Teman Kecilku, Sahabat Hidup - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Persahabatan dua orang semenjak balita

Regina Nikijuluw

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2021

Kamis, 18 November 2021 07:15 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Teman Kecilku, Sahabat Hidup

    Persahabatan dua orang yang sudah terjadi semenjak mereka balita. Walaupun pulau memisahkan, namun mereka tidak putus hubungan. Ketika COVID mendera, tragedi terjadi.

    Dibaca : 636 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dari jendela kamar, aku melihat matahari baru saja memunculkan wajahnya di sudut Timur. Awan masih memerah karena pagi belum sepenuhnya terkuak. Aku langsung meloncat dari tempat tidur dan menghabiskan segelas susu yang sudah disiapkan ibu sebelum dia berteriak. Ibu sangat paham dengan kebiasaan aku, setiap pagi, lari ke depan rumah dan memandang ujung gang rumahku. Sehingga ibu sampaikan aku harus meneguk susuku sebelum melakukan kebiasaan pagi yang selalu aku nantikan.

     Aku berdiri di teras rumahku dan dan memandang ujung gang Mawar di kota Metropolitan. Aku menanti dengan tidak sabar kehadiran Gamar menampakkan badannya. Dia adalah penjual kue langgananku. Gamar berumur sepuluh tahun, satu tahun lebih muda dari aku. Dia tinggal bersama kakak lelakinya yang istrinya setiap pagi menyiapkan semua kue yang dijajakannya. Entah mengapa, dari pertama aku bertemunya, aku merasa dia sahabatku.

    Tak lama aku mendengar suaranya dari kejauhan, “Kue… Kue… Gemblong, ketan serundeng, mayangsari, donat. Mari bu-ibu beli untuk bekal anak sekolah.” Jam dinding di ruang keluarga menunjukkan pukul 06:20 pagi. Saat yang sama setiap Hari Senin sampai Sabtu, Gamar memunculkan badannya di ujung gang. Aku melihat dia berjalan dan di kepalanya tampak dua tumpuk baki yang berisi kue jualannya.

    Aku melonjak kegirangan dan memanggil ibu dengan tidak sabar, “Bu, Gamar sudah di ujung gang. Uangnya mana? Mbak Suti ayo ke depan?” Bagi aku membeli jajanan Gamar adalah keharusan.

    “Hai Helnia selamat pagi,” dengan ceria, Gamar menyapaku yang sudah berdiri di depan pagar. Seperti biasa, Gamar memasuki rumahku dan memberikan jajanannya kepada Mbak Suti, asisten rumah tangga, untuk mengambil kue yang menjadi pesanan kami setiap hari.

    Dua minggu setelah Gamar melawati rumahku untuk menjajakan kuenya, dia selalu memilih tempatku menjadi persinggahan terakhirnya. Itu yang membuat aku senang karena dia akan meluangkan waktu bermain denganku. Kebetulan Gamar dan aku tidak sekolah pagi, jadwal kami sekolah siang. Sehingga, selain kue, aku menantikan waktu bercengkrama dengannya.

    Gamar selalu mengajak keponakan kecilnya, tiga tahun, Sando, anak dari abangnya. Sando akan bermain dengan adikku, Radiena, yang berumur satu tahun lebih tua. Sementara aku asyik dengan Gamar. Kami mempercakapkan kegiatan di sekolah kami masing-masing, kelakuan teman di sekolah, dan hal lainnya tanpa henti. Gamar sangat ceriwis dan banyak cerita. Tidak jarang kami menutup pertemuan dengan menonton film kartun yang ayah sewa dari tetangga depan rumah. Gamar menyukai cerita bertema princes seperti Snow White dan Cinderella. Sementara aku mencintai cerita pahlawan, seperti Kungfu China dan jagoan Jepang. Perbedaan yang aneh tetapi tidak menghalangi kami untuk menikmati waktu menonton bersama.

    Namun pagi itu menjelang liburan sekolah tahun ajaran 1979, Gamar berlaku aneh. Lengkingan dari ujung gang tidak sekeras biasanya dan tawanya yang ceria saat di depan rumahku menghilang. Ternyata dia membawa berita, “Helnia, bulan depan aku pindah ke Sumatera, abang aku dipindahtugaskan.”

    ***

    Dua belas tahun berlalu, persahabatanku dengan Gamar tidak terputus dengan jarak. Walaupun tidak selalu kami lakukan tetapi surat menyurat terjadi. Kami mengirim kartu ucapan hari raya dan ulang tahun secara rutin. Seiring dengan majunya tekhnologi, kami sesekali berkomunikasi melalui pesawat telpon.

    Gamar mengikuti abangnya yang pindah tugas beberapa kali dan berakhir di Surabaya. Dia kuliah di fakultas hukum, Universitas Surabaya. Gamar memang suka bicara dan pandai berdebat. Mungkin itu yang membawanya ke fakultas itu. Sementara aku menikmati kuliah arsitek.

    Satu sore, saat aku tidak kuliah, aku mendengar dering telpon di lantai bawah. Segera aku berlari turun dan mengangatnya.

    “Hallo Helnia, apa kabar?” suara Gamar terdengar menyapaku.

    “Wah, baik-baik. Gimana kamu di Surabaya?” aku menyambutnya dengan senang. Waktu menelpon dengan Gamar tidak sering sehingga saat aku menerima telponnya hatiku selalu senang. Bercerita dengan Gamar sering membawa pada masa kecilku.

    Gamar terdiam beberapa saat, bukan Gamar yang aku kenal. Lalu dengan suara pelan seakan menekan kesesakan dadanya, dia meresponku, “Aku sedang ada masalah, Helnia.”

    “Eh ada masalah apa? Ayo cerita, aku tidak kuliah hari ini,” aku menjawab cepat dengan penasaran yang tinggi.

    “Aku akhirnya cerita mengenai kehidupanku ke Abang. Dia marah besar dan dia mengusir aku dari rumah.” Aku mendengar suaranya yang bergetar disertai dengan isak halus.

    “Kamu tinggal di mana sekarang? Ada nomor yang bisa aku kontak? Jangan khawatir Gamar! Aku akan bicara dengan ayah untuk membantu kamu menyelesaikan kuliah,” aku memberondongnya dengan pertanyaan dan pernyataan. Aku tidak mau Gamar down karena aku tahu dia sangat pintar.

    Dua tahun selanjutnya, ayah membiayai kuliah Gamar. Dia sangat giat dalam mengejar penyelesaian kuliahnya. Pada saat libur semester, dia selalu ke rumahku untuk berlibur. Gamar adalah orang yang sangat rajin dan bersih. Sehingga keberadaan dia selalu menyenangkan. Rumah kami dan seisi di dalamnya menjadi mengkilat. Lantai rumah sampai kolong lemari dan tempat tidur tidak menunjukkan debu. Maklum, Mbak Suti sudah mulai berumur dan tenaganya tidak sekuat dulu lagi.

    Setahun setelah Gamar menyelesaikan kuliahnya, aku sudah menikah dan memiliki satu anak laki-laki, dia kembali meminta bantuanku untuk mencarikan tempat mempraktekkan hukum.

    “Helnia, kalau ada tempat untuk aku magang, tolong info ya. Aku mau lanjut kuliah pengacara tetapi harus magang dua tahun di kantor hukum,” Gamar menjelaskan maksudnya kepadaku.

    Tentunya dengan bantuan ayah dan koneksi yang dia miliki bukanlah hal yang menyulitkan untuk mendapatkan tempat yang dia inginkan. Di kantor pengacara itu, Gamar sangat disukai oleh pimpinannya. Kecerdasan, ketangkasan, kerajinan dan kecepatannya dalam menangani kasus sangat membantu. Itu membawa Gamar menjadi karyawan tetap di kantor pengacara.

    Persisten dan konsisten sudah menjadi tabiat Gamar. Setelah bekerja selama dua tahun, dia melanjutkan kuliah untuk menjadi pengacara di universitas negeri, kitaran Depok. Sementara aku asyik dengan keluargaku dan bisnis pribadi yang aku miliki. Gamar tinggal di rumahku, bersama suami dan anak-anakku, yang sekarang sudah dua orang.

    Kecintaan Gamar pada anak kecil sangat membantu aku. Kala senggang, dia sering membawa mereka berenang di pemandian dalam kompleks. Aku bisa menikmati saat istirahat bersama suami dengan tenang. Gamar memang serba bisa.

    Kadang aku berpikir, “Koq ada ya orang yang mempunyai sifat, tabiat, perangai seperti dia.” Aku sangat bangga dengan Gamar. Dengan segala permasalahan dalam kehidupannya, dia tidak pernah mundur. Kemauannya sangat gigih untuk mencapai apa yang dia mau.

    Kedekatan Gamar dengan keluargaku membuatnya menjadi bagian dari keluarga besar ayah dan ibu. Saat kami mengadakan acara keluarga, arisan, kumpul di puncak, dan acara lainnya, Gamar hadir. Di setiap acara, Dia selalu bernyanyi kalau ada alat karaoke. Suaranya melengking tinggi sehingga mengajak semua berkumpul di sekitarnya dan karaoke bersama.

    Sesuai perkiraan aku, Gamar berhasil membuka kantor pengacara. Aku ingat saat Gamar mengundang kami untuk acara opening kantornya. Dia menyampaikan saat kami makan malam bersama di rumah ayah, “Pak,” Gamar membuka suaranya membuat kami semua mengangkat kepala dan memandangnya, “Aku ingin mengundang Bapak, Ibu dan keluarga semua untuk datang di pembukaan kantor pengacara aku.”

    Kantornya yang adalah tempat tinggal Gamar juga. “Hebat,” suara dalam hatiku. Seorang anak yang dulunya penjaja kue sarapan pagi, sekarang membuka usaha sendiri dan menafkahi orang.

    Tidak hanya itu, Gamar terkenal sebagai pengacara yang menolong kaum tertindas. Tidak jarang aku melihat berita mengenai dia yang menolong buruh kecil pabrik di Bekasi, atau kasus yang menimpa kaum sejenis dan transgender karena kehidupan sosial di sekitarnya. Gamar memberikan banyak bantuan pro-bono pada kliennya yang finansialnya bermasalah. Dia juga pernah membantu suamiku saat kami menagih kembali uang cicilan rumah karena pengembang tidak menepati janjinya.

    ***

    Pertengahan Mei 2021, saat pandemi COVID melanda, keluarga besar ayah memutuskan untuk meniadakan acara silaturahmi yang biasanya di adakan di rumahnya. Ayah menyampaikan kebersamaan dilakukan siang hari secara virtual melalui aplikasi Zoom. Aku bertanggung jawab untuk menyiapkan tautan dan mengirimkannya pada WhatApps Group keluarga. Gamar adalah salah satu anggota group.

    Pada saat acara berlangsung, aku tidak melihat kehadiran Gamar. Aku meraih telpon genggamku dan menelponnya, “Hallo Gamar?” sapaku ketika aku mendengar suaranya. “Kamu dimana?” lanjutku.

    “Aku sakiiit Helnia,” suara Gamar tersengal-sengal, nafasnya memburu.

    “Sudah ke dokter? Pasti belum. Ayo telpon Pak Dal dan minta dia mengantar ke dokter,” aku menasehati Gamar untuk mengontak Pak Dal, supirnya.

    “Ah iniiih biasaaa… paling batuk saja… sebentaaar juga sembuh,” sahutnya. Sejujurnya aku agak khawatir dengan kondisi Gamar tetapi kesibukan membantu ayah dan ibu mengoperasikan Zoom membuat aku menyelesaikan pembicaraan kami.

    “Istirahat ya Gamar. Jangan paksa diri dulu. Besok aku telpon lagi,” aku mengakhiri pembicaraan. Kembali aku tenggelam pada acara silaturahmi keluarga yang riuh rendah karena semua saling menyapa dan mengucapkan selamat hari raya.

    Tengah malam, aku mendengar dering telpon genggam di samping tempat tidur. Ternyata itu adalah Pak Dal yang menyampaikan bahwa Gamar masuk rumah sakit di Pasar Minggu. Dadaku berdebar kencang, aku teringat kembali suara lirihnya, sengal nafasnya, COVID mendera langsung muncul di kelapaku.

    Aku langsung berdiri dan mengontak nomor rumah sakit yang diberikan oleh Pak Dal. “Pak Gamar positif COVID, Bu,” suster menyampaikan. “Kami akan kabari Ibu kalau ada hal yang perlu. Nomor Ibu sudah kami catat,” lanjutnya.

    Kepanikan melanda dalam diriku, ketakutan mengencang karena aku tahu Gamar belum divaksin. Seluruh badanku gemetar sehingga suamiku memelukku untuk menenangkan aku.

    Pukul 02:21, belum dua jam aku mengontak rumah sakit, aku mendengar dering dan di layar terbaca “Rumah Sakit Pasar Minggu”. Aku, menggenggam tangan suamiku, gemetar, menjawab panggilan, “Iya hallo?”

    “Mohon maaf Bu…,” telepon terlepas dari genggamanku. Aku menjerit, berteriak, “Tidaaak!”

    ***

    Ikuti tulisan menarik Regina Nikijuluw lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.