x

Iklan

Eki Saputra

Aktivis lingkungan dan penulis lepas. Seorang penikmat karya sastra dan film pendek.
Bergabung Sejak: 11 November 2021

Sabtu, 13 November 2021 12:48 WIB

Setan Jabal Rokok

Ke mana-mana ia berjalan mengenakan jaket hitam lusuh, dengan postur tubuh yang agak bungkuk, suara kekeh berat dan parau, dan mata merah yang nyalang selalu gentayangan di kegelapan malam. Kau bisa mengendus asap tembakau menguar dari tubuhnya. Asap menari-nari di atas kepalanya. Dia akan berubah menggila setiap melihat sedikit saja cahaya. Sebab itu hingga senja datang, ia mati dan mengunci tubuhnya dalam peti kayu besar. Namun, bila malam lah bertandang, ia bangun dan kelaparan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Saya tahu sekali mengenainya. Dia adalah setan daripada setan yang paling kesetanan. Dia jahat melebihi iblis yang paling jahanam.

Kisah ini terjadi lima belas tahun yang lalu. Tak banyak yang dapat kuingat secara pasti dari sosok Wak Kholil selain aroma tubuhnya. Bau serupa bawang putih yang membusuk dalam minyak sayur bercampur dengan parfum kuno yang membuat siapa saja yang mengendusnya mual. Barangkali karena nyawanya sudah berada di ujung rambut maka setiap malam Jumat, ia mengunjungi rumah salah satu anaknya yang berada di ujung jalan lingkar, sekitar dua puluh meter dari rumahku. Kami sering kali berpapasan di jalan yang sama. Jalan lingkar sunyi yang dapat menggemakan sehalus apa pun bunyi langkah kaki. Saat itu rumahku belum mempunyai televisi sehingga untuk menonton saja aku harus main ke rumah iparku yang berada di pangkal dusun.

Dahulu, ketika awal-awal lampu jalan baru dipasang, aspal itu masih tenang dan terang benderang, dua tahun kemudian dengan cepat berganti menjadi remang-remang, tapi kuakui meski sudah remang-remang, lampu itu masihlah sangat berguna; setidaknya masih bisa kuketahui siapa saja yang berpapasan denganku tiap-tiap dalu; apakah kakinya menapak tanah atau melayang ringan di udara.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ke mana-mana ia berjalan mengenakan jaket hitam lusuh, dengan postur tubuh yang agak bungkuk, suara kekeh berat dan parau, dan mata merah yang nyalang selalu gentayangan di kegelapan malam. Kau bisa mengendus asap tembakau menguar dari tubuhnya. Asap menari-nari di atas kepalanya. Dia akan berubah menggila setiap melihat sedikit saja cahaya. Sebab itu hingga senja datang, ia mati dan mengunci tubuhnya dalam peti kayu besar. Namun, bila malam lah bertandang, ia bangun dan kelaparan.

Betapa pun ini lebih baik karena jika ada babi-babi liar melintas, atau babi-babi jejadian hendak menyeruduk, aku dapat mencari akal agar tidak terperosok ke got busuk dan jorok yang kerap menyalurkan tinja anak-anak keluarga Sokimin yang belum matang otaknya itu. Mereka sering buang berak sembarangan. Belum lagi kalau celaka jatuh ke lubang pembuangan sampah yang menganga di kanan jalan. Lubang itu, konon, tempat seorang bocah sial mati tenggelam—aku tak yakin soal kebenarannya. Kabarnya, bocah lelaki itu tergelincir sesudah menggeledah belukar, mencari-cari buah kedondong hutan yang berdiri tepat di sebelah lubang itu. Namun, pohon itu sudah lama mati, kini tergantikan batang kemang yang tinggi dan kokoh.

Dia tak memperlihatkan jati dirinya pada siapa pun selama siang berlangsung. Tapi awas! Janganlah sesekali kau mencari-cari rumahnya baik siang ataupun malam hari. Jikalau tak sengaja menemukannya sendiri, pergi dan tinggalkanlah! Sama seperti saat kau menemukan lubang aneh di halaman rumahmu. Sukar kauterka apabila di lubang itu bersembunyi bengkarung atau ular sendok bengis berkepala dua yang meringkuk di dalamnya, menunggu siapa pun yang berani mendekatinya.

Beberapa tahun kemudian nyala lampu jalan di dusunku itu benar-benar lenyap. Secuil cahaya kuning pun tak dapat lagi kutemukan sejak laron-laron sial, entah bagaimana, menumpuk di dalam kerangka lampu itu, seakan-akan menjadi tumbal kuasanya sang gulita.

Aku pikir, seandainya Wak Kholil menembus malam yang pekat, satu-satunya yang dapat aku ketahui hanya suara batuknya yang terdengar ditahan-tahan. Mungkin sukar diduga juga apakah Wak Kholil betulan atau siluman yang menyamar jadi Wak Kholil, atau mungkin Wak Kholil yang menyerupa siluman. Entahlah, mana yang benar. Sejak kecil Emak sering mendongengkan padaku tentang hantu asap, konon dulunya setan itu pernah meneror dusun kami. Ia suka menggerayangi dan menculik anak-anak di kegelapan.

Ia haus memburu mangsa yang jinak ataupun tak jinak. Dalam senyap, bergerak ia dari reban ke reban, dari kandang sapi ke kandang kambing, dari rumah duduk ke rumah panggung. Jendela! Celakalah siapa pun yang lupa mengunci jendela rumahnya. Hidung besar makhluk itu mampu mengendus wangi belia yang ranum. Tak susah buatnya merayap, menarik pintu tanpa derit yang nyaring. Meragaslah ia ke tubuh kau yang lelap. Akan ia isap zat kehidupanmu. Hanya ampas badanlah kelak ia sisakan.

Tetapi aku tak begitu takut karena sejak padamnya lampu itu, Wak Kholil makin jarang berpapasan denganku. Lebih-lebih aku beruntung adanya warga dusun lain yang pindah ke dusun kami. Mereka mendirikan pondok di kebun karet yang jaraknya sekitar sepuluh meter dari jalan lingkar. Giliran anak tertua keluarga itulah yang sering kali tak sengaja berpapasan denganku. Usianya kira-kira masih sepantaranku, tebakanku, kalau tak sebelas mungkin dua belas tahun umurnya. Rambutnya pendek dan diikat satu dengan karet gelang. Namun, kami belum saling mengenal. Berkali-kali aku ingin menegurnya. Ia cepat-cepat membuang muka. Kadang-kadang sepulang aku menginap di rumah abangku, pagi-pagi aku sudah melihatnya sedang menenteng ember, kerepotan mengumpulkan buah kemang masak. Dia muda, tetapi rajin. Andai ia pergi ke sekolah sepertiku, mungkin dialah yang datang paling pagi menyapu kelas, membuang sampah, dan menyiram kembang di kebun depan kelas kami.

Meraung pun percuma, ia membekap mulutmu dengan telapak tangan kasarnya sampai kau kehabisan napas. Urat-urat lehermu menonjol adalah tontonan menarik baginya. Ia menjilat-jilati tetes keringat di dahimu hingga kau memilih mati saja. Mati! Dia menginginkan kau mati dalam keadaan hidup. Kau hidup, tapi kau merasa sudah mati.

Sampai suatu siang, aku menemukannya duduk sendirian di bawah rindang pohon jengkol. Kemang tak lagi berbuah, sebab itulah ia mengganti pencariannya, pikirku. Hawa panas menjerang keringat di pelipisnya. Matanya sayu dan bibirnya serupa cangkang jering yang rapat di atas kepalanya. Aku menyodorkannya permen. Dia menggeleng. Kemudian aku bertanya malu-malu, bolehkah aku duduk di sebelahnya. Tanpa menunggu ia menjawab, aku cepat-cepat duduk di sampingnya, merentangkan kaki seperti sulur ubi ungu menutupi akar rumput. Rupanya ia tak menghalangiku. Tetapi kebisuan itu sesungguhnya membuatku ragu-ragu sebab terasa amat lancang. Hampir-hampir aku bangkit dan meninggalkan gadis itu, sebelum ia sempat menarik tanganku dan berkata pelan, "Namaku Santi."

Tanganmu sedingin es! Kau belum paham sama sekali jika Jabal Rokok telah menyedot kehidupanmu. Mengubahmu dari puntung padat menjadi asap dan abu. Kau hidup, tapi kau merasa sudah mati. Dia mengambil masa lalumu dan kau berpikir rasa sakit itulah yang tersisa sebagai masa depanmu. Kau takut bicara, sebab kau bingung pada apa yang kau alami semalam. Mimpikah atau nyatakah? Semua abu-abu. Sementara di depan cermin kau temukan bibirmu memucat. Pisau. Ingin kau cari-cari pisau agar memerahkan kembali biru pudar di dua bibir kecil itu. Mata yang bengkak ingin kau congkel agar terlupa Jabal Rokok yang menyeringai jahat di depanmu.

Nama yang lawas. Persis parasnya mengingatkanku pada film Gitar Tua-nya Rhoma Irama. Andai namaku Budi. Mungkin kami kelak bisa berjodoh. Santi dan Budi. Terdengar selaras dan cocok. Toh di sekolah aku belum punya pacar. Sebenarnya ada beberapa gadis-gadis yang mengejarku, tapi aku tak berminat pada mereka. Kebanyakan mereka masih mirip-mirip sepupuku yang menjengkelkan. Aku tak menyukai gadis-gadis manja yang mudah merajuk karena urusan sepele.

"Memangnya kau butuh berapa banyak lagi jengkol ini?" tanyaku mencairkan kebekuan. Setelah memperkenalkan diri tadi, ia belum bicara lagi.

"Tidak. Aku ke sini bukan karena itu."

"Lalu?" kataku, bingung.

"Aku cuma rindu tempatku yang lama. Di sini berbeda," ceritanya lirih. Aku bisa merasakan bahwa ia bersungguh-sungguh mengatakan itu. Barangkali, sebelum pindah ke sini, ia hidup di rumah yang lebih baik, lagi pula tinggal di pondok sempit dan sederhana di tengah kebun karet bukanlah impian gadis-gadis sepertinya.

"Mengapa tidak pergi ke sekolah saja? Di sekolah ada banyak teman."

Ia menggeleng. Aku mengerti sekolah bukan solusi yang masuk akal. Dia mungkin tak memiliki seragam, sepatu, buku, tas, dan pensil. Sekolah juga tak menyediakan semua itu. Belum lagi kewajiban membayar SPP. Jika keluarganya bercukupan mustahil mau hidup menyepi di belantara pohon para.

"Tapi aku dulu pernah sekolah sampai kelas tiga. Di sekolah kami, aku paling suka pelajaran bahasa. Guru kami akan duduk di kursi di depan kelas lalu mendongengkan kami cerita-cerita rakyat," kata Santi terdengar bersemangat.

"Cerita apa?" tanyaku penasaran.

Namun, percakapan kami harus terhenti gara-gara Wak Kholil yang tiada diduga-duga datang tanpa diundang menghampiri kami. Pria itu batuk-batuk sebentar, kemudian sekonyong-konyongnya membuang dahak sembarangan. Bau bawang busuk dan parfum aneh yang menguar dari tubuhnya itu seketika membuatku selalu ingin muntah. Aku bisa melupakan wajahnya, tapi tidak dengan bau jeleknya.

"Kau anaknya Nurdin, kan? Dengar ini tanaman kepunyaan anakku, bukan milik tuan kebun itu," Wak Kholil menunjuk kebun di depannya,"Jadi, janganlah kauambil sekehendaknya."

Lalu kau menyerah. Tiada harapan, pikirmu. Abu mesti tersiram air agar bersih dan suci lagi. Kutukan setan Jabal Rokok, kini mengalir deras di tubuhmu. Setan itu tidak hanya sekali mengetuk kamarmu, tetapi berkali-kali memaksa kau membuka jendela kamarmu. Kata "tidak" adalah petaka yang mustahil keluar karena iblis itu mampu membuka segala jenis pintu pabila ia mau.

Aku dan Santi saling bertatapan, heran. Padahal, kami belum mengambil sebiji pun sejak tadi. Tak lama kemudian lelaki itu pergi seraya meracau dengan langkah terseok-seok. Sungguh lucu, dalam kondisi begitu, lelaki itu masih sempat-sempatnya memikirkan jengkol putranya yang berbuah lebat dicuri.

"Tentang Jabal Rokok,” Santi melanjutkan kembali bicaranya.

"Ceritakan," pintaku. Sejujurnya, aku tak suka dongeng, tapi aku suka melihat Santi bicara.

Maka kau memilih air yang dalam untuk menenggelamkan diri. Sebab kau percaya bahwa kutukan bisa dibasuh dengan mati.

Setelah percakapan kami hari itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Santi. Kudengar, keluarganya pindah lagi dari dusun kami lantaran kebun karet yang ditumpangi mereka itu tak banyak menghasilkan getah. Bahkan aku belum sempat memperkenalkan diriku kepadanya. Kami baru saja akan berteman akrab.

Namun, meskipun Santi tak ada, malam-malam yang biasa mencekam itu tak lagi terasa semenjak lampu jalan lingkar di desa kami diperbaiki petugas PLN. Adapun Wak Kholil, seminggu sesudah perbaikan lampu jalan itu memang tak pernah lagi kelihatan batang hidungnya. Ia tak bisa lagi berjalan-jalan sejak ia ditemukan anak lelakinya tengah tertengkurap di bawah pohon jengkol tanpa sebab.

Kisah kematian kau mungkin begitu cepat terlupakan. Setahun saja orang-orang meratapi kepergianmu. Sedangkan iblis Jabal Rokok menyesali karena dia kehilangan santapannya. Umpama mampu, ia ingin menggigit sekali saja batang lehermu dan menghidupkanmu kembali. Sayangnya, kau membusuk di lubang itu sebelum akhirnya jasadmu benar-benar ditemukan. Kautahu? Jabal Rokok kehilangan kekuatan akibat kepergianmu hari itu. Kau turut membawa kekuatannya, membuat ia tak lebih daripada makhluk tak berguna.

Malam itu, aku yang bertandang bersama Emak menyaksikan sendiri bagaimana Wak Kholil mengalami sakaratul maut. Ia tersengal-sengal seakan-akan lehernya tercekik. Dalam napas-napas yang serak itu, samar-samar aku bisa mendengar ia menyebut nama Santi.

Ikuti tulisan menarik Eki Saputra lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan