Cerita Anak Tunggal - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi: ArtPics On Fb

Perpus As Syifa

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 18 November 2021

Kamis, 25 November 2021 16:05 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Cerita Anak Tunggal

    Sebuah kisah yang aku, kamu, kita dan kami rasakan. Bukan sekedar fiksi, ini sebuah kisah yang terasa nyata atau memang nyata. Kamu perlu melihat sesuatu kedalamnya.

    Dibaca : 84 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cerita Anak Tunggal 

    Sebagian orang mengatakan kalau hidup sebagai anak tunggal itu ada yang bilang kalau anak tunggal itu minta apa-apa selalu di turutin, tidak usah repot berbagi makanan dengan saudara dan banyak lainnya. Intinya bagi mereka hidup sebagai anak tunggal itu enak dan gak ada susah nya, aku sendiri juga termasuk dalam golongan anak yang tak berkakak atau anak yang tak beradik alias anak tunggal. Hidup sebagai anak tunggal bagiku tak sepenuhnya tidak seperti yang orang kira. Hidup ku sebagai anak tunggal adakalah menjadi suatu kebahagiaan dan ada kalahnya menjadi suatu kesedihan buat ku, kebahagian itu salah satunya adalah tidak perlu berbagai kasih sayang kepada saudara.
    Salah satu kesan yang menyeramkan bagi anak tunggal adalah ketika ada orang berkata “ MINTA ADIK”. Selain mama minta pulsa dan papa minta saham, ada juga tren yang terkenal bagi anak tunggal yakni anak minta adik dan itu sering banget terjadi padaku. Nggak tau kenapa seiap orang mengetahui kalau aku anak tunggal pasti bilang seperti itu, dan aku Cuma bisa tersenyum mendengar ucapan seperti itu. Terlepas dari pertanyaan tersebut masih banyak hal yang ku alami sebagai anak tunggal. Yang pertama anak tunggal itu tidak boleh  kemana-mana disini aku tidak dibolehin kuliah di luar kota, ini beneran terjadi padaku. Saat itu dikala semua anak-anak masuk ke kampus unggulan tapi aku harus melepas peluang yang sudah aku genggam. Semua itu ku lakuin karena aku tidak dapat izin kuliah di Jogja, larangan dari kedua orang tuaku, terus membuat ku tidak bisa apa-apa dengan ikhlas aku untuk tidak kuliah di Jogja. Selain itu aku di batasin untuk pergi jauh-jauh, nasiblah dari anak tunggal selanjutnya adalah sering kali merasakan kesepian.
    Selama ini memang kesepian sering datang menghampiri tapi setidaknya kesepia itu ada penawarnya. Meski tidak mempunyai adik tapi yang aku anggap adik sudah banyak, iya memang tidak adik kandung tapi adik dari anak bibi-bibi ku. Kehadiran keponakan – keponakan tersebut mampu menjadi teman ketika aku sedang kesepian dan ini suatu keberuntungan.
    Begitulah sebagian ceritaku sebagai anak tunggal, adakalah menjadi anak tunggal itu ada enak dan tidak enaknya. Terlepas dari beberapa nasib menjadi anak tunggal, aku masih beruntung hidup bersama kedua orang tua ku yang sangat sabar merawat, dan menyayangi aku.
    Dan pada tanggal 14 November 2021 telah genaplah usia ku yang ke – 20 tahun, aku bersyukur masih di beri kesempatan hidup di dunia ini. Dan memiliki orang tua yang sangat sayang pada ku, pada pagi hari sekitar jam 08.00 wib aku dapat telepon dari mama ku, seperti ini percakapan mama dengan aku.
    Mama    : Assalamualaikum wr.wb nak
    Aku    : Walaikumsalam wr.wb ma
    Mama    : Lagi apa nak? Gimana kabarnya?
    Aku    : Lagi duduk sama teman-teman ma, alhamdulliah kabar santi baik ma. Lalu aku 
      bertanya balik kepada mama.
    Aku    : Gimana kabar mama?
          Mama ingat tidak hari ini tanggal berapa? 
          Lalu mam menjawab
    Mama     : Alhamdulliah kabar mama baik, lalu mama menjawab hari ini tanggal 14 nak, 
      kenapa rupanya?
    Aku    : Hari ini ulang tahun santi, ma
    Mama    : O’ iya mama lupa nak
          Selamat ulang tahun anak ku, panjang umur sehat selalu dihilangkan segala semua 
      penyakit nya. Jadi anak yang sholeha, bagus – bagus kuliah nya. Jangan kecewakan 
      orang tua ya nak, rajin sholat 5 waktu nya jangan ada yang di tinggal.

      Lalu aku pun menjawab do’a dari mama 
    Aku    : Amin ya Allah
          Makasih ya mama
          Iya ma, santi akan bakal dengerin nasehat dari mama dan santi akan melaksanakan 
      nasehat ya mama, dan percakapan ku dengan mama berakhir.

        Setelah berakhir nya telpon, aku pun merasa sedih, karena aku berjauhan dengan orang tuaku, aku rindu dengan mama dan ayah, aku rindu masakan mama, aku rindu candaan ayah, sebenarnya aku berat untuk pergi dari rumah, tapi ini semua demi cita-cita ku, aku harus pergi untuk kuliah dan menggapai impian ku sejak kecil ingin menjadi Bidan, karena menjadi abdi kesehatan adalah pekerjaan yang mulia, walau gaji nya tidak banyak, tapi aku bangga menjadi seorang bidan, karena membantu orang yang sedang melahirkan, dan senang melihat seorang ibu tersenyum melihat bayi mungil nya lahir ke dunia, itulah impian ku 
        Tetapi aku sering sedih ketika teringat kepada orang tua ku kesepian di rumah, karena tinggal berdua. Itulah resiko hanya memiliki satu anak. 
        Hal yang paling aku sedih kan adalah, ketika aku sakit, aku jauh dari orang tua, aku harus mandiri, aku tidak boleh lemah, dan aku harus semangat.
        Hidup di asrama tidak lah seenak, tinggal di rumah di asrama harus kuat mental, harus berani, dan harus disiplin. Dan di asrama juga aku harus hemat, tidak boleh boros aku harus pandai mengatur uang, terkadang aku juga boros sering delivery makanan, karena aku sering kelaparan disini, karena porsi nasi nya sedikit. Dan lauk nya keseringan tempe, ya walaupun tempe berprotein, tapi jika keseringan bosan, dan tidak nafsu makan.
        Disini aku sering mengeluh kepada orang tua ku, tetapi orang tua ku menasehati ku, 
    Kata mama : nama nya juga mau jadi orang sukses nak, jadi harus pahit-pahit dulu, jalani dengan ikhlas, bersyukur, sabar dulu, jangan banyak mengeluh, Dan akupun mendengarkan nasehat mama ku.
        Di asramalah banyak pelajaran dan pengalaman yang ku dapatkan, disini aku banyak memiliki teman dari berbagai daerah, dan berbagai suku, disini aku juga menemukan sifat dan karakter teman-teman ku yang berbeda-beda. 
        Tetapi teman-teman ku baik, ketika aku sakit teman-teman ku peduli, mereka merawat aku, dan tak akan aku lupakan kebaikan teman-temanku.
        Sekianlah cerpen dariku, apabila ada kekurangan dan ada kata-kata yang salah, mohon di maklumi dan di maafkan.

    #@yussri.susanti
    S1 Kebidanan     
          



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.