x

ilustr: ArtPics

Iklan

Ambu Wian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Selasa, 9 November 2021 19:08 WIB

Biarkan Cinta Menjadi Masa Lalu

Cerita Pendek karya Wian Adhinata

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

BIARKAN CINTA MENJADI MASA LALU
Penulis : Wian Adhinata

Dini hari. Langit masih gelap meski semburat sinar mentari mulai malu-malu mengintip di ufuk Timur. Udara terasa dingin  saat angin menerpa wajah Adelia yang berjalan tergesa melewati kebun-kebun warga menuju jalan raya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat tujuh belas saat ia melirik jam di tangannya.

Hari ini ia dan Bima, sahabat dekatnya berjanji untuk melewati Sabtu pagi bersama di taman raya kota mereka. Ia tak ingin Bima menunggu terlalu lama. Sesekali mulut perempuan yang tertutup masker itu mendesis kesal karena angkot tak juga lewat di depannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ponselnya bergetar. Bima mengirim pesan. "Assalamualaikum. Dimana?" Adelia cepat menjawab. "Depan Indomaret. Masih menunggu angkot." Centang biru. Bima mengetik pesan. "Oh begitu. Sebentar aku juga beres." Adelia membaca dan ke
mbali mengetik pesan. "Shalat dulu!" katanya. "Sudah dong!" jawab Bima.
"Kita bertemu di Mbah Dalem ya!" pesan Adelia. Centang biru, tepat ketika angkot berhenti di depannya.

Jalan masih lengang. Adelia turun dari angkot dan berdiri di depan pagar istana sambil mengawasi jalan di sebelah tenggara. Tak lama sebuah motor dengan pengemudi yang bertubuh langsing berhenti di turunan jalan. Adelia tersenyum. Ia yakin itu Bima.

"Aku sudah di depan istana Batutulis." tulisnya. Lelaki disana tampak membuka ponselnya dan sejenak membaca. Lalu ia bergegas melajukan motornya ke arah Adelia tengah berdiri menunggu.

Segera saja senyum mengembang di bibir mereka saat lelaki itu tiba di hadapan Adelia. "Apa kabar?" tanya Bima sambil menyodorkan kepalan tangannya dan mereka pun tertawa. Ada sedikit gurat canggung di wajahnya. Disodorkannya helm pada Adelia dan segera mereka melaju berboncengan di jalan raya. Udara yang dingin seketika terasa begitu hangat kali ini dengan senda gurau dan suara obrolan mereka.

Adelia begitu gembira. Ada rasa bercampur aduk bak gado-gado di hatinya. Sudah lama sekali, sangat lama, bahkan lebih dari seperempat abad mereka tidak bertemu. Dia merindukan lelaki yang baginya sudah seperti kakak sendiri, bahkan mungkin lebih dari itu kebersamaan mereka dulu.

"Kapan kita terakhir bertemu ya? Perasaan terakhir melihatmu itu saat aku diarak keliling kota bersama piala Wahana Tata Nugraha bukan?" tanyanya. "Ya, kurang lebih duapuluh tujuh tahun yang lalu!" jawab Bima . "Masya Allah, rasanya waktu cepat berlalu. Tapi kamu masih saja begini. Tak banyak yang berubah. Awet muda kamu, Bim!" kata Adelia, dan Bima pun tertawa.

Lelaki berusia lima puluh lima tahun yang wajahnya tak lebih dari lelaki empat puluhan itu tampak begitu antusias pagi ini. Bibirnya tak henti bercakap dan bertanya. Adelia memperhatikan dan menyimaknya. Tak lama mereka tiba di depan tempat parkir motor dekat taman hutan raya dan Bima memilih untuk mengajak sarapan bubur terlebih dulu. "Maaf, sepagi ini belum ada tukang bakso yang berjualan ya. Harap maklum!" goda Adelia yang tahu bahwa sebenarnya Bima lebih suka makan bakso daripada bubur ayam.

Semangkuk bubur ayam kampung yang panas dan pedas menemani mereka mengobrol panjang tentang kehidupan yang mereka jalani saat keduanya terpisah jauh selama ini. Adelia menatap wajah Bima lekat sambil mendengarkannya berbicara. Ia merasa lelaki itu sedikit gugup namun berusaha untuk menguasai dirinya selama bercerita. Sejenak benak perempuan itu melayang ke masa lalu yang indah. Saat ketika hujan turun begitu deras, dan seorang pemuda yang manis berlinang airmata dan memintanya untuk menunda perkawinannya dengan Argo, pacarnya.

*****

Bima mengangguk setuju ketika Bang Eddy ketua organisasi memintanya untuk mengantar pulang keponakan tersayangnya, Adelia. Perempuan bertubuh langsing dengan rambut panjang sepunggung itu memang sudah bersahabat dengannya dan Rasyidah. Ketiga sahabat ini selalu bersama kemana pun mereka pergi. Bima, Adelia, dan Rasyidah bagai tak pernah terpisahkan. Dia yang paling tua di antara ketiganya, dan Adelia sudah menganggap lelaki manis itu bagai kakaknya sendiri. Tak heran jika ia sering ngintil kemana pun lelaki itu pergi, ketika mereka sedang berkegiatan bersama.

Diam-diam hatinya merasa kagum melihat Bima dan Rasyidah yang selalu nampak mesra. Bima lelaki ramah yang manis dan Rasyidah yang cantik bertubuh tinggi langsing sering menjadi pemandangan yang indah di matanya. Adelia berpikir mungkin mereka adalah sepasang kekasih, dan ia berjanji dalam hatinya untuk tidak mengganggu hubungan mereka.

Adelia sesungguhnya bukan gadis yang buruk pula. Ia juga multi talenta. Pemuda berprestasi, begitu yang selalu disandangkan pada namanya setiap kali orang bertanya tentang dirinya kepada Pak Lurah dan Pak Camat. Berderet-deret piala terpajang di dua kantor wilayah itu dan mayoritas adalah sumbangan dari talentanya.

Dan ketiga sahabat itu pun semakin aktif dalam komite pemuda di kotanya. Bima yang jago persuasi segera menarik perhatian banyak pemuda pemudi untuk aktif dalam berbagai acara yang diselenggarakan. Sementara Adelia pun sering menjadi moderator berbagai seminar pemuda atau sekedar MC dalam berbagai event di balaikota. Rasyidah tak kalah sibuk menangani logistik pada setiap acara bersama dengan para senior wanita lainnya.

Belakangan, entah mengapa, Adelia sering merasakan tatapan berbeda dari mata Bima setiap kali ia bercerita tentang para pemuda yang menyukainya. Meski telaten dan sabar mendengarkan, tapi ada kilatan yang dalam di mata pemuda itu. Adelia merasa ada semacam energi yang menahannya untuk tidak lagi bercerita padanya. Bima mungkin tidak percaya pada mereka dan berusaha menjaganya, pikirnya.

Senja itu hujan perlahan turun ketika Bang Eddy meminta Bima mengantar pulang Adelia. Gadis muda berusia dua puluh satu tahun itupun duduk di mobil di samping Bima yang menyetir dengan tenang. Seperti biasa lelaki itu bersenda gurau dengan cerewetnya dan Adelia pun tertawa mendengarnya. Wajah Bima begitu gembira dan hanya mereka berdua di mobil itu.

Tiba-tiba saja Adelia teringat pada ucapan Argo, pacarnya, semalam. Argo berkata bahwa ia akan melamar dan membawa keluarganya untuk meminang dirinya. Gadis itupun bercerita pada sahabatnya. "Eh Bim, mungkin tak lama lagi aku akan menikah. Semalam Argo bilang mau melamar dan membawa keluarganya ke rumah. Bagaimana menurutmu? Jangan-jangan kalau aku sudah menikah, mungkin kita tak bisa sedekat ini lagi ya?"

Seketika wajah ceria Bima berubah menjadi terkejut. "Hah?? Memang kamu sudah siap menikah semuda ini?" tanyanya dengan wajah tak percaya. Adelia tertawa. "Ya, sebenarnya sih aku sendiri belum yakin. Tapi Argo nampaknya serius ingin memperistriku, Bim." jawab gadis itu.

Wajah Sang Sahabat mendadak berubah muram. Adelia merasa ada yang tidak beres.  "Kenapa Bim? Kok wajahmu berubah begitu?" tanyanya heran. Bima menatap lurus ke depan, seolah menyembunyikan sesuatu di hatinya. "Nggak ada apa-apa." jawabnya datar.

Adelia semakin bingung. Bima berubah drastis. Lelaki itu memilih diam sepanjang perjalanan. Hujan turun semakin deras dan mereka berdua tak lagi bercanda. Hati gadis itu menjadi tidak karuan. Lelaki di sampingnya seolah bukan lagi sahabatnya.

Mobil pun akhirnya tiba di halaman rumah Adelia yang berbatu-batu. "Bim, kamu kenapa sih? Ada yang salah dengan ucapanku tadi?" tanyanya sesaat ketika lelaki itu menginjak rem. Bima pun menoleh. Adelia terkejut melihat mata sahabatnya yang berlinang. "Kamu yakin dengan keputusanmu menikah?" tanya Bima. "Ya, kalau benar Argo jadi melamar, mau bagaimana lagi?" jawab Adelia dengan polosnya.

Bola mata Bima memerah. "Adel, jangan dulu menikah!" katanya dengan suara parau yang nampak sulit ia keluarkan sebelumnya. Hati Adelia pun berdesir. Tatapan Bima kali ini begitu berbeda. Bima yang kini di depannya macam bukan sahabatnya. Adelia melihat kilatan mata yang lebih dari tatapan  seorang sahabat. Ia melihat cinta di mata Bima! Adelia merasa percaya tak percaya. Apakah benar yang kurasa? pikirnya bimbang.

"Ya, Adel.., jangan dulu menikah ya!" pinta Bima dengan sangat, seolah memohon. Gadis bagai teriris hatinya melihat tatapan Bima saat itu. Adelia tak sanggup melihat tatapan itu lebih lama. Sesungguhnya ia ingin menangis melihatnya. Ia merasakan sambaran energi yang begitu dalam yang tak bisa diungkapkan Bima kepadanya. Hatinya kini bagai campur aduk. Porak poranda. Ia faham artinya, benar-benar faham arti tatapan itu. Tapi, mengapa baru sekarang lelaki itu memiliki keberanian meski tidak secara lugas pula ia mengungkapkan bahwa ia takut kehilangan dirinya? Jadi, inikah arti tatap matanya selama ini? Lalu apa hubungan lelaki ini dengan Rasyidah?

Pikiran gadis itu berkecamuk. Hujan turun semakin deras di halaman rumahnya. Adelia  menatap wajah Bima terakhir kalinya. Berat rasanya melepasnya. Meski sebenarnya lelaki itu lebih selaras dengan rasa jiwanya yang manja dan penuh cinta, tetapi ia menyadari. Bukankah ia telah memilih Argo sebagai pacarnya?

"Terima kasih sudah mengantarku pulang, Bim!" kata gadis itu dengan senyuman dan mata berlinang. Senyuman terakhir yang Bima lihat saat itu. Sesaat kemudian gadis itu turun dan air segera berkecipak di kakinya yang melompat menuju tangga di muka teras rumahnya. Bima dan Adelia saling menatap sekian detik dalam rasa yang hanya bisa mereka rasakan, lalu lelaki itupun memutar mobil dan keluar halaman dengan membunyikan klakson. Adelia melambai dan bergegas masuk rumah. Lebih tepatnya masuk kamar, dan menangis sesenggukan di sana.

*****

"Jadi kenapa saat itu kamu melarangku menikah Bim?" kata Adelia dengan lirik mata jahilnya. Lelaki di sampingnya berkali-kali membetulkan letak duduknya. Berusaha lebih merapat ke arah perempuan itu. Grogi. Adelia tersenyum memperhatikannya. Diambilnya setusuk sate telur puyuh dan diaduknya dengan bubur di hadapannya. Sementara Bima sudah selesai makan.

Serombongan lelaki muda gagah datang dan duduk di depan mereka. Beberapa melirik ke arah Adelia. Bima nampak jengah. Ia pun memilih pindah 90 derajat dari tempat duduknya semula, dan merokok sambil matanya mengawasi mereka.

Sambil mengepulkan asap rokoknya ia menjawab pertanyaan Adelia. "Ya, saat itu, jujur aku sudah lama menyukaimu, tapi aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Tak berani meminangmu, karena aku menyadari bahwa hidupku belum mapan." Adelia mendengarkan sambil menikmati buburnya. Perempuan itu menyimak. "Walau bagaimana, keluarga pihak wanita pasti akan mempertanyakan, punya bekal apa aku bila hendak membawa putri mereka pergi. Aku sadar diri, aku butuh waktu untuk bekerja keras jika aku berniat meminangmu saat itu. Apalagi melihat latar belakang keluargamu. Itu sebabnya aku menahan diri." kata Bima dengan mata menerawang seolah melihat ke masa lalunya. 

Ia pun lalu menceritakan perjalanan hidupnya. Bagaimana keras dan panasnya situasi organisasi mereka menghadapi kampanye dan pemilu, hingga akhirnya ia terpaksa menyingkir ke kota lain demi keselamatan jiwanya. Di kota baru itulah ia merintis karir dan kemudian menemukan jodohnya. Sejenak ia pun melupakan Adelia dan tenggelam dalam dinamika hidup dan keluarganya.

*****

Taman hutan raya masih lengang pagi itu. Bima dan Adelia menyusuri jalan setapak berbatu di antara rindang pohon-pohon tua yang berjajar rapi. Ingin rasanya ia berjalan bergandengan tangan dengan lelaki dari masa lalunya itu. Namun baik ia maupun Bima tetap saling menahan diri. Bima adalah lelaki gentleman yang sangat sopan dan menjaga etika. Meskipun ramah. "Kamu tahu, di taman ini ada mitos. Kalau pacaran disini, bakal putus. Tapi jika bertemu dan berkenalan disini, bisa jadi jodoh." kata Bima. Adelia tertawa. "Kita pacaran nggak?" seloroh lelaki itu. Refleks bibir Adelia menjawab, "Nggak!" Bima tertawa geli. Adelia yang terlambat menyadari ucapannya pun mendelik manja.

Jika saja waktu bisa diputar kembali, atau andai ada lorong waktu, ingin rasanya ia menikmati hari penuh senyuman lagi bersama Bima muda. Bukan sebagai sahabat, tetapi sebagai kekasihnya. Bermanja di pelukannya, dan beraktivitas bersama dengan bahagia. Hatinya berdegup saat Bima menepis semut-semut di kerudung ungunya. Matanya menatap dan menyimak wajah lelaki di hadapannya. Oh Tuhan, bisik hatinya.

Perempuan itu berkali-kali meminta Bima memotretnya di beberapa lokasi yang menurutnya indah, dan lelaki itu nampak senang hati menuruti permintaanya.
Keduanya pun lalu asyik bercakap. Adelia menceritakan pula kisah hidupnya yang tidak bahagia dengan Argo. Bima terlihat begitu berempati, dan memberikan perhatiannya. Wajahnya nampak o dan miris mendengarnya. "Tapi itulah, mungkin ini sudah nasibku ya. Tuhan sudah berkehendak demikian." pungkas Adelia ketika mereka akhirnya tiba di dekat pohon kembar.

Setelah puas berfoto, lelaki itu iseng melihat papan nama pohon tersebut. "Couple trees?! Pohon jodoh!" ia berseru sambil tertawa. "Benarkah?" mata Adelia membelalak tak percaya. "Kau lihatlah sendiri!" jawab Bima masih dengan tawanya. Sesaat di kepala perempuan itu muncul pertanyaan, mungkinkah Bima adalah jodoh yang Tuhan tentukan berikutnya? Sayang hatinya cepat menukas, ah kalian kan difoto sendiri-sendiri, bukan berdua tadi. Kalau berdua, bisa jadi jodoh. Lagipula, dia dan dirimu sudah memiliki pasangan masing-masing kan?! Adelia pun tersenyum geli mendengar suara hatinya.
Biarlah cinta menjadi masa lalu, pikirnya. Saat ini, tetap menjadi sahabat mungkin yang terbaik bagi mereka. Toh mereka tetap saling menyayangi dan masih berkomunikasi. Itu saja sudah cukup indah. Adelia bersyukur dalam hatinya.

Pukul sembilan lebih saat mereka berdua akhirnya berpisah. Keduanya nampak enggan, namun kegiatan masing-masing sudah menanti. Adelia turun dari motor Bima, dan melambaikan tangannya ketika lelaki itu menoleh dan membunyikan klakson. Pagi itu langit tidak mendung. Angkasa cerah diterangi mentari yang riang gembira. Seriang hati Bima dan Adelia.

TAMAT

 

 

Ikuti tulisan menarik Ambu Wian lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu