Sunset di Papua - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Inka Nur Alisya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 19 November 2021

Minggu, 21 November 2021 08:37 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Sunset di Papua

    Sejak kecil Laras bercita-cita menjadi guru, ia selalu berusaha keras agar bisa mencapainya. Berkat ketekunan dan doa-doanya laras pun berhasil diangkat menjadi guru. Namun ia tak menduga akan ditempatkan di Papua yang nun jauh dari kampung halamannya... Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiktif belaka, bukan menunjukukkan keadan aslinya. Harap bijak dalam membacanya.

    Dibaca : 1.112 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Di malam dengan hujan deras dan petir yang menggebu-gebu, Laras termenung di balkon rumahnya. Rupanya ia sedang menunggu kabar dari Banyu sang kekasih yang seminggu sudah tak menghubungi nya setelah mengetahui keputusan Laras untuk berangkat ke Papua.

     

    "Padahal besok aku berangkat," ucap Laras bermonolog dengan ekspresi murung.

     

    Tak lama sang ibu datang untuk memastikan bahwa Laras sudah tidur.

     

     "Tidur ras, besok 'kan berangkat!" perintah ibunya dari depan pintu kamar Laras.

     

    "Iya Bu," jawab Laras lesu kemudian masuk ke kamar.

     

    -

     

    Keesokan harinya Laras berpamitan pada keluarganya dengan berat hati, terlebih pada sang ibu dan adiknya Syifa yang sangat dekat dengannya.

     

    "Jangan lupa oleh-oleh!" pinta Syifa pada Laras.

     

    Laras pun mengacungkan jempolnya. "Siap!"

     

    "Dadah semuanya Assalamualaikum," salam Laras sambil melambaikan tangannya dan berjalan menuju ojek online yang sedari tadi sudah nangkring di pelataran rumahnya.

     

    "Waalaikumsalam," jawab keluarganya ramai-ramai.

     

    -

     

    "Dek," panggil salah seorang pria pada Laras yang baru saja tiba di salah satu Bandara di Jakarta.

     

    "Mas Banyu?"

     

    Laras kaget pada kehadiran sosok Banyu yang tiba-tiba muncul di hadapannya setelah menghilang seminggu lamanya.

     

    Banyu menunduk, "Maaf."

     

    "Tak apa, pasti sulit buat Mas memutuskan. LDR kan tidak gampang apalagi sejauh ini." ucap Laras, legowo.

     

    "Laras, Mas.." ucap Banyu ragu.

     

    "Sudah memutuskan untuk menunggumu, kirimi Mas kabar terus ya dek." Lanjutnya lebih tegas.

     

    "Perhatian, para penumpang pesawat Indonesiana Airlines dengan nomor penerbangan GA378 tujuan Papua dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A12."

     

    Belum sempat Laras mengungkapkan kebahagiaannya pada Banyu, namun pengumuman itu menginterupsi nya. Ia pun mengucapkan terima kasih, salam, dan selamat tinggal sembari berjalan mundur dan melambaikan tangannya.

     

    Sesampainya di landasan Laras menatap langit kota kelahirannya. Dalam hati ia mengucap salam perpisahan, 'Selamat tinggal Jakarta!'

     

    -

     

    Laras baru saja sampai di Papua tapi ia sudah rindu dengan keluarganya, meskipun begitu Laras mencoba menguatkan hatinya dan melangkah maju.

     

    "Assalamualaikum Papua!" salam Laras sambil tersenyum lebar.

     

    "Waalaikumsalam," jawab seorang pria yang baru turun dari pesawat.

     

    Laras melonjak laget dan memegangi dadanya guna merasakan detak jantungnya yang sedang marathon itu. Kemudian Laras pun menarik dan membuang nafasnya perlahan.

     

    "Mau apa ke Papua?" tanya si pria tiba-tiba.

     

    "Jajan papeda!" jawab Laras yang kesal pada sikap pria itu lalu mempercepat langkahnya.

     

    "Luar biasa, jauh-jauh dari Jakarta ke Papua hanya untuk jajan papeda!" ungkapnya dengan mata berbinar.

     

    Laras heran padanya, entah dia memang bodoh sungguhan atau pura-pura bodoh. Tapi terserahlah.

     

    Laras sampai di tepi jalan, menunggu jemputan yang akan tiba beberapa menit lagi jika datang sesuai janji. Ia hanya diam tanpa memedulikan pria aneh yang terus saja berbicara padanya.

     

    Beberapa menit kemudian jemputan pun datang, mengangkut laras seorang dan meninggalkan pria di sebelahnya.

     

    -

     

    "kita su* sampai di Ugimba kaka," ucap Frans, pria sebaya laras yang ditugaskan menjemputnya.

     

    *Su artinya sudah.

     

    Laras pun membuka pintu mobil dan keluar, tapi tak ada bangunan apa-apa disekelilingnya.

     

    "Maaf, tapi kontrakan nya dimana ya?" tanya Laras bingung.

     

    "Ko* pi* saja lurus dan ikuti jalanan besar kaka, mobil tra bisa kesana. Hanya sekilo lagi saja." terang Frans.

     

    *Ko artinya kamu

    *Pi artinya pergi

     

    Laras terkejut lagi untuk ketiga kalinya hari ini, padahal di mobil dia sudah membayangkan untuk duduk santai sembari melihat pemandangan menjelang petang.

     

    "Oh begitu, baiklah terima kasih." jawab Laras pura-pura santai dan melenggang pergi sembari menarik kopernya.

     

    -

     

    Hari sudah senja, Laras akhirnya sampai di tempat tujuan. Kakinya mati rasa dan telapak tangannya ungu membuat Laras semakin terlihat nelangsa. Tapi sesaat setelah melihat langit ia merasa jauh lebih baik, sungguh seindah itu sunset di Papua.

     

    "Bu Laras ya?" tanya seorang wanita yang tak terlihat seperti orang Papua.

     

    "Iya saya, ibu...?"

     

    "Saya Imah, yang akan membantu Bu Laras selama disini.."

     

    "Ah Bu Imah, mohon bantuannya ya bu."

     

    "Iya Bu, saya jamin Bu Laras akan betah disini 'mah!"

     

    Bu Imah menjelaskan segala tata cara hidup di Ugimba pada Laras di perjalanan mereka ke kontrakan.

     

    Aksen 'mah', 'teh' dan terdengar samar huruf h disetiap akhir kalimat membuat Laras yakin Bu Imah adalah orang sunda. 

     

    Untuk memastikan, Laras pun bertanya, "Maaf Bu, Ibu orang sunda ya?"

     

    "Iya Bu, kelihatan sekali ya? Padahal sudah 10 tahun disini tapi aksen saya masih belum hilang."

     

    "Jangan sampai hilang," ucap Laras sembari tersenyum.

     

    -

     

    Tak ada listrik, tak ada jaringan, tak ada keran dan banyak lagi tak ada lainnya. Untuk menghubungi keluarga dan kekasihnya saja Laras musti ke distrik sebelah. Karena itu ia sepakat dengan dirinya sendiri untuk mengabari cukup seminggu sekali.

     

    Paginya Laras menimba air dengan susah payah hingga peluh membasahi seluruh tubuhnya.

     

    'Sudah basah begini apa aku tak usah mandi?'

     

    Setelah semua selesai ia pun bergegas ke kantor kepala distrik untuk melapor kedatangannya dan serah terima tugas.

     

    Ia ditempatkan di SD dengan hanya dua orang tenaga pengajar. Iya, hanya dua.

     

    -

     

    Keesokan harinya ia pergi ke sekolah menggunakan sepeda yang di sewa nya, namun betapa sialnya Laras.

     

    "Ha?" Laras tersentak melihat tali yang memanjang ke seberang, lebih mirip halang rintang ketimbang jembatan.

     

    Alhasil ia pun kembali ke kontrakan untuk menyimpan sepedanya dan pergi lagi kesana. Sambil memukul dada nya ia menguatkan diri dan mencoba berpikir positif.

     

    Laras tersenyum paksa, "Itung-itung olahraga!"

     

    Kemudian ia pun menyebrangi sungai sembari terus beristighfar diikuti seorang pria di belakangnya.

     

    "Bagus kan jembatan ini," ujar si pria. Dia adalah pria yang sama yang ditemui Laras di Bandara.

     

    "Kalau orang yang jarang ingat tuhan menyebrangi jembatan ini jadi suka tiba-tiba ingat, haha." lanjutnya.

     

    Laras tidak menggubrisnya, ia hanya fokus menyebrang saja.

     

    -

     

    Setelah sampai di sekolah Laras terkejut karena pria aneh yang ternyata bernama Bima itu adalah guru seperti dirinya, namun ia sudah jauh lebih lama disini ketimbang Laras.

     

    Laras mengajar di tiga kelas dan masing-masing dua jam perkelas nya, ia merasa kesulitan karena ini jauh berbeda dengan waktu ia masih menjadi guru magang. Waktu itu ia hanya mengajar dengan pelajaran normal di keadaan normal dan fasilitias normal, namun kini semuanya serba pas-pasan dan kekurangan.

     

    Laras tetap mengajar dengan antusias, namun murid-muridnya kebanyakan hanya bengong dan meminta ingin di ajari Bima.

     

    "Pak Bima di kelas lain, kalian sama Ibu saja ya?" bujuk Laras.

     

    "Kami tra suka Bu guru, pakai kain dikepala seperti Valak." ucap seorang anak yang bernama Hans.

     

    Laras agak tersinggung namun ia mencoba memakluminya dan tetap tersenyum.

     

    "Wah kalian tahu Valak?" tanya Laras mencoba mencairkan suasana.

     

    "Tahu, Pak Bima su kasih kami tonton film Nunun tahun lalu."

     

    'Anak kecil malah di ajak nonton horor, bagaimana kalau mereka takut dan trauma?' pikir Laras.

     

    Ia pun melanjutkan kelas sembari terus mencoba mengakrabkan diri, namun sayangnya gagal total.

     

    -

     

    "Bagaimana hari pertama mengajar?" tanya Bima pada Laras.

     

    "Lancar, meskipun susah akrab. Mungkin karena masih asing ya, saya yakin beberapa hari lagi akan semakin dekat dengan anak-anak."

     

    (Seminggu kemudian)

     

    Laras tak mampu mempersempit jarak diantara ia dan muridnya, malah sepertinya semakin jauh saja.

     

    Karena Bima sangat dekat dengan semua murid, Laras pun memutuskan untuk meminta bantuannya.

     

    "Bagaimana caramu bisa dekat dengan anak-anak?" tanya Laras pada Bima.

     

    "Tulus."

     

    Laras tersinggung. "Kamu pikir aku tidak tulus?"

     

    "Kamu terlalu memaksakan ingin akrab dan melakukan segala cara yang kamu bisa, anak-anak pun terbebani karenanya.." terang Bima.

     

    "Kalau kamu tulus seharusnya ajari saja mereka, hujani dengan cinta, dan tanpa membebankan keinginan apa-apa. Biarkan semuanya mengalir."

     

    Laras tertegun dengan jawaban Bima, ia tak merasakan kesalahan dari kata-katanya. Itu benar, Laras mengakuinya.

     

    -

     

    Setelah kejadian itu Laras sering diceritakan bagaimana awalnya Bima dan anak-anak bisa akrab, dengan menjadikan hal itu sebagai referensi Laras melakukan banyak hal untuk anak-anak, namun kali ini ia tak mengharapkan apa-apa selain bisa membuat mereka cerdas dan bahagia.

     

    Sepulang sekolah Laras pergi ke distrik sebelah untuk menghubungi keluarga dan kekasihnya.

     

    "Assalamualaikum mas,"

     

    "Waalaikumsalam,"

     

    "Mas apa kabar?"

     

    "Baik, alhamdulillah. kamu gimana Dek?"

     

    "Alhamdulillah baik juga Mas,"

     

    "Maaf ya Dek sepertinya Mas tidak bisa lama-lama, ada yang harus di antar."

     

    "Oh kalau begitu yasudah Mas antar saja, minggu depan aku hubungi lagi."

     

    "Iya, Assalamualaikum."

     

    "Waalaikumsalam,"

     

    Laras sebenarnya agak kecewa, jarak dari distrik Ugimba kesini tidaklah dekat dan sangat penuh rintangan tapi ia hanya bisa mengobrol sebentar saja.

     

    -

     

    Laras semakin dekat saja dengan anak-anak, kini ia sedang menonton film bersama semua murid dan juga Bima. Mereka menonton film yang selalu ia tonton saat hari raya yakni Home Alone dan juga Garfield.

     

    "Katanya kamu pernah nonton The Nun sama anak-anak? Kamu emang gak takut mereka ketakutan atau trauma? Aku saja takut sama Valak" tanya Laras.

     

    "Tidak, mereka saja bilang babi hutan lebih seram. Ayah mereka yang sedang mengamuk apalagi.."

     

    Laras tertawa, anak-anak disini memang berbeda. Mereka lebih dewasa dan berani daripada anak seusia mereka pada umumnya.

     

    -

     

    "Anak-anak besok kita akan belajar di alam! Yeay!!!" ujar Laras semangat sekali.

     

    Namun reaksi mereka tak sesuai dugaannya, mereka biasa saja.

     

    "Kita tramau, kita su biasa hidup di alam." ucap Ferdian.

     

    Laras memang melupakan fakta itu, tetapi ia tetap tidak menyerah.

     

    "Kali ini berbeda, akan ada banyak makanan dan permainan yang tidak pernah kalian temukan!"

     

    Anak-anak pun menjadi penasaran dan tertarik untuk ikut.

     

    -

     

    Bima dan Laras sedang sibuk menyiapkan semuanya untuk besok, tanah lapang di sulap mereka jadi arena permainan.

     

    "Agak miring, lebih ke kanan sedikit!"

     

    "Bukan segitu, kelebihan!"

     

    Mereka sangat-sangat sibuk.

     

    Esoknya sepulang belajar biasa di sekolah, Laras, Bima dan seluruh murid pergi ke lapangan yang sudah disiapkan. mereka semua terlihat menyukainya, terutama permainan Jajangkungan yang dibuat Bima lusa.

     

    Tak terasa sudah petang saja, anak-anak yang enggan pulang pun menikmati sunset sembari tiduran di rumput bersama Laras dan Bima, sorot wajah Laras terlihat sangat bahagia.

     

    Setelah Laras mengantarkan anak-anak sampai ke rumah dengan selamat ia pun ke distrik sebelah seperti biasa. Ia mengisi daya ponselnya kemudian menelpon keluarga yang jauh disana.

     

    "Assalamualaikum,"

     

    "Waalaikumsalam Ras, kamu tidak apa-apa?"

     

    "Tidak bu, Laras baik-baik saja."

     

    "Syukurlah, yang sabar ya Ras, masih banyak pria yang lebih baik."

     

    Laras tertegun, ia merasa apa yang dibicarakannya dengan ibunya berbeda. apa maksudnya? Laras pun memilih diam.

     

    "Tadi adiknya Banyu ada kesini kasih undangan,"

     

    "Si Eca mau menikah bu?"

     

    "Apa maksud kamu? Kan Banyu yang mau menikah memangnya kamu belum diberi tahu?"

     

    Deg.

     

    Jantung laras serasa mau copot, rasanya sesak dan perih secara bersamaan. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung, di seka berkali-kali pun tambah deras saja. Ia menangis tanpa bersuara.

     

    -

     

    Awalnya berat bagi Laras untuk menerima kenyataan soal hubungannya, namun ia tetap berusaha fokus mengajar anak-anak hingga tak terasa bulan terakhir pun tiba, ia sudah lupa akan rasa sakitnya ditinggal menikah dan sudah benar-benar beradaptasi di Papua.

     

    Yang membuat ia sedih malah karena sebentar lagi harus pergi dan kemungkinan ia tak akan pernah kembali kesini.

     

    "Bu!" Hans, murid Laras menyadarkannya dari lamunan.

     

    "Eh iya?"

     

    "Kenapa melamun saja, tra biasanya." ucap Amos, muridnya juga, yang terlihat khawatir.

     

    Kekhawatiran diwajahnya membuat laras sedih dan juga senang. Karena itu akhirnya ia pun tak bisa menahan lagi air matanya.

     

    "Huu..Huu.. Ibu sayang kalian.." ungkap Laras sembari sesenggukan. 

     

    Anak-anak yang melihat Laras pun jadi ikut menangis dan memeluk Laras, hari itu tangisan mereka menggema di Ugimba.

     

    -

     

    Laras sedang membereskan barang-barangnya dan bersiap pulang, matanya sembab setelah menangis semalaman. Ia bahkan pergi tanpa berpamitan pada anak-anak karena takut semakin sedih.

     

    Namun ternyata mereka sudah berkumpul didepan kontrakan Laras dan membawa bagau kertas ditangan mereka. Laras pun kembali menangis sejadi-jadinya dan berpamitan. Berat sekali langkahnya untuk pulang, padahal ini yang sudah lama ia tunggu-tunggu.

     

    ***

     

    Kini Laras dikamar nya, ia sedang memandangi bangau kertas yang anak-anak buat sambil berkaca-kaca.

    "Eh?" Laras baru sadar kalau didalam lipatannya ada semua doa anak-anak muridnya. Ia pun membacanya satu persatu.

     

    "Semoga Bu Laras sehat terus!"

     

    "Semoga Bu Laras tersenyum setiap hari!"

     

    "Semoga Bu Laras tidak menangis lagi!"

     

    "Bu Laras datang lagi ya!"

     

    Dan sebagainya. Terakhir ada bangau biru yang paling besar, dari Bima.

     

    "Sampai bertemu lagi Ras, tunggu aku." Laras tak mengerti maksudnya namun ia tetap senang membacanya.

     

    Ketika ada kesempatan ia janji akan kembali kesana menemui mereka..

     

     

    Terimakasih telah membaca karya saya, karena ini bukan cerpen yang telah ada di draft melainkan yang saya buat dadakan maka mohon dimaafkan jika masih ada banyak kesalahan. Kritik dan saran anda sekalian akan sangat saya nantikan. Selamat membaca..



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.