Kiprah Warga Pengawas Penyu di Sambas, Garda Terdepan Cegah Pencurian Sarang Telur - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Anggota pengawas penyu sedang melakukan pendataan di pantai Paloh, Sambas, Kalimantan Barat.

sangpemikir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 6 Oktober 2021

Rabu, 24 November 2021 06:52 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Kiprah Warga Pengawas Penyu di Sambas, Garda Terdepan Cegah Pencurian Sarang Telur

    KEHIDUPAN harmonis antara masyarakat dengan alam mulai terbangun di pantai di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kawasan pantai sepanjang 63 kilometer ini merupakan lokasi peneluran penyu yang sangat terkenal. Bukan hanya di tingkat nasional tapi juga di mata wisatawan dunia.

    Dibaca : 24 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Hotspot peneluran penyu berada di Desa Sebubus. Di sana masyarakat berangsur-angsur memahami arti penting melestarikan penyu. Pada masa-masa terdahulu, masyarakat mengambil telur penyu untuk dijual dan mengabaikan kelestarian hewan cantik ini. Tapi perlahan-lahan, situasi berubah. Kini masyarakat sendiri yang menjaga penyu agar terhindar dari kepunahan.

    Warga yang peduli dengan kelestarian penyu ini tergabung dalam Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas). Mereka adalah pahlawan yang berjasa besar dalam menjaga kelestarian penyu di Paloh.

    Di Paloh, ada dua  komunitas yang aktif dalam kegiatan pemantauan dan pengawasan penyu, yakni Pokmaswas Kambau Borneo dan  Wahana Bahari Paloh. Pokmaswas Kambau Borneo beranggotakan 21 orang yang berdiri 25 Mei 2011 dengan surat keputusan Kepala Desa Sebubus. Sedangkan Wahana Bahari Paloh yang berdiri

    25 Agustus 2016 memiliki anggota  25 orang. "Saat ini kedua kelompok tersebut aktif memantau dan mengawasi penyu di Pantai Peneluran Penyu Paloh," kata Hendro Susanto,  staf Yayasan WWF Indonesia, kepada penulis.

    Mereka melakukan berbagai kegiatan penting. Antara lain, mereka mendata pendaratan penyu, mencatat populasi penyu, serta mengamati daya tetas sarang. "Mereka juga melaksanakan rehabilitasi hutan di sepanjang pantai peneluran," ujar Hendro lagi.

    Karena masyarakat tidak lagi mengambil telur penyu, maka mereka memerlukan alternatif mata pencaharian lain. Komunitas ini kemudian mengembangkan wisata edukasi penyu Paloh, budidaya madu Kelulut, dan ternak kambing. Dengan adanya mata pencaharian baru ini, masyarakat tidak akan tergoda untuk mengambil telur penyu.

    Partisipasi masyarakat ini membawa dampak positif terhadap keberadaan empat jenis penyu di pantai Paloh. Empat jenis penyu ini adalah Penyu Hijau, Penyu Sisik, Penyu Lekang, dan Penyu Belimbing. Sebagai catatan, di pantai Paloh populasi Penyu Hijau mencapai 98 persen

    Dari  monitoring yang dilaksanakan secara kolaboratif antara Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, Yayasan WWF Indonesia, dan kelompok lokal Paloh, menunjukan usaha pelestarian yang dilaksanakan selama ini tidak sia-sia.

    Pada tahun 2009, telah terjadi kehilangan 2.553 sarang penyu yang diduga akibat pencurian. Angka ini setara dengan 99,07 persen sarang yang ada pada saat itu.

    Bandingkan dengan data pada 2020 yang hanya terjadi kehilangan 143 sarang. Dengan kata lain 93,97 persen sarang selamat dari pencurian dan perusakan.

    Angka perburuan telur penyu juga mengalami penurunan signifikan. Oktober 2021, angka perburuan mampu ditekan di bawah angka 10%. "Hal ini menggambarkan upaya konservasi yang dijalankan bekerja cukup baik memberikan dampak penurunan tekanan terhadap penyu Paloh,* kata Hendro.

     

    Dibina WWF

    Kelompok pengawas masyarakat ini mendapat bimbingan dari Yayasan WWF Indonesia. Namun kelompok pengawas masyarakat tersebut bukan didirikan oleh WWF.

    "Inisiatif ini muncul dari masyarakat lokal yang merasa perlu melakukan upaya perlindungan penyu agar ikon kampung mereka tetap terjaga kelestariannya. Diharapkan anak cucu mereka juga tetap dapat melihat penyu bertelur di Pantai Paloh," kata Hendro kembali.

    Usaha untuk mendorong masyarakat memelihara kelestarian penyu tidak mudah. Pertama yang dilakukan adalah memetakan kelompok masyarakat yang ada di sekitar sarang penyu. Dari hasil pemetaan, terdeteksi sekelompok warga  yang  aktif memburu dan memperdagangkan telur penyu.

    Untuk itu diperlukan solusi agar masyarakat berarti masyarakat harus tetap bisa mendapatkan penghasilan setelah tidak memperdagangkan telur penyu tersebut. Akhirnya lahir sebuah solusi “Champion-Champion”. Masyarakat  diminta tidak memperjualbelikan penyu,  di sisi lain masyarakat bisa tetap hidup dari aktivitas lain. Solusinya adalah dengan menghidupkan aneka wisata, serta aneka usaha lain seperti memelihara kambing dan menjual madu.

    Masyarakat yang mengawasi penyu ini bersedia bekerja sukarela demi masa depan mereka sendiri. WWF hanya memberi dukungan operasional, bukan gaji atau honor.

     

    Dukungan Pemerintah

    Dukungan pemerintah pusat sampai daerah hingga saat ini sudah lebih baik. Antara lain dengan mengadakan tujuh kali Festival Pesisir Paloh 2012-2018. Acara ini  merupakan ajang kampanye penyadartahuan secara massif, melibatkan setidaknya 50 lembaga.

    Pemerintah Pusat, Provinsi, sampai Kabupaten juga memberikan bantuan kepada masyarakat pengawas penyu.

    Pada 22 September 2020, Menteri Kelautan dan Perikanan telah menetapkan Taman Pesisir Paloh sebagai Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K). Langkah ini merupakan pijakan besar dalam upaya konservasi penyu Paloh.

     

    Revolusi Mental Penduduk

    Berkat sosialisasi secara terus menerus, secara perlahan-lahan masyarakat mengubah mental mereka ke arah lebih positif. Di masa lalu, mereka mengambil keuntungan dari sarang penyu. Kini masyarakat sadar bahwa cara itu tidak baik demi kelestarian alam.

    Bahkan kepedulian terhadap pantai bukan hanya terkait dengan penyu. Warga juga sangat peduli dengan banyaknya sampah-sampah yang ada di pantai. Lihatlah apa yang dilakukan warga Sebubus, Hermanto atau yang dikenal dengan dengan panggilan Pak Itam.

    Pak Itam dulu pernah bergabung dengan Kelompok Pengawas Masyarakat Kambau Borneo. Tetapi sejak akhir 2020, Pak Itam sudah keluar dari Kelompok Pengawas Masyarakat dengan alasan keluarga. Meski demikian,  kepeduliannya terhadap penyu dan  lingkungan secara umum masih tetap besar.

    "Saya bersama warga lain berinisiatif mengumpulkan sampah-sampah yang mengotori pantai untuk dibuang di tempat yang benar," kata Pak Itam yang tinggal di desa Sebubus kepada penulis. Sehari-hari, saat ini, Pak Itam berdagang kecil-kecilan untuk menghidupi keluarganya.

    Dia merasa prihatin dengan banyaknya sampah-sampah yang ada di laut. Kadang sampah-sampah ini terbawa jaring para nelayan. Pak Itam berusaha memberi pengertian kepada nelayan agar peduli dengan sampah yang terbawa dari laut. Mereka diminta tidak membuang sampah sembarangan.

    Pak Itam sendiri sudah berkoordinasi dengan instansi terkait di wilayahnya agar diizinkan membuang sampah di penampungan yang telah disediakan.

    Dengan peran aktif dari masyarakat, maka seluruh program pelestarian lingkungan hidup, termasuk penyu bisa terlaksana dengan baik.***



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.