Melati van Java, Pergumulan Muda-Mudi Peranakan Cina Tentang Cinta ala Barat Era 1930-an - Fiksi - www.indonesiana.id
x

cover buku Melati van Java

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 24 November 2021 05:54 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Melati van Java, Pergumulan Muda-Mudi Peranakan Cina Tentang Cinta ala Barat Era 1930-an

    Di awal abad 20 banyak kaum peranakan yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah Belanda. Akibatnya anak-anak ini menyerap nilai-nilai Barat dalam hidupnya. Termasuk nilai-nilai cinta. Boekit Doeri menggambarkan tubrukan budaya Barat dan tradisi cina dalam hal cinta melalui novel ini.

    Dibaca : 2.145 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Melati van Java

    Penulis: Boekit Doeri

    Tahun Terbit: 2019

    Penerbit: Pustaka Klasik

    Tebal: xv + 168

    ISBN:

     

    Peran peranakan Cina dalam hal perbukuan, termasuk perkembangan kesusastraan di Indonesia cukup besar. Namun peran tersebut masih belum mendapatkan penghargaan yang semestinya dan bahkan cenderung untuk dilupakan. Berbagai pihak telah berupaya untuk mendudukkan sumbangsih peranakan cina dalam hal perbukuan dan kesusastraan sebagaimana tempatnya.

    Claudine Salmon misalnya. Ia telah menyusun katalog tulisan-tulisan karya penulis peranakan Cina yang pernah terbit di Hindia Belanda  dan kemudian Indonesia. Ia menelusuri karya-karya dari sebelum tahun 1910 sampai dengan tahun 1960-an. Sebagian dari karya Claudine Salmon telah diterjemahkan oleh Dede Sutomo dan diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1985.

    Melalui buku tersebut kita tahu bahwa peranakan Cina yang beragama Islam sudah sangat aktif menulis ulang dan menyadur karya-karya dalam tulisan Arab Melayu pada periode sebelum 1910. Terbitan tersebut dimaksudkan untuk disewakan kepada semua pihak yang mempunyai minat membaca. Ketika Hindia Belanda sudah mulai menggunakan tulisan latin, para penulis peranakan ini semakin banyak menerbitkan karya. Selain menyadur dan menterjemahkan, mereka juga membuat karya asli. Karya-karya asli tersebut biasanya menggunakan kejadian-kejadian setempat dan memasukkan beberapa bahasa lokal dimana dia menulis.

    Bukan hanya dalam hal memproduksi karya, kaum peranakan juga sangat berperan di bidang penerbitan. Pada awal abad 20 sampai dengan tahun 1960-an banyak percetakan dan penerbitan surat khabar dan buku yang dikelola oleh kaum peranakan.

    Sayangnya, akibat politik pendidikan Pemerintah Hindia Belanda melalui Balai Pustaka, peran tersebut mulai dipinggirkan dan disingkirkan. Pemerintah Belanda melalui Balai Pustaka menjuluki karya-karya para penulis peranakan yang menggunakan bahasa Melayu Rendah sebagai karya yang tidak bermutu. Balai Pustaka bahkan mengkategorikan karya-karya tersebut sebagai karya liar.

    Selain penelitian dan diskusi-diskusi ilmiah untuk mendudukkan kembali karya-karya penulis peranakan sebagai bagian dari sejarah kesusastraan Indonesia, upaya untuk menerbitkan kembali juga terus digagas. Kelompok Kompas Gramedia, melalui Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia pernah menerbitkan ulang karya-karya tersebut sampai 10 jilid (rencananya 25 jelid, tetapi kemudian terhenti). Upaya perorangan dengan dukungan dari berbagai pihak juga terus ada. Salah satunya adalah upaya penerbitan ulang karya-karya klasik oleh Wahyu Wibisana yang mendapatkan dukungan dari Sinar Mas Land.

    Salah satu karya yang diterbitkan ulang oleh Wahyu Wibisana melalui Penerbit Pustaka Klasih adalah novel yang berjudul Melati van Java karya Boekit Doeri.

    Novel ini mengambil tema perkembangan pandangan Eropa dalam pergaulan muda-mudi peranakan cina di tahun 1930-an. Pada periode tersebut kaum peranakan banyak yang menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang didirikan oleh Belanda. Melalui sekolah inilah nilai-nilai Barat mulai merasuki para pemuda-pemudi peranakan. Akibatnya dalam urusan cinta, para muda-mudi ini mengalami tabrakan budaya dengan orangtuanya. Para muda-mudi yang sudah mengadopsi nilai-nilai cinta ala Barat harus berkonflik dengan nilai-nilai perjodohan ala tradisi cina.

    Bun Giok, seorang pemuda yang secara tidak sengaja bertemu dengan Kwie Hoa yang ibunya sedang sakit. Bun Giok dengan tulus membantu pengobatan ibu Kwie Hoa sampai sembuh. Bun Giok sangat tertarik pada Kwie Hoa. Bahkan ibu Kwie Hoa sudah menjodoh Kwie Hoa dengan Bun Giok.

    Namun apa daya. Ternyata Kwie Hoa lebih tertarik kepada Nio Sui Liang, seorang pemuda kakak dari teman sekolahnya. Tokoh Siu Liang digambarkan sebagai anak orang kaya tamatan H.B.S dan bersiap studi lanjut ke Eropa. Boekit Doeri juga menggambarkan bagaimana kehidupan keluarga Nio Sui Liang yang bergelimang harta tetapi tidak lagi punya tatakrama. Anak-anak menjadi sangat manja, tidak menghargai orangtua dan suka bertengkar secara terbuka.

    Sui Liang yang sudah berpacaran dengan Kwie Hoa ternyata ditunangkan oleh orangtuanya dengan perempuan yang sudah menganut pandangan Barat. Sui Liang ternyata tidak menolak. Ia dengan gampang meninggalkan Kwie Hoa. Sementara itu Bun Giok sudah patah hati dan tidak berminat melanjutkan hubungannya dengan Kwie Hoa.

    Kisah yang sederhana ini sangat menarik jika dilihat dari pergumulan muda-mudi peranakan di masa itu. Nilai-nilai Barat yang mulai diserap melalui sekolah ternyata bertabrakan dengan tradisi orangtuanya.

    Boekit Doeri memang tidak memilih nilai-nilai mana yang akhirnya menang. Ia tidak berpihak. Namun dia memberi peringatan bahwa nilai-nilai Barat itu tidak mengandung kesetiaan. Cintanya lebih didasari napsu daripada komitmen.

    Terbukti bahwa karya-karya penulis peranakan bukanlah karya bermutu rendah. Meski ceritanya sederhana, namun kisah “Melati van Java” ini mendiskusikan pergumulan budaya kaum peranakan di jamannya. Jadi tidak benar bahwa karya-karya novel para penulis peranakan hanyalah berlevel novel hiburan semata.

    Penerbitan ulang yang dilakukan oleh Wahyu Wibisana ini patut dihargai. Saat kaum muda peranakan sedang mencari kembali akar budayanya, setelah terbebas dari kekangan Orde Baru, buku-buku seperti “Melati van Java” ini bisa menjadi bagian penting bagi mereka untuk memahami akar budaya yang telah lama hilang. 634

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.