x

Siswa kelas VIII SMP Internet Al-Kausar, bertanggungjawab dalam pembelajaran berbasis Inkuiri Internet Problem Solving (IIPS). Pendidikan Karakter yang dibangun adalah bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan guru dengan baik. Terima kasih anak-anak.

Iklan

Bahar Sungkowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 24 November 2021

Jumat, 26 November 2021 08:42 WIB

Learning Loss Vs Peace Education

Mas Mentri dalam siaran Youtube TV Kemdikbud pernah berkata bahwa PJJ adalah tidak memberikan capaian pengetahuan dan keterampilan siswa secara optimal. Sepertinya pendidikan kita mengalami learning loss. Hal ini memang terjadi di lapangan, dimana siswa tidak berhasil dalam pencapaian kompetensi dengan data kongkrit berdasarkan penelitian hanya 54% saja siswa di wilayah Propinsi Banten yang mencapai kompetensi belajar saja. Karena itu fenomena learning loss harus disikapi dengan serius

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Tidak dipungkiri bahwa dimasa pembelajaran jarak jauh, capaian pembelajaran dengan daring dirasakan kurang berhasil guna. Capaian kompetensi yang sejatinya telah ditetapkan dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), kenyataannya tidak menggembirakan. Hal ini disebabkan banyak faktor, yang salah satunya adalah: kurangnya dukungan orangtua secara optimal dan kesulitan dalam akses internet dan tidak mampunya membeli kuota. 

Dalam suatu pertemuan, mas Mentri mensinyalir dampak kurang berhasilnya pembelajaran jarak jauh (PJJ) akan menimbulkan learning loss atau hilangnya capaian pembelajaran yakni tidak memenuhi kompetensi pengetahuan dan keterampilan peserta didik. Hal ini disampaikan pada acara tv Facebook Kemdikbudristek pada medio agustus 2020 lalu. "adanya kendala-kendala dalam pembelajaran jarak jauh dimasa pandemi seperti perbedaan kemudahan akses Internet, dukungan orangtua dan kesulitan akses geografis, kesemuaan bisa terjadi yang dinamakan learning loss" 

Suatu keniscayaan yang dirasakan manakala learning loss terjadi adalah minimnya pencapaian kompetensi keterampilan dan pengetahuan peserta didik. Dari kasus survey pada suatu kabupaten di Banten, sungguh mengagetkan bahwa hanya 53% peserta didik mencapai kompetensi pengetahuan dan keterampilan dengan capaian sedikit diatas KKM yakni 61. Idealnya capaian kompetensi harus 100% dan nilai prestasi siswa di aspek pengetahuan dan keterampilan harus diatas 70. Karena itu learning loss harus diantisipasi dalam pembelajaran tatap muka yang menjadi solusi tetap dalam cegah learning loss. Jadi perlu konsep pendidikan karakter yang tepat dan jitu sebagai upaya menghilangkan learning loss yang penulis namakan Peace Education

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Penasaran so pasti, dan bertanya pada diriku, apa itu Peace Education? Penulis menjelaskan bahwa Peace Education adalah pendidikan ala damai. Secara umum pendidikan damai adalah pendidikan yang menekankan kepada situasi dan kondisi yang harmonis, moderasi dan inspirasi. Pendidikan damai berpedoman kepada nilai-nilai luhur dan spiritual bangsa Indonesia. Namun, ada pemahaman lain dalam Peace education atau pendidikan damai, yakni :

PE adalah Penguatan Etika pribadi agamis : Pendidikan penguatan etika pribadi agamis adalah berbasis pengamalan kitab suci masing-masing agama dan kepercayaan. Dalam satu titik tentunya etika agamis menanamkan saling bertoleransi antar sesama pribadi agamis. Meskipun dalam satu titik masing-masing tidak melebur dalam peribadatan agama, dan masing-masing silahkan beribadah sesuai keyakinan dan kepercayaannya.

AC adalah Aktualisasikan Cinta Tanah Air : Pendidikan aktualisasi cinta tanah air adalah pendidikan bagaimana generasi bangsa mengaktualisasikan cinta tanah air di era society 5.0 yakni dengan mencintai kebudayaan bangsa, Cinta produk dan lingkungan Indonesia, dan menjadi bagian dari kebhinnekaan yang menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Pendidikan aktualisasikan cinta tanah air mengarah kepada pribadi Nasionalisme dan Patriotisme. 

E adalah Empati dalam sikap dan perbuatan. Pendidikan empati dalam sikap dan perbuatan adalah setiap generasi bangsa berlomba saling empati dalam sikap dan perbuatan. Dalam ajaran islam ada perintah Allah SWT dengan "fastabiqul khairat" berlomba-lomba dalam kebaikan. Praktek perintah Allah SWT ini adalah berlomba-lomba dalam mengempati berbuat kebaikan. Dalam mengempati sikap dan perbuatan contohnya adalah : menyumbang saudara kita yang terkena musibah dengan sumbangan yang besar, bukan untuk pamer atau riya, namun semata-mata mengempati orang lain untuk bersedekah atau menyumbang juga. 

Itulah pendidikan Damai sebagai antisipasi adanya learning loss yang muaranya pada hilangnya karakter dan etika generasi bangsa Indonesia. Penulis pernah mempraktekkannya dengan pembinaan etika dan karakter dengan SAKTI yakni : Sabar, Amanah, Kebangsaan, Teladan dan Ikhlas. Juga penerapan pendidikan damai ini dengan konsep Tawa Profesor yakni :  Tawazunitas (keseimbangan), Proaktif dalam kebaikan, Fastabiqul Khoerat, Sederhana dalam kehidupan, Optimis dan Rendah hati. Keduanya adalah upaya untuk memnumbuhkan karakter pendidikan damai yang penguatan etika pribadi agamis, aktualisasi cinta tanah air, dan empati dalam sikap dan perbuatan.

Akhirnya penerapan pendidikan damai (Peace education) diharapkan menjadi solusi akan pencegahan learning loss sehingga pembelajaran dengan ruh pendidikan damai ini, akan memberikan sumbangsih terkecil buat pendidikan negara yang kita cintai, INDONESIA.

Salam guru sukses Mulia

Bahar Sungkowo SPd MPd

Guru SMP Internat Al-Kausar kabupaten Sukabumi Jawa-Barat

WA : 087820994093

FB : Bahar Sungkowo

IG : Bahar Sungkowo

Ikuti tulisan menarik Bahar Sungkowo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

1 hari lalu