x

Iklan

Astria Sastra Dewi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 November 2021

Kamis, 18 November 2021 07:26 WIB

Di Bawah Cakrawala

Di bawah cakrawala, dua manusia dengan gender yang sama terpaksa bersisian dalam duka.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Menurutmu kenapa bintang berkedip?”

“Kau ingin jawaban ilmiah atau jawaban puitis?”

Si pemberi pertanyaan tak membalas. Dia sedikit mendengus sebelum mendekatkan telunjuk dan jari tengah tangan kanannya yang mengapit batang berasap ke mulut. Lalu udara segar yang sarat akan aroma garam dan amis itu ternoda oleh nikotin dan kawan-kawannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Aku bosan dengan hal ilmiah. Beri aku jawaban memuaskan sebelum aku mati.”

“Setiap bintang adalah jiwa. Jiwa dari mereka yang pernah menghuni dunia. Mereka berkedip untuk mengingatkan para pendosa bahwa akan ada hari di mana mereka mati.”

Kemudian kembali sunyi. Hanya ada desiran air dan angin malam dingin yang menusuk. Dua manusia dengan gender sama itu terbaring telentang di atas permukaan keras menghadap cakrawala.

“Menurutmu apa mungkin jika dunia diciptakan lima menit yang lalu? Jadi semua ingatan dan kenangan dalam kepalamu itu hanya dibuat sebagai pemanis awal dunia.”

“Mungkin.”

“Kau pikir neraka benar-benar ada? Tak ada fakta ilmiah tentang itu.”

“Tapi manusia yang akan mati adalah fakta. Sayangnya tak ada yang akan kembali dari kematian untuk bercerita. Jadi dari pada pusing akan sebuah pembuktian kenapa kau tidak hidup bahagia dan banyak berbuat baik untuk investasi, kalau-kalau hal tak ilmiah itu benar-benar ada.”

“Hidupku lumayan bahagia, sepertinya.”

“Senang mendengarnya.”

“Aku juga suka berbuat baik, kadang-kadang.”

“Bagus kalau begitu.”

Dingin malam semakin menusuk, jari-jari tangan si pemberi pertanyaan mulai kebas dan kehilangan semangat untuk mengapit batang berasapnya. Jakunnya terasa gatal lalu dia terbatuk beberapa kali.

“Kau memuja hal-hal ilmiah tapi dengan santai menghisap benda itu sampai tanganmu kebas. Setidaknya biarkan paru-parumu bersih sebelum mati.”

“Aku melakukannya agar tetap waras.”

“Apa gunanya waras jika kau mati?”

“Apa gunanya hidup jika kau gila?”

Lalu yang satu berdecih sambil berpikir betapa sialnya dia harus terjebak dengan manusia puitis dan sok suci, sementara yang satu lagi memalingkan muka sambil menyesali nasib harus menghabiskan waktu bersama manusia berpenyakit mental yang sok ilmiah. Tak ada yang bisa mereka lakukan tentang itu. Mereka ada di tengah samudera, di lautan yang entah apa namanya, terombang-ambing oleh aliran gelombang di atas sebuah pecahan dinding kapal yang menghanyutkan mereka entah ke mana.

“Ah ... seharusnya aku tak menaiki kapal itu.”

Salah seorang di antara mereka bangkit, mencoba melihat sekeliling, ada sampah makanan ringan di kakinya. Dia mengambil dan mengusap-usap isinya dengan telunjuk.

“Sudah tak tersisa apa pun, kawan, kau sudah menjilati cangkang keripik singkong itu siang tadi.” Lalu yang satunya ikut bangkit, menghela napas sebelum lanjut berkata, “Setidaknya berterima kasihlah padaku karena aku membawa satu kantong camilan. Lihat dirimu, kau hanya membawa sebungkus rokok dan korek api.”

“Manusia macam apa yang ribut membawa camilan saat kapal yang dia naiki meledak!?”

“Lalu siapa yang nyawanya bertahan 4 hari berkat camilan itu!?”

Lalu hening, lagi.

Segala bentuk perasaan tak nyaman rasanya bertumpuk jadi satu. Dalam pikiran dua manusia itu mereka merindukan makanan hangat yang enak, air hangat untuk berendam, serta kasur dan selimut hangat untuk tidur. Akhirnya, ia yang merasa punya pikiran paling ilmiah pun mengusulkan ide. Dia tak masalah untuk mati tapi tak ingin mati dengan rasa sakit dan kesusahan yang rumit.

“Dengar, Tuan Puitis, aku tak yakin akan masih waras besok pagi jadi dengar baik-baik,” ada jeda sebelum dia melanjutkan, “besok pagi, sebelum aku membuka mata, bunuh aku dengan ini.”

Dia menyodorkan korek api yang sudah tak bisa menyala.

“Membunuh? Dengan ujung korek api?”

Si ilmiah menghela napas kesal, lalu menyodorkan korek api itu ke depan mata si puitis. Dia memencet sebuah tombol kecil di samping korek dan muncullah ujung runcing tajam berwarna perak. Si puitis pun mau tak mau tercengang.

“Kau punya benda itu? Selama ini?”

“Hei, dengar!”

“Demi Tuhan kemarin kita menguliti ikan yang terdampar ke sini dengan gigi dan kuku!”

“Dengar!!”

Dua manusia itu sama-sama menatap diam walau penuh kesal.

“Aku merahasiakannya karena takut kau orang jahat! Syukurlah ternyata kau hanya orang bodoh.”

Si puitis ternganga. Ia makin kesal dan bahkan tak sanggup berkata-kata. Ia pun berbalik, tidur memunggungi si brengsek yang membuatnya kesal beberapa hari ini. Si ilmiah tak bicara lagi, dia melipat kembali pisau itu dan meletakannya di antara mereka, sebelum akhirnya ia pun tidur membelakangi manusia satu-satunya di sana. Mereka terus begitu sampai pagi, lalu malam lagi, lalu pagi lagi. Sampai di suatu siang yang terik, sampai keduanya sudah merasa ingin mati saja, si puitis bicara.

“Hei, kau masih hidup?”

“Hm.”

“Minta maaf padaku soal waktu itu.”

“Soal apa?”

“Kau yang menyebutku bodoh.”

“Kenapa aku harus?”

“Aku tidak ingin mati sambil membawa kebencian.”

Terdengar cekikikan, lalu disusul suara, “Kau memang bodoh. Kau menolong seseorang yang asing ke tempatmu, membagi makananmu, dan tanpa curiga sedikit pun.”

“Apa yang salah dengan itu.”

“Itulah sebabnya kau itu bodoh.”

Dia serius saat menyebutnya bodoh. Baginya si puitis itu terlalu naif. Namun apa yang tidak dia katakan adalah, bahwa dirinya lebih bodoh. Di tengah tempat antah berantah ini, dia bahkan tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Jika tak di tolong si puitis itu mungkin dia sudah mati. Belum lagi harga dirinya yang terus merasa terusik saat dia selalu diberi makanan oleh si puitis. Untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar tak berguna.

“Hei,” si ilmiah kembali membuka suara, “siapa namamu?”

“Candra ... kalau kau?”

“Aditya.”

“Senang bertemu denganmu, Aditya.”

“Hm ... aku juga.”

Mereka kembali diam dan menutup mata, untuk seterusnya. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

 

 

Ikuti tulisan menarik Astria Sastra Dewi lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu