih menjadi mimpi untuk diwujudkan.


    Berawal dari 2010 lalu, Amilia yang masih berusia 14 tahun, mendapat undangan ke Jakarta sebagai kandidat penerima SATU Indonesia Awards 2010. Bukan main, Ami begitu sapaan akrabnya, menggeluti dunia sampah sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada suatu hari, Ami tak sengaja melihat seorang bapak renta yang sedang makan tanpa cuci tangan. Letaknya persis tak jauh dari gerobak yang penuh sesak dengan sampah.


    Kejadian yang dilihatnya itu, langsung diceritakan Ami kepada guru mata pelajaran biologinya, Ibu Guru Nia namanya. Beliau pulalah, yang juga menjadi mentor di Ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Saat itu, kampanya zerowaste belum sepopuler saat ini. 

    Ibu Nia menyarankan Ami dan teman-temannya di ekstrakurikuler KIR untuk mendatangi Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) yang bergerak di bidang pengomposan dan pemilahan sampah. Sejak itulah Ami dan teman-temannya rutin belajar di YPBB, hingga menginspirasi mereka untuk membuat tempat pemilahan sampah organik dan anorganik. 

    Tak mau berlama-lama, Ami bersama beberapa rekannya menaruh kardus di tiap kelas untuk mewadahi sampah organik dan non organik. Tapi, upaya itu tak langsung berhasil, Ami mengaku masih mendapatkan cibiran dari siswa lain. Ami yang tak mau putus asa, kemudian memiliki ide untuk mengampanyekan masalah ini saat Masa Orientasi Sekolah (MOS) di sekolahnya.

    Ami dan teman-temannya sepakat membentuk subdivisi baru di ekstrakurikuler KIR yang berkegiatan di bidang pengelolaan sampah di sekolah. Subdivisi itu dinamai ‘Sekolah Bebas Sampah’ atau Go to Zerowaste School. Anggota subdivisi itu perlahan bertambah hingga berjumlah 10 orang. Sejak itu mereka kerap diajak sang pembimbing, Ibu Nia, untuk memperkenalkan programnya di berbagai acara di sekolah.

    Ami ‘menyulap’ sampah-sampah yang mereka kumpulkan menjadi barang yang bisa digunakan kembali. Mereka mengajak ibu-ibu itu untuk membuat tas dengan bahan dasar sampah bungkus kopi. Ami juga mengajak mereka untuk mengenalkan produk-produk daur ulang itu saat pembagian rapor dengan cara membuka stan.

    Demikianlah semua upaya yang dilakukan Ami dan teman-temannya sejak awal telah menggugah Ibu Nia untuk mendaftarkan mereka dalam kompetisi SATU Indonesia Awards 2010 di bidang lingkungan. Ami menyetujuinya, namun dia mengira itu hanya kompetisi antar anak sekolah yang sudah biasa digelar. Ami berhasil terpilih menjadi penerima Astra Satu Indonesia Award di bidang lingkungan, serta mencatatkan namanya sebagai peraih termuda penghargaan tersebut. (*)

    Penulis : Maulana Yusuf

    *Sumber data : tokohinspiratif.id



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.