Cinta Sekuat Maut - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Melki Deni

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 November 2021

Minggu, 21 November 2021 08:12 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Cinta Sekuat Maut

    Cerpen ini berisi tentang biarawati muda yang menjadi korban kekerasan seksual di sebuah panti asuhan. Biarawati muda berusaha menghindar dari kekerasan itu, namun karyawan tua itu malah selalu mengejarnya.

    Dibaca : 3.285 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    CINTA SEKUAT MAUT

    Cerpen Melki Deni

    Pernahkah kau mendengar kisah tentang biarawati muda dan karyawan tua yang filofobia? Perkenankan aku menceritakan kisah itu: biarawati muda tertunduk pilu sehabis peluh keletihan dan merenungkan arah panggilan hidup di kamarnya, ia akan segera dikeroyok habis-habisan oleh kesepian biara dari kebisingan dunia dan akhirnya tenggelam dalam dasar yang jauh. Sementara di kamar sebelah karyawan tua bingung mengapa tidak bisa jatuh cinta!

    Orang bilang, aku cantik, cerdas, dan berbakat menari, tapi introver, dan kurang empati. Hellena namaku. Aku kalem, tenang, itulah sebabnya aku menarik simpatik siapa saja. Aku lebih suka mendengarkan dan sedikit berbicara hal-ihwal saja. Suaraku berwibawa dan memuat banyak makna, bila berbicara. Sikapku yang polos mengundang decak kagum. Aku juga pandai berjenaka. Bagiku, tidak apa-apa diriku menjadi bahan tertawaan siapa pun, setidaknya dengan demikian aku dapat menyembuhkan penderitaan mereka, dan akhirnya persoalan hidupnya selesai.

    ***

    Sejak Juni tahun lalu, aku ditugaskan di panti asuhan dekat pantai ini. Sebetulnya aku tidak bisa melayani anak-anak berkebutuhan khusus, tapi pilihan hidup membuat aku harus berani keluar dari zona kemapaman diri. Aku memberikan segala potensi dan bakat agar mereka pula dapat mengekspresikan bakat dan potensi mereka. Dari mereka, aku mendapat banyak nilai kehidupan; Mereka tidak pernah menyerah, meski dengan kekurangan yang banyak. Mereka tidak mengeluh. Tiada pernah mereka mengutarakan penderitaan hidup. Tuhan selalu berbicara di balik wajah mereka.

    Akut tak jenuh dan letih, kecuali bila aku diserbu oleh kesepian. Kesepian membuatku selalu mengurung diri di kamar. Pada saat tertentu aku ingin mengeluarkan dan membuangkannya ke dasar laut, namun itu tidak dapat menghentikan kesepian. Aku tak pernah tahu bila mana kesepian datang dan pergi. Namun yang pasti, ketika kesepian menyerang kesadaranku, aku benar-benar terkoyak-koyak, dan digiringnya ke fantasi. Kemudian aku berpikir bahwa semua teman kecil sudah menikah, mempunyai anak, dan hidup bahagia, tapi mengapa aku tidak menikah seperti mereka? Aku pun sadar bahwa aku sudah memilih hidup selibat dan betarak demi Kerajaan Tuhan.

    Karyawan tua itulah penyebabnya. Ia bisa menjadi tukang batu, tukang bangunan, sopir dan mengerjaan segala sesuatu di panti asuhan. Lelaki berambut pirang itu beruang. Titus namanya. Kedua orangtuanya sudah meninggal, sedangkan saudara-saudaranya sudah berkeluarga. Ada yang bilang, karyawan tua itu mengidap penyakit takut jatuh cinta. Ia tidak pernah jatuh cinta kepada wanita mana pun. Barangkali ia memiliki pengalaman trauma masa lalu. Barangkali ia banci. Jangan-jangan ia impoten. Atau bisa jadi …. Ya sudahlah. Tapi mengapa ia jatuh cinta padaku. Ia tahu aku masih berumur delapanbelas tahun, sedangkan ia sendiri sudah tiga puluh sembilan tahun. Tidakkah ia paham bahwa menjadi seorang biarawati tidak akan menikah seumur hidup, mempunyai anak dan seterusnya?

    Malam itu panti asuhan kesepian, kecuali bising mesin kapal para nelayan di sana dan bunyi knalpot kendaraan di depan panti asuhan. Suster-suster mengikuti pertemuan penting di suatu tempat jauh. Di panti asuhan aku, dua orang karyawati, anak-anak panti asuhan, dan karyawan tua itu duduk makan bersama. Karyawan tua itu selalu melemparkan pandangan yang aneh ke arahku, dan aku mulai berpikir aneh. Karena aku belum diizinkan pegang HP oleh pimpinan biara, maka aku memimjam Hp karyawan itu untuk menghubungi orangtua di kampung dan teman-teman lama. Tidak lama aku berbicara dengan orangtua, karena aku tidak tahu harus omong apa kecuali rasa hambar yang memelukku.

    Udara dingin musim kemarau membuat malam yang sepi mencengkeram hati, dan sepi merambat ke seluruh tubuhku. Kalau saja aku dapat terbang ke rumah dan menceritakan kesepian ini, maka kegalauan dan kegundahanku pasti akan berakhir. Di atas tempat tidur aku duduk, dan berdiam diri. Memandang kosong ke arah meja kerja. Tiba-tiba karyawan tua itu menerobos masuk kamarku. Aku tidak berpakaian biarawati, kecuali helai baju tidur yang tipis dan sedikit transparan. Kukira ia mau mengambil Hpnya. Ia mengunci pintu, menyimpan kunci di saku celananya, memadamkan lampu dan melancarkan aksi brutal. Dua jam kemudian aku tersadar. Tidak berpakaian. Rambut berantakan. Perut perih, kaku dan kepala pening. Ada rasa nyeri yang tak terperikan di antara kedua pahaku. Dia keluar dari kamar sambil memperbaiki ritsleting celananya, melangkah limbung tapi sempoyongan, lalu aku terkapar lemas. Aku tidak bisa menangis. Mau mati rasanya. Aku menyesal dengan kepengecutan saat itu.

    Aku memakai pakaian baru. Pakaian tadi kubungkus dan kubuang di dasar keranjang sampah. Lalu aku menulis kalimat ini pada diaryku, “Wanita adalah kertas kosong yang dengan bebas dituliskan tentang apa saja oleh laki-laki. Sementara itu laki-laki adalah pena yang tintanya begitu raib dalam kerangkeng libido. Ketika kertas kosong dipenuhi dengan paragraf tentang apa saja, dan coretan-coretan kotor oleh laki-laki, sesungguhnya bukan kertas kosonglah yang kalah, tapi pena yang huru-hara, pengecut dan tidak beres diri. Dengan demikian wanita kuat, laki-laki sangat lemah.” Aku masih gemetar menelan kegetiran. Selalu membayangkan ia membuka pintu, memasukkan kunci pintu ke dalam saku celananya, memadamkan lampu, dan membunuhku secara tragis. Ingatan akan kegetiran akan bangkit justru ketika ia diciptakan secara brutal, dan ketika tidak ada sesuatu yang baru datang menghancurkan kegetiran itu.

    Sungguh malang bagiku, ketika dua hari kemudian aku berbelanja sayur-mayur dan ikan di pasar Kota Baru. Aku harus pergi berdua dengan sopir tua itu. Hari masih pagi buta, udara dingin pun menghantam pipiku dari luar jendela. Titus menaikkan kaca jendela mobil. Aku coba menekan tombol, namun kaca jendela tidak juga naik. Sehabis belanja semuanya sesuai nota belanja, kami pulang melalui jalur lain. Jalan itu sepi, jarang kendaraan melintasi jalur itu pagi hari. Tapi mengapa Titus mengendarai mobil ke arah itu? Di tempat sepi ia mulai meminta yang aneh-aneh.

    Matahari mulai menyembul di balik awan lembayung. Aku mulai gerah kepanasan. Titus serentak mengerem mobil. Aku hampir menabrak kaca mobil depan. Sekali lagi ia melancarkan aksi brutalnya sampai aku tak berdaya sama sekali. Aku tidak bisa memberontak. Perlawanan wanita seperti diriku sama sekali tidak berguna, kecuali memancing aksi yang lebih keji. Titus mengancam membunuh aku, bila menceritakan kejadian tragis ini ke siapa saja. Aku tak berani menceritakannya ke siapa saja, bukan karena aku takut dengan ancaman lelaki tua itu, melainkan malu diri saja bila orang-orang tahu tentang diriku yang tidak suci lagi. Lagi pula, meskipun aku mengisahkan segala kegetiran ini kepada pimpinan, mereka tidak akan percaya karena tidak punya bukti. Bukan tidak mungkin juga akan didiamkan begitu saja, kemudian menghibur aku dengan kisah-kisah inspiratif, dan nasihat rohaniah seperti yang dialami oleh beberapa suster itu.

    Aku duduk di kamar dan membaca kembali kalimat ini, “Laki-laki menyerang Kesadarab Bahasa (melalui apresiasi dan pujian: kecantikan, keindahan, kebahagiaan, dan kesuksesan) wanita. Itulah sebabnya wanita begitu rentan terjebak tanpa tenaga di bawah Permainan Bahasa laki-laki.” Tapi Titus tidak pandai berkata-kata, kecuali kekuatan otot yang tidak terkalahkan itu. Ketika otak tidak berfungsi dengan baik, ototlah yang bantu menyalurkan agresivitas nafsu liar.

    Esok siangnya aku duduk di samping kolam, dekat pantai itu. Titus mendekatiku. Matanya menatap teduh, lalu tertunduk malu. Lalu ia mulai bercerita tentang trauma masa lalunya. Sesungguhnya apa yang dikisahkannya tidak menarik sama sekali, tapi aku coba menelan ludah dan menekan semua ingatan. Bukankah pura-pura mendengarkan jauh lebih baik daripada membuang muka kepada lawan bicara yang telah menoreh luka tak tersembuhkan? Suster tua memanggil namaku, dan aku pun segera pergi.

    Malam mulai hening, bising kendaraan tak terdengar lagi, kecuali suara binatang malam. Aku ingin menenangkan pikiranku di kolam. Kuulurkan kaki ke dalam air, dan ingatan mulai memecahkan keheningan. Jantung berdetak kencang. Ingin rasanya bunuh diri saja; sebab bukankah mati karena bunuh diri lebih mulia daripa menjadi budak seks bagi lelaki tua yang pernah mengidap penyakit filofobia itu?

    Aku mendengar entakan kaki dari belakangku. Ia langsung memelukku dari belakang, dan menutup mulutku. Aku terkapar tak berdaya. Anjing-anjing menggonggong dari dapur, kami pun lari pontang-panting dalam diam. Barangkali malaikat Tuhan mengutus anjing-anjing itu, meski sudah terlambat. Aku sudah benar-benar hancur. Ibadat, Misa dan kegiatan-kegiatan rohani dipandang sebagai rutinitas belaka. Tuhan tidak menyilih keburukan dan penderitaan dari hidupku. Sejak itu aku pun mengidap penyakit ermifobia, sebab tiap kali aku berada dalam kesepian, predator merampas diriku habis-habisan. Aku ingat sebuah kalimat, “Wanita mencengkeram ruang kesepian laki-laki. Itulah sebabnya laki-laki begitu mudah menyerah dan menghambakan diri tanpa perlawanan berarti di hadapan wanita.” Aku ingin secepatnya pergi dari sini.

    Aku teringat kata Paulo Coelho, “Mungkin cinta membuat kita semua tua sebelum waktunya—atau menjadi muda, jika masa muda telah lewat.” Itulah sebabnya aku menulis kisahku ini kepadamu; barangkali kau akan paham dan bantu menceritakan kisah ini ke dunia yang lebih luas. Apalah daya manusia seperti diriku, “karena cinta kuat seperti maut,” kata Kidung Agung, 8:6-7, “Air yang banyak tidak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tidak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnuya untuk cinta, namun ia akan pasti dihina.” Namun, apakah cinta sama dengan agresivitas nafsu liar? Agresivitas nafsu liar membuatku getir seluruh usia. Bagaimana mungkin aku ingin menjadi biarawati yang harus selibat dan bertarak demi Keajaan Allah, tapi dilecehkan secara membabi buta oleh lelaki yang katanya mengidap penyakit filofobia itu?

    Semua kisah perempuan nyaris sama.

    *Melki Deni, mahasiswa STFK Ledalero Maumere-Flores-NTT suka menulis karya-karya sastra dan filsafat. 

     

     



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Intan Heryani

    21 menit lalu

    Mentari dari Desa

    Dibaca : 15 kali