Menyongsong Eksotika Batik pada Generasi Emas 100 Tahun Indonesia Merdeka - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Batik

Wahyu Dian Andriana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Kamis, 25 November 2021 11:22 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • Menyongsong Eksotika Batik pada Generasi Emas 100 Tahun Indonesia Merdeka

    Peran pemuda Indonesia sangat dibutuhkan untuk mempertahankan eksistensi batik Indonesia pada tahun 2045.

    Dibaca : 71 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Batik semakin berkembang signifikan dari tahun ke tahun. Perkembangan batik membutuhkan perhatian khusus dari masyarakat Indonesia. Hal itu untuk mencegah hilangnya eksistensi dan jati diri batik. Sebab eksistensi dan jati diri batik menjadi problematika yang krusial bagi negara Indonesia. Pasalnya, problematika batik sering kali dialami oleh negara Indonesia.

    Problematika batik yang sering terjadi, yaitu klaim batik. Klaim batik kembali dilakukan oleh negara lain, salah satunya Malaysia. Pengklaiman batik ini dilakukan oleh Miss World Malaysia 2021, Lavanya Sivaji melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada 17 Oktober 2021. Tindakan Lavanya dianggap tidak menghargai akar budaya negara lain ibarat kacang yang melupakan kulitnya. Alhasil, putri kebanggaan Malaysia ini juga dianggap kurang memiliki wawasan yang lebih terkait batik Indonesia. 
        
    Selain itu, problematika batik lainnya, yaitu batik sulit untuk diregenerasikan kepada generasi penerus bangsa. Sebab batik memiliki banyak tahapan dalam proses pembuatannya sehingga membutuhkan keahlian yang lebih. Dengan begitu, eksistensi batik mengalami kepunahan. Hingga akhirnya juga membuat harga jual batik semakin mahal. Hal itu menyebabkan masyarakat kembali mempertimbangkan ketika hendak membeli kain atau baju batik.
         
    Wawasan masyarakat yang komprehensif mengenai asal-usul batik sebagai warisan dunia sangatlah penting. Melansir dari Kompas.com, UNESCO secara sah meresmikan batik sebagai warisan dunia dalam kategori Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity). Peresmian tersebut terjadi pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Oleh karena itu, setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. 
        
    Batik dinilai mampu menjadi simbolisasi dan makna filosofis dari kehidupan masyarakat Indonesia oleh UNESCO. Penobatan batik sebagai aset dunia tentunya dilatarbelakangi oleh beberapa hal yang menurut UNESCO sesuai dengan kriteria untuk menjadi warisan dunia. UNESCO setidaknya memiliki tiga kriteria atau syarat yang harus dipenuhi oleh batik sebagai calon warisan dunia. 
        
    Batik Indonesia terbukti memiliki ciri khas tersendiri terkait ilmu yang harus dimiliki oleh seseorang ketika ingin membatik. Ilmu tersebut didapatkan secara turun-temurun dan diregenerasikan kepada penerus bangsa. Ciri khas batik Indonesia dapat terlihat dari alat dan bahan yang digunakan. Pemilihan batik, proses pencantingan, pendesainan motif, dan proses pewarnaan menjadi hal yang krusial yang harus diperhatikan pada saat membatik. 
        
    Ilmu membatik tidak akan berarti apabila masyarakat tidak mengetahui fungsi batik dalam kehidupan sehari-hari. Batik sering kali dihubungkan dengan kehidupan orang Jawa yang kaya akan tradisi. Bahkan tradisi tersebut dimulai sejak manusia itu dilahirkan hingga kembali lagi kepada pemilik-Nya. Sepanjang tradisi tersebut, orang Jawa tidak pernah lupa dengan selembar kain batiknya karena mereka menganggap batik sudah melekat dan mendarah daging dalam tubuhnya. 
        
    Batik tidak hanya memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat. Akan tetapi, batik juga memiliki fungsi dalam kegiatan sehari-hari. Dalam kegiatan sehari-hari, batik dijadikan sebagai pakaian masyarakat baik dalam kegiatan formal maupun informal. Hal tersebut membuat batik tidak hanya dikenal sebagai sesuatu yang bersifat resmi.  
        
    Peran dan kontribusi seluruh masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan demi merawat dan mempertahankan kualitas batik Indonesia sebagai aset dunia. Indonesia sebagai akar budaya batik, perlu melakukan beberapa upaya untuk menghadapi dan meminimalisir terjadinya problematika batik tersebut di masa yang akan datang, baik dari pemerintah Indonesia maupun generasi penerus bangsa. 

    1.    Kolaborasi dengan Berbagai Ajang, Baik Nasional maupun Internasional. 
    Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah Indonesia dapat mengajukan beberapa kebijakan, seperti penggunaan batik dalam ajang tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap salah satu warisan dunia. Selain itu, melalui cara tersebut masyarakat luas secara tidak langsung akan belajar mengenai batik setahap demi setahap. 

    2.    Para Pembatik dan Fashion Designer Harus Lebih Kreatif dan Inovatif
    Kreativitas dan keinovasian tersebut dapat diwujudkan melalui motif batik dan desain kain batik yang disulap menjadi pakaian. Kedua hal tersebut tentunya membutuhkan masukan dan saran dari masyarakat luas agar para pembatik dan fashion designer dapat memberikan pembaharuan yang lebih baik. Sebab apabila kekreatifitasan dan keinovatifan terus disajikan, rasa bosan yang dipendam masyarakat selama mengenakan batik seketika akan berangsur hilang. Hal lain juga disebabkan oleh tuntutan dunia fashion yang mengharuskan ada perubahan desain setiap waktunya. Agar fashion mode memberikan kesegaran kepada masyarakat luas. 

    3.    Pemanfaatan Kemajuan Teknologi dalam Proses Produksi Batik
    Di masa yang akan datang terdapat kemungkinan jika semua produksi dilakukan oleh kecanggihan teknologi. Kecanggihan teknologi dapat membantu proses produksi lebih efektif dan efisien, seperti dengan cara melakukan touch screen pada sistem informasi yang di dalam base-nya menyimpan berbagai motif dan desain batik. Selain itu, juga dapat dilakukan dengan cara menciptakan mesin batik berbasis canting modern dalam tanda kutip para pembatik tidak ingin menghilangkan naturalistik batik. 

    4.    Bekerja Sama dengan Industri Pertelevisian
    Industri pertelevisian dapat menyuguhkan program tayangan mengenai batik. Industri pertelevisian tersebut dapat ditayangkan secara nasional maupun internasional. Program tayangan tersebut dapat meliputi ilmu dasar membatik, proses pembuatan motif, produksi, pemasaran, hingga perawatan batik. Ilmu yang diberikan kepada pemirsa harus bersumber dari orang yang berpengalaman agar kebenaran ilmu tersebut dapat terjamin.

    5.    Batik Sebagai Mata Pelajaran Wajib
    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat melakukan suatu upaya yang sifatnya lebih intensif. Kemendikbud dapat bekerja sama dengan pihak luar negeri untuk menyusun dan menyajikan materi batik sebagai mata pelajaran wajib yang harus dikuasai oleh setiap peserta didik. Dengan begitu, peserta didik akan memperoleh wawasan mengenai batik dari segi keilmuan dan praktik. 

    6.    Menciptakan Museum Batik secara Virtual    
    Para pemuda Indonesia dan Luar Negeri dapat bekerja sama untuk menciptakan museum batik yang dapat diakses secara virtual oleh pengunjung, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Melalui museum batik secara virtual tersebut, pengunjung akan merasa bebas karena dapat berkunjung kapanpun dan dimanapun tanpa ada halangan waktu serta jarak. 

    7.    Menciptakan Aplikasi Batik Barcode Scan
    Generasi muda dapat menciptakan dan membuat aplikasi batik barcode scan. Aplikasi tersebut untuk mendeteksi seberapa banyak pecinta batik, pengguna batik, pengakses museum batik, dan hal lainnya yang berhubungan dengan batik. Melalui aplikasi batik barcode scan dapat mengetahui perkembangan dan kemajuan batik dari waktu ke waktu. Dengan demikian, masyarakat dapat melakukan upaya perbaikan secara signifikan. 

    Melalui berbagai rencana upaya tersebut, masyarakat Indonesia berharap problematika terkait batik dapat teratasi dengan baik. Selain itu, dampak positif juga akan turut dirasakan, seperti internasionalisasi batik yang tidak hanya sekadar menjadi catatan sejarah di dalam UNESCO sehingga secara otomatis dapat meningkatkan peminat batik dari seluruh kalangan. Dengan begitu, eksistensi batik tidak akan usang oleh waktu dan puncak dari gemerlap eksotika batik akan tercapai pada tahun 2045 bertepatan dengan 100 tahun Indonesia Merdeka. 

    Wahyu Dian Andriana, Mahasiswa Pendidikan dan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: Suyatna, S.Pd

    1 hari lalu

    Surat dari Ibu

    Dibaca : 27 kali












    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.080 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.