x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Jumat, 29 Oktober 2021 08:51 WIB

Jadi, Pemuda Itu Potensi atau Masalah Sih?

Renungan Hari Sumpah Pemuda. Jadi, pemuda itu potensi atau masalah?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tanggal 28 Oktober selalu diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Terus, siapa sih pemuda itu? Ada yang bilang, katanya, pemuda itu individu yang secara fisik sedang mengalami perkembangan; lalu secara psikis sedang mengalami berdinamika emosional. Kata orang banyak, pemuda itu calon generasi penerus bangsa. Ada lagi yang bilang, pemuda itu “agent of change”, agen perubahan. Apa iya begitu yang disebut pemuda?

 

Tapi kok, hari ini, kabarnya ada ribuan pemuda (mahasiswa) demo bersama buruh?  Aksi demonstrasi dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2021, di kawasan Patung Kuda, Jakarta. Katanya menuntut pemerintah mencabut UU Nomor 11 Tahun 2019 tentang Cipta Kerja dan berbagai aturan turunannya, serta menghentikan pembungkaman dan represifitas terhadap gerakan rakyat. Jadi, yang benar pemuda harusnya gimana sih ya?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Katanya, sumpah pemuda.

Sumpah itu kan pernyataan yang diucapkan secara resmi. Tentu, dengan bersaksi kepada Tuhan. Sumpah juga sesuatu yang suci. Lagi harus dijunjung tinggi. Maka, sumpah itu sekaligus janji. Lalu, kenapa ada pemuda yang kehilangan jati diri? Atau pemuda yang berdemontrasi tapi merusak fasilitas publik? Bisa jadi, hari ini bukan lagi sumpah pemuda. Tapi gegabah pemuda yang kian jadi masalah.

 

Pemuda demonstrasi sih tidak masalah. Kan negara demokrasi, bebas-bebas saja. Tapi yang masalah, bila konten demo-nya yang bermasalah. Sehingga terkesan gegabah. Lalu di jalan-jalan, jadi terlalu mudah sumpah serapah. Menebar masalah, meracik fitnah. Membalut kebencian dengan membuat resah. Maka hoaks pun membuat banyak orang gelisah. Pandai bertingkah dan terlalu cepat membantah. Banyak yang dituntut, banyak yang dipinta. Tapi akhirnya jadi sampah. Terlalu gegabah, hingga negeri yang indah pun jadi terbelah-belah.

 

Pemuda terkadang lupa. Memang di belahan bumi mana, ada negara yang tidak punya masalah? Harusnya fokusnya bukan masalah. Tapi mencarikan solusi atas masalah. Ber-demo dengan menyajikan solusi yang berfaedah. Bukan malah masalah dijadikan panggung khutbah.

 

Mungkin pemuda lupa. Sumpah itu bukan gegabah.

Bahwa era digital itu berkonsekuensi jadi sebab bangkitnya individualisme. Arus materialisme dan hedonisme pun jadi sebab redupnya nasionalisme. Bahwa demokrasi dan partisipasi itu tidak hanya dimaknakan demontrasi, apalagi anarkisme dan liberalisme. Kesejahteraan itu sulit diraih bila tidak diimbangi etos dan produktivitas kerja. Apalagi bila pemuda mau jadi “agent of change”, sangat tidak boleh kehilangan jati diri dan nilai-nilai nasionalisme. Karena siapa yang mau menolong bangsanya sendiri bila bukan pemuda-nya?

 

Maka, pemuda mungkin perlu mereposisi eksistensinya. Karena pemuda adalah aset bangsa yang mahal dan tidak ternilai harganya. Maju atau tidaknya bangsa Indonesia tergantung pada kaum mudanya, tergantung pemudanya. Lalu, bagaimana bila pemuda sudah kehilangan nilai-nilai patriotism dan nasionaliisme terhadap bangsanya sendiri. Apa hari ini  pemuda masih cinta terhadap tanah airnya? Itu harus dijawab, pemuda!

 

Jadi, pemuda itu sebenarnya potensi atau masalah?

Agak susah menjawabnya karena tergantung kepada pemuda-nya. Pemuda pasti jadi potensi. Bila punya kemampuan yang kemungkinan untuk dikembangkan menjadi kekuatan, menjadi daya untuk membangun. Pemuda yang sanggup jadi solusi seperti pemuda-pemuda yang jadi relawan TBM Lentera Pustaka di kaki Gunung Salak Bogor. Pemuda yang tanpa pamrih dan tidak mengenal lelah untuk berbuat kepada masayarakat.

 

Tapi sebaliknya, pemuda pun akan jadi masalah. Bila pemuda justru jadi bagian yang harus diselesaikan. Jadi soal dan persolan untuk bangsanya. Pemuda yang lebih banyak berdemonstrasi di jalan tanpa konsep yang jelas. Pemuda yang fanatic pada akal sehat tapi kehilangan hati Nurani. Pemuda yang merasa berjuang tapi mengabaikan realitas. Pemuda memble. Pemuda yang banyak omong tapi kosong.

 

Maka di Hari Sumpah Pemuda kali ini. Patut ditegaskan “tidak ada pemandangan yang lebih menyedihkan daripada PEMUDA yang pesimis dan hanya berteriak di jalan. Tanpa berbuat untuk menjadi solusi dari masalah”. Pemuda pun harus lebih literat. SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA. Salam literasi #SumpahPemuda #TamanBacaan #PegiatLiterasi #TBMLenteraPustaka #KampungLiterasiSukaluyu

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB

Terkini

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Kembang Jepun

Oleh: Handoko Widagdo

Kamis, 15 Februari 2024 10:19 WIB