Meraup Cuan Berbisnis dengan Lalat - Humaniora - www.indonesiana.id
x

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Senin, 22 November 2021 19:49 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Meraup Cuan Berbisnis dengan Lalat

    Pagi tak pernah ingkar menerbitkan sang fajar, konsisten dan tepat waktu. Sinar matahari tak pernah pilih kasih dalam memberikan kehangatan. Saya berjalan ingin memembeli cemilan pagi. Biasa, gorengan dan nasi uduk menjadi rutinitas setiap pagi untuk disantap. Maklum, sedikit kesibukan membuat saya tak sempat untuk memasak kebutuhan sarapan. Tepat di sebelah saya, seorang berteriak “Hiii… Lalat” saat dirinya menemui seekor lalat menempel di bajunya.

    Dibaca : 66 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kata kata itulah yang seringkali kita dengar atau bahkan kita sendiri yang menjadi pelakunya saat berjumpa dengan mahluk yang satu ini. Yups, lalat sudah lama dicap sebagai binatang yang lebih banyak membawa mudharat ketimbang manfaat. Tak ayal, lalat menjadi musuh bersama. Ngomong-ngomong soal lalat, saya jadi teringat satu sosok yang cukup inspiratif.

    Anak milenial. Rendria Labde Namanya. Dia merupakan pendiri perusahaan agriteknologi yang berbasis di Parung, Kabupaten Bogor ini. Bersama dengan rekannya, Arunee Sarasetsiri pada 2017 lalu keduanya mendirikan perusahaan dengan nama PT Magalarva Sayana Indonesia. Berbeda dari orang kebanyakan, bagi Rendria, lalat adalah teman. Menarik nih, lanjut kita bahas.

    Generasi milenial di Indonesia kini cukup banyak yang memiliki prestasi membanggakan berkat inovasi-inovasi yang mereka ciptakan. Salah satu hal inovatif yang dilakukan generasi milenial adalah seperti yang dilakukan oleh Rendria Labde. Ia mendirikan perusahaan start up yang bergerak di bidang budidaya lalat.

    Perusahaan tersebut dikenal dengan nama Magalarva. Uniknya, dibalik kesan menjijikannya lalat bagi banyak orang, justru di tangan Labde beserta Magalarva, lalat mampu menjadi hewan yang sangat bermanfaat, khususnya dalam mengurangi limbah sampah organik. Sebelum mendirikan Magalarva, Labde sempat bekerja di sejumlah perusahaan seperti PT. JGC Indonesia sebagai Project Control Engineer. Selain itu, ia juga sempat menjajal bisnis properti dengan menjabat sebagai CEO di PT Magale Sayana Indonesia. Ia juga merupakan Co-Founder dari Kebun Kumara, pusat pendidikan yang bergerak di bidang perkebunan.

    Awalnya, tak pernah terlintas di benaknya bahwa kini ia menjadikan lalat dan sampah sebagai sumber penghasilan dan kesuksesannya. Di umur yang baru 28 tahun, Labde bahkan berhasil masuk ke dalam jajaran Forbes 30 Under 30 Asia tahun 2021 melalui sepak terjangnya di Magalarva. Keren banget bukan!. Berdasarkan riset yang ia lakukan, sampah organik merupakan sampah yang paling banyak dihasilkan. Selain itu, pemberdayaan sampah organik di Tanah Air saat itu masih menggunakan teknik yang terlalu umum.

    Maka dari itulah, Labde berhasil menemukan inovasi baru dengan menemukan spesies lalat bernama Black Soldier Fly (BSF). Lalat inilah yang dimanfaatkan pegiat lingkungan asal Depok ini untuk menghancurkan sampah organik dengan lebih efisien.

    Awalnya, sampah yang diinput oleh Magalarva hanya sekitar 60 kilogram. Kini, sampah yang diinput oleh Magalarva mampu mencapai 100 ton per bulannya dengan perkiraan 300 ton sampah. Adapun sumber sampah-sampah tersebut berasal dari tempat sampah terpusat seperti sampah hotel, restoran, dan lain-lain.

    Selama pandemi Covid-19, sampah restoran dan hotel semakin berkurang karena minimnya pengunjung, sehingga Labde terpikir untuk berinovasi pada sampah pabrik yang menghasilkan organic waste seperti pabrik susu. Kemudian, Magalarva juga terbuka untuk berkolaborasi dengan pihak swasta seperti perumahan.

    Sampah-sampah ini nantinya menjadi konsumsi bagi para lalat BSF tersebut. Nantinya saat berkembang biak dan menghasilkan larva, maka dapat dimanfaatkan untuk hal-hal menguntungkan lainnya, khususnya dengan dijual dan menjadi sumber penghasilan baru.

    Larva dari lalat-lalat tersebut ternyata banyak peminat karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak. Kandungan protein dari larva BSF cukup tinggi dan mampu setara dengan protein yang dimiliki tepung ikan. Belum lagi, kumpulan feses dari larva-larva tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

    Magalarva dalam sebulan mampu memproduksi hingga sekitar 4,5 ton larva BSF. Larva-larva tersebut bahkan sudah menjadi produk ekspor hingga menjangkau pasar Eropa dan Amerika Serikat. Harga yang dipatok Labde untuk produk larva tersebut adalah sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu per kilogram untuk pasar internasional. Sementara di Indonesia adalah sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 18 ribu perkilogram.

    Adapun dalam pemasarannya, Magalarva menggunakan situs sendiri, media sosial Instagram, serta e-commerce dengan menjualnya langsung ke pelanggan. Selain itu, mereka juga menggunakan jasa reseller untuk memperluas jangkauan penjualan.

    Selama menjalankan Magalarva, Labde bahkan berhasil memperoleh dana investasi sebesar USD 500 ribu atau sekitar Rp 7,1 miliar (kurs Rp 14.000). Selain itu, Magalarva juga menjadi bagian dalam program akselerator yang dicetuskan oleh konglomerat Indonesia Salim Group bersama Green Ventures Jepang.

    Gimana-gimana, masih jijik dengan lalat seletah tahu bahwa lalat juga menghasilkan dan bisa mendongkrak perekonomian. Tak hanya cuan  yang didapat, pengelolaan sampah organik dengan cara ini juga secara otomatis mengurangi volume sampah dengan sangat signifikan. Tertarik untuk buka usaha di bidang ini? Yuk mari…



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.