Jejak Zaman Megalitikum di Lembah Bada - Travel - www.indonesiana.id
x

Lembah Bada, kawasan Lore Lindu, Sulawesi Tengah

ahyar ros

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 20 Oktober 2021 17:39 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Jejak Zaman Megalitikum di Lembah Bada

    Lembah itu bernama Bada, jaraknya sekitar 145-km dari Tentena, Kota Poso, Sulawesi Tengah. Lima jam perjalanan jalur darat melewati pegunungan Poso. Lembah Bada juga dikenal dengan sebutan Lembah Lore Lindu, wilayah yang dipenuhi dengan temuan arkeologi berupa patung batu dari zaman megalitikum.

    Dibaca : 1.219 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Lembah itu bernama Bada, jaraknya sekitar 145-km dari Tentena, Kota Poso, Sulawesi Tengah. Lima jam perjalanan jalur darat melewati pegunungan Poso. Lembah Bada juga dikenal dengan sebutan Lembah Lore Lindu, wilayah yang dipenuhi dengan temuan arkeologi berupa patung batu dari zaman megalitikum.  

    Tepatnya tanggal, 9 bulan April 2019, waktu menunjukan 04.00 pagi. Dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Bersama empat teman, kami bergegas naik pesawat Garuda Airline menuju bandara Hasanuddin Makasar untuk transit, lalu melanjutkan penerbangan ke bandara Kasiguncu, Poso mengunakan maskapai perintis Lion Air. Tiba di Poso, kami lansung dijemput teman menuju Tentena untuk memandu kegiatan Course for Girls Ambassadors Peace, Poso. Setelah acara selesai, bersama teman-teman Sekolah Perempuan Perdamaian Poso (SP), kami menuju lembah Bada.

    Inilah lembah dikawasan Taman Nasional Lore Lindu, yang menghampar di Sulawesi Tengah. Nama Lembah Bada syarat dengan peninggalan batu-batu megalitikum. Sulawesi diduga sebagai salah satu pemukiman tertua di Nusantara. Sumber bacaan yang saya baca menjelaskan penemuan batu-batu berukir di lembah; Napu, Behoa, dan Bada sangat banyak. Ini dikuatkan oleh temuan Dwi Yani Yuniawati Umar, S3 Universitas Gadjah Mada. Atik sapaan akrabnya mencatat 1.466 megalitik dari 85 situs.

    Bu Wuri warga Poso, yang satu rombongan dengan saya juga mengkonfirmasi hal ini. Ia memperkirakan usia situs-situs megalitik di di tiga lembah ini, sebaya dengan peradaban sebelum abad Masehi. “Di Taman Nasional Lore Lindu ditemukan kuburan tua dan tulang-tulang di situs Wineki sekitar tahun 2531-1416 SM,” paparnya pada kami berlima di lembah Bada kala itu.    

    Dari cerita ini, pada masa itu lembah-lembah di Lore Lindu telah memiliki kebudayaan megalitik, tapi budaya megalitik telah ditinggalkan sejalan dengan perkembangan zaman. Masyarakat Lore Lindu mulai meninggalkan praktik budaya megalitiknya, semenjak masuknya agama-agama, kata Bu Wuri, Ketua Sekolah Perempuan Perdamaian Poso. Ia mengungkapkan ada banyak praktik-praktik ritual adat yang hingga kini masih dipraktikan oleh suku-suku sekitar Lore Lindu, seperti Kulawi, Kaili, Tomini, dan Mupun Pamona.

    Bertandang ke Lembah Bada, saya tak hanya melihat megalitik atau batu berukir beragam bentuk, tapi juga menyaksikan hamparan padang savana nan indah. Dari sekian banyak patung-patung berukuran besar di Lembah Lore Lindu, tapi hanya satu patung yang kami bisa kunjunggi, yaitu situs Arca Palindo di Lembah Bada. Arca teragung ini tingginya hampir empat meter.

    Pada pukul 03.00 WITA siang, saya dan Sekolah Perempuan Poso masih menyimpan penasaran dengan keberadaan patung batu di lembah Bada ini, satu-persatu dari kami saling bertanya satu sama lainnya. Ada yang bilang, patung Palindo di Lembah Bada adalah hasil dari kutukan penghuni terdahulu pada warganya yang melakukan hubungan luar nikah atau (bukan muhrim), lalu oleh tetua adat dan warga setempat mengutuk mereka. Hingga berubah menjadi batu.

    Bagi saya cerita ini meragukan. Tapi pendapat yang sementara bisa dipercaya adalah ulasan majalah National Georaphic (10/2018) menyebutkan, arca-arca di Lembah Bada berkaitan erat dengan arah mata angin dan pola gerak benda di langit. Jadi posisi arca-arca di Lembah Bada berkaitan dengan berbintang masa itu. Ini pun dugaan sementara.    

    Perkara menarik yang saya lihat saat berada di Lembah Bada di sisi topografinya. Kota Palu melintang dari arah utara menuju selatan. Lembah ini diapit dua pegunungan di timur barat atau kiri kanan. Lembah inilah yang menjadi jalur migrasi yang tersambung hingga ke Lembah Napu, Bada, dan Behoa. Bahkan lembah-lembah ini terus memanjang hingga ke Sulawesi Selatan.

    Makanya tak mengherankan penyebaran mengalitik dan manusinya sampai ke arah sana. Lembah-lembah ini bak lautan yang menjadi penghubung antara pengunungan di Sulawesi. Jadi tak aneh, jika para penghuninya memerlukan navigasi untuk mengembara dan bermigrasi ke lembah-lembah itu. Hingga petunjuk yang paling alamiah adalah bintang di langit.  

    Keberadaan ribuan situs di Lembah Bada ini menunjukan bahwa di masa lalu telah bermukim satu peradaban besar di kawasan Lore Lindu. Banyak peneliti dan arkeolog datang silih berganti ke Lembah Bada hanya untuk mencari tau sejarah dan cerita patung-patung dengan segala bentuk ini. Tapi hingga kini, teka teki patung-patung itu masih menjadi tanda tanya besar atau misteri. Warga yang bermukim di lembah ini pun, yang mana mereka adalah tokoh adat tidak mengetahui persis mengenai patung-patung batu itu.

    Waktu sudah menunjukan 04.30 sore, tapi terik matahari masih terasa menyenggat. Untuk menghindari cuaca sinar mentari, saya memilih berteduh di salah satu pohon yang berjarak sekitar 10-meter dari arca Palindo. Karena jarak tempuh yang cukup panjang, dari Lembah Bada ke Tentena, saya pun mengajak teman-teman rombongan untuk berkemas-kemas kembali ke Dusun Toaro, Poso tempat kami menginap sementara.            

     

    Ikuti tulisan menarik ahyar ros lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.