Guru dalam Penerapan Merdeka Belajar: Pembelajaran Transformatif - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Gambar Ilustrasi

Jose Segitya Hutabarat

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Kamis, 25 November 2021 11:19 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Guru dalam Penerapan Merdeka Belajar: Pembelajaran Transformatif

    Artikel ini mengeksplorasi bagaimana persepsi guru tentang pengembangan pembelajaran melalui pengalaman dan memetakan transformasi yang telah dilakukan oleh guru didasari pada wawasan Merdeka Belajar.

    Dibaca : 401 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    PENDAHULUAN

    Guru itu duduk bersandar di kursinya, kakinya terentang hampir kencang di kaki-kakinya yang besar di meja guru, kepala membungkuk ke samping dan mata tertutup. Tampaknya tidak menyadari dan peduli tentang dunia ini. Dalam ilustrasi ini tidak ada siswa yang dapat membuat seseorang percaya bahwa di kelas ini, setidaknya, mereka bukan prioritas. Ilustrasi lain, guru di depan layar komputer atau telepon seluler berhadapan dengan sekelompok murid-muridnya yang bermata cerah dan ingin tahu, yang tampak bersemangat dan mau belajar. Meja adalah hiruk-pikuk warna dan aktivitas, bunga potong, kertas dan pena berserakan, dengan siswa duduk dalam kelompok, pena di tangan mereka dan menyerap informasi yang dia bagikan dengan mereka. Sudah diakui bahwa keyakinan dan praktik guru dibentuk oleh banyak sekali isu termasuk karakteristik dan sifat reformasi. Karakteristik dan kondisi lokal di mana guru sebagai aktor dan reformasi struktur tertanam dan mekanismenya dibingkai serta diklasifikasi.

    Guru saat ini dan di masa depan (tidak) secara sadar menggunakan ruang strategis untuk melakukan langkah-langkah transformatif yang dimungkinkan melalui tantangan dan peluang baik. Struktural tertentu dalam setiap konteks yang kaitannya dengan proses perubahan sosial dan pendidikan. Sesuai dengan cita-cita ini menetapkan bagaimana guru harus dilatih untuk menjadi kritis, reflektif, proaktif, profesional inovatif dan peneliti, yang berdedikasi untuk siswa, trans-pembentukan yang inklusif secara teringrasi bagi siswanya. Kesenjangan antara kebijakan dan praktik pendidikan tampaknya telah menyebabkan ketegangan antara perubahan dan sebagian besar realitas yang terus berlanjut di kelas. Menjadi tantangan bagi kemampuan guru untuk melakukan pekerjaan mereka sesuai keinginan mereka, terutama dalam hal isu-isu kunci seperti ketersediaan buku teks dan sumber daya pengajaran lainnya, memiliki akses yang memadai didukung infrastruktur sekolah.

    PEMBAHASAN

    Klaim Ideologis dan Diskursif Historis Sampai Sekarang Tentang Guru

    Sekolah secara historis bertujuan untuk menyeragamkan masyarakat, karena selalu berorientasi menuju apa yang disebut ‘komunitas nasional’, yang idealnya adalah mayoritas, modern, urban, dan non-pribumi. Ideologi ini meluas ke lembaga pendidikan guru, sudah menjadi normalitas yang bertujuan untuk mengubah siswa yang berasal dari yang kalangan tertinggal menjadi maju. Secara diskursif, peran guru berubah untuk meningkatkan pendidikan, karena pendidikan secara resmi diakui sebagai salah satu agenda tujuan nasional yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

    Pembelajaran Transformatif dan Pengembangan Pembelajaran yang Berorientasi Kepada Siswa

    Pembelajaran transformatif dimulai pembuatan makna melalui refleksi kritis, hal ini sangat penting untuk dan pengembangan pembelajaran. Refleksi kritis mencakup kesempatan untuk menguji asumsi tentang cara di mana seseorang berinteraksi di dalam sutau konteks. Mengidentifikasi dan menantang asumsi adalah pusat untuk berpikir kritis. Sebagai individu memeriksa asumsi melalui refleksi kritis, kognitif, interpersonal, dan perkembangan bergerak secara hierarkis dari yang sederhana ke yang lebih kompleks dan dasar yang dinamisn. Melalui refleksi kritis yang mencakup pengambilan sudut pandang melalui dialog dengan orang lain, individu yang lebih inklusif. pembelajaran terjadi. Siklus belajar yang bergantung pada pengalaman diturunkan dengan merefleksikan, mengembangkan abstraksi, menguji abstraksi tersebut, dan akhirnya berputar-putar kembali ke pengalaman konkret. Semua bagian dari siklus belajar dipengaruhi oleh emosi ini akan membantu mempengaruhi pemikiran pembelajar. Siklus pembelajaran yang dijelaskan dapat mengarah pada transformasi menjadi pembelajar sepanjang hayat.

    Pembelajaran Transfomatif dengan Alur MERRDEKA

                Adapun tindakan yang sudah dilakukan oleh guru di dalam pembelajaran kelas adalah sebagai berikut:

    • Mulai dari Diri
    1. Siswa diajak melakukan refleksi tentang praktik yang dijalani selama ini terkait materi. Contoh kegiatannya siswa diajak meningat kembali pengalaman tertentu dan menarik pembelajaran disana.
    2. Menuliskan pertanyaan yang inigin diketahui oleh siswa terkait topik yang akan dipelajari.
    3. Menuliskan harapan yang ining dicapai oleh siswa setelah mempelajari topik tersebut.
    • Eksplorasi Konsep
    1. Mengakses materi yang disajikan dalam berbagai media hal ini menggunakan platform google meet, microsoft teams, moodle, dll. Memastikan terlebih dahulu sudah mengirimkan modul ajar, materi berbentuk teks, video atau infografis. Sehingga siswa lebih mudah mengakes dan mengerjakan penugasan dari platform dengan belajar mandiri.
    2. Siswa diarahkan mengerjakan pertanyaan objektif untuk mengecek pemahaman materi.
    • Ruang Kolaborasi
    1. Siswa diberikan kesempatan untuk mengerjakan penugasan dalam kelompok, sebagai bagian dari implementasi materi yang sudah dipelajari.
    • Refleksi Terbimbing
    1. Siswa diajak berefleksi terkait proses pembelajaran yang telah dilalui untuk perbaikan proses berikutnya.
    • Demonstrasi Kontekstual
    1. Siswa diminta mengerjakan tugas individu, yaitu untuk mengimplementasikan pengethuan yang sudah didapat selama pembelajaran.
    • Elaborasi Pemahaman
    1. Tahapan dimana siswa diberikan kesempatan untuk melakukan pengayaan atau pendalaman materi guna memperluas pengetahuan dan/atau mengkonfirmasi pemahaman yang masih belum didapat.
    • Koneksi antar Materi
    1. Siswa diminta membuat kesimpulan dan kaitan dari keseluruhan materi yang di dapat di dalam fitur yang telah disediakan. Kesimpulannya dapat berupa bagan, ilustrasi, artikel, video dan karya seni lain.
    • Aksi Nyata
    1. Tahapan dimana siswa melakukan implementasi dari rancangan tindakan yang dibuat. Siswa juga dapat mendokumentasikan proses, hasil dan perkembangan belajarnya dalam bentuk e-portofolio, dan membuat refleksi. Poin yang perlu ada dalam refleksi yaitu; latar belakang situasi yang dihadapi sekaligus alasan melakukan aksinya, deskripsi aksi nyata yang dilakukan termasuk alasan mengapa siswa melakukan aksi tersebut, hasil dan aksi nyata yang dilakukan, pembelajaran yang diperoleh dari pelakasanaan aksi nyata (kegagalan maupun keberhasilan), rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang, dokomentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto atau video singkat termasuk caption/ narasi singkat.

    Secara khusus, dari pengamatan guru terjadi perubahan sebagai berikut yang dialami oleh siswa: interaksinya dengan teman sebaya (dia sebelumnya lebih cenderung untuk menyelesaikan sendiri masalah daripada bergantung pada orang lain untuk bantuan), belajar lebih kolaboratif dengan teman sebayanya, dan saling bergotong royong. Guru dan siswa juga menunjukkan bahwa pengalaman pembelajaran daring atau luring yang telah dilakukan membuatnya berpikir lebih dalam tentang proses pembelajarannya. Transformasi mengharuskan guru untuk mengubah paradigma mengajar mereka, artinya guru harus mengalami kesenangan perubahan mendasar dalam struktur dan budaya mengajar di mana pengalaman masa lalu berasimilasi dan mengubah menjadi pengalaman baru.

    PENUTUP

    Pembelajaran transformasi menekankan yang jelas pada pembelajaran mandiri, penggunaan metode pengajaran baru, penggabungan keterampilan berpikir kritis dan pengembangan dalam pembelajaran, penggunaan pembelajaran berbasis masalah, persiapan dan penelitian, serta kepercayaan diri dan pemberdayaan guru dan siswa. Meskipun artikel ini bersifat eksploratif, temuan menunjukkan bahwa guru dan siswa mengalami transformasi saat mereka belajar menggunakan alur MERRDEKA. Arti penting dari studi khusus ini adalah bahwa hal itu muncul menjadi satu-satunya pembahasan yang mendalam mengkaji peran guru untuk melakukan terjadinya transformasi dalam pengajaran yang melibatkan siswa. Guru dalam hal ini telah menunjukkan bahwa perjalanan melalui refleksi diri yang kritis telah menghasilkan pola pikir yang diubah untuk yang lebih baik. Pembelajaran belum berakhir, karena masih banyak pembelajaran lain telah terbuka untuk guru sebagai pendidik.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.079 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.