x

Iklan

Kris Ibu

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 November 2021

Sabtu, 6 November 2021 17:24 WIB

Pendidikan Karakter Era Digital (Sebuah Pembacaan di Tengah Pandemi)

Pendidikan karakter merupakan hal penting bagi peserta didik saat ini. Namun, di tengah situasi pandemi di mana segala pembelajaran dilakukan secara online, apakah pendidikan karakter bisa diterapkan? Artikel ini ditulis untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setiap tahun, pada tanggal 2 Mei, negeri kita memeringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan Hardiknas ini bukan hanya sebagai sebuah seremonial tahunan belaka yang diisi dengan perlombaan dan pertandingan untuk memeriahkannya, melainkan sebagai sebuah momen refleksi, sejauh mana kita melihat kiprah pendidikan di bumi pertiwi ini.

Pada taraf refleksi ini, kita dituntut untuk menoleh ke belakang dan menatap realitas yang terjadi selama ini dengan pedidikan kita. Kita mesti realistis, bahwasanya pendidikan yang berlangsung di bumi pertiwi ini lebih menonjolkan aspek intelektual. Para pelajar hanya dituntut untuk mengejar nilai ujian akhir yang tinggi. Padahal, salah satu aspek yang hendaknya perlu mendapat perhatian lebih adalah aspek pendidikan karakter.

Jamak dijumpai di sekolah-sekolah kita, aspek pendidikan karakter mendapat porsi yang lebih rendah, dibanding aspek intelektual. Konsekuensi lanjutnya, ada dampak buruk bagi perkembangan kepribadian pelajar. Alasannya jelas, jika pendidikan formal yang diajarkan di sekolah minus pendidikan karakter, akan menghasilkan lulusan yang hanya mau ‘cari ijasah’. Bisa saja, demi memperoleh nilai rapor yang baik, para pelajar “melegalkan” trik mencotek saat ujian akhir berlangsung. Jika hal-hal mendasar, seperti curang saat ujian, terbawa terus dalam hidup pelajar sehari-hari, mau dibawa ke mana arah pendidikan kita?

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pada saat bersamaan, dewasa ini arus globalisasi memengaruhi berbagai lini kehidupan manusia. Arus globalisasi diakui sebagai sebuah arus baru yang membawa dampak dan perubahan dalam hidup manusia. ‘Anak kandung’ dari arus baru ini adalah teknologi dan komunikasi. Teknologi dan komunikasi ini mulai merasuki kehidupan manusia di berbagai belahan dunia, bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa. Contoh yang jamak ditemui adalah pengaruh media sosial facebook. Mulai dari orang-orang berdasi di kota, hingga para petani di desa menggunakan media sosial facebook sebagai sarana komunikasi sosial.

Tanda zaman ini menghadirkan dua wajah ganda. Di satu sisi, dunia yang dulunya dipandang begitu luas dan sulit terjangkau, kini, lewat berbagai perkembangan teknologi dan komunikasi, dunia menjadi kecil dan mudah dijangkau. Dunia pun dilihat hanya ‘selebar daun kelor’. Sealur dengan fenomena ini, manusia yang satu dapat tehubung dengan manusia yang lain di berbagai belahan dunia dengan begitu gampang dan mudah. Alhasil, dunia terbentuk menjadi semacam dusun global (global village). Dalamnya, konektivitas antarmanusia mengalami berbagai kemudahan.

Meski demikian, di sisi lain, ketika teknologi diagungkan, dunia menjadi begitu absurd karena ketiadaan demarkasi yang tegas antara yang privat dan publik. Fenomena ini apabila tidak ditanggapi secara serius, akan mengakibatkan suatu kondisi yang kritis dan membawa dampak destruktif bagi kehidupan sosial. Kondisi demikian pada akhirnya akan melahirkan pelbagai bentuk ketimpangan yang berujung pada hilangnya keseimbangan yang menopang berbagai faktor kehidupan. Dengan perkataan lain, apabila keadaan ini dibiarkan begitu saja dan dipandang sebagai sebuah keabsahan, bukan tidak mungkin, esensi kehidupan itu sendiri akan raib.

Selain arus globalisasi, dunia saat ini tengah berada dalam pusaran pandemi Covid-19. Pandemi ini menembusi batas teritotial manusia: etnis, agama, kaya-miskin, orangtua-anak muda. Selain itu, berbagai sektor yang menopang kehidupan sebuah negara mengalami kebingungan dan kalang kabut (bahkan ambruk) berhadapan dengan virus baru ini.

Dunia pendidikan juga mengalami hal yang sama. Sektor pendidikan dihadapkan pada situasi baru di mana pertemuan face to face, tatap muka, tidak menjadi satu-satunya opsi paling efektif untuk melaksanakan proses pembelajaran. Proses transfer pengetahuan tidak terjadi dalam wadah tatap muka. Sebaliknya, pendidikan jarak jauh dengan memanfaatkan media digital menjadi hal yang mendesak. Guru dan siswa dituntut dengan porsi yang sama untuk terampil dalam menggunakan teknologi digital. Singkatnya, pandemi Covid-19 memaksa dunia pendidikan kita untuk merombak cara belajar dengan memaksimalkan teknologi digital.

Hal ini tentu sebuah kemajuan. Ketika dunia berada dala era 4.0, kita mencemplungkan diri di dalamnya. Ini mau menandakan bahwa kita turut ambil bagian dalam persaingan global. Ketika setiap pembelajaran dilakukan secara online, ketika tugas dikerjakan dari rumah dan dikirim via online, bukan tak mungkin anak didik akan merasa kerasan menggunakan media digital. Di titik inilah, ketika pendidik dan orangtua lengah dan kecolongan, anak didik akan dengan seenaknya berselancar di dunia digital. Dengan perkataan lain, ketika anak didik sudah merasa kerasan dengan penggunaan media digital serentak pada saat bersamaan orangtua dan pendidikan tidak mengambil peran dalam mengontrol dan memberikan pendidikan nilai, tak dapat dimungkiri, penyalahgunaan media digital bisa saja terjadi. Apalagi, peserta didik berada dalam masa pubertas; masa di mana pencarian identitas begitu bergelora; masa di mana libido keingintahuan akan suatu hal begitu tinggi. Tanpa penanaman nilai-nilai etis dan moral, penyimpangan akan nampak.

Lalu, bagaimana dengan pendidikan karakter di masa adaptasi baru ini?

 

Trilogi Pendidikan a la Ki Hadjar Dewantara

Penulis mengingat kembali momen ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy (2016-2019), saat membuka Expo Pendidikan Kabupaten Banyumas dan Deklarasi Penguatan Pendidikan Karakter Jenjang Sekolah Dasar Kabupaten Banyumas di Porwokerto, Jawa Tengah, (Kamis, 27/4/2017). Beliau menekankan pentingnya pendidikan karakter. Ia yakin, jika pendidikan karakter diterapkan di sekolah-sekolah, output dari sekolah-sekolah tersebut adalah orang-orang yang lebih handal, lebih tahan banting dan lebih mampu bersaing dengan negara-negara lain.[1]

Hal ini berarti, pendidikan kita harus lebih menekankan dan menonjolkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter penting untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Berkualitas dalam artian leksikon berarti mempunyai kualitas dan bermutu (baik).

Selain pendidikan karakter dimulai dari rumah sebagai sebuah sekolah informal (di sini orangtua berperan mengajarkan kebajikan dan nilai hidup bagi seorang anak), penegasan pendidikan karakter mesti mendapat porsi yang besar di lembaga sekolah sebagai rumah belajar formal. Konsekuensi lanjutnya, guru memegang peran penting.

Bagi guru, tentu kita masih ingat “Trilogi Pendidikan” yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Konsep dari Bapak Pendidikan Nasional sebagai berikut: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Trilogi pendidikan ini memiliki makna sebagai berikut: ing ngarsa sung tulada artinya “di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik”, ing madya mangun karsa artinya “di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide”, dan tut wuri handayaniyang berarti “dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan”,.[2]

Di sini jelas bahwa para pengajar mesti mengubah pola pengajaran yang lebih menekankan formalitas pemberian ilmu, minus keteladanan. Para pengajar sejatinya memberikan teladan, menciptakan ide kreatif dan memberikan arahan bagi para pelajar.

Dengan lain perkataan, para pengajar tidak hanya menjadi seorang pendidik akademis, melainkan juga pendidik karakter, moral dan budaya bagi para pelajar. Mereka mesti memberikan teladan bagi para pelajar dalam mewujudkan pendidikan karakter yang hakiki, meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa.[3]

Pertanyaan yang sama, bagaimana dengan pendidikan karakter di masa adaptasi baru akibat pandemi Covid-19?

 

Pendidikan Karakter Era Digital: Kemendesakan Vs Tantangan

Pendidikan karakter yang diharapkan oleh Ki Hajar Dewantara merupakan sebuah kemendesakan masa kini. Hal ini penting ketika kita konfrontasikan dengan era instan saat ini: sebuah era di mana masyarakat mengingikan sesuatu yang gampang dan mudah didapat; sebuah fenomena di mana kebenaran hanya ditafsir dengan satu perspektif, tanpa mempertimbangkan perspektif lain; sebuah fenomena di mana emosi pribadi melampaui fakta; sebuah fenomena di mana kerja keras dan perjuangan dikesampingkan, serentak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan; sebuah era yang mengagungkan kecepatan dibanding kecakapan individu. Di sini, pendidikan karakter mendapat penekanan yang besar.

Pertanyaannya, bagaimana dengan pendidikan karakter dapat diterapkan di masa adaptasi baru akibat pandemi Covid-19 yang ditandai dengan pembelajaran online?

Di era sebelum pandemi Covid-19, pendidikan karakter mulai perlahan-lahan diamalkan. Contohnya, ada kebiasaan mengawali setiap kegiatan belajar-mengajar dengan doa, bersalaman dengan guru sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, larangan untuk tidak mencoret-coret tembok atau fasilitas umum, melarang para pelajar agar tidak menyontek saat ujian, mendengarkan guru saat pelajaran berlangsung, membuang sampah pada tempatnya,dan masih banyak hal praktis lainnya.

Ketika pandemi Covid-19 mulai merebak, berbagai sendi kehidupan yang menopang implementasi pendidikan karakter di sekolah seakan runtuh seketika. Perangkat pendidikan mengalami kewalahan dan kebingungan mencari jalan keluar yang tepat.

Penulis menawarkan beberapa pemikiran yang mungkin bisa berguna dalam penerapan pendidikan karakter di tengah situasi seperti digambarkan sebelumnya.

 Pertama, para penentu kebijakan mulai dari pusat hingga lokal mesti merancang dan membarui sistem pendidikan kita yang lebih adaptif. Artinya, penentu kebijakan mesti berpikir keras tentang konten/isi kurikulum, kebijakan, dan daya dukung model mana yang cocok untuk penanaman pendidikan karakter di tengah situasi pandemi saat ini.

Kedua, saya kira, pendidikan karakter mendapat porsi lebih apabila peran guru beralih dari yang konvensional ke kontemporer. P. Ratu Ile Tokan dalam bukunya menjelaskan bahwa tugas utama guru konvensional adalah mengajar, mendidik, dan melatih peserta didik. Peran ini mesti beralih ke  peran kontemporer. Artinya, guru mesti memiliki wawasan yang luas tentang tugasnya. Pertanyaanya yang mesti dijawab adalah: Mengapa manusia dapat dididik? Mengapa manusai harus dididik? dan, mengapa harus ada sistem pendidikan? [4]

Ratu Ile mencoba mengurai jawaban atas pertanyaan di atas sebagai berikut:manusia dapat dididik karena memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menuju kematangan; manusia harus dididik karena begitu mendesaknya memanusiakan manusia; dan sistem pendidikan mesti ada agar segala potensi peserta didik diarahkan oleh mereka yang memiliki kompetensi akademik, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang memadai. Di sini, penyelenggaraan pendidikan mesti diatur secara sistemik.[5]

Dengan peran kontemporer ini, guru sejatinya adalah mereka yang menjadi pencetus kiblat baru demi tujuan mulia: menghasilkan peserta didik yang berkarakter.

Ketiga, peserta didik sejatinya mesti meyakinkan diri bahwa mereka adalah agent of change yang mampu mengubah tatanan dunia berdasarkan kecakapan individu. Kecakapan ini tentunya bukan sesuatu yang terberi, taken for granted, melainkan diperoleh lewat proses belajar terus-menerus tanpa henti. Proses ini membutuhkan perjuangan ekstra. Kematangan kecakapan ini akan berujung pada karakter peserta didik yang kokoh.

Akhirnya, pendidikan kita tidak hanya menghasilkan lulusan ‘pencari ijasah’, melainkan lulusan yang berkualitas di bawah topangan karakter yang kokoh.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Adam Bahtiar, Luki. “Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara”, dalam https://lukipenjasorkes.wordpress.com/2012/10/31/pendidikan-karakter-menurut-ki-hajar-dewantara/. Diakses pada 26 Oktober 2021.

 

Bahari, Agi. “Banyumas Gemakan Penguatan Pendidikan Karakter”, dalam https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/04/banyumas-gemakan-penguatan-pendidikan-karakter. Diakses pada 26 Oktober 2021.

 

 

Muaddab, Hafis. “Pendidikan Karakter: Revitalisasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)”, dalam https://www.kompasiana.com/hafismuaddab/5500bb41a333110d1750fb1d/pendidikan-karakter-revitalisasi-pemikiran-ki-hajar-dewantara-refleksi-hari-pendidikan-nasional?page=all. Diakses pada 26 Oktober 2021.

 

Ratu Ile Tokan, P. Sumber Kecerdasan Manusia (Human Quotient Resource). Jakarta: Grasindo, 2016.

 

[1]Agi Bahari, “Banyumas Gemakan Penguatan Pendidikan Karakter”, dalam https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2017/04/banyumas-gemakan-penguatan-pendidikan-karakter, diakses pada 26 Oktober 2021.

[2]Luki Adam Bahtiar., “Pendidikan Karakter Menurut Ki Hajar Dewantara”, dalam https://lukipenjasorkes.wordpress.com/2012/10/31/pendidikan-karakter-menurut-ki-hajar-dewantara/, diakses pada 26 Oktober 2021.

[3] Hafis Muaddab, “Pendidikan Karakter: Revitalisasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (Refleksi Hari Pendidikan Nasional)”, dalam https://www.kompasiana.com/hafismuaddab/5500bb41a333110d1750fb1d/pendidikan-karakter-revitalisasi-pemikiran-ki-hajar-dewantara-refleksi-hari-pendidikan-nasional?page=all, diakses pada 26 Oktober 2021.

[4] P. Ratu Ile Tokan, Sumber Kecerdasan Manusia (Human Quotient Resource), (Jakarta: Grasindo, 2016), hlm. 41-42.

[5] Ibid., hlm. 42.

Ikuti tulisan menarik Kris Ibu lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler